← Bukan Aku, Kok

Chapter Twenty

Kamar yang Tidak Boleh Dibuka

POV: Kirana


Setelah studi tour, aku ke rumah Kak Dewa setiap Sabtu.

Ini bukan keputusanku sendiri. Ini keputusan Ibu, dan Ibu mengambilnya dengan cara yang tidak bisa dibantah siapa pun.

Sabtu pertama sepulang Yogyakarta, dia menaruh kotak besar di meja makan.

“Kir, anter ini.”

“Ke siapa?”

“Ke temennya kakakmu.”

“Bu, itu tiga kotak.”

“Ibu masak kebanyakan.”

“Bu, Ibu masak kebanyakan tiap Sabtu selama tiga minggu.”

Ibu mengelap meja dengan sangat fokus.

“Ya berarti Ibu perlu belajar takaran,” katanya.

Kak Naka lewat dapur sambil minum, berhenti, melihat kotak-kotak itu, dan tidak berkata apa-apa. Tapi waktu aku lewat dia, dia bilang pelan, “Bilang gue titip salam.”

“Kakak punya HP.”

“Bilang aja.”


Jadi begitulah Sabtu jadi milik rumah nomor dua puluh tiga.

Aku datang jam sepuluh. Aku pulang jam empat. Enam jam.

Aku tidak melakukan hal-hal yang seru. Aku mengerjakan PR di meja ruang tamu sementara dia membaca. Aku tidur di sofa empat puluh menit sekali dan bangun dengan bantal yang tidak ada waktu aku tidur. Aku memaksa dia menonton satu film dan dia menontonnya sampai selesai dan komentarnya cuma “alurnya kepanjangan di tengah”.

Sabtu ketiga, aku mulai memindahkan barang.

Dua sikat gigi cadangan — tidak dipakai, cuma buat jaga-jaga, itu alasanku. Satu gelas warna kuning yang aku beli sendiri. Satu bantal kecil untuk sofa.

Sabtu keempat, aku membawa gantungan handuk.

“Kirana.”

“Apa?”

“Ini apa?”

“Gantungan handuk.”

“Kenapa ada gantungan handuk?”

“Handuk Kakak digantung di kursi. Itu nggak kering, itu cuma pindah tempat.”

Dia memegang gantungan handuk itu dengan dua tangan seperti orang memegang barang bukti.

“Kirana.”

“IYA?”

“Kamu mindahin barang ke sini.”

“Enggak.”

“Empat minggu, tujuh barang.”

Aku diam.

Dia menghitung. Tentu saja dia menghitung.

“Delapan,” kataku akhirnya. “Kakak nggak ngitung sandal.”


Rumah itu punya satu ruang tamu, satu dapur, satu kamar mandi, dan dua pintu kamar di sisi kanan.

Pintu pertama kamarnya. Aku pernah melihat ke dalam sekali, dari luar, waktu dia mengambil buku. Isinya ranjang, meja, lemari, dan tidak ada apa pun di dinding. Nol. Tidak ada poster, tidak ada foto, tidak ada kalender.

Pintu kedua selalu tertutup.

Sabtu pertama aku pura-pura tidak melihatnya.

Sabtu kedua aku melihatnya empat kali dan menghitung sendiri.

Sabtu ketiga aku menyadari sesuatu.

Lantai di depan pintu itu lebih bersih daripada lantai lain di rumah ini.

Bukan sedikit lebih bersih. Jelas lebih bersih. Kalau kamu jongkok dan melihat pantulan lampu, ada satu persegi panjang di depan pintu itu yang mengkilap dan tidak ada debu sama sekali, dan sisa lantai rumah tidak seperti itu.

Seseorang mengepel titik itu secara terpisah, rutin, tiap minggu.

Dan gagang pintunya, kalau diperhatikan, bagian atasnya masih terang, tapi bagian bawahnya sudah agak kusam — seperti gagang yang dilap terus tapi tidak pernah diputar.

Aku duduk di sofa sambil memegang buku Kimia yang sudah tidak aku baca selama sepuluh menit.

Ada dua Kirana di kepalaku waktu itu, dan mereka berdebat cukup lama.

Yang pertama bilang: kamu anak klub jurnalistik, kamu sudah punya empat belas — sekarang tiga puluh satu — halaman catatan, dan ini adalah satu-satunya pintu tertutup dalam seluruh cerita ini.

Yang kedua bilang: dia belum pernah sekali pun membuka buku catatanmu.

Yang kedua menang.

Aku tidak akan bilang itu karena aku orang baik. Aku bukan orang baik. Aku bangun jam setengah lima pagi untuk memasak buat cowok yang belum jadi apa-apa dan aku mengelabui ketua klubku untuk ikut studi tour.

Yang kedua menang karena aku takut.

Bukan takut isinya. Takut kalau aku membukanya, dia akan tetap bilang “nggak apa-apa”, dan akan tetap mengantar aku ke pagar, dan tidak akan marah sama sekali — dan aku tidak akan pernah tahu apa yang rusak.


Sabtu keempat, sebelum itu, aku ngambek.

Alasannya tidak penting dan aku menolak mencatatnya di sini. Untuk kepentingan sejarah: dia bilang tugas Kimia-ku salah di nomor tiga, dan dia benar, dan itu yang paling menyebalkan.

Aku diam.

Aku diam dengan sangat serius. Aku memutar badan menghadap sofa dan tidak bicara sama sekali.

Dia tidak panik. Dia tidak bertanya kenapa. Dia melanjutkan membaca.

Menit pertama: aku merasa kuat.

Menit kedua: aku mulai penasaran dia sedang ngapain, tapi tidak boleh menoleh.

Menit ketiga: aku menoleh.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak nggak nanya aku kenapa?”

“Kamu lagi ngambek.”

“KAKAK TAU?”

“Iya.”

“TERUS KENAPA DIEM AJA?”

“Kamu lagi ngambek.” Dia membalik halaman. “Kalau aku ngomong, ngambeknya jadi lebih lama.”

Aku menatap tengkuknya dengan penuh kebencian selama sepuluh detik, lalu duduk di sebelahnya dan bilang “nomor tiga emang salah” dengan suara sangat kecil.

Dia bilang “iya” dan tidak menang-menangan sama sekali, dan entah kenapa itu lebih menyebalkan daripada kalau dia menang-menangan.


Sabtu kelima aku mengatakannya keras-keras.

Kami sedang makan siang di meja dapur. Ayam kecap. Ibuku memasak “kebanyakan” lagi.

“Kak.”

“Hm.”

“Aku mau ngomong satu hal, terus abis itu kita nggak usah bahas lagi.”

Dia meletakkan sendoknya.

“Pintu yang di ujung itu.”

Wajahnya tidak berubah. Sama sekali. Tapi tangannya berhenti bergerak.

“Aku nggak akan buka,” kataku.

Dia tidak bilang apa-apa.

“Aku bisa. Aku ke sini tiap Sabtu enam jam, Kakak sering ke dapur, sering ke kamar mandi. Aku punya banyak kesempatan.” Aku menusuk nasiku. “Aku ngitung, Kak. Aku selalu ngitung. Empat minggu ini aku punya dua puluh dua kesempatan.”

“Dua puluh dua.”

“Iya.”

“Kamu ngitung.”

“Kakak juga ngitung, jadi jangan sok kaget.”

Dia hampir — hampir — tersenyum.

“Aku nggak buka,” lanjutku. “Dan aku ngomong keras-keras supaya Kakak tau aku milih. Bukan karena aku nggak penasaran. Aku penasaran banget. Aku penasaran sampai aku hampir nggak bisa tidur hari Rabu.”

“Kirana—“

“Belum selesai.”

Dia diam.

“Aku cuma mau Kakak tau bahwa ada satu orang di dunia ini yang bisa buka pintu itu dan milih nggak.” Aku mengangkat kepalaku. “Karena aku curiga selama ini Kakak mikir semua orang cuma nggak peduli.”


Ruangan itu sepi cukup lama.

Kulkas menyala, berdengung, lalu berhenti.

Aku mulai panik di detik kedua puluh. Aku sudah menyiapkan kalimat penyelamat — sesuatu tentang ayam kecap, apa saja — waktu dia bicara.

“Aku ngepel depan pintunya tiap Minggu.”

Aku menaruh sendokku.

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Lantainya beda, Kak. Lebih mengkilap.”

Dia menatapku.

“Kamu lihat itu?”

“Aku lihat semua hal, itu penyakitku.”

Dia mengangguk pelan, dua kali, lebih ke dirinya sendiri daripada ke aku.

“Bapak yang nutup,” katanya. “Tiga hari sebelum berangkat. Beliau bilang nanti dibereskan kalau sudah pulang.”

“Dua tahun lalu.”

“Iya.”

“Kakak nggak pernah buka?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan dia bilang sesuatu yang membuatku harus menunduk ke piring selama beberapa detik.

“Karena selama pintunya belum dibuka, urusannya belum selesai. Dan kalau urusannya belum selesai, Bapak harus pulang buat nyelesaiin.”


Aku tidak menangis. Aku ingin mencatat itu. Aku hampir, tapi tidak.

Aku menghabiskan makan siangku, dan aku bertanya soal try out, dan dia menjawab, dan kami membicarakan hal-hal biasa selama satu jam berikutnya.

Jam setengah empat, aku mulai membereskan tasku.

Dia mengantar sampai pagar seperti biasa.

“Kir.”

Aku berhenti. Dia jarang menyingkat namaku.

“Iya?”

Dia berdiri di balik pagar hijau itu, dan matahari sore jatuh miring dari arah gang, dan aku bisa melihat setengah wajahnya dari balik poni.

“Kamu boleh buka,” katanya.

Aku memegang gagang pagar.

“Kak—“

“Nanti.” Dia mengangguk sekali, seperti orang yang sedang menyetujui sesuatu dengan dirinya sendiri. “Nanti. Bukan sekarang. Tapi kamu boleh.”

“Nanti itu kapan?”

“Aku nggak tahu.”

“Kak Dewa—“

“Hati-hati di jalan.”

Dan dia masuk.

Aku berdiri di depan pagar hijau itu selama, mungkin, satu menit.

Lalu aku jalan ke halte, naik bus, duduk di bangku ketiga dari depan, dan mengeluarkan buku catatanku.

Aku membuka halaman baru dan menulis tanggalnya.

Di bawahnya aku tulis satu kalimat, dan itu satu-satunya kalimat yang aku tulis hari itu.

Dia bilang “nanti”.

Aku menatap kalimat itu sampai halte ketiga.

“Nanti” itu kata yang aneh. Kata itu berarti belum. Tapi kata itu juga berarti ada.