Chapter Twenty Five
Kliping
POV: Kirana
Aku membaca fotokopi itu untuk pertama kalinya di bus, dan aku membacanya salah.
Maksudku, aku membacanya seperti orang membaca berita: dari judul, ke paragraf pertama, ke foto.
Judulnya: ANJASMARA DUA JUARA, DITENTUKAN DI DETIK TERAKHIR.
Paragraf pertamanya tentang final turnamen basket antar-SMP se-kota, dua puluh satu Februari, tiga tahun lalu. Skor akhir lima puluh delapan lawan lima puluh tujuh.
Fotonya hitam putih dan buram karena diperbesar dari cetakan kecil. Di tengah foto ada anak laki-laki yang sedang diangkat oleh empat orang, tangannya ke atas, mulutnya terbuka.
Aku mengenali kakakku bahkan dalam foto seburuk itu.
Keterangan fotonya: Nakula Adiwangsa (13) mencetak angka penentu delapan detik sebelum peluit panjang.
Aku membaca artikelnya sampai selesai. Empat paragraf. Kakakku disebut lima kali.
Lalu aku menutup mapnya.
Aku duduk di bus dan berpikir: ini kenapa dikasih ke aku? Ini berita tentang Kak Naka.
Aku baru membacanya dengan benar tiga hari kemudian.
Yang membuatku membacanya ulang adalah hal yang sangat kecil.
Hari Kamis malam, aku sedang menyalin catatan Sejarah, dan mapnya ada di meja, dan aku membuka halaman terakhir itu lagi tanpa alasan.
Dan aku menyadari bahwa fotokopiannya bukan cuma artikelnya.
Halaman koran itu difotokopi utuh. Satu halaman penuh. Artikel tentang final ada di kolom kiri atas, dan di bawahnya ada iklan bengkel, dan di kolom kanan bawah ada tabel kecil dengan huruf yang lebih kecil dari yang lain.
Judul tabelnya: PENCETAK ANGKA TERBANYAK TURNAMEN.
Delapan baris. Nomor urut, nama, asal sekolah, total angka.
Aku membacanya dari bawah.
Baris nomor tiga: Nakula Adiwangsa, SMPN Anjasmara Dua, 71.
Aku berhenti.
Aku membaca baris di atasnya.
Baris nomor dua: nama lain, sekolah lain, 84.
Dan baris nomor satu.
Sadewa Pramudya, SMPN Anjasmara Dua, 112.
Aku duduk di meja belajarku dengan pulpen masih di tangan.
Seratus dua belas.
Kak Naka tujuh puluh satu.
Aku menghitung selisihnya seperti orang bodoh, dua kali, seperti kalau aku menghitungnya lagi angkanya akan berubah.
Empat puluh satu.
Aku membuka mesin pencari di ponselku dan mengetik nama sekolah itu dengan tahun turnamennya. Yang muncul cuma dua hasil, dua-duanya blog sekolah yang sudah tidak diurus, dan dua-duanya menulis hal yang sama: juara, delapan detik, Nakula Adiwangsa.
Aku mengetik nama Kak Dewa.
Nol.
Bukan sedikit. Nol.
Aku duduk di kamarku jam sebelas malam dan menatap dua angka di kertas fotokopi yang buram: seratus dua belas, dan tujuh puluh satu.
Dan aku mulai mengerti kenapa kakakku menutup pintu kamarnya.
Aku tidak bertanya.
Aku ingin menuliskan itu dengan jelas, karena aku hampir bertanya, dan aku hampir bertanya sebanyak enam kali dalam empat puluh delapan jam.
Aku tidak bertanya karena aku sudah bilang di dapur rumahnya bahwa ada satu orang di dunia ini yang bisa membuka pintu dan memilih tidak.
Kalau aku bertanya sekarang, kalimat itu jadi bohong.
Jadi aku menyimpan mapnya di laci paling bawah, di bawah tumpukan buku tulis lama, dan aku ke sekolah hari Jumat seperti biasa.
Dan di situlah aku gagal.
Aku tidak bercanda sama sekali hari Jumat.
Aku baru sadar itu jam dua siang, waktu Nadin menyentuh dahiku dan bertanya aku sakit apa.
Sepanjang pagi aku menjawab pertanyaan dengan benar. Aku bilang “iya” dan “nggak” dan “oke”. Aku membawa bekal seperti biasa. Aku duduk di aula seperti biasa.
Aku tidak menggoda dia sekali pun.
Aku bahkan tidak menyadarinya sampai jam dua.
Tapi Kak Dewa menyadarinya jam tujuh pagi.
“Kirana.”
Kami di aula, istirahat kedua, meja pojok.
“Iya, Kak?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu udah ngomong dua belas kalimat hari ini.”
Aku menaruh sendokku.
“Kakak ngitung?”
“Iya.”
“Emangnya biasanya berapa?”
“Nggak pernah aku hitung. Nggak kehitung.”
Aku hampir ketawa. Hampir.
“Aku cuma capek, Kak.”
Dia melihatku beberapa detik, dan aku tahu persis apa yang sedang dia lakukan, karena aku juga melakukannya sepanjang waktu. Dia sedang mencocokkan data.
Dan dia akan menemukan sesuatu, karena aku sudah dua bulan jadi orang yang paling bisa diprediksi di sekolah ini.
“Oke,” katanya.
Dan dia tidak mengejar.
Itu lebih buruk. Aku ingin dia mengejar.
Sore itu kami jalan ke halte seperti biasa.
Aku memegang tangannya di persimpangan kedua, seperti biasa, dan dia menyesuaikan langkah, seperti biasa, dan semuanya biasa kecuali aku.
Di depan toko fotokopi, dia berhenti.
“Kirana.”
“Iya.”
“Kalau ada yang ganggu kamu di sekolah, bilang.”
Aku menoleh.
“Nggak ada yang ganggu, Kak.”
“Kalau ada.”
“Kenapa Kakak mikir gitu?”
“Karena kamu diem seharian dan kamu nggak pernah diem.” Dia melihat ke ujung jalan. “Dan orang yang tiba-tiba diem biasanya lagi nyimpen sesuatu yang dia kira bakal ngerepotin orang lain kalau diomongin.”
Aku memegang tali tasku dengan sangat erat.
Dia baru saja mendeskripsikan dirinya sendiri, dan dia sama sekali tidak menyadarinya.
“Kak.”
“Hm.”
“Boleh aku nanya sesuatu yang aneh?”
“Boleh.”
“Kakak dulu main basket?”
Aku merasakan tangannya berubah.
Bukan dilepas. Tidak ada yang dilepas. Cuma ada perubahan yang sangat kecil — jarinya berhenti bergerak, otot di telapaknya mengeras sepersekian detik lalu kembali normal.
Kalau aku tidak sedang memegangnya, aku tidak akan tahu apa-apa.
“Pernah,” katanya. “SMP.”
“Bagus nggak?”
“Nggak.”
“Kak Naka bagus?”
“Naka juara turnamen kota.” Dia jalan lagi. “Semua orang tahu itu.”
“Iya. Semua orang tahu itu.”
Aku mengucapkannya dengan nada yang salah.
Aku tahu nadanya salah di detik itu juga, dan aku tidak bisa menariknya kembali.
Dia berhenti jalan.
“Kirana.”
“Iya.”
Dan aku, karena aku bodoh, karena aku capek, karena aku sudah dua hari memegang dua angka di dalam laci dan tidak bisa mengeluarkannya, berkata:
“Kak, kalau ada yang bilang Kakak yang paling hebat di lapangan itu, Kakak bakal bilang apa?”
Dia melihatku.
“Bukan aku, kok.”
Cepat. Rata. Tanpa jeda.
Sama seperti waktu Danang bertanya di kantin. Sama seperti waktu Kak Anindya bilang terima kasih. Sama seperti waktu aku bilang dia ganteng di ruang tamunya sendiri.
Dan aku — aku tidak tahu apa yang merasuki aku, aku bersumpah aku tidak berencana mengucapkannya —
“Kalau nanti aku pergi juga, Kakak bakal bilang ‘bukan aku, kok’ lagi?”
Trotoar itu sepi.
Ada motor lewat. Ada bunyi mesin fotokopi dari dalam toko.
Kak Dewa tidak menjawab.
Dia tidak marah. Wajahnya tidak berubah. Dia tidak melangkah mundur.
Dia cuma tidak menjawab, dan dia melepaskan tanganku — pelan, dengan cara orang meletakkan sesuatu yang mudah pecah — dan berkata, “Busmu dateng.”
Busnya memang datang. Aku melihatnya dari ujung jalan.
“Kak, aku nggak maksud—“
“Aku tahu.”
“Kak Dewa—“
“Aku tahu, Kirana.” Dia mengangguk sekali. “Hati-hati.”
Aku naik bus.
Aku duduk di bangku ketiga dari depan dan aku menangis dengan sangat pelan supaya ibu-ibu di sebelahku tidak melihat, dan aku gagal, dan ibu-ibu itu menawariku tisu, dan aku bilang terima kasih dan menangis lebih keras.
Jam delapan malam, bel rumah kami berbunyi.
Aku sedang di kamar. Aku dengar Ibu membuka pintu dari lantai bawah.
Lalu aku dengar suara Ibu berubah.
“...Dewa?”
Aku bangkit dari kasur secepat itu sampai kepalaku kena rak.
Aku turun setengah tangga dan berhenti di anak tangga keempat, di titik di mana aku bisa melihat ruang tamu tapi tidak bisa dilihat dari pintu.
Dia berdiri di teras. Masih pakai seragam. Jam delapan malam.
“Malam, Tante. Maaf ganggu.”
“Astaga, nggak ganggu. Masuk, masuk. Kamu udah makan?”
“Sudah, Tante.”
“Bohong kamu.”
“Sudah, beneran.”
Ibu menoleh ke dalam. “NAKA! Ada Dewa!”
Ada suara kursi di ruang tengah. Lalu langkah cepat.
Kak Naka muncul di ruang tamu dengan kaus rumahan dan rambut basah, dan dia berhenti di tengah jalan waktu melihat siapa yang berdiri di teras.
Aku melihat mukanya dari atas tangga.
Kakakku kelihatan seperti orang yang baru mendengar bunyi yang sudah tiga tahun dia tunggu dan sekaligus tiga tahun dia takuti.
“Dew?”
“Naka.”
“Lo—“ Kak Naka melihat jam dinding. Lalu ke Dewa lagi. “Lo ke sini?”
“Iya.”
“Sendiri?”
“Iya.”
Kak Naka berdiri di situ, dan tidak ada yang bicara selama beberapa detik, dan Ibu melihat dua-duanya bergantian dengan wajah yang aku tidak bisa baca.
Lalu Kak Dewa bilang, “Bisa ngomong bentar?”
Dan kakakku menjawab dengan suara yang pecah di kata pertama, walaupun cuma satu kata.
“Bisa.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping reading
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan