Chapter Five
Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
POV: Sadewa
Ruang OSIS di sekolah ini menghadap timur, jadi jam empat sore sudah tidak panas. Itu satu-satunya alasan aku sering ada di sini.
Alasan kedua, kalau harus jujur: kalau aku pulang jam empat, aku sampai rumah jam setengah lima, dan setelah itu tidak ada apa-apa lagi sampai besok pagi.
Aku bukan anggota OSIS. Aku tidak pernah mendaftar. Tapi tahun lalu ada kejadian di mana daftar inventaris gudang hilang tiga hari sebelum audit sarana, dan aku kebetulan tahu di mana file cadangannya karena aku yang memindahkannya ke laci bawah waktu membantu memindahkan lemari.
Sejak itu namaku ada di daftar “pembantu umum” yang ditulis tangan di kertas yang ditempel di dinding, dan tidak ada yang pernah mempertanyakan kenapa.
Itu posisi yang bagus. Pembantu umum tidak masuk foto pengurus, tidak disebut waktu upacara, dan tidak ada yang tahu apa kerjanya. Tapi pembantu umum punya kunci gudang.
Aku menaruh dua kardus di pojok, membuka yang pertama, dan mulai memisahkan kertas berdasarkan ukuran.
“Sadewa.”
Aku menoleh.
Anindya Prameswari berdiri di ambang pintu dengan map di tangan kiri dan kunci ruangan di tangan kanan. Seragamnya masih serapi jam tujuh pagi, yang menurutku secara teknis mustahil karena hari ini ada dua jam praktikum.
“Iya.”
“Kamu ada waktu dua puluh menit?”
Aku ada waktu enam jam. “Ada.”
“Bagus. Duduk.”
Aku duduk. Dia duduk di seberang, bukan di sebelah, dan menggeser kursinya sampai posisinya lurus menghadap meja. Bukan miring. Anindya tidak pernah duduk miring.
Rapatnya soal lomba antarkelas bulan depan.
Anindya membuka mapnya, mengeluarkan tiga lembar, dan menyusunnya di meja dalam urutan yang jelas sudah dia tentukan sebelum masuk ruangan.
“Ini rundown sementara. Ini anggaran. Ini daftar kelas yang belum konfirmasi.” Dia menunjuk lembar ketiga. “Ada empat kelas belum. Dua di antaranya kelas dua belas.”
“Kelas dua belas biasanya konfirmasi terakhir.”
“Saya tahu. Tapi tahun lalu dua kelas mundur di hari H dan lombanya jadi timpang.” Dia menarik pulpen dari saku. “Saya tidak mau itu terulang.”
Aku membaca daftarnya.
Nama kelasnya ditulis tangan, rapi, dengan dua warna: hitam untuk yang sudah konfirmasi, biru untuk yang belum. Di kolom paling kanan ada angka kecil di sebelah tiap kelas. Aku butuh beberapa detik untuk mengerti angka itu apa.
Jumlah siswa yang ikut tahun lalu.
Dia tidak menyebutkan kolom itu sama sekali waktu menjelaskan. Berarti kolom itu bukan untuk rapat ini. Itu untuk dia sendiri.
Dua puluh menit, dan sebenarnya tidak ada yang perlu diputuskan berdua. Semua kolom sudah terisi. Anggarannya sudah dibulatkan. Rundown-nya sudah punya cadangan waktu tiga puluh menit di tengah.
Kalau ada yang bertanya pendapatku, pendapatku adalah: rapat ini tidak perlu dua orang.
Tapi tidak ada yang bertanya, jadi aku menjawab hal-hal yang ditanyakan dan tidak menyebutkan sisanya.
“Menurut kamu urutannya bagaimana? Basket dulu atau futsal dulu?”
“Futsal.”
“Alasannya?”
“Lapangan futsal kena matahari sampai jam sepuluh. Kalau ditaruh siang, panas. Aula bisa kapan saja.”
Dia menulis. Tidak menoleh.
“Itu juga yang saya pikirkan.”
“Berarti nggak perlu ditanya.”
Pulpennya berhenti setengah detik.
“Perlu,” katanya. “Saya suka mendengarnya dari orang lain.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa untuk itu, jadi aku kembali ke daftar kelas.
“Sepuluh IPA tiga belum konfirmasi.”
“Belum. Anak kelas sepuluh selalu terlambat. Mereka belum tahu caranya.”
“Ketua kelasnya siapa?”
Dia membalik satu lembar. “Nadin Prasetya.”
Aku mengangguk dan tidak bertanya apa-apa lagi, karena pertanyaan berikutnya yang muncul di kepalaku sama sekali tidak ada hubungannya dengan lomba antarkelas, dan aku memutuskan untuk tidak menanyakannya.
Empat puluh menit kemudian — bukan dua puluh — dia menutup mapnya.
Di luar sudah mulai gelap. Lampu koridor menyala satu per satu, dari ujung utara, seperti biasa dengan jeda dua detik antar-lampu karena panelnya tua.
Anindya berdiri dan merapikan kursinya masuk ke bawah meja. Dia selalu melakukan itu. Aku sudah memperhatikan enam kali.
Orang bilang dia dingin. Aku rasa itu salah. Dia cuma tidak melakukan hal-hal yang tidak dia maksudkan.
“Sadewa.”
“Iya.”
“Terima kasih untuk jadwal aula tim basket.”
Aku sedang menutup kardus. Aku menyelesaikan gerakan itu dulu, baru menjawab.
“Bukan aku, kok.”
Kalimat itu keluar dengan sendirinya. Sudah bertahun-tahun. Nadanya rata, waktunya pas, dan biasanya percakapan berhenti tepat di situ.
Anindya tidak menjawab.
Dia tidak membantah, tidak bertanya, tidak menaikkan alis. Dia berdiri di sisi lain meja dengan map di dada dan melihat ke arahku selama kira-kira tiga detik.
Tiga detik itu terlalu lama.
Orang yang percaya akan langsung bilang “oh, oke”. Orang yang tidak percaya akan langsung membantah. Yang diam tiga detik adalah orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya, dan sedang memutuskan mau diapakan jawaban itu.
“Baik,” katanya akhirnya.
Cuma itu.
Dia membuka mapnya lagi, di halaman belakang, menulis sesuatu yang pendek — tiga atau empat kata, aku bisa mengukur dari lama gerakan pulpennya — lalu menutupnya kembali.
“Saya kunci ruangannya jam enam.”
“Aku selesai sebelum itu.”
“Saya tahu.” Dia sudah di dekat pintu. “Kamu selalu selesai dua puluh menit sebelum saya kunci.”
“Kebetulan.”
“Empat belas kali.”
Dia mengangguk dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu dia berhenti.
“Pak Yudho tidak menandatangani surat untuk siapa pun sejak Februari,” katanya, tanpa menoleh. “Kecuali kalau yang mengajukan datang hari Senin sebelum jam sepuluh, dan membawa rincian jadwal pemakaian, dan menyebutkan siapa yang bertanggung jawab kalau ada kerusakan.”
Dia membetulkan letak mapnya.
“Tim basket tidak punya orang yang tahu itu.”
Lalu dia keluar.
Aku duduk di ruang OSIS selama beberapa menit tanpa mengerjakan apa-apa.
Aku pulang jam enam kurang sepuluh.
Gerbang samping sudah ditutup, jadi aku lewat depan. Pak Timin sedang menyapu daun di dekat pos.
“Pulang, Mas?”
“Iya, Pak.”
“Ati-ati.”
Empat belas kali. Dia menghitung.
Aku sudah lewat lima langkah dari pos satpam waktu aku berhenti dan balik badan.
“Pak.”
“Ya?”
“Bapak buka gerbang jam enam terus, ya?”
Dia berhenti menyapu dan melihatku seperti orang yang ditanya sesuatu yang tidak masuk akal. “Ya iya, Mas. Emang jamnya segitu.”
“Udah berapa lama?”
“Sembilan tahun. Lebih dikit.” Dia melanjutkan menyapu. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Aneh-aneh aja.”
Aku jalan ke halte.
Anak kelas sepuluh itu tahu nama Pak Timin. Aku bilang ke dia untuk menulis tentang Pak Timin, dan aku bilangnya cepat sekali, terlalu cepat, seperti orang yang sudah menyiapkan nama pengganti sebelum ditanya.
Aku menyiapkan nama pengganti sebelum ditanya.
Bus datang. Kosong, karena jam ini tidak ada yang berangkat ke arah sana.
Aku duduk di bangku belakang dan mengeluarkan ponsel. Pesan Naka yang kemarin masih di sana, satu kata, belum kubalas.
Naka: Dew.
Aku mengetik kenapa, menghapusnya, mengetik ada apa, menghapusnya lagi.
Kalau aku bertanya, dia akan menjawab. Dan begitu dia menjawab, kami harus membicarakan sesuatu yang sudah tiga tahun tidak kami bicarakan, dan aku tidak melihat gunanya membicarakan sesuatu yang tidak bisa diubah.
Aku menutup ponsel dan memasukkannya ke saku.
Di luar jendela, sekolah lewat, lalu deretan ruko, lalu lampu-lampu jalan yang sebagian mati.
Empat puluh menit lagi sampai rumah. Aku sudah tahu persis akan seperti apa: kunci, lampu depan, sandal, lampu ruang tengah, dapur, dan sebuah rumah yang bunyinya cuma kulkas.
Aku sudah terbiasa. Itu bukan keluhan. Aku cuma sedang menghitung waktu, seperti biasa.
Yang mengganggu bukan itu.
Yang mengganggu adalah empat kata di halaman belakang map Anindya, dan aku tidak tahu isinya, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun ada catatan tentangku yang tidak bisa kuhapus sendiri.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang reading
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan