Chapter Forty Three
Iya. Aku.
POV: Sadewa
Aku ke mading hari Senin, tanggal dua Maret, jam setengah tujuh pagi.
Aku sudah menyelesaikan koridor barat. Wastafel ketiga tidak bocor. Papan piket sudah benar. Engsel pintu 11 IPA 2 sudah dikencangkan minggu lalu.
Aku ke mading bukan untuk mengerjakan apa-apa.
Aku ke sana untuk melihatnya sekali, dengan sengaja, sebelum aku memutuskan.
Aku sudah memutuskan sebenarnya. Aku memutuskannya jam sebelas malam kemarin, di ruang tamu, setelah membaca ulang satu baris di buku catatan yang pernah aku lihat bulan Januari.
Tapi aku ingin melihat kertasnya dulu.
Enam puluh delapan kertas.
Aku membacanya dari kiri atas, satu per satu, dan aku membacanya semua kali ini.
Ada yang aku kerjakan. Ada yang bukan aku. Ada satu yang isinya soal jendela kelas 11 IPS 2 yang macet tiga minggu, dan itu memang aku, dan aku ingat hari itu karena obengnya patah.
Ada kertas kecil di kolom kanan, ditulis dengan pensil, huruf besar semua, seperti tulisan anak kelas sepuluh:
siapapun kamu, makasih ya.
Aku berdiri di depan mading itu jam setengah tujuh pagi.
Dan lalu koridor mulai terisi.
Aku tidak menyadarinya sampai terlambat.
Aku biasanya menyadari. Aku selalu menghitung berapa orang di koridor, dari arah mana, jam berapa. Itu bagian dari sistemnya.
Pagi itu aku sedang membaca dan aku lupa menghitung.
Waktu aku menoleh, sudah ada tujuh atau delapan orang di koridor, dan tiga di antaranya berdiri di dekat mading, dan salah satunya sedang melihat ke arahku.
Anak perempuan kelas sepuluh. Rambut dikuncir. Aku tidak tahu namanya.
Dia melihat mukaku.
Aku tidak memakai poni turun pagi itu.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur karena ini bagian yang penting. Aku tidak lupa. Aku bangun jam lima, aku mandi, aku menyisir rambutku ke belakang, dan aku memutuskan untuk tidak menurunkannya.
Aku sudah memutuskan jam sebelas malam kemarin.
Anak itu melihatku selama mungkin dua detik.
Lalu dia bilang, cukup keras, dan bukan kepada temannya:
“Kakak yang nomor sembilan, ya?”
Koridor itu berhenti.
Bukan seluruh koridor. Mungkin lima orang. Tapi lima orang di koridor jam setengah tujuh pagi itu banyak, karena biasanya nol.
“Iya,” kataku.
Dia mengangguk cepat, dan wajahnya jadi merah, dan dia hampir berbalik.
Lalu dia tidak jadi berbalik.
Dia menunjuk mading dengan seluruh tangannya, bukan dengan jari, seperti orang yang terlalu gugup untuk menunjuk dengan benar.
“Kak,” katanya. “Yang ini semua—“
Dia berhenti.
Aku menunggu.
“Yang ini semua Kakak?”
Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di kepalaku selama dua detik berikutnya, karena dua detik itu yang aku pikirkan paling lama setelahnya.
Aku menyiapkan kalimatnya. Otomatis. Sudah enam tahun.
Kalimatnya sudah ada di mulutku sebelum anak itu selesai bertanya. Aku tahu persis bagaimana bunyinya, aku tahu persis berapa lama percakapan ini akan selesai kalau aku mengucapkannya — tiga detik, mungkin empat — dan aku tahu persis bahwa anak itu akan bilang “oh, oke” dan pergi dan tidak akan bertanya lagi seumur hidupnya.
Aku sudah memakai kalimat itu sebelas kali sejak bulan Agustus.
Aku sudah memakainya sebagai pintu, sebagai perisai, dan satu kali sebagai palu, dan yang terakhir itu mengenai satu-satunya orang yang tidak pantas menerimanya.
Dan pagi itu, di koridor lantai satu, jam setengah tujuh, kepada anak kelas sepuluh yang aku tidak tahu namanya, kalimat itu tidak keluar.
Bukan karena aku menahannya.
Karena untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku menghitung dan hasilnya berbeda.
Kalau aku bilang bukan aku, ada enam puluh delapan kertas di dinding itu yang jadi bohong. Ada anak kelas sepuluh yang menulis “siapapun kamu, makasih ya” pakai pensil dan tidak akan pernah tahu kepada siapa dia menulisnya.
Dan ada satu orang yang selama delapan bulan mengumpulkan bukti bahwa aku ada, dan aku sudah sekali membuat pengumpulan itu terasa sia-sia, dan aku tidak akan melakukannya dua kali.
“Iya,” kataku.
Anak itu mengerjap.
“Iya, Kak?”
Aku menoleh ke mading. Lalu ke dia.
“Iya. Aku.”
Koridor itu sepi selama mungkin satu detik penuh.
Lalu anak itu memekik.
Bukan berteriak. Memekik, pendek, dan langsung menutup mulutnya sendiri dengan dua tangan, dan menoleh ke temannya, dan temannya menoleh balik, dan lalu keduanya memekik.
“KAK—“
“KAK, SERIUS?”
“KAK, YANG JAM KORIDOR ITU JUGA?”
“Iya.”
“KAK, SAYA SELALU MIKIR SAYA BERUNTUNG!”
“Iya, aku tau.”
Dia berbalik ke temannya dan berkata sesuatu dengan sangat cepat, dan temannya menepuk lengannya berkali-kali, dan seseorang di ujung koridor bertanya “apaan sih” dan langsung dijawab tiga orang sekaligus.
Aku berdiri di situ dan tidak melakukan apa-apa.
Sistemnya sudah selesai. Enam tahun. Aku menghitungnya sampai detik terakhir dan aku membongkarnya sendiri jam setengah tujuh pagi dengan dua kata.
Aku ingin mencatat apa yang aku rasakan.
Yang aku rasakan bukan lega. Aku sudah memeriksanya berkali-kali dan itu bukan lega.
Yang aku rasakan adalah: berdiri di koridor terang tanpa penutup apa pun itu tidak nyaman, dan aku tetap berdiri di situ, dan tidak ada yang runtuh.
Kirana datang jam enam empat puluh dua.
Aku tahu jamnya karena aku selalu tahu jamnya.
Dia berjalan dari arah tangga dengan dua kotak bekal dan berhenti sekitar sepuluh meter dari mading.
Di depan mading sekarang ada sebelas orang.
Dia melihat kerumunan itu. Lalu dia melihat aku, berdiri di tengahnya, tanpa poni.
Dia berhenti jalan.
Aku melihat dia menghitung. Dia selalu menghitung. Aku sudah delapan bulan mempelajari itu.
Dan aku melihat momen di mana hitungannya selesai, karena mulutnya sedikit terbuka dan tangannya yang memegang kotak bekal turun sepuluh sentimeter.
Aku jalan ke arahnya.
Sebelas orang di belakangku masih ribut soal jam dinding koridor.
Aku berhenti di depannya.
“Kirana.”
“Kak—“
“Aku ngomong ke anak itu.”
“Aku denger dari tangga.”
“Kamu denger?”
“Sekolah ini denger, Kak.”
Aku menoleh ke belakang. Sekarang ada tiga belas orang.
“Kak Dewa.”
“Hm.”
“Kakak bilang apa tadi? Yang persis.”
Aku menoleh kembali ke dia.
Dan aku menyadari bahwa dia sudah tahu jawabannya, karena dia bilang barusan bahwa dia mendengarnya dari tangga.
Dia menyuruhku mengulangnya.
Dia berdiri di koridor lantai satu jam enam empat puluh tiga dengan dua kotak bekal di tangan dan dia menyuruhku mengulangnya, dan aku mengerti kenapa, dan aku mengulanginya.
“Iya. Aku.”
Dia tidak bergerak.
Aku menghitung. Enam detik.
Lalu dia bilang, dengan suara yang sangat kecil, “Oke.”
“Oke?”
“Oke.” Dia mengangguk cepat, dua kali. “Oke. Bagus. Oke.”
“Kirana.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Kotaknya miring.”
Dia melihat ke bawah. Kotak bekalnya memang miring dan tutupnya hampir lepas dan dia memperbaikinya dengan tangan yang jelas-jelas tidak stabil.
Dan aku berdiri di depannya dan aku melihat anak ini — yang bangun jam setengah lima pagi selama lima bulan, yang membawa dua kotak pulang utuh selama sepuluh hari dan memakannya sendiri di kamar, yang menyimpan sesuatu selama empat tahun karena menganggap itu bukan haknya — berusaha keras sekali untuk terlihat baik-baik saja di koridor sekolah jam enam empat puluh tiga pagi.
Jadi aku melakukan sesuatu yang tidak aku rencanakan sama sekali.
Aku menunduk dan mencium keningnya.
Sekali. Pendek. Mungkin dua detik.
Aku harus menunduk cukup jauh karena tingginya seratus lima puluh dua dan tingginya seratus tujuh puluh delapan, dan aku sudah menghitung selisih itu berkali-kali selama delapan bulan tanpa pernah tahu untuk apa hitungannya.
Waktu aku berdiri tegak lagi, dia tidak bergerak sama sekali.
Matanya terbuka. Mulutnya terbuka sedikit. Dua kotak bekal masih di tangannya.
Tiga belas orang di depan mading berhenti ribut sekaligus.
“Kirana.”
Dia tidak menjawab.
“Kirana.”
Tidak ada.
Dan lalu ada suara dari arah tangga.
“OI, DEW, LO KENAPA NGGAK BALES CHAT—“
Naka.
Kakak orang itu berhenti di anak tangga terakhir dengan tas di satu bahu dan mulut masih terbuka di tengah kalimat.
Dia melihat mading. Dia melihat tiga belas orang. Dia melihat aku.
Dia melihat adiknya.
“...Dew?”
“Naka.”
“Kenapa muka adek gue kayak gitu?”
Dan di detik itu Kirana Adiwangsa mengeluarkan bunyi kecil — bukan kata, cuma bunyi — dan lututnya lepas.
Aku menangkap kotak bekalnya.
Aku ingin mencatat itu karena aku memikirkannya sampai sekarang: dari dua benda yang jatuh saat itu, refleks pertamaku adalah kotak bekalnya.
Naka yang menangkap adiknya.
Dia sudah bergerak sebelum aku selesai berbalik. Dia melintasi enam meter koridor itu dengan tas masih di bahu dan menangkap Kirana dari samping, satu tangan di punggung, satu di bawah lengan, dan menahannya berdiri.
“KIR.”
“...mm.”
“KIRANA.”
“Aku sadar,” kata Kirana, dengan mata setengah tertutup, ke arah lantai. “Aku sadar kok. Aku cuma—“
“Lo pingsan berdiri.”
“Aku nggak pingsan.”
“LO PINGSAN BERDIRI, KIR.”
Tiga belas orang di depan mading sekarang tiga puluh dua orang dan tidak ada satu pun dari mereka yang berpura-pura tidak melihat.
Naka menoleh ke aku, masih menahan adiknya, dengan wajah orang yang tidak mengerti apa pun tentang lima menit terakhir.
“Dew.”
“Hm.”
“Lo ngapain?”
Aku memegang dua kotak bekal.
“Aku ngomong ke anak kelas sepuluh.”
“Ngomong apa?”
Dan Kirana, dengan mata masih setengah tertutup, bersandar di lengan kakaknya sendiri di koridor lantai satu SMA Negeri 4 Anjasmara jam enam empat puluh empat pagi, menjawab untuk aku.
“Dia bilang ‘iya, aku’,” katanya.
Naka berdiri diam.
“Terus dia cium kening aku,” tambah Kirana.
Dan kakaknya melihat ke aku dengan ekspresi yang belum pernah aku lihat dalam dua belas tahun, dan berkata, sangat pelan, seperti orang yang sedang bicara ke dirinya sendiri:
“Bel masih lima belas menit lagi, ya.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku. reading
- 44 Kelulusan