← Bukan Aku, Kok

Chapter Thirty Four

Yang Diajarkan Mama

POV: Kirana


Kami tidak membicarakannya lagi selama seminggu.

Bukan karena menghindar. Kami masih ketemu tiap pagi di koridor barat. Aku masih bawa bekal. Dia masih mengantar sampai halte dan menunggu busku berangkat.

Tapi ada yang berubah, dan aku butuh empat hari untuk menyadari apa.

Dia mulai memberi tahu.

Bukan bercerita — dia belum bercerita apa-apa lagi. Memberi tahu.

Selasa: “Nanti sore aku ke ruang OSIS sampai jam enam.”

Rabu: “Besok aku nggak ke koridor barat. Ada tes.”

Kamis: “Hari Minggu aku ke perpustakaan kota, jam sepuluh sampai satu.”

Aku tidak pernah bertanya. Dia yang bilang, sendiri, tiap hari, dengan nada orang membacakan jadwal.

Aku menulis semuanya di buku, dan hari Jumat aku membaca ulang lima baris itu berturut-turut dan aku hampir menangis di kelas Sejarah.

Dua tahun tidak ada satu orang pun yang perlu tahu dia di mana.


Sabtu, jam sepuluh. Bel dua kali. Dia sudah di teras.

Kami masak bareng — dia yang masak, aku yang merusak — dan makan, dan mencuci piring, dan semuanya normal sampai jam satu.

Jam satu aku duduk di sofa dan dia duduk di kursi kayu, dan aku memutuskan untuk mengatakannya.

Aku sudah menyiapkan ini sejak Rabu. Aku sudah menulisnya di buku dan menghapusnya dan menulisnya lagi.

“Kak.”

“Hm.”

“Aku rela jadi istri kamu nanti.”


Ruangan itu sepi.

Aku mengucapkannya tanpa “Kakak”. Aku sengaja. Aku sudah memikirkan itu tiga hari.

Bulan Oktober aku mengucapkan kalimat yang hampir sama di ruangan ini juga, dan waktu itu sendoknya jatuh dan aku langsung teriak “AKU BERCANDA” dan lari ke teras.

Kali ini aku tidak lari.

Aku duduk di sofa dan aku menunggu, dan aku menatapnya, dan tanganku dingin.

Dia meletakkan gelasnya.

“Kirana.”

“Iya.”

“Jangan bilang gitu kalau kamu nggak tahu aku ini apa.”


Aku merasakan sesuatu jatuh di perutku.

“Kak, aku tau Kakak apa.”

“Nggak.”

“Aku tau lebih banyak dari siapa pun di sekolah itu.”

“Kamu tau kejadiannya,” katanya. “Itu beda.”

Dia berdiri dan jalan ke jendela. Selalu jendela.

“Aku mau ngomong sesuatu dan aku baru bisa nyusunnya minggu ini,” katanya. “Aku nggak yakin susunannya bener, tapi aku mau ngomong sekarang mumpung masih ada.”

“Oke.”

“Kamu inget aku cerita soal ayam kecap?”

“Inget.”

“Dan soal aku bilang ke bapak aku udah nggak terlalu suka.”

“Inget, Kak.”

“Aku ngira itu satu-satunya.” Dia menghadap ke luar. “Minggu ini aku ngitung. Ternyata bukan.”


Dia mulai menyebutkan.

Dia menyebutkannya seperti orang membacakan daftar inventaris, satu per satu, dan itu yang paling buruk.

“Kelas satu SMP aku nggak ikut karya wisata. Aku bilang ke bapak aku nggak minat. Aku minat.”

“Kak—“

“Kelas dua SMP nilai Fisikaku turun. Aku nggak bilang. Aku les sendiri pakai uang jajan dua bulan sampai naik lagi, terus baru aku kasih lihat rapotnya.”

Aku memegang bantal sofa.

“Kelas satu SMA aku demam empat hari sendirian di rumah ini. Bapak nelepon hari Minggu, aku bilang aku baik-baik aja. Suaraku serak, aku bilang abis nyanyi di kelas.”

“Kak Dewa, berhenti.”

“Satu lagi.” Dia masih menghadap jendela. “Naka bayarin studi tour tujuh ratus lima puluh ribu bulan November. Dia bilang itu tabungan kerja sampingan. Aku tau dia bohong, aku tau itu duit yang dia sisihin buat sepatu.”

Aku menutup mulutku.

“Aku nggak bilang apa-apa. Aku terima. Karena kalau aku tolak, dia bakal ngerasa gagal lagi.” Dia berhenti. “Jadi aku diem dan biarin dia ngasih, biar dia ngerasa enak.”


“Kak.”

“Kirana, kamu lihat polanya nggak?”

Aku tidak menjawab.

“Semua yang aku sembunyiin,” katanya, “aku sembunyiin dari orang yang aku sayang. Nggak ada satu pun dari orang yang aku nggak peduli.”

Dia berbalik dari jendela.

“Aku nggak nyembunyiin apa-apa dari Danang. Aku nggak nyembunyiin apa-apa dari Pak Yudho. Aku bilang apa adanya ke mereka.”

“Kak—“

“Yang aku bohongin cuma bapak, Naka, dan—“ Dia berhenti.

“Dan?”

“Ibu.”

Ruangan itu sepi lagi.

“Bulan-bulan terakhir aku nggak pernah cerita apa-apa yang jelek ke beliau,” katanya. “Sekali pun nggak. Aku dimarahin guru, aku nggak cerita. Aku jatuh dari sepeda, aku nggak cerita. Aku cuma bawa yang menang.”

Dia melihat ke lantai.

“Dan hari terakhir itu, beliau ngelakuin hal yang sama ke aku.”


Aku merasakan dinginnya sampai ke tangan.

“Kak.”

“‘Mama baik-baik aja.’” Dia mengucapkannya pelan sekali. “Beliau tau. Beliau udah tau dari malemnya. Dan beliau bilang baik-baik aja.”

“Kak, itu—“

“Itu sayang,” katanya. “Aku tau itu sayang. Aku nggak marah. Aku nggak pernah marah sedetik pun.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Tapi itu yang aku pelajarin, Kirana. Itu bentuknya. Sayang itu artinya nyimpen sesuatu biar orangnya bisa jalan terus.”


Aku berdiri dari sofa.

“Kak, itu salah.”

“Aku tau itu salah.”

“Terus kenapa—“

“Karena aku nggak punya bentuk lain,” katanya, dan itu pertama kalinya sepanjang hari suaranya berubah. “Aku nggak punya contoh lain, Kirana. Aku umur dua belas waktu diajarin, dan aku nggak pernah dapet versi keduanya.”

Dia berdiri di tengah ruang tamu.

“Jadi waktu kamu bilang barusan—“ Dia berhenti, dan mulai lagi. “Waktu kamu bilang yang barusan, aku ngitung. Aku selalu ngitung. Dan yang aku hitung bukan gimana rasanya.”

“Terus apa?”

“Yang aku hitung: apa yang bakal aku sembunyiin dari kamu.”


Aku berdiri di ruang tamu rumah itu dan aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Aku udah mulai,” katanya. “Empat bulan. Aku nggak bilang soal Pak Herman. Aku nggak bilang soal apa yang Naka ceritain di makam. Aku nggak bilang kalau aku nggak tidur tiga malem minggu ini.”

“Kak Dewa—“

“Dan aku nggak nyembunyiin itu buat nyakitin kamu,” katanya. “Aku nyembunyiin karena kamu lima belas, dan kamu bawa bekal jam setengah lima pagi, dan kamu nangis di dapur rumah aku bulan Desember, dan aku nggak mau nambah.”

Dia melihatku.

“Itu persis yang ibuku lakuin.”


Aku menangis. Tentu saja aku menangis. Tapi aku menangis sambil berdiri dan aku tidak menutup muka, dan aku ingin mencatat itu karena aku bangga.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak sayang aku?”

Dia tidak ragu.

“Iya.”

“Oke.” Aku mengelap muka dengan lengan. “Oke. Bagus. Sekarang dengerin aku.”

Dia diam.

“Kalau bentuknya kayak gitu,” kataku, “aku nggak mau.”


Wajahnya berubah.

Cuma sedikit. Sesuatu di sekitar mata. Tapi aku sudah lima bulan mempelajari wajah itu dan aku tahu persis apa yang barusan aku lakukan.

“Kirana—“

“Aku nggak mau disayang kayak gitu, Kak.”

“Aku nggak bisa yang lain.”

“Aku nggak minta Kakak bisa sekarang.” Suaraku naik dan aku membiarkannya. “Aku minta Kakak berhenti nyebut itu sayang.”

“Itu emang—“

“ITU BUKAN SAYANG, KAK. ITU PENJAGAAN.”

Aku berdiri di tengah ruangan itu dengan muka basah dan tangan mengepal.

“Ibu Kakak jagain Kakak. Kakak jagain bapak Kakak. Kakak jagain Kak Naka. Semua orang di cerita ini jagain semua orang.” Aku menarik napas. “Dan nggak ada satu pun dari kalian yang pernah tau apa yang beneran terjadi sama orang yang kalian jagain.”

Dia tidak menjawab.

“Kak, aku nggak butuh dijagain.”

“Kamu lima belas.”

“IYA, AKU LIMA BELAS, DAN AKU UDAH TAU SEMUANYA.”

Aku menunjuk ke lorong, ke pintu yang sekarang terbuka.

“Aku duduk di kamar itu, Kak. Aku baca amplop yang belum Kakak buka tujuh tahun. Aku dengar Kakak cerita soal jam dua siang.” Aku menurunkan tanganku. “Dan aku masih di sini hari Sabtu jam satu siang.”


Aku mengambil tasku.

“Kirana.”

“Aku pulang.”

“Kirana.”

“Aku nggak marah.” Aku berhenti di dekat pintu. “Aku beneran nggak marah, Kak, dan aku nggak lagi ngambek, dan aku bakal dateng Sabtu depan.”

Aku memutar badan.

“Tapi aku nggak akan pura-pura oke sama yang barusan.”

Dia berdiri di tengah ruang tamu.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak bilang Kakak nggak punya contoh lain.”

“Iya.”

Aku memegang gagang pintu.

“Aku ada di sini tiap Sabtu selama lima bulan,” kataku. “Kakak nggak nyariin contoh.”

Dan aku keluar.