← Bukan Aku, Kok

Chapter Forty Four

Kelulusan

POV: Nakula, lalu Sadewa


Bagian Satu — Nakula

Kelulusan tanggal dua Mei, di aula, jam sembilan pagi.

Gue ditunjuk buat kasih sambutan perwakilan siswa. Tentu aja gue yang ditunjuk. Gue selalu yang ditunjuk. Tiga tahun.

Gue nulis naskahnya seminggu sebelumnya. Empat halaman. Isinya terima kasih ke guru, terima kasih ke orang tua, semangat buat adik kelas, dan satu paragraf tentang kebersamaan angkatan yang gue tulis sambil ngantuk.

Naskah itu bagus. Wulan udah baca dan bilang “aman”.

Gue nggak pakai.


Gue berdiri di podium jam sepuluh lewat, di depan tiga ratus dua puluh empat orang plus orang tua plus guru, dan gue naruh empat halaman itu di atas mimbar dan gue nggak buka satu pun.

“Selamat pagi.”

Aula bales.

“Gue— maaf, saya. Saya udah nyiapin naskah.”

Gue angkat kertasnya.

“Isinya bagus. Kalau ada yang mau baca nanti minta aja.”

Ada yang ketawa.

“Tapi saya mau ngomong satu hal aja, dan itu nggak ada di naskahnya, jadi maaf kalau berantakan.”

Gue narik napas.

Dari podium, aula itu keliatan luas banget. Barisan kursi siswa di tengah, orang tua di sisi kiri, guru di sisi kanan. Pak Herman duduk di baris ketiga guru.

Baris kesembilan, kursi paling pinggir, deket pintu darurat.

Tentu aja paling pinggir. Tentu aja deket pintu.


“Tiga tahun ini saya kapten tim basket,” kata gue. “Dan tiga tahun ini kalau kita menang, yang diteriakin nama saya.”

Aula diem.

“Saya nggak akan bilang itu salah. Saya emang main. Saya emang latihan.”

Gue megang pinggir mimbar.

“Tapi saya mau ngasih tau satu hal, dan saya udah tiga tahun nyimpen ini, dan saya nggak mau lulus sambil masih nyimpen.”

Gue liat ke baris kesembilan.

Dia nggak balik ngeliat. Dia natap ke depan, ke arah panggung, tapi bukan ke gue — ke titik di antara panggung dan lantai, kayak biasa.

“Ada satu orang di angkatan ini,” kata gue, “yang tiga tahun ngerjain sesuatu tanpa sekali pun namanya kesebut.”

Gue denger orang mulai berbisik di barisan tengah.

“Sebagian dari kalian udah tau. Sebagian baca mading bulan Februari. Sebagian nonton final bulan Maret.”

Bisikannya makin keras.

“Yang saya mau bilang bukan itu.”


“Kelas satu SD saya nangis di hari pertama sekolah,” kata gue.

Aula berhenti berbisik. Gue nggak tau kenapa kalimat itu yang bikin mereka berhenti.

“Saya nangis karena nyari nyokap saya di gerbang dan nggak ketemu. Semua anak ngeliatin. Ada yang ketawa.”

Gue narik napas dan napasnya nggak masuk semua.

“Terus ada anak yang duduk di sebelah saya. Dia nggak ngomong apa-apa. Dia motong penghapusnya jadi dua pakai penggaris, terus dia naruh setengahnya di meja saya.”

Aula sepi total.

“Saya tanya dia kenapa, sepuluh tahun kemudian. Dia bilang: ‘kamu keliatan butuh sesuatu’.”

Gue ngelap muka gue pakai punggung tangan dan gue nggak peduli tiga ratus orang liat.

“Itu dua belas tahun lalu, dan orang itu nggak pernah berubah sedikit pun, dan sampai hari ini masih nggak ada yang tau.”


Gue liat ke baris kesembilan lagi.

Sekarang dia natap gue.

“Saya nggak akan nyebut nama,” kata gue. “Bukan karena rahasia. Semua orang di ruangan ini udah tau.”

Ada yang ketawa pendek di barisan belakang, dan ketawanya nggak ngeledek.

Gue megang mimbar dengan dua tangan.

Dan gue ngomong kalimat yang udah gue simpen tiga tahun, dan gue ngomongnya ke mikrofon, di depan tiga ratus dua puluh empat orang angkatan gue, plus orang tua, plus guru, plus satu bapak-bapak yang duduk di barisan orang tua paling belakang yang baru dateng dari delapan ratus kilometer dua hari lalu.

“Dia yang paling terang di sini.”


Gue turun dari podium dan gue nggak inget jalannya.

Wulan nangkep gue di samping panggung dan nyodorin tisu tanpa ngomong apa-apa, terus dia bilang, “Naskah lo jelek banget, untung nggak dipake.”

“Wul.”

“Apa.”

“Gue baru aja nangis di depan tiga ratus orang.”

“Iya.”

“Lo masih mau sama gue?”

Dan Wulan Saraswati, sekretaris OSIS, yang nolak gue bulan November karena gue nggak pernah bisa nyebutin satu hal pun yang gue mau, ngeliat gue dan bilang:

“Sekarang gue tau satu hal yang lo mau.”

“Apa?”

“Barusan. Di podium.” Dia nyodorin tisu satu lagi. “Itu yang lo mau, Nak. Tiga tahun.”

Gue ngambil tisunya.

“Jadi?”

“Jadi iya,” katanya. “Tapi jangan mikir gue gampang. Gue nunggu tujuh bulan.”


Bagian Dua — Sadewa

Bapak datang hari Jumat.

Beliau sampai jam sebelas malam, naik bus dua hari, dengan satu tas dan satu kardus yang isinya oleh-oleh yang tidak diminta siapa pun.

Beliau tidak memberi tahu sebelumnya.

Bel rumah berbunyi jam sebelas malam. Dua kali.

Aku membuka pintu dan Bapak berdiri di teras, dan hal pertama yang beliau lakukan bukan menyapa.

Beliau melihat ke dalam, ke rak dapur yang kelihatan dari pintu.

Dua piring. Dua gelas dan satu gelas kuning.

Lalu beliau bilang, “Bapak belum makan, Dew.”

Dan aku masak jam sebelas malam untuk pertama kalinya seumur hidupku, dan Bapak duduk di meja dapur, dan kami tidak membicarakan apa pun yang penting sampai jam dua pagi.

Beliau mengambil cuti dua minggu. Beliau bilang itu setelah makan, sambil mencuci piringnya sendiri, dengan nada orang yang menyebutkan cuaca.

Aku tidak bertanya bagaimana caranya. Aku sudah tahu itu sulit dan aku sudah memutuskan untuk tidak menghitungnya.


Sabtu pagi, sehari sebelum kelulusan, beliau membuka pintu kamar itu.

Aku tidak ikut masuk. Aku berdiri di ruang tamu.

Beliau di dalam sekitar empat puluh menit.

Waktu keluar, matanya merah dan beliau tidak berusaha menyembunyikannya, dan beliau membawa amplop putih di tangannya.

“Dew.”

“Iya, Pak.”

“Ini kamu udah baca?”

“Belum.”

“Tujuh tahun.”

“Iya, Pak.”

Beliau duduk di kursi kayu dan menaruh amplop itu di meja di antara kami.

“Kenapa belum?”

Dan aku memberikan jawaban yang sudah aku berikan ke satu orang lain, bulan Februari, di kamar itu.

“Karena saya belum besar.”

Bapak melihat amplop itu.

Lalu beliau bilang, “Besok kamu lulus.”


Aku membacanya hari Minggu malam, sesudah kelulusan, sendirian di kamar itu, duduk di lantai dengan punggung ke ranjang.

Aku tidak akan menuliskan isinya.

Bukan karena tidak boleh. Karena aku sudah mencoba dua kali dan kedua kali aku berhenti di kalimat yang sama.

Yang bisa aku tuliskan cuma tiga hal.

Yang pertama: suratnya pendek. Satu halaman, dan setengah halaman terakhir tulisannya lebih besar dan lebih berantakan, dan aku tahu artinya apa.

Yang kedua: beliau minta maaf.

Aku ingin menuliskan itu dengan tepat. Beliau minta maaf untuk hari Sabtu itu — untuk menyuruhku berangkat, untuk bilang baik-baik saja, untuk menunggu piala yang tidak beliau butuhkan sama sekali. Beliau menulis bahwa beliau memikirkannya dua hari penuh sebelum memutuskan, dan bahwa beliau tahu itu mungkin salah, dan bahwa beliau tetap melakukannya karena tidak sanggup membayangkan aku ada di ruangan itu.

Beliau menulis: Mama nggak mau kamu inget Mama yang itu.

Dan yang ketiga, yang paling akhir, satu kalimat, dengan tulisan yang paling besar dan paling miring:

Kamu boleh capek, Dewa.


Aku duduk di lantai kamar itu sampai jam satu pagi.

Bapak mengetuk sekali jam dua belas dan tidak masuk, dan aku dengar beliau berdiri di luar pintu cukup lama sebelum jalan ke kamar depan.

Jam satu, aku melipat suratnya, memasukkannya kembali ke amplop, dan menaruhnya di laci nakas, di sebelah kacamata baca.

Lalu aku mengambil piala plastik dengan lapisan emas yang mengelupas di dua tempat, dan aku memindahkannya.

Dari nakas ke rak dinding.

Menghadap pintu.


Kelulusan sudah selesai jam dua belas siang.

Aku tidak akan menceritakan sambutan Naka, karena dia sudah menceritakannya sendiri dan dia akan menceritakannya lagi ke siapa pun selama sepuluh tahun ke depan.

Yang perlu aku catat cuma satu hal: waktu dia mengucapkan kalimat terakhir itu, aku menoleh ke barisan orang tua.

Bapak duduk di paling belakang. Beliau tidak bertepuk tangan.

Beliau menunduk, dan bahunya turun, dan orang di sebelahnya menepuk punggungnya dua kali.


Aku menemukannya jam satu siang di belakang gedung olahraga.

Tangga beton tiga anak yang menghadap pagar belakang. Tempat yang sama sejak bulan Oktober.

Kirana duduk di anak tangga paling atas dengan kamera di leher dan seragam yang sudah dicoret-coret spidol oleh entah berapa orang.

“Kak.”

“Kirana.”

“Kakak nggak dicoret-coret.”

“Aku pulang duluan tadi.”

“Kakak selalu pulang duluan.”

Aku duduk di sebelahnya.

Di kejauhan ada suara tiga ratus orang di lapangan depan, teriak-teriak, foto-foto, seseorang menyalakan musik dari speaker.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak baca suratnya?”

“Nanti malem.”

“Oke.”

Dia tidak bertanya lagi. Dia tidak pernah bertanya lagi.

Dan itu — delapan bulan aku memperhatikan orang ini, dan itu tetap hal yang paling aku tidak mengerti tentang dia.


“Kak.”

“Hm.”

“Kakak lulus.”

“Iya.”

“Aku masih dua tahun lagi.”

“Iya.”

“Kakak kuliah di mana?”

“Di sini.”

Dia menoleh secepat itu sampai lehernya bunyi.

“Di sini?”

“Negeri. Empat puluh menit naik bus dari rumah.”

“Kakak—“ Dia berdiri. “KAKAK NGGAK BILANG?”

“Aku baru daftar Kamis.”

“KAK DEWA.”

“Kamu nggak nanya.”

“AKU NANYA TIGA KALI BULAN LALU!”

“Aku belum daftar bulan lalu.”

Dia berdiri di depanku dengan dua tangan mengepal, dan mukanya merah, dan dia jelas-jelas sedang menyusun sesuatu yang panjang.

Aku berdiri juga.

“Kak, aku belum selesai marah—“

“Kirana.”

“Apa?”

“Aku mau ngomong satu hal.”

“Kak, aku lagi—“


Aku mencium bibirnya.

Aku tidak menghitung yang ini.

Aku ingin mencatat itu, karena aku menghitung segala hal — sebelas detik di depan cermin, lima puluh dua detik pelukan pertama, enam puluh delapan detik untuk memikirkan satu hal yang aku inginkan, seratus lima puluh enam kali menjawab “iya” ke telepon hari Minggu.

Yang ini tidak.

Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak tahu, dan aku sudah memeriksanya berkali-kali sejak hari itu, dan aku tetap tidak tahu.


Waktu aku mundur, Kirana Adiwangsa tidak bergerak sama sekali.

Matanya terbuka. Kameranya miring di lehernya.

“Kirana.”

Tidak ada.

“Kirana.”

Dia membuka mulutnya.

Tidak ada yang keluar.

Anak ini bicara lima ratus kata per jam kalau sedang tenang. Aku menghitungnya bulan November. Delapan bulan aku mengenalnya dan tidak pernah sekali pun dia kehabisan kata, termasuk waktu menangis, termasuk waktu marah, termasuk waktu aku mengucapkan hal paling jahat yang pernah aku ucapkan ke siapa pun.

Dia berdiri di belakang gedung olahraga jam satu siang tanggal dua Mei dengan mulut terbuka dan nol kata.

Aku memegang bahunya supaya dia tidak jatuh, karena aku sudah pernah melihat ini bulan Maret dan aku belajar dari kesalahan.


“DEWA PRAMUDYA!”

Suara Naka. Dari arah pintu samping. Empat puluh meter.

“GUE CARIIN LO DARI TADI, FOTO ANGKATAN JAM SATU—“

Dia berhenti.

Empat puluh meter, dan aku bisa mendengar dia berhenti.

“...OI.”

Aku tidak menoleh.

“OI! ITU ADEK GUE!”

“Naka—“

“ITU ADEK GUE, DEW!”

Aku mendengar langkah kaki. Cepat. Lalu suara Wulan dari kejauhan, “Nak, jangan—“, lalu suara Naka lagi, lebih jauh, jelas sedang ditarik seseorang.

“DEW! DIA KELAS SEPULUH!”

“Sebelas bulan depan,” kataku, tanpa menoleh.

“ITU BUKAN JAWABAN!”


Kirana masih belum bicara.

Aku menoleh ke dia.

Mukanya sekarang merah total sampai ke telinga, dan dia sedang menatap sepatunya sendiri, dan tangannya memegang tali kamera dengan kekuatan yang tidak perlu.

“Kirana.”

“...mm.”

“Kamu masih hidup?”

“...mm.”

Aku duduk lagi di anak tangga.

Setelah beberapa saat dia duduk juga, di sebelahku, sekitar sejengkal, dan dia tidak menoleh ke aku sama sekali.

Di lapangan depan, tiga ratus orang mulai berbaris untuk foto angkatan. Ada guru yang berteriak lewat pengeras suara menyuruh yang tinggi berdiri di belakang.

Aku membuka tas dan mengeluarkan sesuatu.

Dua kotak.

Aku sudah bangun jam lima pagi hari itu. Bukan setengah lima — aku tidak sebagus dia, dan telur dadar pertamaku gagal, dan Bapak yang membuatkan yang kedua sambil bilang bahwa telur dadar itu soal sabar, bukan soal api besar.

Aku menaruh satu kotak di pangkuannya.

Kirana melihat kotak itu.

Lalu dia melihat aku.

Dan aku bertanya, untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, kepada orang yang sudah menanyakannya kepadaku tujuh kali:

“Kamu udah makan?”


Dia menangis dan ketawa di waktu yang bersamaan, dan itu jelek sekali, dan dia menutup mukanya dengan satu tangan sambil memegang kotak itu dengan tangan satunya.

“Kak—“

“Belum, ya?”

“BELUM, KAK.”

“Ya udah.” Aku membuka tutup kotakku sendiri. “Sekarang.”

Dari arah lapangan, empat puluh meter, terdengar suara laki-laki yang jelas-jelas sedang berteriak melalui pengeras suara panitia yang seharusnya tidak dia pegang.

“ANAK KELAS DUA BELAS HARAP KE LAPANGAN. TERMASUK YANG DI BELAKANG GEDUNG OLAHRAGA. YA, KAMU. SAYA LIHAT KAMU.”

Kirana menutup mukanya dengan dua tangan sekarang.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak punya kakak nggak?”

“Nggak.”

“Beruntung banget.”