← Bukan Aku, Kok

Chapter Twenty Three

Festival

POV: Sadewa


Pensi akhir tahun diadakan di aula, Sabtu, jam empat sore sampai sembilan malam.

Aku ada di daftar panitia sebagai “operator”, yang artinya aku duduk di ruang kontrol di lantai dua dan mengurus lampu dan suara selama lima jam.

Aku sendiri yang mengajukan posisi itu ke Anindya bulan lalu.

“Kamu yakin?” tanyanya waktu itu. “Kalau kamu di kontrol, kamu tidak bisa turun sama sekali sampai acara selesai.”

“Iya.”

“Baik.”

Dia menulisnya di daftar. Lalu dia berhenti dan berkata, tanpa mengangkat kepala, “Itu ruangan yang bisa melihat semuanya dan tidak bisa dilihat siapa pun. Saya paham kenapa kamu memilihnya.”

Aku tidak menjawab, dan dia tidak melanjutkan.


Ruang kontrol itu kotak dua kali tiga meter di atas pintu masuk aula, dengan jendela kaca panjang menghadap panggung.

Isinya satu meja mixer, satu papan sakelar lampu, dan dua kursi plastik.

Dari sini aku bisa melihat seluruh aula.

Jam empat, aula setengah penuh. Jam lima, penuh. Jam enam, orang sudah berdiri di lorong samping.

Aku menjalankan tugasku. Lampu panggung untuk band pertama. Turunkan sedikit untuk pembacaan puisi. Naikkan lagi untuk dance. Perbaiki feedback mikrofon di menit ketujuh acara karena MC-nya berdiri terlalu dekat speaker.

Aku bekerja tanpa berhenti sampai jam tujuh.

Jam tujuh ada sesi yang di rundown ditulis sebagai Games + Interaktif Audiens.

Aku tidak membaca detailnya waktu menyusun rundown karena itu bagian sie acara, bukan bagianku.


MC-nya anak kelas sebelas, dua orang, laki-laki dan perempuan.

“OKE! Sekarang kita masuk ke sesi paling ditunggu-tunggu!”

Aula berisik.

“Kita punya satu lagu slow, dan kita mau lihat siapa yang berani naik ke panggung dan ngajak dansa orang yang dia suka!”

Aula lebih berisik.

Aku menurunkan lampu panggung ke setengah dan menyalakan dua lampu warna dari sisi kiri, sesuai catatan di rundown.

“AYO SIAPA! JANGAN MALU-MALU!”

Selama tiga puluh detik tidak ada yang naik, seperti biasa, karena selalu begitu di tiga puluh detik pertama.

Lalu ada yang naik.

Aku melihatnya dari jendela kaca, dari atas, dan aku mengenalinya dari cara jalannya sebelum aku mengenali wajahnya.

Bagas Prayoga naik ke panggung dan mengambil mikrofon.


“Halo. Bagas, dua belas IPS satu.”

Aula bersorak. Anak-anak tim basket paling keras.

“Gue mau ngajak dansa satu orang.”

Sorakan naik lagi.

Aku duduk di ruang kontrol dengan tangan di papan sakelar.

“Kirana Adiwangsa, kelas sepuluh IPA tiga.”

Aula meledak.

Aku bisa melihatnya dari sini. Kirana berdiri di dekat barisan keempat, dengan kamera di leher, dan seluruh orang di sekitarnya mundur setengah langkah sehingga dia berdiri di dalam lingkaran kosong.

Ada lampu sorot yang bisa kuarahkan ke penonton. Aku tidak mengarahkannya.

MC menyerahkan mikrofon kedua ke arah kerumunan, diteruskan tangan ke tangan, sampai ke Kirana.

Dia memegangnya dengan dua tangan.

“Kak Bagas.”

“Iya?”

“Kakak beneran, atau ini games?”

Aula ketawa.

“Setengah-setengah,” kata Bagas.

“Yang setengahnya beneran?”

“Iya.”

Aula ketawa lagi, tapi lebih pelan, dan aku bisa merasakan tiga ratus orang di bawah sana sedang berpikir hal yang sama.

Kirana mengangkat mikrofonnya.

“Makasih, Kak. Tapi nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena aku udah janji sama orang,” katanya. “Dan orangnya sekarang lagi kerja di atas, ngurusin lampu, biar Kak Bagas keliatan bagus di panggung.”

Tiga ratus kepala berputar ke atas.

Aku duduk di balik kaca dengan tangan di papan sakelar dan tidak bergerak sama sekali.

Aku tidak tahu apakah mereka bisa melihatku dari bawah. Kacanya gelap dari luar. Aku sudah mengeceknya dua tahun lalu.

Bagas ketawa ke mikrofon.

“Ya udah,” katanya. “Fair.”

Dan dia menyerahkan mikrofon ke MC, turun dari panggung, dan waktu dia lewat kerumunan, dia mengangkat tangan ke arah ruang kontrol.

Ke arahku.

Aku tidak membalas, karena tidak ada yang bisa melihat aku membalas.

Tapi aku mengarahkan satu lampu sorot ke tangga panggung selama tiga detik, jadi dia turun dengan cahaya, dan itu satu-satunya cara yang aku punya untuk mengatakan apa pun kepada siapa pun malam itu.


Sesi itu jalan terus. Empat pasang naik. Lagunya diputar. Aku mengurus lampu.

Jam delapan lewat sepuluh, pintu ruang kontrol dibuka.

“Kak.”

Aku tidak menoleh, karena band terakhir sedang naik dan aku sedang mengatur level.

“Kamu nggak boleh di sini.”

“Aku panitia.”

“Kamu dokumentasi.”

“Dokumentasi itu panitia.” Dia menutup pintu. “Aku bawa ini.”

Dia meletakkan sebotol air mineral dan satu bungkus roti di sebelah mixer.

“Kakak di sini dari jam empat,” katanya. “Empat jam sepuluh menit.”

“Aku nggak lapar.”

“Aku nggak nanya.”

Aku mengambil rotinya.


Ruang kontrol itu kecil, dan dengan dua orang di dalamnya, jaraknya jadi sekitar setengah meter dari meja ke tembok belakang.

Dia berdiri di belakang kursiku, melihat ke bawah lewat kaca.

“Kak.”

“Hm.”

“Dari sini semuanya keliatan.”

“Iya.”

“Kakak selalu di tempat kayak gini, ya.” Dia bicara pelan. “Bangku paling atas. Belakang gedung. Ruang kontrol.”

Aku tidak menjawab itu.

Di bawah, band terakhir mulai main. Lagunya pelan. Aku menurunkan lampu panggung ke tiga per empat dan menyalakan dua lampu biru dari sisi belakang.

“Kak.”

“Hm.”

“Berdiri.”

“Aku lagi—“

“Lagunya empat menit dan Kakak udah setel lampunya. Aku lihat. Nggak ada yang harus dipencet sampai lagu ketiga.”

Aku menoleh.

Dia berdiri di ruangan dua kali tiga meter itu dengan kamera masih di leher, dan dia mengulurkan tangan.

“Kak Bagas ngajak aku dansa di depan tiga ratus orang,” katanya. “Aku nolak.”

“Iya.”

“Sekarang aku ngajak Kakak di ruangan yang isinya dua orang.” Tangannya masih terulur. “Ini jauh lebih gampang, secara statistik.”


Aku berdiri.

Ruangannya tidak cukup untuk apa pun yang bisa disebut dansa. Kalau aku mundur setengah langkah, punggungku kena mixer. Kalau dia mundur setengah langkah, punggungnya kena tembok.

Aku tidak tahu harus menaruh tangan di mana.

“Sini.” Dia mengambil tangan kananku dan menaruhnya di pinggangnya, cepat, seperti orang membetulkan posisi barang. “Yang satu pegang tangan aku.”

“Oke.”

“Terus goyang dikit ke kanan kiri.”

“Cuma itu?”

“Kak, ini dansa SMA, bukan lomba.”

Kami bergerak ke kanan dan ke kiri.

Dari lantai bawah, lagunya terdengar agak teredam karena tembok ruang kontrol. Yang lebih keras justru bunyi kipas exhaust di sudut ruangan.

Dua puluh detik, aku menginjak kakinya.

“Aduh.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

Empat puluh detik, dia menginjak kakiku.

“Sengaja,” katanya.

“Iya.”

Satu menit, dia mulai ketawa, dan ketawanya membuat bahunya bergetar, dan aku kehilangan hitungan tempo.

“Kak, ini dansa apa gempa?”

“Kamu yang goyang.”

Dia berhenti.

“Apa?”

“Kamu yang goyang,” ulangku. “Aku dari tadi lurus.”

Dia menatapku selama tiga detik.

Lalu dia menempelkan dahinya ke dadaku dan bilang, dengan suara teredam, “Kak Dewa jangan gitu.”

“Gitu apa?”

“Jangan bales. Aku nggak siap kalau Kakak bales.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa untuk itu.

Jadi aku tidak menjawab, dan kami bergerak ke kanan dan ke kiri di ruangan dua kali tiga meter selama sisa lagu, dengan bunyi kipas exhaust dan tiga ratus orang di bawah kami yang tidak tahu ada siapa di atas.


Lagunya selesai.

Aula bersorak. Aku melepas tangan dan kembali ke kursi, dan menaikkan lampu panggung sesuai catatan.

“Kak.”

“Hm.”

“Makasih ya.”

“Buat apa.”

“Buat lampunya. Yang buat Kak Bagas turun tangga.”

Aku berhenti sebentar.

“Kamu lihat?”

“Aku lihat semua hal, Kak. Aku udah bilang, itu penyakitku.”


Jam sembilan kurang, acara ditutup.

Aku menurunkan semua lampu panggung dan menyalakan lampu utama aula sekaligus, dan tiga ratus orang di bawah sana bergerak ke pintu.

Lalu terjadi hal yang tidak ada di rundown.

Lampu utama padam.

Bukan mati. Padam sekejap — satu detik, mungkin kurang — lalu menyala lagi. Beban di panel lama, terlalu banyak lampu dinyalakan sekaligus. Aku sudah pernah mencatat risiko ini dan menaruh catatannya di laci ruang OSIS.

Selama satu detik itu, aula gelap dan penuh, dan tiga ratus orang berteriak sekaligus seperti yang selalu terjadi kalau lampu mati.

Dan di dalam teriakan itu, dari suatu tempat di kerumunan dekat pintu utara, ada satu suara laki-laki yang tidak berteriak.

Dia cuma bicara agak keras, ke arah orang di sebelahnya, dengan nada orang yang baru mengenali sesuatu.

“—eh, itu tadi yang di atas Sembilan, ya?”

Lampu menyala lagi.

Aku duduk di ruang kontrol dengan tangan masih di papan sakelar.

Kirana sedang membereskan kameranya di sudut ruangan dan tidak mendengar apa-apa, karena dia di dalam ruangan tertutup dan suara itu datang dari bawah.

Aku berdiri dan melihat ke bawah lewat kaca.

Tiga ratus orang bergerak ke pintu, dan aku tidak bisa menemukan satu wajah pun yang sedang melihat ke atas.

Tidak ada yang memakai nomor itu untuk memanggilku sejak Februari tiga tahun lalu.