← Bukan Aku, Kok

Chapter Seven

Payung Satu

POV: Kirana


Hujan mulai jam tiga lewat, waktu jam pelajaran terakhir tinggal dua puluh menit, dan seluruh kelasku langsung berisik seperti ada yang ulang tahun.

Nadin melihat ke luar jendela dan mendesah. “Gue nggak bawa payung.”

“Aku bawa.”

“Serius? Lo bawa payung?” Dia menoleh. “Kir. Langitnya cerah dari pagi.”

“Aku selalu bawa.”

Itu bohong. Aku mulai membawa payung sejak Senin, setelah aku melihat prakiraan cuaca seminggu dan menemukan bahwa Kamis kemungkinan hujannya delapan puluh persen.

Aku tidak akan mengaku itu ke siapa pun. Tapi kalau seseorang menuliskan hidupku dalam bentuk buku, aku ingin bagian ini dicatat sebagai perencanaan yang matang, bukan sebagai hal yang menyedihkan.

Bel pulang bunyi. Hujannya deras.


Aku sampai di lobi depan dan tempat itu sudah penuh orang yang menunggu jemputan. Anak-anak berdiri berkerumun di batas atap, teriak-teriak, ada yang nekat lari ke gerbang sambil menutupi kepala dengan tas.

Aku tidak melihatnya di lobi.

Aku sudah hafal. Kalau bukan di lobi, berarti dia sudah jalan lebih dulu, atau dia masih di dalam.

Aku balik masuk. Koridor lantai satu, kosong. Ruang OSIS, dikunci. Perpustakaan, cuma ada dua anak kelas sebelas dan penjaganya.

Di depan tangga aku hampir menabrak Kak Wulan yang sedang berdiri sambil menelepon seseorang.

Dia melihatku, menutup ponselnya sebentar, dan menunjuk ke arah belakang gedung dengan dagunya.

“Gudang,” katanya. Lalu kembali menelepon.

Aku bahkan tidak sempat bertanya.

Aku menemukannya di depan pintu gudang olahraga, di bawah atap sempit yang lebarnya mungkin setengah meter, sedang menutup gembok.

Rambutnya sudah basah di bagian depan.

“KAK DEWA!”

Dia menoleh. Aku lari ke arahnya sambil membuka payung dan hampir jatuh dua kali.

“Kamu ngapain di sini?”

“Kakak yang ngapain di sini!”

“Nutup gudang.”

“Itu bukan kerjaan Kakak!”

“Nggak ada yang lain.”

“Ada Pak Yudho!”

“Pak Yudho pulang jam tiga.”

“Ada anak basket!”

“Mereka latihan di aula.” Dia memasukkan kunci ke sakunya. “Kalau gudangnya nggak dikunci, bola sama net-nya kena air. Netnya baru diganti bulan lalu.”

Aku berdiri di depannya, payung terbuka, napas masih ngos-ngosan. Air dari talang jatuh persis di antara kami dan membasahi sepatuku.

“Ayo pulang.”

“Kamu duluan aja.”

“Kakak nggak bawa payung.”

“Bentar lagi reda.”

Aku melihat ke langit. Langitnya abu-abu rata dari ujung ke ujung, jenis hujan yang tidak akan berhenti sampai malam, dan kami berdua tahu itu.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak jelek banget kalau bohong.”

Dia diam.

“Aku punya payung,” kataku. “Payungnya besar. Ayo.”

“Nggak usah.”

“Kenapa nggak usah?”

“Nanti kamu basah.”

Aku menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang bodoh.

“Kalau aku pulang sendiri, aku juga tetep pakai payung ini, Kak. Payungnya nggak jadi lebih kering kalau Kakak nggak ikut.”

Dia melihatku. Aku bisa melihat dia sedang menghitung sesuatu, karena dia selalu begitu, matanya bergerak sedikit ke bawah waktu berpikir.

“Sepuluh menit ke halte,” katanya akhirnya.

“Iya.”

“Kamu pegang payungnya?”

“Kakak yang pegang. Kakak lebih tinggi.”

“Berarti kamu nggak kelihatan jalannya.”

“KAK.”


Akhirnya dia yang memegang payung.

Ini masalah teknis yang tidak aku antisipasi: tinggiku seratus lima puluh dua dan tingginya seratus tujuh puluh delapan. Kalau dia memegang payung di ketinggian yang nyaman untuknya, aku bisa lewat di bawahnya tanpa menunduk sama sekali. Tapi payungnya jadi miring ke arahku terus.

Lima menit pertama aku pura-pura tidak menyadari.

Di menit keenam aku menoleh dan bahu kirinya sudah basah seluruhnya.

“Kak, payungnya miring.”

“Nggak.”

“Bahu Kakak basah.”

“Emang begitu bentuknya.”

“Bentuk payung nggak begitu.”

“Kamu ahli payung?”

“Aku ahli lihat orang basah!”

Dia menggeser payungnya dua sentimeter ke arahnya sendiri. Dua sentimeter. Aku menghitung.

Lalu tiga puluh detik kemudian, tanpa dia sadari, payungnya sudah miring lagi ke arahku.

Aku menyerah.

Kami lewat gerbang depan. Pak Timin melambai dari pos, dan Kak Dewa mengangkat tangan sedikit.

Kami jalan di trotoar sepanjang tembok sekolah, lalu belok kiri ke jalan yang ada ruko-rukonya. Ada genangan besar di depan toko fotokopi dan dia pindah ke sisi luar tanpa bilang apa-apa, jadi waktu ada motor lewat dan airnya muncrat, yang kena dia.

Aku menoleh. Dia tidak berkomentar sama sekali. Celananya basah dari lutut ke bawah.

Aku menyimpan itu juga. Suara hujan di payung itu keras, jadi kalau mau bicara harus agak mendekat, dan aku mendekat lebih dari yang perlu.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak inget nggak, dulu Kakak sering ke rumah?”

Langkahnya tidak berubah. Tapi jawabannya datang setengah detik lebih lambat dari biasanya.

“Inget.”

“Kakak sama Kak Naka main PS sampai malem terus.”

“Iya.”

“Aku sering ganggu.”

“Iya.”

“Kakak nggak pernah marah.”

Dia tidak menjawab yang itu.

“Kakak naik apa ke sekolah?”

“Bus.”

“Dari mana?”

“Sana.”

“‘Sana’ itu di mana?”

“Jauh.”

“Kakak tuh kalau ditanya jawabannya makin lama makin dikit.”

“Iya.”

“Nah, itu contohnya.”

Dan aku bersumpah — aku bersumpah — dia hampir ketawa. Ada satu embusan napas pendek lewat hidung dan sudut mulutnya naik seperempat sentimeter selama mungkin nol koma tiga detik.

Aku menyimpannya. Aku akan menulisnya nanti.


Halte ada di persimpangan besar, seratus meter dari ruko terakhir.

Ini bagian yang sudah aku hitung dari kemarin.

Dari halte itu ada dua jurusan bus. Yang ke arah barat lewat perumahan kami, dan yang ke arah timur lewat — entahlah, aku tidak pernah naik yang timur.

Selama dua minggu ini aku menyusun teori. Kak Dewa dulu sering ke rumah kami waktu SD. Aku ingat dia dan Kak Naka jalan kaki bareng ke sekolah dasar, artinya rumah mereka dekat, artinya dia tinggal di sekitar perumahan kami juga, artinya kami searah.

Aku sudah membayangkan ini. Kami naik bus yang sama, duduk berdua empat puluh menit, dan aku punya empat puluh menit untuk—

“Aku belok sini.”

Aku berhenti jalan.

Kami baru sampai lima puluh meter sebelum halte. Di sebelah kanan ada gang kecil yang menuju ke jalan lain, ke arah yang salah, ke arah yang sama sekali bukan perumahan kami.

“Belok?”

“Iya.”

“Bukannya haltenya di depan?”

“Aku naik dari halte satunya.”

“Kenapa?”

“Beda jurusan.”

Aku berdiri di trotoar dengan air masuk ke sepatu.

“Tapi dulu Kakak jalan kaki ke SD bareng Kak Naka.”

“Iya.”

“Berarti rumah Kakak deket rumahku.”

“Dulu.”

Satu kata itu masuk ke dadaku dengan cara yang tidak enak.

“Kak Dewa tinggal di mana?”

Dia menyerahkan gagang payung ke tanganku. Dia melakukannya dengan hati-hati, memastikan aku sudah memegangnya sebelum melepas, supaya payungnya tidak jatuh.

“Kamu jalan lurus aja. Haltenya kelihatan dari sini.”

“Kak.”

“Makasih payungnya.”

Dan dia jalan masuk ke gang itu, di bawah hujan, tanpa payung, dengan tas disampirkan di kepala dengan cara yang sama sekali tidak berguna.

“KAK DEWA!”

Dia tidak menoleh. Atau tidak dengar. Hujannya keras.


Aku naik bus jam empat lewat sepuluh, basah dari lutut ke bawah, dan duduk di bangku ketiga dari depan.

Aku mengeluarkan buku catatan dari tas — kering, aku memasukkannya ke plastik sejak pagi karena aku memang sudah tahu akan hujan — dan membuka halaman hari ini.

Aku menulis dulu yang mudah.

Nutup gudang olahraga. Bukan tugasnya.

Payung miring ke aku 90 persen jalan. Bahu kirinya basah semua.

Hampir ketawa 1x.

Pindah ke sisi luar pas ada genangan. Dua kali.

Lalu aku berhenti.

Aku duduk di bus yang penuh, memegang pulpen, dan menatap jalan di luar jendela yang buram karena kaca berembun.

Aku sudah menulis empat belas halaman tentang orang ini. Aku tahu dia datang jam 06.15. Aku tahu dia tidak pernah bawa bekal. Aku tahu dia mengecek ulang barang yang sudah dia perbaiki.

Aku bahkan tahu bahwa dia dulu setiap sore ada di ruang tamu rumahku, main PS sama Kak Naka, dan Ibu selalu menyiapkan dua gelas teh.

Aku ingat Ibu sampai hafal dia tidak suka teh terlalu manis.

Dia berhenti datang waktu aku kelas satu SMP.

Aku tidak pernah bertanya kenapa, karena waktu itu aku pikir alasannya jelas: mereka masuk SMA, jadi sibuk, begitu saja.

Aku menulis satu baris di bawah, lebih kecil.

Rumahnya bukan di arah kami.

Aku menatap kalimat itu sampai busnya berhenti dua kali.

Lalu aku menambahkan satu kalimat lagi, dan tanganku agak gemetar waktu menulisnya, dan aku tidak tahu kenapa.

Sejak kapan?