← Bukan Aku, Kok

Chapter Twelve

Yang Naka Tahu

POV: Nakula


Adikku pulang hari Minggu jam setengah dua belas dengan muka orang yang habis nangis di bus.

Dia tidak nangis di rumah. Kira begitu. Dia bisa nahan sampai kamarnya, dan begitu pintunya ketutup dia nyalain lagu keras-keras biar nggak kedengeran.

Aku duduk di ruang tengah sambil pura-pura nonton bola. Dua jam.

Jam dua dia turun, ambil air, balik ke atas.

Jam empat dia turun lagi, makan, nggak ngomong.

Jam tujuh aku ketuk pintunya.

“Apa?”

“Boleh masuk?”

“Nggak.”

“Ya udah aku masuk.”

“KAK.”

Aku masuk. Dia lagi duduk di lantai bersandar ke ranjang, laptop nyala tapi layarnya diem di halaman yang sama, dan buku catatan cokelatnya ada di pangkuan.

Aku duduk di lantai, di depan lemari, tempat biasa.

Kamar ini nggak berubah dari dia SD. Masih ada stiker di pinggir meja yang udah nggak keliatan gambarnya. Masih ada foto kami berdua di Dufan waktu dia umur tujuh, dia nangis di foto itu, dan dia nolak nurunin fotonya sampe sekarang karena katanya “itu bukti Kakak jahat”.

“Kir.”

“Aku nggak mau cerita.”

“Oke.”

“Serius.”

“Oke, serius.”

Kami diem dua menit. Lagunya masih nyala pelan dari speaker kecil di mejanya.

Terus dia ngomong duluan, kayak biasa, karena Kira nggak pernah bisa diem lebih dari tiga menit seumur hidupnya.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak tau nggak, Kak Dewa tinggal sendiri?”

Aku nggak jawab.

Dia noleh. “Kakak tau.”

“Iya.”

“Dari kapan?”

“Dari awal.”

Dia narik napas panjang banget. “Terus kenapa Kakak nggak pernah—“

“Karena itu bukan urusan aku buat cerita.”

“Aku adik Kakak.”

“Terus?”

“Terus—“ Dia berhenti. Dia nggak nemu lanjutannya, dan aku tau dia nggak akan nemu, karena emang nggak ada.

“Ibunya meninggal waktu kita kelas enam,” kataku. “Itu aja yang bisa aku kasih tau.”

“Kelas enam.”

“Iya.”

“Kakak ada di situ?”

“Ada.”

Dia natap aku beberapa detik.

“Aku juga ada,” katanya pelan.

Aku noleh.

“Kakak yang bawa aku. Ke rumah sakit.”

Aku inget. Aku inget banget. Ibu nyuruh aku bawa Kira karena nggak ada yang jagain di rumah, dan aku ngomel sepanjang jalan karena umur sembilan tahun dan disuruh gandeng adek kelas tiga.

“Kamu inget?”

“Aku inget semuanya, Kak.”

Dan dia ngomongnya biasa aja, bukan buat ngancem, dan justru itu yang bikin aku sadar aku lagi ngomong sama orang yang bawa bukti.


Aku perlu jelasin sesuatu, dan aku nggak akan jelasin ini ke Kira.

Aku tau rumah itu. Aku pernah ke sana empat kali dalam tiga tahun.

Empat.

Waktu SD, aku ke rumah Dewa hampir tiap minggu. Waktu SMP juga. Rumahnya dulu deket, sepuluh menit jalan kaki dari rumah kami, sebelum bapaknya pindah kerja dan mereka pindah ke rumah yang lebih murah di timur.

Sekarang empat kali dalam tiga tahun.

Bukan karena aku sibuk. Aku bisa naik motor ke sana empat puluh menit, dan aku punya motor, dan aku nggak sesibuk itu.

Alasannya lebih jelek dari sibuk.

Tiap kali aku ke sana, aku duduk di ruang tamu yang bersih banget itu, minum air putih dari gelas yang selalu satu-satunya yang keluar, dan ngobrol soal apa aja — sekolah, bola, film — dan selama dua jam itu ada satu hal yang menggantung di ruangan yang nggak pernah kami sebut.

Dan pas aku pulang, Dewa selalu ngantar sampai pagar. Selalu. Dan dia selalu bilang hal yang sama: “Makasih udah dateng.”

Makasih udah dateng.

Ke sahabat sendiri.

Aku pulang dari sana tiap kali dengan perasaan yang aku nggak bisa bilang ke siapa-siapa, dan lama-lama aku sadar aku ngurangin datengnya bukan karena sibuk.

Karena aku nggak sanggup denger kalimat itu lagi.

Itu pengecut. Aku tau. Aku udah tau tiga tahun.


“Kir.”

“Apa.”

“Jangan deket-deket Dewa.”

Dia noleh secepat itu sampai lehernya bunyi.

“Apa?”

“Aku serius.”

“Kakak—“ Dia naruh buku catatannya ke lantai. “Kakak baru aja bilang dia tinggal sendirian, dan sekarang Kakak nyuruh aku jauhin dia?”

“Iya.”

“KENAPA?”

“Karena kamu bakal nyari tau.”

Kira diem.

Aku tau adikku. Aku udah lima belas tahun tau adikku. Dia bukan tipe yang suka orang terus berhenti di situ. Dia tipe yang nulis tanggal di buku dan ngitung berapa kali sesuatu terjadi, dan dia udah kayak gitu dari kelas satu SMP, dan aku yang bikin dia jadi kayak gitu.

Aku pernah bilang ke dia dia salah inget soal sesuatu. Dia umur dua belas waktu itu. Aku bilangnya baik-baik banget, aku inget, aku bahkan sempet ngelus kepalanya.

Aku bohong waktu itu. Dia nggak salah inget.

Dia bener, dan aku nggak siap buat ngomongin yang bener, jadi aku bilang dia salah inget.

Dan sejak itu dia mulai nulis semuanya, biar nggak ada yang bisa bilang dia salah inget lagi.

Aku yang bikin. Aku, sendiri, dengan satu kalimat, karena aku pengecut waktu umur empat belas.

Dan sekarang buku itu udah empat belas halaman isinya tentang Dewa.

“Kak Naka.”

“Hm.”

“Ada yang Kakak sembunyiin.”

“Iya.”

“Kakak ngaku?”

“Iya.”

“Apa?”

“Nggak bakal aku kasih tau.”

Dia berdiri. Dia berdiri pun cuma sampe dada aku, dan dia masih berdiri di depanku kayak dia dua kali lebih gede.

“Kakak nggak berhak nyuruh aku berhenti kalau Kakak nggak mau ngasih alasannya.”

“Aku tau.”

“Terus?”

“Aku tetep nyuruh.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut.”

Itu keluar sebelum aku sempet nyaring. Kira ngangkat kepalanya.

“Takut apa?”

“Nggak usah.”


Dia diem lama.

Terus dia ngomong, dan suaranya pelan, dan itu lebih parah daripada kalau dia teriak.

“Kak.”

“Ya.”

“Menurut Kakak, Kak Dewa itu orangnya gimana?”

Pertanyaan yang gampang. Sebenernya gampang banget.

Dan aku ngerasain sesuatu di dada yang udah tiga tahun aku tekan tiap kali ada orang di lapangan teriakin nama aku, dan buat pertama kalinya aku nggak nekan.

“Dia yang paling terang di sini.”

Kamarnya sepi.

Aku denger diri aku sendiri ngomong itu dan aku pengen narik balik dan aku nggak bisa, karena itu bener, dan udah bener dari umur sembilan tahun.

Kira natap aku.

“Terang gimana?”

“Nggak usah.”

“Kak.”

“Kir, udah.”

“Kakak yang ngomong duluan!”

Aku berdiri. Aku ngambil bungkus roti kosong di lantai yang dari kemarin, biar tangan aku ada kerjaan.

“Aku turun.”

“Kak Naka.”

Aku udah di pintu.

Dan dia ngomong satu kalimat yang, aku sumpah, bakal aku inget sampai tua.

“Terus kenapa Kakak diem aja?”

Aku berhenti di ambang pintu kamarnya.

Aku nggak noleh.

Ada beberapa jawaban. Aku punya semuanya, aku udah nyusun semuanya bertahun-tahun, tiap malem, tiap habis pertandingan, tiap kali ada yang nepuk bahu aku dan bilang kapten emang beda.

Karena dia yang minta.
Karena kalau aku ngomong sekarang, semua yang dia korbanin jadi sia-sia.
Karena bapakku dateng ke final itu dan dia yang pertama kali natap aku kayak gitu, dan aku pengen dia natap aku kayak gitu lagi, dan aku masih pengen sampe sekarang, dan itu bikin aku pengen muntah.

Semua jawabannya ada. Nggak ada satu pun yang bisa aku ucapin ke adikku umur lima belas jam tujuh malem hari Minggu.

Jadi aku bilang, “Nanti kamu ngerti.”

Dan aku nutup pintunya.

Aku turun ke bawah, duduk di ruang tengah, nyalain TV, dan diem di situ sampai jam sebelas malem sambil nonton acara yang aku nggak inget judulnya.

Ibu lewat dua kali dan nanya aku kenapa, dan aku bilang capek latihan.

Jam sebelas aku denger pintu kamar Kira kebuka.

Dia nggak turun. Dia cuma buka pintu, terus nutup lagi.

Lima menit kemudian ada suara laci, terus suara kursi digeser.

Aku tau bunyi itu. Bunyi itu bunyi adikku duduk di meja belajarnya dan buka buku catatan cokelatnya.

Dan aku duduk di bawah, di depan TV yang nyala, sambil ngerti persis apa artinya:

aku baru aja ngasih tau dia bahwa ada sesuatu yang layak dicari.