Chapter Thirty Two
Pintu yang Nanti
POV: Kirana
Aku tidak tidur hari Jumat malam.
Bukan karena gugup. Karena aku menghabiskan enam jam memutuskan satu hal: apa yang harus aku bawa.
Aku sempat menulis daftar. Aku selalu menulis daftar. Aku menulis tujuh benda dan menghapus semuanya jam dua pagi, karena aku menyadari bahwa semua benda di daftar itu adalah benda untuk mengisi kesunyian, dan besok bukan hari untuk mengisi apa pun.
Jam setengah lima aku bangun dan memasak.
Ayam kecap. Kecapnya banyak, sampai nasinya cokelat.
Aku tidak akan menyebut apa-apa tentang itu. Aku cuma akan menaruhnya di meja.
Aku sampai jam sepuluh kurang lima.
Aku memencet bel dua kali.
Dia sudah di teras sebelum bunyi kedua selesai, seperti biasa, dan itu sudah terjadi delapan Sabtu berturut-turut dan aku masih menghitungnya setiap kali.
“Kirana.”
“Pagi, Kak.”
Dia membuka pagar.
Dia sudah mandi, sudah pakai kaus bersih, dan rumahnya sudah bersih dengan cara yang bahkan lebih dari biasanya. Lantainya baru dipel. Aku bisa mencium baunya.
Dan pintu kedua di lorong kanan itu masih tertutup.
Kami tidak langsung ke sana.
Kami makan dulu. Dia melihat kotaknya waktu aku buka, dan dia diam sebentar, dan lalu dia bilang “makasih” dan mulai makan.
Dia tidak berkomentar tentang kecapnya.
Tapi dia makan pelan sekali. Biasanya dia selesai dalam sebelas atau dua belas menit. Hari itu dua puluh tiga.
Aku tidak menanyakan apa pun. Aku bercerita tentang Nadin.
Jam sebelas, dia mencuci piring. Aku ikut ke dapur dan mengelap, dan kami mengerjakan itu tanpa bicara selama beberapa menit.
Lalu dia mematikan keran.
“Kirana.”
“Iya.”
“Aku mau ngomong dulu sebelum kita ke sana.”
“Oke.”
Dia mengelap tangannya di lap dapur, terlalu lama, dua kali.
“Aku nggak akan bisa cerita semuanya hari ini.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu belum tau isinya.”
“Kak, aku bilang nggak apa-apa.” Aku menaruh piring terakhir ke rak. “Kakak berhenti kapan aja. Aku nggak bakal maksa.”
Dia mengangguk.
“Satu lagi.”
“Iya?”
“Kalau nanti kamu mau pulang di tengah,” katanya, “kamu boleh.”
Aku menoleh cepat.
“Kak.”
“Aku serius. Aku nggak bakal marah.”
“Kak Dewa, kalau Kakak ngomong kayak gitu sekali lagi aku bakal nangis sebelum pintunya kebuka dan itu bakal ngerusak semuanya.”
Dia diam.
“Oke,” katanya.
Kami berdiri di depan pintu itu jam sebelas lewat sepuluh.
Lorongnya sempit. Dua orang berdiri di situ sudah penuh.
Dari sini aku bisa melihat lantainya lebih jelas dari sebelumnya. Persegi panjang mengkilap di depan pintu, seukuran satu keset, batasnya tajam sekali.
Dua tahun mengepel satu titik dan tidak pernah masuk.
“Kak.”
“Hm.”
“Gagangnya.”
Dia melihat gagang pintu itu.
“Kenapa?”
“Bagian atasnya masih terang. Bawahnya kusam.” Aku menunjuk. “Kakak ngelap yang atas tiap minggu. Yang bawah nggak kena karena Kakak nggak pernah muter.”
Dia berdiri di situ cukup lama.
“Kamu lihat itu bulan Oktober.”
“November.”
“Dan kamu nggak ngomong apa-apa.”
“Aku ngomong. Aku bilang aku nggak akan buka.”
Dia menoleh ke aku.
Poninya masih menutupi matanya, dan lorong itu tidak terang, dan aku tetap bisa melihat bahwa dia sedang menghitung sesuatu untuk terakhir kalinya.
“Aku yang buka,” katanya.
“Iya.”
“Kamu di belakang aku.”
“Iya.”
Dia memegang gagangnya.
Aku menghitung. Aku selalu menghitung. Sembilan belas detik dia memegang gagang pintu itu tanpa memutarnya.
Lalu dia memutarnya.
Yang pertama keluar adalah bau.
Bukan bau apak. Aku sudah menyiapkan diri untuk bau apak dan bau debu dan bau ruangan mati.
Baunya bau minyak kayu putih.
Samar sekali, hampir habis, tapi ada, dan aku tidak menyangka bahwa hal yang membuatku hampir menangis pertama kali hari itu adalah bau.
Kak Dewa berdiri di ambang pintu dan tidak masuk.
Ruangannya gelap. Tirainya tertutup. Ada garis cahaya tipis di lantai dari celah gorden.
Dia mengulurkan tangan ke dinding, mencari sakelar, dan tangannya berhenti di udara selama satu detik sebelum menemukannya.
Lampu menyala.
Kamarnya rapi.
Itu hal pertama yang aku lihat dan itu langsung membuat dadaku sakit, karena kamar itu rapi dengan cara yang salah.
Ranjangnya sudah dirapikan. Seprainya lurus. Bantalnya dua, disusun.
Tapi ada mukena tergantung di sandaran kursi, dan ada gelas kosong di nakas, dan ada buku terbuka telungkup di meja kecil di sisi kanan, terbuka di halaman tertentu, ditelungkupkan seperti orang yang akan kembali membacanya nanti.
Ada kalender di dinding.
Kalendernya tahun dua ribu sembilan belas.
“Bapak yang beresin ranjangnya,” kata Kak Dewa dari belakangku. “Sebelum berangkat.”
“Yang lain?”
“Nggak disentuh.”
Aku masuk pelan-pelan. Dia masih di ambang pintu.
“Kak.”
“Iya.”
“Kakak masuk?”
Dia tidak menjawab.
Aku berbalik. Dia berdiri di ambang pintu dengan satu tangan masih di kusen.
“Kak Dewa.”
“Sebentar.”
Aku menunggu.
Dan aku menunggu cukup lama, dan aku memutuskan untuk tidak menunggu di depan, jadi aku jalan mundur dan berdiri di sebelahnya, di ambang pintu, sehingga kami berdua berdiri di garis yang sama.
Aku memegang tangannya.
“Bareng,” kataku.
Dia melihat ke dalam ruangan itu.
Lalu dia melangkah, dan aku melangkah, dan kami masuk bersamaan.
Aku tidak akan menuliskan semua yang ada di kamar itu.
Bukan karena tidak boleh. Karena aku menghabiskan sisa hari itu di sana dan kalau aku tulis semuanya, aku akan menulis sampai besok.
Tapi ada dua benda yang harus aku tulis.
Yang pertama ada di atas lemari, di sudut, tertutup kain.
Kak Dewa yang menariknya turun. Kainnya berdebu, satu-satunya benda berdebu di rumah itu.
Piala.
Tingginya mungkin dua puluh lima sentimeter, plastik dengan lapisan emas yang sudah mengelupas di dua tempat, jenis piala yang dibeli sekolah dalam jumlah banyak.
Di plakatnya terukir:
JUARA I
OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT KOTA
SD ANJASMARA TUJUH
2019
Aku memegangnya dengan dua tangan.
“Kak, ini punya Kakak?”
“Iya.”
“Kenapa di sini?”
Dia mengambil piala itu dari tanganku, pelan, dan menaruhnya di nakas di sebelah gelas kosong.
Dan dia meletakkannya menghadap ranjang.
Bukan menghadap pintu. Bukan menghadap ke arah orang yang masuk.
Menghadap ranjang.
“Karena tempatnya di sini,” katanya.
Kami duduk di lantai kamar itu cukup lama.
Aku bersandar ke sisi ranjang. Dia duduk di lantai juga, di dekat pintu, dengan punggung ke dinding.
Ada foto di dinding di atas meja kecil. Foto perempuan yang berdiri di depan pagar hijau ini, memegang tangan anak laki-laki umur mungkin sembilan, dan anak itu memakai kacamata dan tidak memakai poni.
Anak itu ketawa di foto.
Aku melihat foto itu terlalu lama dan Kak Dewa menyadarinya, tapi dia tidak berkata apa-apa.
“Kak.”
“Hm.”
“Boleh aku nanya sesuatu yang bodoh?”
“Boleh.”
Aku memeluk lututku.
“Aku cantik nggak, di mata Kakak?”
Aku menanyakannya pelan sekali. Tidak seperti di koridor bulan Agustus, waktu aku menembakkannya sambil menunjuk mukanya dan siap untuk semua kemungkinan.
Kali ini aku bahkan tidak melihat ke arahnya.
Dia diam sebentar.
Lalu dia bilang, “Cantik.”
Cuma itu. Tidak ada lelucon soal minus. Tidak ada penjelasan.
Aku menunduk ke lututku dan tidak bisa bicara selama, entah, dua puluh detik.
“Kirana.”
“Sebentar, Kak.”
“Oke.”
Dan dia menunggu, di lantai kamar ibunya, sampai aku selesai.
Yang kedua ada di laci nakas.
Kak Dewa yang membukanya, dan dia membukanya seperti orang yang sudah tahu isinya, yang berarti dia pernah membuka laci ini sebelumnya, yang berarti dia pernah masuk ke kamar ini.
Aku tidak menanyakan itu. Belum.
Di dalam laci ada dua benda. Kacamata baca, dan sebuah amplop.
Amplopnya putih, ukuran biasa, sudah kekuningan di pinggirnya.
Di depannya ada tulisan tangan. Tulisan tangan perempuan, miring ke kanan, agak bergetar di beberapa huruf.
Aku membaca tulisannya dari jarak setengah meter dan aku harus duduk di lantai setelah membacanya.
Tulisannya:
Untuk Dewa. Dibaca kalau sudah besar.
Amplopnya masih tertutup.
Lemnya masih utuh.
Tujuh tahun.
“Kak.”
Dia berdiri memegang laci yang terbuka.
“Kak Dewa.”
“Hm.”
“Kakak belum pernah baca?”
Dan dia bilang, dengan suara yang biasa saja, dengan nada yang sama seperti waktu dia menjelaskan soal engsel dan keran dan jadwal bus:
“Belum.”
“Kenapa?”
Dia menutup lacinya.
“Karena aku belum besar,” katanya.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti reading
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan