Chapter Thirty One
Yang Pertama Kali Memeluk
POV: Sadewa
Naka mengantarku pulang naik motor dan berhenti di mulut gang.
“Gue anter sampai depan?”
“Nggak usah.”
“Dew.”
“Aku jalan aja.”
Dia tidak memaksa. Dia duduk di motornya dengan mesin masih menyala, dan mukanya masih bengkak, dan dia jelas-jelas sedang menyusun sesuatu.
“Dew.”
“Hm.”
“Sori.”
“Buat apa.”
“Buat—“ Dia mengangkat satu tangan lalu menurunkannya lagi. “Ya buat semuanya.”
“Naka.”
“Iya?”
“Kamu nggak ngambil apa-apa dari aku.”
Dia melihatku beberapa detik.
Lalu dia bilang, “Itu yang selalu lo bilang,” dan menyalakan lampu motornya, dan pergi.
Aku berdiri di mulut gang sampai suara motornya hilang.
Aku sampai rumah jam empat sore.
Aku menaruh sikat dan lap di rak belakang. Aku mencuci botol air. Aku menyapu ruang tamu walaupun ruang tamu itu sudah bersih sejak pagi.
Lalu tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.
Aku duduk di kursi kayu.
Aku ingin mencatat sesuatu di sini, dan aku akan mencatatnya sejujur yang aku bisa.
Selama tiga tahun, aku menyimpan satu susunan kalimat tentang hari itu. Susunannya rapi. Aku sudah mengulangnya ratusan kali, biasanya malam, biasanya waktu tidak bisa tidur.
Susunannya begini: Aku melihat sesuatu, aku menghitung, aku memutuskan, aku mengoper.
Empat bagian. Tenang. Berurutan.
Dan siang tadi, di kompleks makam itu, Naka menyebutkan satu hal yang tidak ada di susunanku.
Tangan lo gemeteran.
Aku duduk di kursi kayu di ruang tamu selama, mungkin, satu jam, dan aku mencoba memasukkan bagian itu ke dalam susunanku.
Bagian itu tidak muat.
Kalau tanganku gemetar, aku tidak sedang tenang. Kalau aku minta diganti, aku tidak sedang memutuskan. Kalau aku ingin keluar dari lapangan itu sebelum delapan detik terakhir, maka apa yang aku lakukan setelahnya bukan pengorbanan.
Itu jalan keluar.
Aku mengulang kalimat terakhir itu beberapa kali dan setiap kali rasanya lebih buruk.
Aku berdiri dan menyalakan lampu ruang tengah walaupun belum gelap.
Bel berbunyi jam enam kurang.
Dua kali.
Aku sudah di teras sebelum bunyi kedua selesai, seperti yang aku bilang.
Kirana berdiri di balik pagar dengan tas dan sebuah kantong plastik dan seragam yang belum diganti, yang berarti dia langsung dari suatu tempat dan tidak pulang dulu.
“Kak.”
“Ini hari Sabtu.”
“Iya.”
“Aku bilang aku ada urusan.”
“Iya, tadi pagi.” Dia mengangkat kantong plastiknya. “Ini udah sore.”
Aku membuka pagar.
Dia masuk dan meletakkan kantongnya di meja dan mulai bicara tentang isinya — sesuatu tentang martabak, tentang tukang martabaknya yang salah kasih rasa, tentang Nadin yang menitip tapi tidak jadi bayar.
Aku mendengar suaranya tapi tidak isinya.
Aku berdiri di dekat pintu dan tidak duduk.
“—jadi aku bilang ya udah nggak apa-apa, tapi kan tetep aja aneh, masa martabak—“
“Kirana.”
Dia berhenti.
“Iya, Kak?”
Aku tidak punya kalimat.
Ini bagian yang aku ingin catat dengan tepat, karena selama tujuh belas tahun aku selalu punya kalimat. Aku menyusun kalimat sebelum orang selesai bertanya. Aku menyiapkan alasan cadangan tiga lapis untuk pertanyaan yang bahkan tidak akan ditanyakan.
Berdiri di ruang tamuku sendiri jam enam sore, aku tidak punya satu pun.
Jadi aku melakukan hal lain.
Aku jalan dua langkah dan memeluknya.
Aku tidak tahu caranya. Aku sudah bilang itu ke dia lewat pesan bulan November dan itu bukan kalimat kiasan.
Tanganku terlalu tinggi di awal, di sekitar bahunya, dan itu salah karena tingginya seratus lima puluh dua dan aku harus menunduk lebih banyak dari yang aku perkirakan. Aku menyesuaikan. Satu tangan di punggung, satu di belakang kepalanya, dan aku menunduk sampai daguku di atas kepalanya.
Dia tidak bergerak selama dua detik pertama.
Lalu tangannya naik dan memegang bagian belakang kausku, dua tangan, dan meremasnya.
Dia tidak bilang apa-apa.
Itu yang paling aneh dari seluruh sore itu.
Anak ini tidak pernah diam. Aku sudah menghitung. Rata-rata dia mengucapkan lima ratus kata per jam kalau sedang tenang, dan dua kali lipat kalau tidak.
Dia tidak mengucapkan satu kata pun selama seluruh pelukan itu.
Aku menghitung, tentu saja.
Lima puluh dua detik.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak menghitung, bahwa untuk sekali ini aku berhenti menghitung, tapi itu bohong dan aku sudah cukup banyak berbohong hari ini.
Aku menghitung dan angkanya lima puluh dua, dan aku tidak melepaskan lebih dulu.
Dia yang melepas.
Dia mundur setengah langkah, dan mukanya merah total, dan matanya basah, dan dia langsung menunduk melihat lantai.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak nggak apa-apa?”
Bukan kenapa Kakak meluk aku. Bukan ini kenapa. Bukan komentar tentang lima puluh dua detik yang jelas-jelas dia sadari.
“Kakak nggak apa-apa?”
Aku tidak menjawab langsung.
“Aku ke makam tadi,” kataku.
“Aku tau.”
“Kamu tau?”
“Kak Naka bilang.” Dia masih melihat lantai. “Tanggal delapan belas Januari.”
“Naka bilang ke kamu?”
“Iya.”
“Dia cerita apa lagi?”
Dan Kirana Adiwangsa, yang punya tiga puluh satu halaman catatan tentangku di laci kamarnya, yang punya map berisi delapan puluh satu entri milik orang lain, yang punya satu lembar fotokopi koran tanggal dua puluh satu Februari yang aku tahu ada di tangannya sejak Desember —
“Nggak ada,” katanya. “Dia bilang sisanya bukan haknya.”
Kami makan martabak di meja dapur.
Rasanya memang salah. Kirana benar soal itu.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku boleh nanya satu hal? Yang bukan soal hari ini.”
“Boleh.”
“Kenapa Kakak nggak nanya soal apa yang aku tau?”
Aku berhenti mengunyah.
“Aku tau Kakak tau,” katanya. “Kakak pasti udah ngitung. Kakak tau ada sesuatu di tas aku sejak Desember.”
“Iya.”
“Terus kenapa nggak nanya?”
Aku meletakkan potongan martabakku.
“Karena kamu nggak buka pintu itu.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Kamu ke rumah ini tiap Sabtu selama tiga bulan dan kamu nggak buka pintu itu,” kataku. “Kamu bahkan ngomongin itu keras-keras supaya aku tau kamu milih.”
“Kak—“
“Orang yang bisa nahan diri selama itu nggak akan pakai apa yang dia tau buat nyerang.”
Dia menunduk lagi.
“Kak, aku bukan orang sebaik itu.”
“Aku nggak bilang kamu baik,” kataku. “Aku bilang kamu sabar. Itu beda, dan yang kedua lebih susah.”
Jam delapan malam, dia mulai membereskan.
Aku mengantarnya sampai teras dan berhenti, karena hujan gerimis dan aku sedang mencari payung.
“Nggak usah, Kak. Gerimis doang.”
“Sebentar.”
Aku masuk mengambil payung dari belakang pintu.
Waktu aku keluar, dia sudah berdiri di halaman, di dekat jemuran, menghadap ke arah rumah.
Bukan menghadap pagar. Menghadap rumah.
Dan aku mengikuti arah pandangannya lewat jendela ruang tamu yang tirainya terbuka, ke dalam, ke lorong kecil di sisi kanan, ke pintu kedua yang tertutup.
Dia langsung memutar badan waktu mendengar aku keluar.
“Kak, payungnya—“
“Kirana.”
“Iya?”
Aku berdiri di teras dengan payung di tangan.
Hujannya masih gerimis. Air jatuh di atap seng garasi tetangga dan bunyinya kecil-kecil.
Aku memikirkan tiga tahun. Aku memikirkan susunan empat bagian yang tidak muat lagi. Aku memikirkan Naka yang berdiri di depan nisan ibuku dan melaporkan sesuatu yang salah kepada orang yang salah.
Naka pikir ceritanya berhenti di lapangan basket.
Naka tidak tahu bahwa lapangan basket itu bukan yang pertama.
“Ada satu lagi,” kataku.
Dia berhenti bergerak.
“Satu lagi apa, Kak?”
“Yang Naka nggak tau. Yang Pak Herman nggak tau.” Aku menyerahkan payungnya. “Yang paling awal.”
Dia menerima payung itu tanpa membukanya.
“Kak—“
“Sabtu depan,” kataku. “Datang jam sepuluh.”
“Kak Dewa.”
“Pencet dua kali.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk reading
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan