← Yang Kiri buat Aku

Chapter Nine

Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh

POV: Vannesa

“Aku taruhan seratus ribu,” kataku.

Tasya berhenti mengaduk kopinya. “Taruhan apa?”

“Mas Rafa pasti pernah ngeluh. Nggak mungkin ada manusia yang nggak pernah ngeluh. Aku bakal nangkep dia ngeluh minggu ini.”

“Kenapa kamu mau nangkep vendor ngeluh?”

“Riset.”

“Riset apa?”

“Riset… sumber daya manusia.”

Tasya menatapku dengan tatapan yang sudah dia sempurnakan selama sembilan tahun persahabatan kami. Tatapan yang bilang kamu pikir aku bodoh, tapi aku sayang kamu, jadi aku akan pura-pura bodoh sebentar.

“Oke,” katanya. “Seratus ribu. Batasnya Jumat.”

“Deal.”

“Dan kalau kamu kalah, kamu harus ngaku.”

“Ngaku apa?”

Tasya tersenyum, menyesap kopinya, dan pergi tanpa menjawab.


Hari Senin, lift utama Atma Tower rusak.

Bukan rusak total. Dua dari enam lift sedang dalam perawatan, dan empat sisanya penuh sesak sejak jam tujuh pagi. Antrean di lobi mengular sampai ke pintu putar. Orang-orang berdiri dengan wajah pasrah, menatap angka di atas pintu lift yang turun dengan kecepatan siput.

Aku datang jam delapan, melihat antrean itu, dan memutuskan naik tangga darurat. Sembilan lantai. Aku rutin ke gym tiga kali seminggu, jadi kupikir aku akan baik-baik saja.

Di lantai lima, aku menyesali keputusan itu. Di lantai enam, aku menyesali semua keputusan hidupku.

Di bordes antara lantai enam dan tujuh, aku melihatnya.

Rafa sedang berhenti sebentar, bersandar di pegangan tangga dengan tangan kanan. Tas laptopnya tersampir di bahu kanan. Dia sedikit berkeringat, napasnya sedikit lebih cepat. Naik tangga dengan satu tangan untuk berpegangan, pikirku, dengan tas di bahu yang sama, pasti tidak mudah. Keseimbangannya pasti harus dijaga lebih hati-hati daripada orang lain.

Nah, pikirku. Ini dia. Sekarang dia pasti ngeluh.

Dia menoleh, melihatku, dan tersenyum.

“Pagi, Bu,” katanya. “Olahraga gratis, ya.”

Aku berhenti di anak tangga, terengah. “Kamu… nggak… capek?”

“Capek.”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Terus kok nggak ngeluh?”

Dia memikirkannya dengan serius, seperti aku baru saja menanyakan soal teknis. “Kalau saya ngeluh, tangganya nggak jadi lebih pendek.”

“Tapi kan jadi lega.”

“Kalau saya nggak ngeluh, saya jadi punya napas lebih buat naik.” Dia melanjutkan naik, pelan, dan menoleh. “Ibu duluan aja. Saya lambat.”

“Nggak,” kataku. “Aku juga lambat.”

Jadi kami naik tiga lantai terakhir bersama, pelan-pelan, sama-sama terengah, tanpa bicara. Di lantai sembilan, dia membukakan pintu tangga darurat untukku dengan menahannya pakai bahu kanan.

Di dalam, Tasya sudah duduk di mejanya, segar dan wangi, menyesap kopi dengan tenang.

“Kamu naik apa?” tanyaku, masih terengah.

“Lift barang,” katanya. “Lewat belakang. Pak Tarno yang kasih tahu.”

Aku menatapnya. Dia menatapku, lalu menatap Rafa yang baru masuk di belakangku dengan kemeja sedikit basah keringat.

“Oh,” kata Tasya, pelan dan penuh makna. “Kalian naik tangga. Berdua.”

“Kebetulan ketemu.”

“Sembilan lantai kebetulan.”

“Sya.”

“Aku nggak ngomong apa-apa.” Dia kembali ke kopinya. “Aku cuma mencatat.”

Seratus ribu, pikirku, sedikit kurang yakin.


Hari Selasa, aku mengamati.

Aku tidak bangga dengan ini. Aku manajer divisi dengan tiga puluh lima anak buah dan proyek senilai miliaran rupiah. Aku seharusnya punya hal-hal lebih penting untuk dikerjakan daripada memperhatikan vendor dari balik partisi kaca.

Tapi aku mengamati.

Jam sembilan, Bu Yanti datang ke meja vendor dengan ponsel di tangan dan wajah hampir menangis. Ponselnya tidak bisa video call. Cucunya ulang tahun di Wonosobo dan dia sudah janji akan menelepon tepat jam sembilan. Rafa menghentikan pekerjaannya, mengambil ponsel Bu Yanti, dan dalam dua menit, aplikasinya sudah diperbarui, kameranya sudah diizinkan, dan Bu Yanti sedang menyanyikan Selamat Ulang Tahun dengan suara bergetar kepada anak laki-laki kecil yang memakai topi kerucut.

Rafa kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.

Jam sebelas, Dimas, anak magang di divisiku, dimarahi oleh Pak Hartono dari keuangan karena salah memasukkan angka. Aku mendengarnya dari ruanganku. Pak Hartono tidak berteriak, tapi suaranya dingin dan tajam, dan wajah Dimas pucat seperti kertas. Setelah Pak Hartono pergi, Dimas duduk di mejanya dengan kepala tertunduk.

Lima menit kemudian, Rafa lewat di dekat meja Dimas dengan gelas kopi. Dia berhenti, menaruh gelas kopi itu di meja Dimas, dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Dimas mengangkat kepala. Rafa menunjuk layar Dimas, menjelaskan sesuatu, lalu menepuk bahu anak itu dan pergi.

Dimas tersenyum. Senyum kecil, tapi senyum.

Belakangan, aku bertanya pada Dimas apa yang Rafa katakan.

“Dia bilang, Bu, waktu dia magang dulu, dia pernah salah input data sampai satu kota di Kalimantan hilang dari peta perusahaan. Terus dia bilang, dibanding itu, salah angka nggak ada apa-apanya.” Dimas tertawa kecil. “Terus dia ngajarin shortcut Excel biar saya nggak salah lagi.”

“Dia beneran pernah ngilangin kota?”

“Nggak tahu, Bu. Tapi saya jadi nggak pengin nangis lagi.”

Aku kembali ke ruanganku dan menatap partisi kaca.

Jam tiga, Mas Doni dari IT internal datang ke meja vendor dengan wajah tegang. Aku tahu Mas Doni tidak suka proyek ini. Dia merasa sistem baru akan mengambil alih pekerjaannya. Dia pernah bilang di rapat bahwa vendor luar “nggak ngerti budaya perusahaan kita”. Hari ini, dia datang untuk mengeluh soal sesuatu. Aku bisa melihat dari cara dia berdiri, tangan di pinggang, dagu terangkat.

Rafa mendengarkan. Lama. Mengangguk. Lalu dia menarik kursi kosong, memberi isyarat agar Mas Doni duduk, dan memutar laptopnya ke arahnya.

Setengah jam kemudian, Mas Doni masih duduk di sana. Dan dia tertawa.

Belakangan aku tahu Rafa meminta Mas Doni menjadi penanggung jawab integrasi sistem internal. Bukan karena perlu, tapi karena Mas Doni memang yang paling tahu sistem lama. Mas Doni pulang hari itu dengan wajah seperti orang yang baru dipromosikan.

“Dia selalu gitu,” kataku pada Tasya di pantry sore itu.

“Gitu gimana?”

“Nemuin orang yang lagi nggak enak, terus bikin mereka enak.” Aku menatap kopiku. “Pak Bambang. Bu Yanti. Dimas. Mas Doni. Pak Tarno. Semua orang.”

“Terus?”

“Terus siapa yang bikin dia enak?”

Tasya diam. Aku juga diam. Pertanyaan itu menggantung di antara kami seperti asap.

“Nes,” kata Tasya akhirnya. “Kamu sadar nggak, kamu udah ngomongin dia dua puluh menit?”

“Nggak dua puluh menit.”

“Dua puluh tiga. Aku ngitung.”

“Kamu ngitung?”

“Aku belajar dari kamu.” Dia tersenyum miring. “Seratus ribu, Nes. Masih yakin?”

Aku tidak menjawab.


Hari Rabu, Kevin menelepon dari Singapura.

Aku mengangkatnya di ruanganku dengan pintu tertutup. Suaranya hangat dan sedikit lelah. Dia bercerita tentang kampanye regional, tentang klien yang rewel, tentang hotel yang sarapannya terlalu banyak telur.

“Kamu gimana?” tanyanya. “Presentasi direksi kemarin lancar banget, katanya. Om Darmo sampai muji?”

“Iya. Lancar.”

“Kamu hebat, Nes.”

“Bukan aku doang. Vendornya yang bantu bersihin data semalaman.”

“Oh ya? Baik banget vendornya.”

“Iya,” kataku. “Baik banget.”

Kevin diam sebentar di seberang telepon. Aku tidak tahu kenapa. Lalu dia tertawa kecil dan berkata, “Aku pulang dua minggu lagi. Jumat yang dulu batal, kita ganti, ya? Aku masih punya yang mau aku omongin.”

“Iya,” kataku. “Boleh.”

Setelah telepon ditutup, aku duduk lama menatap layar ponsel yang sudah gelap.

Aku menyukai Kevin. Aku sungguh-sungguh menyukainya. Dia baik, dia lucu, dia ingat aku tidak suka seledri. Kalau dia bilang ingin meresmikan sesuatu, seharusnya aku merasa senang. Berdebar. Semua hal yang dirasakan perempuan di drama Korea kesukaan Tasya.

Aku tidak merasa berdebar.

Aku merasa seperti sedang membaca kontrak yang semua pasalnya benar, tapi entah kenapa aku ragu untuk tanda tangan.

Aku menoleh ke partisi kaca. Di meja vendor, Rafa sedang tertawa bersama Gilang tentang sesuatu di layar. Kepalanya sedikit mendongak, matanya menyipit di balik kacamata. Tawanya tidak bisa kudengar dari sini, tapi aku bisa membayangkannya. Rendah, pelan, seperti orang yang tidak ingin mengganggu siapa pun dengan kebahagiaannya.

Aku mengalihkan pandangan dengan cepat.


Hari Kamis, aku akhirnya mendengar dia mengeluh.

Atau, setidaknya, aku kira begitu.

Aku sedang lewat di belakang meja vendor ketika mendengar dia menghela napas panjang. Helaan napas berat, dalam, seperti orang yang sudah menahan sesuatu terlalu lama. Aku berhenti. Jantungku berdebar dengan cara yang aneh. Akhirnya, pikirku. Akhirnya aku lihat dia capek. Akhirnya dia manusia.

“Kenapa, Mas?” tanyaku, terlalu cepat.

Dia menoleh. Di layarnya ada foto. Foto seekor kucing oranye gemuk yang duduk di anak tangga teras, menatap kamera dengan ekspresi menghina.

“Kucing tetangga saya,” katanya dengan wajah sangat sedih. “Namanya Mbul. Tadi pagi saya nggak kasih dia ikan. Terus dia tidur di atas sepatu saya. Dua-duanya. Sekarang kaos kaki saya bau Mbul.”

Aku menatap foto Mbul. Mbul menatapku balik dari layar dengan tatapan yang sangat tidak menyesal.

“Itu keluhan?” tanyaku.

“Itu keluhan besar. Ini kaos kaki favorit saya.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tertawa sampai harus berpegangan pada sandaran kursinya, dan Gilang ikut tertawa, dan Rafa menatap kami berdua dengan wajah terluka yang pura-pura, sambil memperbesar foto Mbul di layar supaya kami bisa melihat betapa jahatnya kucing itu.

Satu-satunya keluhan yang kudengar dari Rafa Elvano selama empat hari penuh adalah kaos kaki yang bau kucing.


Hari Jumat sore, aku menemukannya di lobi, duduk di bangku dekat pintu putar, sedang mengikat tali sepatu.

Aku berhenti di belakang pilar. Aku tidak tahu kenapa aku bersembunyi. Aku hanya melihatnya.

Dia melakukannya dengan satu tangan. Tangan kanan menarik satu ujung tali, membuat lingkaran, lalu, dengan gerakan yang cepat dan rumit yang tidak bisa kuikuti, entah bagaimana memasukkan ujung yang lain dan menariknya sampai simpulnya kencang. Kakinya ikut membantu, menekan tali ke lantai di saat yang tepat.

Selesai. Rapi. Seperti diikat dengan dua tangan.

Dia melirik jam tangannya, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Senyum puas. Senyum rahasia.

Aku keluar dari balik pilar sebelum aku bisa menahan diri. “Berapa detik?”

Dia terlonjak sedikit. Lalu, melihat itu aku, telinganya mulai memerah.

“Ibu lihat?”

“Lihat. Berapa detik?”

Dia ragu. Lalu dia bilang, dengan nada bangga yang ditahan-tahan, seperti anak kecil yang menunjukkan gambar kepada gurunya:

“Sembilan. Rekor.”

Aku menatapnya. Pria dua puluh delapan tahun dengan kacamata dan kemeja biru muda, duduk di bangku lobi gedung perkantoran, bangga pada rekor sembilan detik mengikat tali sepatu dengan satu tangan.

Dan tiba-tiba aku ingin menangis. Aku tidak tahu kenapa. Aku sama sekali tidak tahu kenapa.

“Keren,” kataku. Suaraku keluar sedikit aneh. “Itu keren banget, Mas.”

“Adik saya bilang itu level atlet.”

“Adik kamu benar.”

Dia tersenyum, berdiri, mengangguk sopan, lalu berjalan keluar menuju ojek yang sudah menunggu di depan. Aku berdiri di lobi itu, menatap punggungnya, dengan dada yang terasa terlalu penuh untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan.


Tasya menemukanku di sana lima menit kemudian.

“Nes? Kamu ngapain berdiri di situ kayak patung?”

Aku mengeluarkan dompet. Menarik selembar seratus ribu. Menaruhnya di telapak tangan Tasya.

Tasya menatap uang itu. Lalu menatapku.

“Kamu kalah?”

“Aku kalah.”

“Dia nggak pernah ngeluh?”

“Cuma soal kaos kaki bau kucing.”

Tasya melipat uang itu dan memasukkannya ke saku blazernya dengan gerakan yang sangat puas. Lalu dia menatapku, dan senyumnya berubah lembut.

“Oke,” katanya. “Sekarang ngaku.”

“Ngaku apa?”

“Kenapa kamu peduli dia ngeluh atau nggak.”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Di luar pintu putar, ojek Rafa sudah pergi. Jalanan sore itu macet dan berkilau oleh lampu rem. Aku menatapnya lama, seolah bisa menemukan jawabannya di antara mobil-mobil yang tidak bergerak.

“Aku nggak tahu,” kataku akhirnya. Dan itu jujur.

Tasya menggandeng lenganku. “Nggak apa-apa,” katanya. “Nanti kamu tahu.”

Kami berjalan ke basement bersama. Lorong parkir bawah masih redup seperti biasa. Jari-jariku mengencang di tali tas.

Lalu aku ingat janji seseorang, janji tentang spesifikasi teknis modul pelacakan armada, dan entah kenapa, jari-jariku mengendur.

Aku tidak meneleponnya malam itu.

Tapi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, lorong parkir yang gelap tidak terasa begitu gelap.