Chapter Thirty Six
Go-Live
POV: Vannesa
Ujung jari-jari tangan kiriku sakit.
Aku menatapnya di mobil, di lampu merah Gatot Subroto, jam empat tiga puluh pagi. Empat ujung jari. Telunjuk, tengah, manis, kelingking. Merah. Sedikit melepuh. Ada garis-garis tipis di kulitnya, bekas ditekan sesuatu yang keras dan tipis berkali-kali.
Senar gitar.
Kinan mengirimiku DM dua hari setelah pagi di jalan setapak itu. Hanya tiga kalimat.
Sabtu. Rumah Mama. Bawa jari.
Aku datang. Rumah tipe 45 di kompleks guru, pagar hijau yang catnya mengelupas, pohon mangga yang tidak pernah berbuah. Mama Rafa membukakan pintu, menatapku lama, lalu memelukku tanpa berkata apa-apa. Papa Rafa, di teras belakang, menurunkan korannya, menatapku, mengangguk, dan berkata “panas”. Aku menjawab “iya, Pak, panas”, dan dia mengangguk puas dan kembali membaca.
Kinan membawaku ke kamar lama Rafa. Kamar dengan kasur yang terlalu pendek dan stiker bintang glow-in-the-dark di langit-langit. Di sudut, casing gitar dengan sudut-sudut yang penyok. Terbuka. Gitar di dalamnya, dengan senar baru yang berkilau.
“Kakak nggak bisa neken kunci,” kata Kinan, mengangkat gitar itu dan menaruhnya di pangkuanku. “Tapi Kakak masih bisa metik.”
Aku menatap gitar itu. Lalu menatap Kinan.
“Tangan kiri yang neken kunci,” kata Kinan. “Tangan kanan yang metik. Kakak cuma punya yang kanan.” Dia menatapku dengan mata yang merah, tapi tegas. “Yang kiri buat kamu, kan? Kakak cerita. Di mobil. Waktu dia masih bisa ngomong soal kamu tanpa diam.”
Lalu dia mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan sebuah foto. Halaman terakhir buku tulis bersampul biru. Lirik yang belum selesai. Kunci-kunci gitar di atas kata-kata. Dan di pojok kanan atas: Buat seseorang. Suatu hari.
“Aku foto diam-diam,” kata Kinan. “Waktu dia ganti senar.”
Sejak Sabtu itu, aku belajar. Setiap malam, di kamarku, dengan gitar bekas yang kubeli di toko musik dekat kantor. Setiap Sabtu, di kamar lama Rafa, dengan Kinan yang mengajariku cara menekan senar tanpa membuat bunyinya sumbang. G. C. D. Em. Kunci-kunci dasar. Kunci-kunci yang ada di atas lirik lagu yang belum selesai itu.
Jariku sakit. Setiap hari. Aku tidak pernah bilang pada siapa pun kecuali Tasya.
Lampu hijau menyala. Aku menginjak gas.
Hari ini go-live. Hari terakhirnya di Atma & Corp.
Ruang rapat besar lantai sembilan sudah berubah menjadi ruang komando.
Tiga layar besar di dinding. Peta dua puluh gudang di seluruh Jawa, dengan titik-titik yang akan berubah hijau satu per satu ketika sistem baru menyala. Dua puluh laptop di meja panjang. Dua puluh saluran video call ke dua puluh kepala gudang. Tim IT internal, tim vendor, tim operasional. Semua orang datang jam lima pagi. Bu Yanti datang jam empat, membawa tiga termos kopi dan dua nampan pisang goreng.
Rafa sudah di sana ketika aku masuk.
Dia berdiri di depan layar utama, memberi instruksi pada Mas Doni dan Gilang dengan suara tenang. Kemeja biru muda. Kacamata. Tangan kiri di pangkuan ketika dia duduk sebentar untuk mengecek sesuatu di laptop. Tidak di saku.
Aku memperhatikan itu. Sejak pagi di jalan setapak, sejak Kinan dan Mama dan pohon kamboja, tangannya tidak di saku lagi. Dia tidak bicara padaku lebih dari yang perlu. Tapi tangannya tidak di saku.
Dia melihatku masuk. Dia mengangguk.
“Pagi, Bu.”
“Pagi, Mas Rafa.”
Kami berdua sama-sama tahu itu hanya formalitas. Kami berdua sama-sama tahu tidak ada yang kembali seperti semula. Tapi di depan tiga puluh orang dan dua puluh kepala gudang, kami adalah project owner dan system analyst, dan hari ini adalah hari yang sudah kami kerjakan bersama selama tiga bulan.
“Semua siap?” tanyaku.
“Siap,” katanya. “Kita mulai dari Semarang. Pak Bambang minta jadi yang pertama.”
Tentu saja Pak Bambang minta jadi yang pertama.
Jam enam tepat, Rafa menekan tombol.
Di layar utama, titik gudang Semarang berubah dari abu-abu menjadi kuning. Lalu, setelah tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh menit, hijau.
Di layar video call, Pak Bambang berdiri di tengah gudangnya, dikelilingi anak buahnya yang memegang pemindai barcode. Dia menatap tablet di tangannya. Lalu dia menatap kamera.
“HIJAU!” teriaknya. “HIJAU, MAS RAFA! HIJAU!”
Seluruh ruang komando bersorak. Di gudang Semarang, anak buah Pak Bambang bersorak. Seseorang di belakang Pak Bambang mulai memukul kardus seperti bedug.
Pak Bambang menatap kamera lagi. Dan aku melihatnya. Pria lima puluh delapan tahun yang pernah menolak mesin absensi sidik jari karena “nggak sopan”, yang di kickoff meeting pertama siap menolak seluruh proyek, sekarang berdiri di tengah gudangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Matur nuwun, Mas,” katanya. Suaranya bergetar. “Matur nuwun sanget.”
Rafa tersenyum ke layar. Senyum kecil di sudut bibir. “Bapak yang bikin ini jalan, Pak. Bapak yang uji semuanya.”
Pak Bambang menyeka matanya dengan lengan seragam. Lalu dia menunjuk ke kamera dengan telunjuk. “Mas Rafa. Kalau nanti Mas nikah, saya datang. Saya bawa satu truk beras. Gratis.”
Ruang komando tertawa. Rafa tertawa juga. Tapi aku melihat telinganya merah. Dan aku melihat dia tidak menoleh ke arahku.
Satu per satu, titik-titik di peta berubah hijau.
Surabaya, jam tujuh. Server yang pernah digigit tikus berjalan mulus. Cikarang, jam delapan. Pak Anwar mengacungkan jempol ke kamera dengan wajah atlet angkat besi yang baru memecahkan rekor. Medan. Makassar. Pontianak. Kupang, jam sepuluh, di mana seorang pekerja gudang menyanyikan lagu dangdut sambil memindai barcode pertama, dan Rafa berkata, “Suaranya masih bagus,” dan seluruh ruangan tertawa sampai Om Darmo harus menegur.
Tidak semuanya mulus. Gudang Balikpapan gagal sinkron. Gudang Yogyakarta kehilangan koneksi selama dua puluh menit karena ada yang menyalakan microwave di dekat router. Gudang Bandung salah mengunggah data master, sehingga sistem mengira mereka punya empat ratus ribu karton sabun colek.
Rafa menyelesaikan semuanya. Tenang. Cepat. Satu tangan di papan ketik, suara rendah ke mikrofon, tanpa pernah menaikkan nada.
Aku duduk di ujung meja, mengkoordinasi kepala-kepala gudang, dan memperhatikannya.
Aku memperhatikan caranya menjepit dokumen di bawah siku. Caranya membuka tutup spidol dengan gigi. Caranya menekan dua tombol sekaligus dengan ibu jari dan kelingking. Hal-hal yang dulu membuatku menangis setiap kali melihatnya.
Hari ini aku tidak menangis.
Hari ini aku hanya melihatnya. Melihat pria yang bisa melakukan semua itu, dengan satu tangan, di bawah tekanan dua puluh gudang, dan tetap tersenyum ketika Pak Kardi menelepon untuk bertanya apakah sistem baru bisa mendeteksi satelit yang menyesatkan truk.
Aku tidak melihat utang. Aku tidak melihat malam itu.
Aku melihat Rafa.
Dan aku berharap, dengan seluruh hatiku, dia bisa melihat bahwa aku melihatnya seperti itu.
Jam tiga sore, titik terakhir berubah hijau.
Balikpapan. Setelah empat kali mencoba. Di layar video call, kepala gudang Balikpapan, seorang perempuan paruh baya bernama Bu Lastri, berteriak begitu keras sampai pengeras suara di ruang komando berdengung.
Dua puluh titik. Semua hijau. Peta Jawa di layar utama menyala seperti pohon Natal.
Ruang komando meledak.
Orang-orang berdiri, bersorak, berpelukan. Gilang memeluk Mas Doni. Mas Doni memeluk Bu Yanti. Bu Yanti memeluk Pak Tarno, yang entah sejak kapan ada di ruangan itu. Tasya memeluk Gilang dari belakang dan tidak melepaskannya. Om Darmo berdiri di ujung meja, bertepuk tangan pelan, dengan senyum di balik kumisnya.
Papa masuk ke ruangan. Dia sudah menonton dari ruangannya di lantai dua belas sejak pagi. Dia berjalan lurus ke Rafa, dan tanpa berkata apa-apa, dia memeluknya.
Rafa berdiri kaku sebentar. Lalu tangan kanannya naik ke punggung Papa.
“Terima kasih, Nak,” kata Papa. Cukup keras untuk kudengar. “Terima kasih untuk semuanya.”
Aku tahu Papa tidak hanya bicara soal sistem.
Rafa mengangguk. Dia tidak menjawab.
Jam empat sore, dia pamit.
Bukan di ruang komando. Di tengah lantai sembilan. Semua orang berkumpul tanpa diminta. Tiga puluh, empat puluh orang. Karyawan divisi operasional, keuangan, IT, bahkan beberapa dari lantai dua belas yang turun karena mendengar kabar.
Rafa berdiri di tengah mereka dengan tas laptop di bahu kanan. Tangan kiri di sisi tubuhnya. Tidak di saku.
Dan dia melakukan sesuatu yang membuat napasku berhenti.
Dia menyapa mereka satu per satu. Dengan nama.
“Pak Tarno. Makasih udah jagain lantai sembilan tiap malam. Kopinya utang saya masih banyak.”
Pak Tarno menunduk, mengusap mata.
“Bu Yanti. Pisang gorengnya yang paling enak se-Jakarta. Maaf minggu ini nggak kemakan.”
Bu Yanti menutup mulut dengan celemek.
“Mas Doni. Integrasi sistem internalnya rapi banget. Tanpa Mas, go-live hari ini nggak mungkin. Salam buat si kecil.”
“Dimas. Shortcut Excel-nya jangan lupa.”
“Mbak Rini. Mbak Sari. Makasih pisang gorengnya waktu itu. Dan kopinya.”
Mbak Rini menangis. Terang-terangan.
Satu per satu. Semua nama. Seperti yang kulakukan di hari pertama kickoff meeting, ketika aku berjalan mengitari meja dan menyapa setiap orang dengan nama mereka. Dia ingat. Dia memperhatikan semua itu, sejak hari pertama, dan hari ini dia mengembalikannya.
“Gilang,” katanya terakhir di antara tim vendor. “Remote support sebulan. Jangan kebanyakan bikin meme.”
Gilang tidak menjawab. Dia hanya memeluk Rafa. Keras. Lama. Wajahnya di bahu Rafa. Bahunya berguncang.
“Bang,” bisik Gilang. Hanya itu.
Lalu Rafa melepaskan pelukan Gilang, menepuk bahunya, dan berbalik.
Ke arahku.
Aku berdiri di ambang pintu ruanganku. Aku tidak bergerak dari sana sejak dia mulai pamit. Aku tidak berani.
Dia berjalan mendekat. Berhenti satu meter di depanku. Empat puluh orang menatap kami. Lantai sembilan sunyi total.
“Bu Vannesa,” katanya.
Aku menatapnya.
“Terima kasih,” katanya pelan, “udah nahan pintu di hari pertama.”
Aku tidak bisa bicara.
Hari pertama. Pintu ruang rapat yang berat. Aku menahannya dengan punggung sambil membaca ponsel. Lanjut, Mas Rafa, saya tahan. Aku bahkan tidak ingat melakukannya. Hal kecil. Hal yang kulakukan untuk siapa saja yang tangannya penuh.
Dia ingat. Dia membawanya tiga bulan. Dan sekarang, di hari terakhirnya, dia mengembalikannya padaku.
“Rafa,” bisikku.
Dia menatapku. Matanya di balik kacamata merah. Tapi dia tersenyum. Senyum kecil yang sama.
Aku ingin mengatakan banyak hal. Aku ingin bilang jangan pergi. Aku ingin bilang aku belajar gitar, jariku melepuh, aku bisa G dan C dan D dan Em. Aku ingin bilang yang kiri masih buat aku, janji itu bukan cicilan.
Tapi aku sudah memutuskan sesuatu, sejak pagi di jalan setapak. Aku tidak akan mengejarnya lagi. Tidak dengan kopi dan catatan tempel dan kursi sebelah kiri. Tidak dengan godaan yang membuatnya merah. Aku sudah mengejarnya sekali, dan dia bilang dia tidak bisa membedakan mana yang aku dan mana yang utang.
Kali ini, dia yang harus memilih. Dengan matanya sendiri.
“Hati-hati di Surabaya,” kataku.
Suaraku tidak pecah. Aku sendiri terkejut.
“Aku tunggu,” tambahku. Pelan. Cukup pelan sehingga hanya dia yang mendengarnya.
Dia membeku.
“Nggak ngejar,” kataku. “Cuma nunggu. Itu keputusan aku, Rafa. Bukan keputusan kamu.”
Dia menatapku lama. Aku melihat sesuatu bergerak di matanya. Sesuatu yang retak.
Lalu dia mengangguk. Pelan. Dan berbalik. Dan berjalan ke lift.
Empat puluh orang membuka jalan untuknya.
Aku turun ke lobi. Aku tidak tahu kenapa. Kakiku berjalan sendiri, lewat tangga darurat, sembilan lantai, dengan sepatu hak tinggi, dan aku tidak merasakan betisku yang sakit.
Aku sampai di lobi tepat ketika dia berjalan ke pintu putar.
Aku berdiri di balik pilar. Pilar yang sama tempat aku bersembunyi dulu, ketika aku melihatnya mengikat tali sepatu dalam sembilan detik dan hampir menangis tanpa tahu kenapa.
Dia berhenti di depan pintu putar.
Tidak berjalan. Hanya berhenti. Tas laptop di bahu kanan. Tangan kiri di sisi tubuh.
Aku menahan napas.
Pelan, dia menoleh ke belakang. Ke lobi. Ke lift. Ke arah pilar tempat aku berdiri.
Aku tidak tahu apakah dia melihatku. Aku tidak bergerak.
Dia berdiri di sana lama. Sepuluh detik. Dua puluh. Pak Tarno di meja satpam berdiri dan memberi hormat, tangan di dahi, seperti tentara.
Lalu Rafa berbalik lagi. Dan melangkah ke pintu putar. Dan pintu itu berputar, pelan, membawanya keluar.
Aku melihatnya berjalan ke trotoar. Memakai helm ojek dengan satu tangan. Mengancingkan talinya dengan canggung. Naik ke boncengan.
Motor bergerak. Dia tidak menoleh lagi.
Aku berdiri di balik pilar sampai motornya hilang di tikungan.
Lalu aku melihat tanganku. Ujung-ujung jari tangan kiriku yang merah dan melepuh.
G. C. D. Em.
Aku menggenggam tanganku. Pelan. Dan membiarkan jari-jariku yang sakit menekan telapak tanganku, seperti menekan senar.
“Tiga hari,” kata Tasya di belakangku. Aku tidak tahu sejak kapan dia di sana. “Dia berangkat ke Surabaya tiga hari lagi.”
“Aku tahu.”
“Kamu mau ngapain?”
Aku menatap pintu putar yang sudah berhenti berputar.
“Latihan,” kataku. “Kinan bilang aku masih sumbang di kunci D.”
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live reading
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari