← Yang Kiri buat Aku

Chapter Twelve

Lift Lantai Sembilan

POV: Rafa

“Lift nomor tiga lagi bermasalah,” kata Pak Tarno pagi itu. “Kemarin sore sempat macet lima menit. Teknisinya baru datang siang nanti. Hati-hati, Mas.”

Aku mencatatnya dalam hati dan langsung melupakannya. Itu kesalahan pertama.

Kesalahan kedua terjadi jam empat sore, ketika Vannesa muncul di mejaku membawa dua map tebal dan wajah panik.

“Arsip kontrak gudang lama,” katanya. “Ada di ruang arsip lantai B1. Om Darmo minta salinannya sebelum jam lima, buat audit. Tasya lagi di gudang Cikarang. Kamu bisa bantu? Aku butuh orang yang ngerti kode kontraknya.”

“Bisa.”

“Gilang juga?”

Gilang sudah berdiri sebelum ditanya. “Siap, Bu.”

Kami bertiga berjalan ke lift. Lift nomor satu dan dua penuh sesak, orang-orang pulang lebih awal karena ada pengumuman listrik akan dipadamkan sebagian untuk perawatan jam enam. Lift nomor tiga kosong, pintunya terbuka, seperti mengundang.

“Yang ini aja,” kata Vannesa, melangkah masuk.

Aku ikut masuk. Sesuatu di kepalaku berbisik, samar, tentang pesan Pak Tarno tadi pagi. Tapi bisikan itu tenggelam oleh bau parfum Vannesa di ruang sempit itu, dan oleh fakta bahwa dia berdiri tepat di sebelah kiriku, dan oleh Gilang yang tiba-tiba berhenti di ambang pintu lift.

“Bang,” katanya. “Gue lupa charger.”

“Charger?”

“Laptop gue mati, Bang. Gue harus bawa charger. Kalian duluan. Gue nyusul pakai lift sebelah.”

Pintu lift mulai menutup. Gilang melambai dengan senyum yang terlalu lebar. Sebelum pintunya tertutup rapat, aku melihat dia mengacungkan jempol.

Aku menatap pintu yang sudah tertutup.

“Gilang nggak bawa laptop,” kataku.

“Hm?” Vannesa menoleh.

“Kita cuma mau ambil arsip kertas. Gilang nggak bawa laptop dari tadi.”

Vannesa diam sebentar. Lalu dia tertawa kecil, dan menatap angka di atas pintu lift dengan pipi sedikit merah. “Gilang itu aneh, ya.”

“Gilang itu,” kataku, “sedang dalam misi.”

“Misi apa?”

Aku tidak menjawab. Lift bergerak turun. Angka berganti dari 9 ke 8.

Lalu lift berhenti.


Bukan berhenti dengan halus, seperti berhenti di lantai tujuan. Berhenti dengan sentakan keras yang membuat lantainya bergetar dan membuat kami berdua terhuyung. Aku menahan diri dengan tangan kanan di dinding. Vannesa berpegangan pada pegangan besi di sisi lain.

Lampu berkedip.

Sekali. Dua kali.

Lalu padam.

Gelap total. Bukan gelap seperti malam, yang masih ada sisa cahaya bulan atau lampu jalan. Gelap seperti kotak tertutup. Seperti tidak ada dunia di luar dinding-dinding logam ini. Satu-satunya cahaya adalah angka digital kecil di atas pintu yang juga ikut mati, lalu tombol darurat merah yang berkedip lemah seperti jantung yang lelah.

“Oke,” kataku, dengan suara setenang mungkin. “Ini lift nomor tiga. Pak Tarno bilang tadi pagi sempat bermasalah. Kita tekan tombol darurat, nanti teknisi datang.”

Aku meraba dinding, menemukan tombol darurat, dan menekannya. Terdengar bunyi dengung, lalu suara berkemerisik dari pengeras suara kecil.

“Halo? Lift tiga?” Suara Pak Tarno, samar, penuh gangguan. “Lift tiga, ada orang di dalam?”

“Ada, Pak. Dua orang. Rafa sama Bu Vannesa.”

“Ya Allah. Sebentar, Mas. Listriknya turun tiba-tiba, ada korsleting di panel. Teknisi lagi di jalan. Mas sama Ibu aman? Ada yang luka?”

“Aman, Pak. Nggak ada yang luka.”

“Tunggu sebentar, ya, Mas. Paling lama setengah jam.”

Suara itu terputus. Keheningan kembali.

“Setengah jam,” kataku, menoleh ke tempat aku terakhir melihat Vannesa. “Kita bisa—”

Aku berhenti.

Aku mendengar napasnya.

Pendek. Cepat. Tersendat-sendat, seperti orang yang berusaha menarik udara dari ruangan yang tidak punya udara. Aku mengenali napas itu. Aku pernah mendengarnya minggu lalu, ketika lampu padam di lantai sembilan. Tapi saat itu dia masih bisa bicara. Masih bisa bilang aku nggak terlalu suka gelap.

Sekarang, dia tidak bilang apa-apa.

“Vannesa?”

Tidak ada jawaban. Hanya napas yang makin cepat. Lalu bunyi gesekan kain di dinding logam, pelan, seperti seseorang yang perlahan merosot ke lantai.

Aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan senternya. Cahaya putih menyapu ruangan sempit itu.

Dia duduk di sudut lift, di lantai, punggung menempel ke dinding. Lututnya ditekuk ke dada. Kedua tangannya mencengkeram lengan bajunya sendiri, begitu keras sampai buku jarinya putih. Matanya terbuka, tapi tidak melihat apa-apa. Menatap sesuatu yang jauh. Sesuatu yang bukan di sini.

Wajahnya pucat. Seluruh tubuhnya gemetar.

Aku pernah melihat seseorang gemetar seperti itu. Aku tidak ingat di mana. Atau mungkin aku ingat, tapi ingatan itu terlalu jauh, terkubur di bawah delapan tahun dan ribuan hari biasa.

Aku menaruh ponselku di lantai dengan senter menghadap ke atas, sehingga cahayanya memantul di langit-langit dan menerangi seluruh lift.

Lalu aku berlutut di depannya.

Berlutut dengan satu tangan tidak pernah mudah. Aku harus menurunkan tubuhku pelan-pelan, bertumpu pada tangan kanan di dinding, menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh ke arah kiri yang tidak bisa menahan apa-apa. Lututku menyentuh lantai logam yang dingin. Aku menggeser posisi sampai wajahku sejajar dengan wajahnya.

“Vannesa,” kataku pelan. “Aku di sini.”

Matanya bergerak sedikit. Tidak fokus. Napasnya masih cepat.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bukan dokter. Aku bukan psikolog. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya di masa lalu, apa yang membuat ruang sempit dan gelap mengubahnya jadi seperti ini. Yang aku tahu hanya satu hal, satu hal yang Mama ajarkan tanpa sengaja, bertahun-tahun lalu, setiap kali Kinan kecil terbangun menjerit karena mimpi buruk.

Aku mengulurkan tangan kananku. Menaruhnya di atas tangannya yang gemetar, yang masih mencengkeram lengan bajunya sendiri.

Tangannya dingin. Sangat dingin.

“Udah, udah,” bisikku. “Jangan takut.”

Dia membeku.

Bukan membeku karena takut. Membeku dengan cara yang berbeda. Napasnya berhenti di tengah tarikan. Matanya, yang tadi menatap kekosongan, perlahan bergerak. Naik. Mencari. Sampai akhirnya menemukan wajahku di bawah cahaya senter yang pucat.

Dia menatapku seperti melihat hantu.

“Kamu,” bisiknya. Suaranya patah. “Kamu bilang apa?”

Aku tidak mengerti. Tapi aku mengulanginya, lebih pelan, lebih lembut.

“Udah, udah. Jangan takut. Aku di sini.”

Sesuatu berubah di wajahnya. Aku tidak bisa membacanya. Seperti seseorang yang mendengar lagu yang sangat dikenalnya tapi tidak bisa mengingat judulnya. Bingung, dan tersesat, dan di bawah semua itu, sesuatu yang sangat mirip dengan rindu.

Lalu, pelan sekali, jari-jarinya melepaskan cengkeraman dari lengan bajunya.

Dan menggenggam jariku.


Aneh.

Aku sudah menggenggam tangan banyak orang selama hidupku. Tangan Mama, tangan Kinan, tangan klien, tangan nenek-nenek yang kutuntun menyeberang jalan. Tapi genggaman ini terasa berbeda. Terasa seperti pernah.

Jari-jari kecil yang dingin, gemetar, menggenggam jariku dengan kekuatan yang tidak sepadan dengan ukurannya. Genggaman orang yang sedang tenggelam dan menemukan sesuatu untuk dipegang.

Untuk sepersekian detik, di bawah cahaya senter yang pucat, aku merasa seperti berdiri di tempat lain. Tempat yang lebih gelap. Lebih basah. Bau hujan dan tembok bata.

Lalu perasaan itu hilang, secepat datangnya. Aku berada di lift lantai sembilan Atma Tower, berlutut di lantai logam yang dingin, dengan Vannesa Atmajaya menggenggam tanganku.

Aku menepis perasaan itu. Otak manusia suka membuat hubungan-hubungan aneh di saat panik. Dan Jakarta itu besar.

“Tarik napas,” kataku. “Pelan-pelan. Ikutin aku.”

Aku menarik napas panjang, sengaja keras, supaya dia bisa mendengarnya. Dia mencoba mengikuti. Gagal. Napasnya tersendat di tengah jalan.

“Lagi,” kataku. “Nggak apa-apa. Pelan-pelan.”

Kami mencoba lagi. Dan lagi. Tarik, tahan, embuskan. Tangannya masih menggenggam jariku, dan setiap kali napasnya tersendat, genggamannya mengencang.

Di tarikan kelima, napasnya mulai melambat.

“Bagus,” bisikku. “Kamu hebat.”

“Aku…” Suaranya serak. “Aku malu.”

“Kenapa malu?”

“Aku manajer. Umur dua puluh tujuh. Aku… aku nangis di lift.”

“Kamu nggak nangis.”

Dia mengerjap, dan setetes air mata jatuh dari bulu matanya ke pipi. Dia menatapku dengan ekspresi yang barusan itu apa?

“Oke,” ralatku. “Nangis dikit.”

Dia tertawa. Tawa yang basah dan gemetar, tapi tawa. Dan napasnya, untuk pertama kalinya sejak lampu padam, terdengar hampir normal.


Setengah jam terasa seperti setengah hari, dan juga terasa seperti lima menit.

Aku tetap berlutut di depannya sampai lututku kesemutan, lalu aku menggeser posisi dan duduk di sebelahnya, punggung di dinding logam, bahu hampir bersentuhan. Di sebelah kirinya. Tanganku masih di tangannya. Dia tidak melepaskannya, dan aku tidak memintanya melepaskan.

Aku bicara. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan, jadi aku bicara.

Tentang Mbul, kucing tetangga yang membenciku tapi tidur di sepatuku. Tentang Kinan yang menyetir seperti nenek-nenek membawa kue ulang tahun. Tentang Papa yang bicara dua puluh kata sehari dan menghabiskan separuhnya untuk cuaca. Tentang Gilang yang pernah menangis nonton film kartun tentang robot, lalu menyangkalnya selama tiga bulan.

Dan ketika ceritaku habis, aku mulai membacakan spesifikasi teknis modul pelacakan armada.

“Modul pelacakan armada,” kataku dengan suara monoton, “menerima data koordinat GPS dari perangkat yang terpasang di kendaraan dengan interval tiga puluh detik. Data tersebut divalidasi terhadap rute yang telah ditentukan dalam sistem, dan apabila terjadi penyimpangan lebih dari lima ratus meter—”

“Rafa.”

“—maka sistem akan mengirim notifikasi kepada supervisor regional—”

“Rafa,” katanya lagi, dan kali ini dia tertawa. “Kamu beneran bacain spesifikasinya.”

“Aku udah janji.”

“Kamu hafal?”

“Aku yang nulis.”

Dia tertawa lagi, lebih keras, dan kepalanya jatuh sedikit ke bahuku. Ke bahu kananku. Hanya sebentar, lalu dia mengangkatnya lagi. Tapi aku merasakannya. Berat kepalanya, hangat rambutnya. Di bahu yang masih bisa merasakan.

Jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut dia bisa mendengarnya di ruang sempit itu.

“Kamu belajar dari mana?” tanyanya pelan.

“Belajar apa?”

“‘Udah, udah. Jangan takut.’”

Aku berpikir sebentar. “Dari Mama. Dulu, tiap adikku kebangun karena mimpi buruk, Mama selalu bilang gitu. Sambil megang tangannya.”

“Oh,” katanya.

Hanya itu. Oh. Tapi suaranya terdengar aneh. Jauh. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu di laci yang gelap.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak,” katanya. “Cuma… ada orang yang dulu juga bilang gitu ke aku.”

“Mamamu?”

Dia diam lama.

“Bukan,” katanya akhirnya. “Orang lain. Aku nggak ingat mukanya.”

Aku menunggu dia melanjutkan. Dia tidak melanjutkan. Dia hanya menatap cahaya senter di langit-langit, dan jari-jarinya, masih di atas jariku, bergerak sedikit, mengusap buku jariku dengan ibu jarinya. Pelan. Hampir tidak sadar.

Aku tidak bertanya lagi.


Lampu menyala tiba-tiba, silau, dan lift bergetar lalu bergerak turun. Satu lantai. Lalu pintunya terbuka.

Lantai delapan. Di depan pintu, ada Pak Tarno, dua teknisi berseragam biru, Gilang dengan wajah pucat pasi, dan sekitar lima belas karyawan yang berkerumun karena mendengar ada orang terjebak di lift.

Dan mereka semua melihat kami.

Duduk di lantai lift. Bahu hampir bersentuhan. Tangan Vannesa masih menggenggam tanganku.

Lima belas pasang mata turun ke tangan kami. Lalu naik ke wajah kami. Lalu turun lagi ke tangan kami.

Vannesa melepaskan tanganku begitu cepat seperti tersengat listrik. Pipinya merah padam. Aku berdiri, dengan bantuan dinding, dengan gerakan yang tidak terlalu anggun, dan merapikan kemeja dengan satu tangan.

“Bu Vannesa! Mas Rafa!” Pak Tarno bergegas masuk. “Aman? Beneran aman?”

“Aman, Pak,” kataku.

“BANG.” Gilang menerobos di antara teknisi, wajahnya hampir menangis. “Bang, maafin gue. Gue nggak tahu liftnya bakal macet. Gue cuma mau—gue kira—Bang, gue hampir telepon pemadam kebakaran.”

“Kita baik-baik aja, Lang.”

“Gue nggak akan pernah bikin misi lagi, Bang. Sumpah.”

Di belakang Gilang, lima belas karyawan mulai berbisik-bisik. Aku bisa mendengar potongannya. Pegangan tangan. Bu Vannesa. Vendor itu. Serius?

Aku tahu ke mana bisik-bisik itu akan pergi. Aku tahu kalimat apa yang akan menyusul.

Tapi Vannesa sudah berjalan keluar dari lift, tegak, dagu terangkat, seolah tidak terjadi apa-apa. Di ambang pintu, dia berhenti. Menoleh padaku.

Matanya masih sedikit merah. Tapi dia tersenyum.

“Makasih, Rafa,” katanya. Keras. Cukup keras supaya kelima belas orang itu mendengarnya. “Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu gimana.”

Lalu dia berjalan ke tangga darurat, meninggalkan kerumunan yang tiba-tiba sunyi.


Aku tidak bisa tidur malam itu.

Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar kontrakan yang retak di satu sudut, dan tangan kananku terasa aneh. Seperti masih ada sesuatu di sana. Jari-jari kecil yang dingin, yang perlahan menghangat.

Genggaman itu.

Aku memejamkan mata dan mencoba mengingat di mana aku pernah merasakannya. Tidak bisa. Ingatan itu seperti ikan di air keruh, berkelebat sebentar lalu hilang.

Ponselku bergetar. Jam sebelas malam.

Makasih. Udah, udah-nya manjur.

Lalu satu pesan lagi.

Dan spesifikasi teknisnya juga. Aku ketiduran di mobil tadi pas nginget-nginget bagian GPS. 😴

Aku tersenyum ke layar, sendirian, di kamar yang gelap.

Itu memang fitur utamanya, balasku.

Dia mengirim emoji tertawa. Lalu, setelah jeda yang panjang, satu pesan lagi.

Rafa. Orang yang dulu bilang itu ke aku. Suaranya mirip kamu.

Aku menatap pesan itu lama.

Mungkin semua orang yang baik suaranya mirip, balasku akhirnya.

Tidak ada balasan setelah itu. Hanya tanda dibaca di bawah pesanku, dan kemudian, lama sekali, tanda sedang mengetik yang muncul dan hilang, muncul dan hilang, lalu tidak muncul lagi.

Aku menaruh ponsel di dada dan menatap langit-langit.

Di luar, Mbul mengeong di atap tetangga. Jakarta berdengung jauh.

Dan di tangan kananku, genggaman itu masih ada. Hangat. Tidak mau pergi.