← Yang Kiri buat Aku

Chapter Six

Tahu Batas

POV: Rafa

Laras dari HR membawa bolu pandan pada hari Selasa.

“Bikin sendiri,” katanya, menaruh kotak plastik di mejaku. “Kebanyakan. Mas Rafa suka pandan, kan?”

Aku tidak ingat pernah bilang suka pandan. Aku tidak ingat pernah bicara dengan Laras lebih dari tiga kalimat, dan ketiganya soal formulir akses gedung untuk tim vendor. Tapi dia tersenyum dengan cara yang membuatku merasa tidak sopan kalau menolak.

“Suka,” kataku. “Makasih, Mbak Laras.”

“Laras aja.” Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Kita seumuran kok.”

Di meja sebelah, Gilang mengetik sangat keras. Sangat, sangat keras. Seperti orang yang sedang berusaha menahan sesuatu dengan kekuatan jari.

Laras datang lagi hari Rabu, membawa kopi. Hari Kamis, dia mampir ke meja kami untuk “ngecek apakah kartu akses kami lancar”, yang sudah lancar sejak hari pertama. Hari Jumat, dia mengajakku makan siang.

“Di kantin bawah aja,” katanya. “Santai. Aku traktir.”

Aku melirik Gilang. Gilang menatap monitornya dengan wajah yang sedang berjuang mati-matian untuk tetap datar. Pipinya menggembung.

“Boleh,” kataku. “Tapi saya yang bayar punya saya.”

“Deal.”

Begitu Laras pergi, Gilang menyemburkan napas yang ditahannya sejak Selasa.

“BANG.”

“Nggak.”

“BANG, LO DIDEKETIN.”

“Kita cuma makan siang, Lang.”

“Bolu pandan, Bang! Bolu pandan itu kode! Nggak ada orang bikin bolu pandan kebanyakan! Bolu pandan itu takarannya pas! Nenek gue pernah bilang, kalau cewek bawain lo kue buatan sendiri tiga hari berturut-turut—”

“Itu kopi, bukan kue.”

“—KOPI ITU TURUNAN KUE, BANG.”

Aku tidak tahu harus merespons apa terhadap pernyataan itu, jadi aku kembali bekerja. Tapi di balik layar laptopku, dari sudut mata, aku melihat pintu kaca ruangan Vannesa. Dia sedang menelepon, berjalan mondar-mandir, satu tangan di pinggang. Lili putih dari Kevin masih di vas, mulai layu di ujung-ujungnya.

Aku mengalihkan pandangan.

Laras baik. Laras ramah. Laras mengajakku makan siang dan tidak menatap tangan kiriku dengan iba. Itu lebih dari yang bisa kuminta.

Mungkin, pikirku, ini yang disebut tahu batas. Bukan menolak semua orang. Tapi berhenti menatap ke tempat yang terlalu tinggi, dan mulai memperhatikan orang-orang yang berdiri di dekatmu.


Kantin bawah Atma Tower ramai seperti pasar pada jam dua belas. Deretan konter makanan, meja-meja panjang, dan suara ratusan karyawan yang bicara sekaligus. Laras memilih meja di dekat jendela.

Aku memesan nasi rames, dan membawa nampannya dengan satu tangan. Selalu sedikit tricky: nampan, piring, gelas, dan keseimbangan yang harus pas. Aku sudah terbiasa. Tapi Laras, yang berjalan di sampingku, bergerak dengan gelisah, tangannya terangkat setengah seperti ingin membantu tapi tidak yakin boleh.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Udah biasa.”

“Oh. Iya. Maaf.” Dia tertawa kecil, canggung.

Kami duduk. Laras bercerita tentang pekerjaannya di HR, tentang kucingnya yang bernama Kopi, tentang drama Korea yang sedang dia tonton. Aku mendengarkan. Aku pendengar yang baik. Itu salah satu hal yang tidak membutuhkan dua tangan.

Semuanya berjalan lancar sampai aku butuh membuka sambal sachet.

Aku melakukannya dengan cara biasa: menjepit ujung sachet dengan gigi, menarik dengan tangan kanan. Cepat, efektif, sudah ribuan kali. Tapi ketika aku mengangkat kepala, Laras sedang menatapku.

Bukan menatap wajahku. Menatap cara aku membuka sachet dengan gigi.

Hanya sebentar. Sepersekian detik. Lalu dia tersenyum dan melanjutkan cerita tentang Kopi si kucing. Tapi aku sudah melihatnya. Sesuatu di matanya yang bergeser sedikit, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa gambar yang dia lihat dari jauh ternyata punya detail yang tidak dia perhitungkan.

Aku menuang sambal ke nasi dan tidak bilang apa-apa.

Lalu aku mendengarnya.

Meja di belakang kami. Tiga karyawan perempuan, suara mereka tidak terlalu keras, tapi kantin itu punya akustik yang aneh. Suara di satu meja bisa terdengar jelas di meja lain kalau kebetulan ada jeda dalam keributan.

“…itu Laras? Sama vendor yang itu?”

“Iya. Udah seminggu dia deketin.”

“Serius Laras? Ya ampun.”

“Ganteng sih. Tapi…”

“Iya, tapi.”

“Kasihan ceweknya nanti. Laras kan anaknya manja. Masa nanti dia yang harus bukain tutup botol suaminya tiap hari.”

Tawa kecil. Tawa ringan. Tawa orang yang sedang membicarakan cuaca.

Aku terus mengunyah. Aku sudah mendengar kalimat itu, atau variasinya, ratusan kali selama delapan tahun. Di pernikahan sepupu. Di kantor lama. Di arisan tetangga Mama. Aku sudah punya perisai untuk itu, tebal dan rapi, dibangun bata demi bata.

Tapi kemudian aku melihat Laras.

Dia juga mendengarnya. Tentu saja dia mendengarnya. Wajahnya memerah, bukan merah malu-malu, tapi merah yang tidak nyaman. Dia menatap piringnya. Tangannya berhenti di tengah jalan menuju gelas es teh.

Dan untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia tidak menoleh ke meja belakang untuk menegur mereka. Dia tidak tertawa dan bilang biarin aja. Dia tidak menatapku dan bilang jangan didengerin. Dia hanya diam, menatap piringnya, dan aku bisa melihat pikirannya bekerja. Aku bisa melihatnya menimbang. Membayangkan. Tutup botol. Tiap hari. Suami.

Kasihan ceweknya.

Keheningan itu yang menyakitkan. Bukan kalimatnya. Kalimatnya sudah basi. Tapi keheningan Laras, keraguan di wajah perempuan yang tiga hari berturut-turut membawakanku kopi dan bolu, itu yang menembus perisaiku seperti pisau menembus jaket.

Aku meletakkan sendok.

“Laras,” kataku, lembut.

Dia mengangkat kepala, kaget. “Y-ya?”

“Makasih ya, bolu pandannya. Kopinya juga.” Aku tersenyum. “Kamu baik banget.”

“Oh. Iya, sama-sama, Mas, aku—”

“Aku mau jujur sama kamu, biar kamu nggak repot-repot lagi.” Aku menjaga suaraku tetap ringan. Tetap hangat. “Aku lagi nggak nyari siapa-siapa. Kerjaan lagi padat, dan aku orangnya nggak bisa bagi fokus. Jadi kalau kamu mau temenan, aku senang banget. Tapi kalau lebih dari itu… kayaknya aku bukan orang yang tepat.”

Laras menatapku lama. Aku melihat emosi yang berganti-ganti di wajahnya. Kaget. Malu. Dan, di bawahnya, hampir tersembunyi, sesuatu yang sangat mirip dengan lega.

Dia mungkin tidak menyadarinya. Tapi aku melihatnya.

“Oh,” katanya. “Iya. Iya, nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti.”

“Makasih udah ngerti.”

“Temen, ya?”

“Temen.”

Dia tersenyum. Senyum yang sedikit terlalu cepat, sedikit terlalu cerah. Lalu dia kembali ke cerita tentang Kopi si kucing, dan aku kembali mendengarkan, dan kami menghabiskan makan siang itu dengan sangat sopan.

Di meja belakang, tiga karyawan itu sudah pindah topik ke diskon di mal.


“Bang,” kata Gilang sore itu. “Laras nggak mampir hari ini.”

“Hm.”

“Kemarin dia mampir tiga kali. Hari ini nol.”

“Mungkin sibuk.”

Gilang menatapku dari balik monitornya. Lama. Lalu dia mendorong kursinya mendekat, dengan roda yang berderit, sampai dia duduk tepat di sebelah mejaku.

“Bang,” katanya pelan. “Apa yang terjadi di kantin?”

“Nggak ada apa-apa.”

“Bang.”

Aku menatap kode di layarku. Modul pelacakan armada. Baris seratus empat puluh tiga. Ada bug di sana yang sudah kucari sejak jam dua, dan aku tidak bisa menemukannya.

“Saya bilang ke dia saya lagi nggak nyari siapa-siapa,” kataku.

Gilang diam.

“Biar dia nggak perlu repot,” tambahku. “Biar dia nggak perlu mikir lagi.”

“Mikir apa, Bang?”

Aku tidak menjawab. Gilang tidak mendesak. Dia hanya duduk di sana, di kursi berderit itu, sampai akhirnya dia berkata dengan suara yang sangat pelan, sangat tidak Gilang:

“Bang, mereka yang rugi.”

“Siapa?”

“Semua orang yang pernah ragu soal lo. Mereka yang rugi.”

Aku menatapnya. Dia menatapku dengan mata yang sedikit merah, lalu buru-buru mendorong kursinya kembali ke mejanya sendiri.

“Kelilipan,” katanya ke monitornya.

“Iya, Lang.”

“Debu AC.”

“Iya.”


Jam enam sore, sebagian besar lantai sembilan sudah kosong. Aku masih mencari bug di baris seratus empat puluh tiga. Gilang sudah pulang, setelah tiga kali menawarkan diri untuk menemaniku dan tiga kali kutolak.

Aku tidak mendengar Vannesa datang. Aku hanya tiba-tiba mencium bau kopi, dan ketika menoleh, ada gelas kertas di meja di sebelah tanganku.

“Bu Yanti udah pulang,” katanya, menarik kursi di sebelah kiriku. “Jadi ini bikinan aku. Maaf kalau nggak enak.”

“Makasih.” Aku mengangkat gelas itu dan meminumnya. Terlalu manis. Sangat terlalu manis. “Enak.”

“Bohong.” Dia tertawa. “Aku tahu kebanyakan gula. Aku emang nggak bisa bikin kopi. Tasya bilang kopiku rasanya kayak sirup batuk.”

“Sirup batuk yang enak.”

Dia tertawa lagi, lalu diam. Duduk di sebelahku, menatap layar laptopku yang penuh kode. Tidak bicara. Hanya duduk.

Aku menunggu dia menjelaskan kenapa dia di sini. Dia tidak menjelaskan.

“Ada yang perlu di-review?” tanyaku akhirnya.

“Nggak.”

“Ada masalah di gudang?”

“Nggak.”

Aku menoleh. Dia sedang menatapku dengan kepala sedikit miring, seperti sedang memeriksa sesuatu.

“Mas Rafa hari ini senyumnya kurang dua,” katanya.

Aku mengerjap. “Kurang dua?”

“Biasanya, tiap aku lewat meja ini, Mas Rafa senyum ke aku. Tiap kali. Aku nggak tahu Mas sadar atau nggak.” Dia menghitung dengan jari. “Pagi tadi, senyum. Jam sepuluh, senyum. Abis makan siang, aku lewat dua kali. Mas nggak senyum dua-duanya. Mas bahkan nggak lihat.”

Aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku tidak tahu dia memperhatikan. Aku tidak tahu ada yang memperhatikan. Aku tidak tahu bahwa senyumku, yang kulemparkan ke semua orang seperti koin receh, dihitung oleh seseorang.

“Maaf,” kataku. “Lagi fokus sama bug.”

“Bug apa?”

“Baris seratus empat puluh tiga.”

Dia mencondongkan badan ke layarku. Terlalu dekat. Aku bisa mencium sampo di rambutnya, sesuatu yang manis seperti bunga yang namanya tidak kuketahui. Bahunya hampir menyentuh bahu kiriku. Hampir. Aku tidak akan merasakannya kalau pun menyentuh. Tapi aku tahu jaraknya, dan jarak itu membuatku lupa cara bernapas.

“Aku nggak ngerti kodenya,” katanya. “Tapi di situ, itu kurung tutupnya kurang satu, bukan?”

Aku menatap baris seratus empat puluh tiga.

Kurung tutupnya kurang satu.

Empat jam. Empat jam aku mencari bug itu. Dan seorang manajer operasional yang mengaku tidak mengerti kode menemukannya dalam empat detik.

“…Iya,” kataku. “Kurang satu.”

“Yay.” Dia bertepuk tangan kecil, bangga. “Aku dapet apa?”

“Kredit di dokumentasi.”

“Cuma itu?”

“Dan senyum.” Aku tersenyum padanya. Tidak bisa tidak. “Ganti yang dua tadi.”

Dia menatapku. Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum balik. Bukan senyum ramah untuk semua orang. Senyum kecil yang sama dengan yang dia berikan di kickoff meeting, yang penasaran dan hangat dan membuat dadaku terasa terlalu sempit untuk jantungku.

“Oke,” katanya. “Utang lunas.”

Dia berdiri, mengambil gelas kopinya sendiri, dan berjalan pergi. Di ambang pintu, dia menoleh.

“Mas Rafa.”

“Ya?”

“Jangan pulang terlalu malam. Kerjaan nggak akan lari.”

Lalu dia pergi.

Aku menatap kopi sirup batuk di mejaku. Telingaku panas. Leherku panas. Kacamataku, aku yakin, berembun.


Aku pulang jam delapan malam, naik ojek, lalu memutuskan jalan kaki ke minimarket di ujung gang untuk membeli susu.

Di teras rumah, tali sepatu kiriku lepas.

Aku duduk di anak tangga dan mengikatnya. Sebelas detik, biasanya. Sembilan, kalau sedang beruntung.

Malam ini aku gagal.

Talinya meleset. Aku mencoba lagi. Meleset lagi. Simpulnya longgar, lepas, jatuh. Aku mencoba lagi, dan lagi, dan jari-jari tangan kananku tiba-tiba terasa kaku dan bodoh, seperti tangan orang lain.

Aku berhenti. Menatap tali sepatu yang terurai di anak tangga.

Di kepalaku, aku mendengar keheningan Laras. Keraguan di wajahnya. Kelegaan kecil yang bahkan tidak dia sadari. Aku mendengar kasihan ceweknya. Aku mendengar tawa ringan dari meja belakang. Dan di atas semua itu, aku mendengar suara Vannesa: Mas Rafa hari ini senyumnya kurang dua.

Dia menghitung senyumku.

Dan suatu hari, kalau aku cukup bodoh untuk berharap, dia juga akan menghitung hal-hal lain. Sachet sambal yang kubuka dengan gigi. Botol yang kujepit di antara lutut. Tutup yang tidak bisa kubuka. Pintu yang tidak bisa kutahan sambil membawa barang. Dia akan menghitung semuanya, dan suatu hari, seperti Laras, dia akan diam sebentar terlalu lama.

Aku tidak mau melihat keheningan itu di wajahnya.

Aku tidak akan pernah sanggup melihat keheningan itu di wajahnya.

Mbul, kucing tetangga, keluar dari balik pot bunga dan duduk di sebelahku. Menatap tali sepatuku yang terurai. Lalu menatapku.

“Jangan lihat,” kataku.

Mbul terus melihat.

Aku mencoba sekali lagi. Pelan. Satu putaran, satu tarikan, satu simpul. Kali ini berhasil. Aku tidak tahu berapa detik. Aku tidak menghitung.

Aku duduk di sana lama sesudahnya, dengan Mbul di sebelahku dan susu yang belum dibeli, dan membuat keputusan.

Aku tahu batasku. Mulai besok, aku akan benar-benar mengingatnya.

Ponselku bergetar.

Mas Rafa, makasih ya hari ini. Bug-nya aku masukin ke CV-ku. 😌 — Vannesa

Aku menatap layar itu lama sekali.

Lalu aku membalas Sama-sama, Bu, dan menghapus kata Bu, dan menggantinya dengan Vannesa, lalu menghapusnya lagi, lalu mengetik ulang, lalu akhirnya mengirim satu emoji senyum dan mematikan ponsel sebelum aku bisa berubah pikiran.

Batasku baru bertahan empat menit.

Mbul menguap, seperti tidak terkejut sama sekali.