Chapter Twenty One
Pasien Pura-Pura
POV: Vannesa
Klinik itu kecil, bersih, dan berbau minyak kayu putih.
Ruang tunggunya hanya muat delapan kursi plastik biru. Di dinding ada poster anatomi tulang belakang, jam dinding yang berdetak terlalu keras, dan papan pengumuman penuh brosur senam lansia. Seorang bapak tua duduk di pojok dengan penyangga leher, membaca koran. Seorang ibu muda menggendong bayi sambil memijat-mijat pergelangan tangannya sendiri.
Aku duduk di kursi paling dekat pintu. Kacamata hitam. Topi. Masker.
Bapak tua dengan penyangga leher menurunkan korannya. Menatapku lama, dari topi sampai masker.
“Mbak artis?” tanyanya.
“Bukan, Pak.”
“Kok ditutup semua?”
“Lagi… flu, Pak.”
Bapak itu mengangguk pelan, sejauh yang bisa dilakukan leher dengan penyangga. “Saya kira artis. Soalnya anak muda sekarang kalau sakit leher, biasanya karena kebanyakan main HP. Kalau artis, karena kebanyakan dikejar wartawan.”
“Saya kebanyakan mikir, Pak.”
“Oh.” Dia menatapku dengan simpati. “Itu lebih parah. Mikir itu nggak ada obatnya. Mbak di sini salah tempat. Harusnya ke masjid.”
Ibu muda dengan bayi tertawa kecil. Aku ikut tertawa di balik masker, dan untuk sesaat, jantungku berhenti berdebar terlalu kencang.
Aku tahu ini berlebihan. Tasya bilang aku terlihat seperti selebriti yang sedang kabur dari skandal. Tapi aku tidak bisa berpikir jernih sejak Selasa, dan pikiranku yang tidak jernih memutuskan bahwa penyamaran adalah ide bagus.
“Ibu Vannesa?” Resepsionis memanggil. “Silakan masuk. Ruang tiga.”
Aku berdiri. Kakiku sedikit gemetar.
Ruang tiga adalah ruangan kecil dengan ranjang periksa berlapis kain putih, meja kayu dengan komputer, dan rak berisi handuk, botol minyak, dan alat-alat yang tidak kukenali. Di balik meja, seorang perempuan muda berseragam putih sedang mengetik sesuatu. Rambutnya dikuncir tinggi. Wajahnya serius.
Dia mengangkat kepala.
“Selamat pagi, Bu. Silakan duduk. Saya Kinan, fisioterapisnya. Keluhannya bahu kaku, ya? Sejak kapan—”
Dia berhenti.
Menatapku. Menatap topiku, kacamata hitamku, maskerku. Matanya menyipit perlahan.
“Lepas maskernya, Bu,” katanya.
“Aku… aku lagi flu.”
“Ini klinik, Bu. Kalau flu, justru saya perlu lihat.” Suaranya datar. “Lepas.”
Aku melepas masker. Lalu kacamata hitam. Lalu, karena rasanya konyol hanya melepas separuh, topi juga.
Kinan menatapku lama. Lalu dia bersandar di kursinya, melipat tangan di dada, dan tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum seorang jaksa yang baru saja melihat terdakwa masuk ke ruang sidang dengan membawa barang bukti di tangannya sendiri.
“Kamu,” katanya. “Yang di Kokas.”
“Halo,” kataku lemah.
“Vannesa. Klien. Rambut panjang. Ketawanya kenceng.” Dia menghitung dengan jari. “Kamu datang ke klinikku. Pakai topi, kacamata hitam, masker. Keluhan bahu kaku.”
“Bahuku beneran kaku.”
“Oh ya?”
“Beneran.” Aku memutar bahu kananku. Bunyinya krek. Keras. Kami berdua menatap bahuku dengan terkejut.
Kinan mengangkat alis. “Oke. Itu beneran kaku.”
“Aku bilang kan.”
Dia menatapku lama lagi. Lalu dia berdiri, mengambil handuk dari rak, dan menunjuk ranjang periksa.
“Tengkurap,” katanya. “Buka blazernya. Aku periksa. Tapi setelah itu kamu harus jelasin kenapa kamu di sini. Dan kalau jawabannya nggak masuk akal, aku tagih biaya konsultasi dua kali lipat.”
Tangannya kuat. Jauh lebih kuat dari kelihatannya.
Dia menekan bahuku dengan ibu jari, mencari titik-titik yang tegang, dan setiap kali dia menemukannya, aku meringis. Banyak sekali titik yang tegang. Dia menemukan semuanya, satu per satu, dengan presisi yang mengerikan.
“Kamu tidur nggak sih?” gumamnya. “Otot trapeziusmu kayak kabel baja.”
“Kurang.”
“Berapa jam?”
“Minggu ini? Mungkin… sepuluh jam. Total.”
Tangannya berhenti. “Seminggu sepuluh jam?”
“Ada yang lagi aku pikirin.”
Dia tidak berkomentar. Tangannya bergerak lagi, lebih pelan sekarang. Aku berbaring tengkurap dengan wajah di lubang ranjang periksa, menatap ubin lantai yang putih dan bersih.
“Jadi,” kata Kinan. “Kenapa kamu di sini?”
Aku sudah menyiapkan jawaban. Aku sudah berlatih di mobil. Tapi ketika aku membuka mulut, yang keluar adalah kebenaran. Sebagian kebenaran.
“Aku mau tahu soal Rafa.”
Tangan Kinan berhenti lagi.
“Mau tahu apa?” Suaranya dingin.
“Semuanya.”
“Kenapa nggak tanya dia langsung?”
“Karena dia bakal jawab sambil senyum,” kataku ke ubin lantai. “Dia bakal bilang udah nggak apa-apa. Dia bakal bikin lelucon soal cedera olahraga. Dia nggak akan cerita bagian yang berat.”
Hening lama.
Lalu tangan Kinan mulai bergerak lagi. Menekan titik di bawah tulang belikatku. Sakitnya luar biasa. Aku menggigit bibir.
“Kamu tahu apa soal bagian yang berat?” tanyanya.
Aku tahu soal koridor rumah sakit, pikirku. Aku tahu soal gadis berkaus tidur kucing. Aku tahu soal kasir dan kuitansi. Aku tahu lebih banyak dari yang boleh kukatakan.
“Nggak banyak,” kataku.
Kinan diam. Tangannya terus bergerak. Dan kemudian, dengan suara yang berubah, lebih rendah, lebih pelan, seperti orang yang memutuskan sesuatu, dia mulai bercerita.
“Kakakku ditusuk tiga kali,” kata Kinan. “Bahu, lengan atas, lengan bawah. Nolongin cewek di gang. Cewek yang nggak dia kenal.”
Aku menatap ubin lantai. Ubin itu mulai kabur.
“Aku enam belas. Malam itu aku yang nyuruh dia beli martabak. Kalau aku nggak nyuruh, dia nggak bakal lewat gang itu.” Tangannya menekan bahuku, pelan tapi dalam. “Aku nggak pernah bilang itu ke siapa-siapa. Tapi aku mikirin itu tiap hari. Delapan tahun.”
Aku menahan napas.
“Waktu dia bangun di rumah sakit, hal pertama yang dia tanya itu ceweknya selamat nggak. Bukan tangannya. Bukan dirinya. Ceweknya.” Kinan tertawa pendek, tanpa humor. “Terus dokter bilang tangannya nggak bakal gerak lagi. Terus kamu tahu dia ngapain?”
“Apa?”
“Dia senyum. Dia bilang oke. Dia bilang makasih udah jujur, Dok.” Suara Kinan bergetar. “Aku lempar kursi. Aku nggak sengaja. Aku berdiri terus kursinya jatuh. Aku teriak ke dia, kenapa Kakak senyum. Dan dia bilang, karena ceweknya selamat.”
Setetes air mata jatuh dari mataku ke ubin lantai. Lalu satu lagi. Aku tidak bisa menghentikannya. Wajahku di lubang ranjang periksa, dan Kinan tidak bisa melihatnya, jadi aku membiarkannya jatuh.
“Setahun,” lanjut Kinan. “Setiap hari aku pulang sekolah, aku latihan sama dia. Gerakin tangannya. Aku nonton tutorial fisioterapi sampai jam dua pagi. Dia harus belajar semuanya lagi. Pakai baju. Makan. Mandi. Nulis. Kamu tahu nggak, main gitar itu tangan kiri yang pegang kunci? Tangan kirinya, dulu, jago banget.”
Dia dulu anak band.
“Tiga bulan pertama, dia nggak pernah ngeluh. Nggak sekali pun. Dia bikin lelucon. Dia ngajarin aku kimia. Dia bilang ke Mama jangan nangis terus, nanti matanya bengkak.” Kinan berhenti. “Terus satu malam, aku kebangun jam tiga. Ada suara dari kamar mandi. Aku ngintip. Dia duduk di lantai kamar mandi. Di depannya ada gitar. Dia nyoba pegang kunci G pakai tangan kiri. Nggak bisa. Jarinya nggak gerak. Dia nyoba lagi. Nggak bisa. Nyoba lagi.”
Aku menutup mulut dengan tangan. Isakanku tertahan di telapak tangan.
“Terus dia nangis,” kata Kinan. Suaranya hampir tidak terdengar sekarang. “Itu satu-satunya kali aku lihat Kakak nangis. Diam-diam. Nggak ada suaranya. Sambil meluk gitar. Aku nggak masuk. Aku balik ke kamar, pura-pura nggak lihat. Besoknya dia senyum lagi. Dan gitarnya dimasukin casing, dan casingnya ditaruh di sudut kamar, dan nggak pernah dibuka lagi sampai sekarang.”
Ubin lantai di bawah wajahku sekarang basah. Genangan kecil air mata yang jatuh satu per satu.
“Pacarnya waktu itu ninggalin dia,” lanjut Kinan. “Mbak Anita. Dua minggu setelah kejadian. Katanya dia nggak sanggup. Terus orang-orang mulai bisik-bisik. Kasihan ya. Sayang banget, padahal ganteng. Kasihan ceweknya nanti.” Tangannya mengencang di bahuku. “Dia denger semua itu. Dia selalu denger. Dan dia selalu senyum.”
“Dan kamu tahu apa yang paling bikin aku marah?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Ada orang yang bayarin rumah sakitnya. Semuanya. Operasi, rawat inap, fisioterapi setahun. Diam-diam. Nggak ada nama.” Suara Kinan mengeras. “Pasti keluarga cewek itu. Siapa lagi? Mereka punya duit buat bayar, tapi nggak punya lima menit buat datang. Nggak pernah jenguk. Nggak pernah bilang makasih. Nggak pernah nanya Kakak gimana. Kakak kehilangan tangannya buat anak mereka, dan mereka bayar, kayak bayar tagihan listrik, terus pergi.”
Setiap kata itu menancap. Satu per satu. Seperti pisau di gang gelap itu.
Aku ingin bangun dari ranjang. Aku ingin berbalik dan bilang itu aku, cewek itu aku, dan ibuku yang bayar, dan ibuku berdiri satu jam di koridor, dan ibuku menyesal setiap hari. Aku ingin berlutut di lantai klinik kecil yang bau minyak kayu putih ini dan minta maaf pada gadis yang dulu berusia enam belas tahun dan menyalahkan dirinya sendiri karena martabak.
Aku tidak bangun. Aku tidak berbalik. Aku menggigit bibir sampai terasa asin.
Jangan dulu, kataku pada Mama. Biar aku.
Dan sekarang aku tahu betapa beratnya kalimat itu.
Tangan Kinan berhenti.
“Kamu nangis,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Aku bisa lihat lantainya. Basah.”
“Bahuku sakit,” kataku ke lubang ranjang periksa. Suaraku serak dan tebal.
“Aku belum pegang yang sakit.”
Aku tertawa. Tawa yang basah, jelek, tercekik di tengah isakan, tawa yang sama sekali tidak cocok untuk perempuan dua puluh tujuh tahun yang sedang berbaring tengkurap di klinik orang asing. Kinan tidak ikut tertawa. Tapi dia juga tidak bicara. Dia hanya mengambil tisu dari meja dan menyelipkannya ke tanganku yang tergantung di sisi ranjang.
Aku mengelap wajah. Duduk perlahan. Kinan sudah kembali ke kursinya di balik meja, menatapku dengan wajah yang sulit dibaca.
“Kenapa kamu cerita semua itu?” tanyaku.
“Supaya kamu mundur sekarang,” katanya. “Bukan nanti.”
Aku menatapnya.
“Kakakku orang paling baik di dunia,” kata Kinan. “Dan dia udah cukup banyak ditinggalin. Kalau kamu cuma penasaran, atau kasihan, atau pengin ngerasa jadi orang baik karena deketin cowok cacat, mundur sekarang. Sebelum dia berharap. Karena kalau dia berharap, terus kamu pergi…” Suaranya pecah sedikit. Dia menguasai diri. “Aku nggak tahu dia bisa berdiri lagi atau nggak.”
Aku menatap Kinan. Perempuan dua puluh empat tahun dengan seragam putih dan kuncir tinggi. Yang delapan tahun lalu duduk di lantai koridor rumah sakit. Yang memilih profesi ini karena kakaknya. Yang menyimpan rasa bersalah soal martabak selama delapan tahun tanpa pernah mengatakannya pada siapa pun.
Sampai hari ini. Padaku. Pada orang yang seharusnya paling tidak dia percayai di dunia.
“Aku nggak kasihan,” kataku.
“Semua orang bilang gitu.”
“Aku nggak kasihan sama dia, Kinan.” Suaraku bergetar, tapi aku menatap matanya. “Aku…”
Aku berhenti. Kalimat itu tersangkut. Aku tidak bisa menyelesaikannya. Tidak di sini. Tidak di depan adiknya, sebelum aku mengatakannya pada Rafa sendiri.
Kinan menunggu. Lalu, ketika aku tidak melanjutkan, dia menghela napas panjang.
“Oke,” katanya. “Bahumu. Kamu butuh kompres hangat tiap malam. Peregangan leher lima menit tiap pagi. Dan tidur. Minimal enam jam. Datang lagi dua minggu.”
Dia mencetak catatan dan menyerahkannya padaku. Lalu, ketika aku sudah berdiri dan memakai blazer, dia mengambil ponselnya.
Aku melihatnya membuka aplikasi catatan. Melihatnya mengetik sesuatu di bawah judul yang tidak bisa kubaca dari sini.
“Kinan,” kataku di ambang pintu.
“Hm?”
“Martabak itu bukan salahmu.”
Dia berhenti mengetik. Mengangkat kepala. Menatapku dengan mata yang tiba-tiba basah.
“Kamu nggak tahu itu,” katanya.
Aku tahu, pikirku. Aku tahu lebih dari siapa pun.
“Aku tahu,” kataku. “Kakakmu nggak pernah nyalahin kamu. Dia pasti bakal marah kalau tahu kamu nyalahin dirimu sendiri.”
Kinan menatapku lama. Lalu dia menunduk ke ponselnya lagi, dan mengetik, dan tidak menjawab.
Aku keluar dari ruang tiga. Membayar di resepsionis. Biaya konsultasi normal, bukan dua kali lipat.
Di mobil, di parkiran klinik, aku duduk dengan tangan di setir dan tidak menyalakan mesin selama dua puluh menit.
Aku tidak tahu apa yang Kinan tulis di ponselnya.
Belakangan, jauh belakangan, aku akan tahu. Di bawah judul DIAWASI, di bawah namaku, dia menambahkan satu baris:
Nangis waktu dengar cerita Kakak. Bukan pura-pura. Lantai klinik basah. STATUS: masih belum diputuskan. Tapi hampir.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura reading
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari