Chapter Fifteen
Cemburu yang Nggak Masuk Akal
POV: Vannesa
Namanya Salsa, dan dia baru dua minggu magang di divisi keuangan.
Aku tidak punya masalah dengan Salsa. Salsa rajin, sopan, dan dia selalu datang lima belas menit lebih awal. Dia mahasiswi tingkat akhir yang cantik dengan cara yang segar dan tidak dibuat-buat, rambut sebahu dan senyum yang memperlihatkan lesung pipi. Dia bahkan pernah memuji sepatuku di lift, dan pujiannya terdengar tulus.
Aku tidak punya masalah dengan Salsa.
Masalahku adalah Salsa sekarang sedang duduk di sebelah Rafa, di meja vendor, dan dia sudah duduk di sana selama dua puluh tiga menit.
Aku tahu karena aku menghitungnya.
“Nes,” kata Tasya dari kursi tamu di ruanganku. “Kamu dengerin aku nggak?”
“Dengerin.”
“Aku barusan bilang apa?”
“Soal… anggaran gudang Medan.”
“Aku bilang aku mau cuti tanggal dua belas buat nikahan sepupuku.” Tasya meletakkan tabletnya. “Nes, kamu udah dua puluh menit ngeliatin partisi kaca.”
“Dua puluh tiga,” gumamku.
“Apa?”
“Nggak.”
Tasya menoleh, mengikuti arah pandanganku. Dia melihat Salsa. Dia melihat Rafa. Dia melihat Salsa tertawa pada sesuatu yang Rafa katakan, dan menyentuh lengan kanan Rafa sebentar, ringan, seperti menyentuh lengan teman.
Tasya menoleh kembali padaku perlahan. Senyumnya melebar seperti kucing yang baru menemukan kandang burung terbuka.
“Oh,” katanya. “Oh, Nes.”
“Jangan.”
“Nes. Nes.”
“Salsa minta diajarin Excel,” kataku cepat. “Mas Doni yang nyuruh. Katanya Rafa paling sabar ngajarin.”
“Aku nggak nanya.”
“Aku cuma ngasih konteks.”
“Kamu ngasih konteks sambil ngeremes pulpen sampai tintanya bocor.”
Aku menatap tanganku. Pulpen di genggamanku memang bocor. Tinta biru merembes ke jari-jariku.
Aku meletakkan pulpen itu dengan sangat hati-hati di atas tisu, mengambil tisu lain, dan mulai membersihkan jariku dengan wajah paling tenang yang bisa kubuat.
“Aku nggak apa-apa,” kataku.
“Iya.”
“Aku cuma kurang tidur.”
“Iya.”
“Pulpennya emang jelek.”
“Iya, Nes.” Tasya berdiri, mengambil tabletnya, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu dia berhenti. “Tanggal dua belas aku cuti, ya. Kalau kamu setuju, anggukin kepala.”
Aku mengangguk tanpa menoleh dari partisi kaca.
“Oke,” kata Tasya, dan aku bisa mendengar senyumnya. “Aku anggap itu setuju. Dan aku anggap kamu juga setuju bahwa kamu cemburu.”
Pintu tertutup sebelum aku sempat melempar tisu bernoda tinta ke arahnya.
Aku tidak cemburu.
Cemburu itu untuk orang yang punya hak. Aku tidak punya hak apa-apa atas Rafa Elvano. Dia vendor. Dia rekan kerja. Kami makan siang dua kali, kami terjebak di lift satu kali, dan aku tertidur di bahunya satu kali di tol Cikampek. Itu bukan hubungan. Itu statistik.
Dan aku punya Kevin. Atau, hampir punya. Jumat depan, di rooftop, dengan baju yang bukan blazer kerja.
Jadi aku tidak cemburu.
Aku hanya tidak mengerti kenapa Salsa perlu duduk sedekat itu untuk belajar Excel. Excel bisa dilihat dari jarak satu meter. Layar laptop Rafa cukup besar. Tidak ada rumus Excel di dunia ini yang membutuhkan bahu hampir bersentuhan.
Dan aku tidak mengerti kenapa Rafa tersenyum begitu. Senyum kecil di sudut bibir, yang sabar dan hangat. Aku kira senyum itu—
Aku berhenti di tengah pikiran itu.
Aku kira senyum itu apa? Milikku?
Aku menatap layar laptopku dan membuka email. Aku membaca email yang sama tiga kali tanpa mengerti isinya.
Jam dua belas, Laras dari HR datang ke meja Rafa.
Aku tahu Laras. Aku juga tahu, dari Tasya yang tahu segalanya, bahwa Laras pernah mendekati Rafa beberapa minggu lalu dan kemudian berhenti tiba-tiba. Aku tidak tahu kenapa. Tapi sekarang mereka terlihat akrab. Laras tertawa, Rafa tertawa, dan mereka turun makan siang bersama, dengan Gilang mengikuti di belakang seperti anak ayam.
Aku makan siang di ruanganku. Sendiri. Nasi kotak dari katering kantor, yang rasanya seperti kardus.
Ponselku bergetar.
Kamu nggak turun makan? Kita di warung padang. Gilang nanya kamu ke mana.
Aku menatap pesan itu. Lalu aku mengetik, dengan jari yang masih sedikit biru karena tinta:
Terima kasih, Mas Rafa. Saya ada meeting.
Aku mengirimnya. Lalu aku menatap apa yang baru saja kukirim, dan menyadari betapa dinginnya kalimat itu. Terima kasih. Mas. Saya. Seperti surat resmi dari kantor pajak.
Balasannya datang satu menit kemudian.
“Mas” dan “saya”. Dua pelanggaran sekaligus. Dendanya martabak dua loyang.
Aku menggigit bibir supaya tidak tersenyum. Aku tidak mau tersenyum. Aku sedang marah. Atau kesal. Atau apa pun ini.
Aku serius ada meeting, balasku.
Oke. Aku bungkusin rendang ya.
Nggak usah.
Udah terlanjur. Ibunya udah bungkus.
Aku menaruh ponsel di meja, layar menghadap ke bawah, dan memakan nasi kotak yang rasanya seperti kardus.
Lalu aku membalik ponselku lagi, membuka chat, dan menatap pesannya sekali lagi. Aku bungkusin rendang ya. Lalu aku membaliknya lagi, menghadap ke bawah. Lalu membaliknya lagi.
Aku melakukan itu empat kali sebelum akhirnya menyerah dan memasukkan ponselku ke laci, jauh-jauh, di bawah tumpukan map anggaran tahun lalu.
Jam satu, sebungkus rendang muncul di mejaku. Diletakkan oleh Gilang, yang langsung kabur sebelum aku bisa berterima kasih. Di atas bungkusnya ada catatan tempel kuning. Tulisan tangan yang rapi, sedikit miring ke kanan.
Nggak ada meeting jam 12 di kalender kamu. Makan dulu. — R.
Aku menatap catatan itu lama.
Dia mengecek kalenderku. Tentu saja dia bisa mengecek kalenderku. Kami berbagi kalender proyek. Dia tahu aku bohong. Dan bukannya marah atau tersinggung, dia malah membungkuskan rendang.
Aku memakan rendang itu dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa kujelaskan. Rendangnya enak. Sangat enak. Dan itu membuatku lebih kesal lagi.
Sore harinya, keadaan makin buruk.
Aku sedang berjalan ke ruang rapat melewati meja vendor ketika mendengar Rafa bicara di telepon. Dia duduk membelakangiku, ponsel di telinga kanan, suaranya pelan dan lembut dengan cara yang belum pernah kudengar sebelumnya. Lebih santai. Lebih manja, hampir.
“Iya, Nan. Iya. Sabtu aku cariin.”
Aku memperlambat langkah. Aku tidak berniat menguping. Kakiku saja yang memutuskan untuk berjalan dengan kecepatan satu sentimeter per detik.
“Kamu maunya apa? …Nggak, aku nggak lupa. Mana mungkin aku lupa ulang tahun kamu.” Dia tertawa pelan. “Iya, iya. Yang itu. Ukuran kamu kan aku hafal.”
Aku berhenti berjalan.
Nan.
Ulang tahun kamu.
Ukuran kamu aku hafal.
“Oke. Sabtu. Iya, aku jemput. Jangan cemberut terus. Iya. Iya, sayang juga, udah, tutup, aku lagi kerja.”
Dia menutup telepon. Lalu dia menoleh, mungkin merasakan ada yang berdiri di belakangnya, dan melihatku.
Aku tidak tahu wajahku seperti apa saat itu. Aku hanya tahu dia langsung tersenyum, senyum yang biasa, ramah dan hangat.
“Mau rapat?” tanyanya.
“Iya,” kataku. Suaraku keluar datar. Sangat datar. “Rapat.”
Aku berjalan ke ruang rapat dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
Rapatnya tentang anggaran armada kuartal depan. Aku tidak ingat satu kata pun.
Yang kuingat hanya Nan. Siapa Nan? Nanda? Nanci? Nania? Ukuran apa yang dia hafal? Ukuran baju? Ukuran sepatu? Ukuran cincin?
Dan sayang juga. Dia bilang sayang juga. Dengan nada seperti itu. Nada yang lembut dan sedikit malu dan sangat, sangat akrab.
Dia tidak pernah bilang dia punya pacar. Tapi dia juga tidak pernah bilang dia tidak punya. Aku tidak pernah bertanya. Aku berasumsi. Aku berasumsi karena dia selalu sendirian, selalu lembur, selalu pulang naik ojek, selalu menghabiskan akhir pekan di rumah orang tuanya. Aku berasumsi bahwa pria yang menyembunyikan tangannya di saku dan bilang aku tahu batas pada dunia, entah bagaimana, sedang sendiri.
Aku berasumsi, karena aku ingin itu benar.
Aku menatap slide anggaran armada di layar dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak pernah kurasakan untuk Kevin. Tidak dalam tiga bulan makan siang. Tidak waktu dia membawakan lili. Tidak waktu dia bilang aku kangen kamu, Nes.
Rasanya seperti ada yang meremas jantungku pelan-pelan, sambil tertawa.
“Bu Vannesa?” Om Darmo menatapku dari ujung meja. “Setuju?”
“Setuju,” kataku, tanpa tahu apa yang kusetujui.
Belakangan aku tahu aku baru saja menyetujui pembelian tiga truk baru untuk gudang Makassar. Untungnya, gudang Makassar memang butuh. Om Darmo, yang biasanya menawar setiap rupiah, menatapku dengan heran sepanjang sisa rapat.
Tasya menemukanku di pantry jam lima sore, berdiri di depan lemari pendingin dengan pintu terbuka, menatap isinya tanpa mengambil apa-apa.
“Nes,” katanya. “Listriknya mahal.”
Aku menutup pintu lemari pendingin.
“Sya,” kataku. “Rafa punya pacar.”
Tasya mengerjap. “Hah?”
“Namanya Nan. Mungkin Nanda. Atau Nania. Dia ulang tahun Sabtu ini. Rafa mau beliin kado. Rafa hafal ukurannya. Dan Rafa bilang sayang juga.”
Tasya menatapku lama.
“Kamu dengar dari mana?”
“Dia telepon. Tadi. Aku lewat.”
“Kamu lewat.”
“Aku lewat pelan.”
“Seberapa pelan?”
“Satu sentimeter per detik.”
Tasya menahan tawa. Aku bisa melihatnya menahan tawa, bibirnya bergetar, pipinya menggembung. Lalu dia berhasil menguasai diri, meletakkan kedua tangannya di bahuku, dan menatapku dengan serius.
“Nes,” katanya. “Denger baik-baik. Aku mau kamu jawab pertanyaan ini dengan jujur.”
“Oke.”
“Kenapa kamu peduli?”
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
“Kamu punya Kevin,” lanjut Tasya pelan. “Kevin yang baik. Kevin yang sempurna. Kevin yang mau nembak kamu Jumat depan di rooftop. Kalau Rafa punya pacar, harusnya kamu ikut senang. Kamu bilang dia orang baik. Orang baik pantas punya pacar.”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu berdiri di depan kulkas lima menit kayak orang mau nangis?”
Aku menatap Tasya. Aku menatap lantai pantry. Aku menatap lemari pendingin, tempat aku bersembunyi dua kali, pertama untuk diam dan kedua untuk tidak diam.
Lalu aku mengatakannya. Pelan, hampir tidak terdengar, seperti mengaku dosa.
“Karena aku naksir dia, Sya.”
Hening.
“Aku naksir vendor,” kataku lagi, sedikit lebih keras, sedikit lebih putus asa. “Aku naksir vendor yang tangannya di saku terus, yang bawain rendang padahal aku bohong, yang bacain spesifikasi teknis pas aku panik, yang ngikat tali sepatu sembilan detik dan bangga. Aku naksir dia, dan dia punya pacar namanya Nan, dan aku mau ditembak orang lain Jumat depan.”
Tasya tidak tertawa.
Dia menarikku ke dalam pelukan. Erat. Menepuk-nepuk punggungku seperti menepuk bayi.
“Selamat,” bisiknya ke rambutku. “Kamu naksir vendor.”
“Ini bukan hal yang perlu diselamatin.”
“Ini hal yang aku tunggu sembilan tahun, Nes. Kamu nggak pernah naksir siapa-siapa kayak gini. Mantan-mantanmu itu kamu pacarin karena mereka ngajak, bukan karena kamu mau. Kevin juga. Kamu nggak pernah mau.” Dia melepaskan pelukan dan memegang wajahku. “Sekarang kamu mau.”
“Tapi Nan—”
“Kita nggak tahu Nan itu siapa.”
“Dia bilang sayang juga.”
“Nes, orang juga bilang sayang juga ke mamanya.”
“Mamanya nggak mungkin namanya Nan.”
“Kenapa nggak mungkin?”
Aku terdiam. Itu argumen yang masuk akal. Aku tidak mau menerimanya, tapi itu masuk akal.
“Sabtu,” kata Tasya, dengan nada seorang jenderal merencanakan invasi. “Dia mau beli kado Sabtu. Di mana?”
“Mana aku tahu.”
“Cari tahu.”
“Sya, aku nggak mau jadi stalker.”
“Kamu udah jalan satu sentimeter per detik buat nguping teleponnya. Kamu udah setengah jalan jadi stalker.” Tasya mengambil ponselnya. “Aku tanya Gilang.”
“Jangan!”
Terlambat. Tasya sudah mengetik. Tiga puluh detik kemudian, ponselnya bergetar.
Dia membaca balasannya, lalu tersenyum. Senyum yang sangat, sangat berbahaya.
“Mal Kota Kasablanka,” katanya. “Sabtu jam sebelas. Gilang bilang Rafa minta ditemenin, tapi Gilang nggak bisa karena ada acara keluarga.”
“Terus?”
“Terus, kebetulan, kamu juga mau belanja di Kokas Sabtu ini.”
“Aku nggak mau belanja di Kokas Sabtu ini.”
“Kamu mau,” kata Tasya. “Kamu butuh baju. Baju yang bukan blazer kerja. Buat Jumat depan.” Dia mengedipkan satu mata. “Kan ada yang mau nembak kamu di rooftop. Kamu harus tampil maksimal.”
Aku menatapnya.
Dia menatapku balik dengan wajah malaikat yang sangat tidak meyakinkan.
“Sya,” kataku. “Kamu jahat.”
“Aku sahabatmu,” katanya. “Kadang dua-duanya sama.”
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal reading
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari