Chapter Thirty Three
Jepit Bulan Sabit
POV: Rafa
Aku datang terlalu pagi.
Jam tujuh lewat empat puluh, aku sudah berdiri di depan pagar tinggi rumah keluarga Atmajaya, dua puluh menit lebih awal dari janji. Aku tidak tidur semalaman. Aku berbaring menatap langit-langit retak di kamar kontrakanku, menyentuh bibirku, mengulang-ulang kalimat itu di kepala. Ini janji terakhir. Jam lima subuh, aku menyerah, mandi, dan memesan ojek.
Pak Hendra sendiri yang membuka pagar. Dengan kaus oblong, celana training, dan cangkir kopi di tangan.
“Nak Rafa! Pagi sekali!” Dia tertawa. “Semangat, ya. Papa suka.”
“Maaf, Pak. Saya kepagian.”
“Nggak apa-apa. Papa juga udah bangun dari jam lima. Umur segini, tidur itu kayak sinyal Wi-Fi rumah ini. Putus-putus.” Dia tertawa lagi pada leluconnya sendiri, lalu merangkul bahuku. “Masuk. Nes masih tidur. Katanya semalam nggak bisa tidur, baru merem jam lima. Biarin dulu, ya.”
“Iya, Pak.”
“Mama lagi di dapur. Bikin nasi uduk buat sarapan.” Dia menuntunku melewati ruang tengah, ke sebuah ruangan di sayap kanan rumah. “Ini ruang keluarga. Routernya di sini. Di belakang lemari itu. Teknisi bilang posisinya salah, tapi Papa nggak ngerti posisi yang benar itu gimana.”
Ruang keluarga itu hangat. Sofa besar berwarna krem, karpet tebal, televisi layar lebar di dinding. Di sisi kanan, sebuah lemari kayu jati setinggi langit-langit, penuh buku, piala, dan bingkai-bingkai foto.
“Papa ambilin kopi, ya. Kamu mulai aja.” Pak Hendra menepuk bahuku, lalu keluar.
Aku sendirian.
Router itu memang di posisi yang salah. Terjepit di belakang lemari jati, di rak paling bawah, dikelilingi tumpukan album foto tebal dan kabel-kabel yang kusut seperti mi instan. Sinyalnya pasti terhalang kayu tebal dan puluhan kilogram kertas.
Aku berlutut di depan lemari. Mulai memindahkan barang-barang dari rak bawah dengan satu tangan, pelan, satu per satu. Album foto. Kotak kardus berisi kabel-kabel lama. Sebuah piala kecil bertuliskan Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Inggris SMP. Aku tersenyum membayangkan Vannesa kecil berpidato.
Untuk menjangkau router di sudut paling dalam, aku harus memindahkan beberapa bingkai foto dari rak kedua. Bingkai-bingkai yang berdiri berjajar, menghalangi celah tempat kabel keluar.
Bingkai pertama: foto pernikahan Pak Hendra dan Bu Ratna, hitam putih. Bingkai kedua: Vannesa bayi, gemuk, tertawa tanpa gigi. Bingkai ketiga: Vannesa berseragam SMA, berdiri di depan sekolah dengan senyum lebar.
Bingkai keempat.
Aku mengangkatnya. Dan aku berhenti.
Vannesa. Mungkin sembilan belas tahun. Berdiri di taman, di depan pohon kamboja yang sama dengan yang ada di halaman belakang rumah ini. Memakai gaun biru muda. Rambut panjang tergerai, sebagian dijepit ke samping. Dia tertawa ke arah kamera, kepala sedikit mendongak, dengan cara yang sama persis dengan cara dia tertawa di warung padang.
Dan di rambutnya, di sisi kiri kepalanya, ada jepit rambut.
Perak. Kecil. Berbentuk bulan sabit.
Aku menatap foto itu.
Dunia di sekitarku tiba-tiba menjadi sangat pelan. Sangat sunyi. Aku mendengar detak jam dinding di ruang keluarga. Aku mendengar bunyi wajan di dapur. Aku mendengar jantungku sendiri, berdetak sekali, dua kali, lalu seperti berhenti.
Delapan tahun, jepit itu ada di kantong casing gitarku. Aku sudah memegangnya ratusan kali. Aku hafal bentuknya. Lekuk bulan sabitnya yang tipis di satu ujung dan tebal di ujung lain. Dua lubang kecil di bagian tengah, seperti mata. Ukiran halus berbentuk bintang kecil di ujung yang tebal, yang hanya terlihat kalau dipegang dekat-dekat.
Aku mendekatkan foto itu ke wajahku. Melepas kacamata. Memakainya lagi.
Bintang kecil itu ada. Di ujung yang tebal. Samar di foto, tapi ada.
Tanganku mulai gemetar.
Tidak. Tidak mungkin. Jepit rambut bulan sabit ada ribuan di Jakarta. Bintang kecil itu mungkin hiasan biasa. Aku sedang mengarang. Aku sedang melihat hubungan yang tidak ada, seperti di lift waktu itu, ketika genggaman tangannya terasa seperti pernah.
Terasa seperti pernah.
Aku membalik bingkai foto itu. Di belakangnya, ada tulisan tangan dengan pulpen biru, sudah sedikit pudar. Tulisan tangan perempuan, rapi dan anggun.
Nes, 19 tahun. Hadiah ulang tahun dari Mama — jepit bulan sabit. Maret.
Maret.
Malam itu bulan April. Aku ingat. Gerimis April. Tiga minggu sebelum ujian tengah semester.
Aku duduk di karpet. Kakiku tidak mau menopangku lagi. Aku duduk di karpet tebal ruang keluarga keluarga Atmajaya, memegang foto Vannesa di usia sembilan belas tahun, dan kepingan-kepingan mulai jatuh satu per satu ke tempatnya. Pelan. Tanpa ampun.
Lift. Dia membeku ketika aku bilang udah, udah, jangan takut. Dia bertanya kamu bilang apa? seperti melihat hantu.
Suaranya mirip kamu.
Takut gelap. Takut ruang sempit. Pernah ada kejadian jelek. Dulu.
Kampus kami di kawasan yang sama. Kita mungkin pernah papasan.
Bu Ratna. Cangkir teh yang pecah. Air mata di punggung tanganku. Maafkan Ibu.
Martabak. Aku bercerita soal gang itu, dan dia menangis dan bilang sambelnya pedes.
Rooftop Bima. Dia melihat mulut gang itu dan memucat. Aku pernah ke sini. Rafa, ada yang harus aku bilang.
Tawaran terapi Singapura. Ibu yang atur semuanya. Biayanya, semuanya.
Seseorang yang membayar rumah sakitku. Diam-diam. Tanpa nama.
Dan semalam. Ciuman di mobil yang putus asa, seperti ciuman terakhir. Ini janji terakhir.
Aku menatap gadis di foto itu. Tertawa di bawah pohon kamboja, sebulan sebelum dia berdiri gemetar di gang gelap dengan dua pria dan satu pisau.
Gadis yang jarinya menggenggam jariku.
Itu dia.
Selama ini, itu dia.
“Nak Rafa? Kopinya—”
Suara Bu Ratna di ambang pintu. Lalu hening.
Aku mengangkat kepala. Bu Ratna berdiri di sana, memegang nampan dengan dua cangkir kopi dan sepiring kue. Dia menatapku. Menatap bingkai foto di tanganku. Menatap wajahku.
Dan aku melihat wajahnya runtuh. Persis seperti di lantai sembilan, di hari ulang tahun Vannesa. Senyumnya membeku, lalu hilang. Warnanya surut dari pipi sampai bibir.
Nampan di tangannya bergetar. Cangkir-cangkir berdenting.
Kali ini dia tidak menjatuhkannya. Dia menaruhnya di meja kecil di dekat pintu dengan tangan yang gemetar hebat, pelan, sangat pelan, seperti takut suara sekecil apa pun akan memecahkan sesuatu.
“Bu,” kataku. Suaraku keluar asing. Seperti suara orang lain. “Jepit ini.”
Bu Ratna menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Jepit ini ada di aku,” kataku. “Delapan tahun. Nyangkut di tudung jaketku malam itu. Adikku yang nemuin waktu nyuci darahnya.”
Bu Ratna mulai menangis. Tanpa suara. Air mata mengalir di pipinya, dan dia tidak menyekanya.
“Bu,” kataku. “Itu Vannesa? Yang di gang?”
Dia mengangguk. Sekali. Pelan.
Aku memejamkan mata.
“Ibu yang bayar,” bisikku. “Rumah sakitnya. Ibu yang bayar.”
“Ibu ke sana malam itu.” Suaranya pecah. “Jam dua pagi. Ibu lihat kamu dari balik kaca. Ibu lihat ibumu nangis. Ibu lihat adikmu duduk di lantai. Ibu dengar dokternya.” Dia berlutut di karpet. Di depanku. Kebaya rumahnya kusut. “Ibu mau samperin. Ibu berdiri satu jam. Tapi Ibu takut Nes hancur kalau tahu. Jadi Ibu bayar, terus Ibu pulang. Ibu pengecut, Nak. Ibu pengecut.”
Aku menatap perempuan di depanku. Perempuan yang, delapan tahun lalu, berdiri di koridor rumah sakit dan melihat Mama menangis dan Kinan duduk di lantai, lalu pergi.
Aku ingin marah. Aku mencari kemarahan itu di dalam diriku. Aku tahu Kinan akan marah. Kinan akan berteriak. Kinan punya hak untuk berteriak.
Tapi yang kutemukan di dalam diriku bukan kemarahan. Yang kutemukan adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin dan pelan, yang merambat dari perutku ke dada, seperti air es yang naik perlahan di dalam gelas.
“Bu,” kataku. “Vannesa tahu?”
Bu Ratna diam.
“Bu.”
“Ibu yang cerita,” bisiknya. “Malam ulang tahunnya. Setelah Ibu ketemu kamu di kantor.”
Ulang tahunnya.
Aku menghitung. Aku tidak ingin menghitung, tapi otakku melakukannya sendiri, seperti otak system analyst yang terbiasa memetakan urutan kejadian.
Ulang tahunnya hari Selasa. Minggu berikutnya dia pergi ke klinik Kinan dengan topi dan masker. Minggu berikutnya lagi, Kinan meledak di lobi. Lalu Operasi Bikin Merah. Kopi dengan catatan kecuali aku. Aku bisa pangku kamu. Mau aku cium? Benteng map arsip yang dia runtuhkan. Tangga darurat. Aku nggak mau yang utuh. Aku mau kamu.
Tangannya di saku kiriku.
Yang kiri buat aku.
Semuanya. Semua yang dia lakukan. Semua yang membuatku percaya, membuatku membuka casing gitar, membuatku mengeluarkan tangan dari saku di depan umum.
Semuanya terjadi setelah dia tahu.
“Rafa?”
Suara dari tangga. Serak, baru bangun.
Aku menoleh. Vannesa berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Piyama biru, rambut berantakan, mata bengkak. Dia melihat Mamanya berlutut di karpet dan menangis. Dia melihatku duduk di lantai dengan bingkai foto di tangan.
Dia melihat foto itu.
Dan aku melihatnya mengerti. Seluruh wajahnya berubah dalam satu detik. Dari kantuk, ke bingung, ke ketakutan yang begitu dalam sampai aku merasa ingin memalingkan wajah.
“Rafa,” bisiknya. “Rafa, aku mau bilang. Aku mau bilang hari ini. Aku—”
“Aku tahu,” kataku.
Aku berdiri. Pelan. Dengan bantuan lemari jati. Aku menaruh bingkai foto itu kembali ke rak kedua, di tempatnya semula, di sebelah foto Vannesa berseragam SMA. Aku merapikannya supaya berdiri tegak.
“Kamu tahu sejak ulang tahunmu,” kataku.
Dia menangis sekarang. “Iya. Tapi Rafa, aku suka kamu sebelum itu. Sebelum Mama cerita. Aku nolak Kevin sebelum itu. Aku punya buktinya, aku chat Tasya, jam sebelas malam, Jumat—”
“Vannesa.”
Dia berhenti.
Aku menatapnya. Perempuan yang kucintai. Yang delapan tahun lalu menggenggam jariku di gang gelap, dan dua minggu lalu menggenggam tanganku di saku kiriku dan bilang dia yang akan merasakan untuk kami berdua.
Aku tidak marah padanya. Aku bahkan tidak bisa marah padanya.
Itu yang membuatnya jauh lebih sakit.
“Aku percaya kamu percaya itu,” kataku pelan.
Dia menatapku, bingung.
“Aku percaya kamu suka aku sebelum tahu. Aku percaya kamu percaya itu.” Suaraku mulai bergetar. Aku menahannya. “Tapi kamu tahu, Vannesa. Kamu tahu siapa aku. Kamu tahu apa yang aku kasih malam itu. Dan setelah itu, semua yang kamu lakuin. Kopi. Kursi kiri. Saku. Pangkuan. Rooftop.” Aku menarik napas. “Gimana aku tahu mana yang kamu, dan mana yang utang?”
“Bukan utang—”
“Kamu nangis di klinik Kinan. Kamu nangis waktu aku cerita soal martabak. Kamu nangis waktu dansa. Kamu nangis semalam waktu nyium aku.” Aku menatapnya. “Kamu terus nangis, Vannesa. Setiap kali kamu lihat tanganku.”
Dia menutup mulut dengan tangan. Isakannya pecah.
“Aku nggak mau dicintai sambil ditangisi,” kataku.
Hening.
Bu Ratna terisak di karpet. Dari arah pintu depan, aku mendengar langkah kaki Pak Hendra, cepat, bingung.
Aku menoleh ke lemari jati. Ke router di rak paling bawah, yang belum selesai kupindahkan.
Aku berlutut lagi. Dengan satu tangan, aku mengeluarkan router itu dari sudut. Memindahkannya ke rak paling atas, tempat yang terbuka, tidak terhalang kayu dan kertas. Aku merapikan kabelnya. Menyambungkannya kembali ke stopkontak. Lampu-lampu kecil di router menyala satu per satu. Hijau. Hijau. Hijau.
“Rafa,” bisik Vannesa di belakangku. “Kamu ngapain?”
“Benerin Wi-Fi,” kataku. “Aku udah janji sama Papamu.”
Aku berdiri. Merapikan kemeja. Menoleh ke Pak Hendra yang sekarang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, menatap istrinya yang berlutut dan anaknya yang menangis.
“Wi-Fi-nya udah bisa, Pak,” kataku sopan. “Routernya sekarang di rak atas. Jangan ditaruh di bawah lagi.”
“Nak Rafa, ini—ada apa—”
“Maaf, Pak. Saya permisi dulu.”
Aku berjalan ke pintu depan.
Aku mendengar langkah kaki di belakangku. Cepat. Telanjang di lantai marmer. Aku tidak berhenti.
Di teras, dia menangkap lengan kananku.
“Rafa. Rafa, tolong. Dengerin aku. Tolong.”
Aku berhenti. Aku tidak menoleh.
“Aku salah,” katanya, terisak. “Aku harusnya bilang dari awal. Aku takut. Aku takut kamu mikir persis kayak yang kamu pikir sekarang. Makanya aku nunggu. Aku mau kamu percaya dulu. Aku mau kamu tahu aku suka kamu karena kamu—”
“Aku tahu kamu takut,” kataku pelan.
“Terus kenapa—”
Aku menoleh.
Dia berdiri di teras, di bawah matahari pagi, dengan piyama biru dan kaki telanjang dan wajah basah. Seperti malam itu, di gang depan rumahku, tanpa sepatu, ketika dia mencium pipi kananku.
“Yang kiri buat aku,” kataku. Pelan. “Kamu bilang itu di Tebet. Waktu itu kamu udah tahu.”
Dia membeku.
“Itu janji, Vannesa?” tanyaku. “Atau cicilan?”
Aku melihat kalimat itu menghantamnya. Aku melihatnya mundur selangkah, seperti ditampar. Wajahnya putih.
Aku tidak mengatakannya untuk menyakitinya. Aku bersumpah aku tidak mengatakannya untuk menyakitinya. Aku mengatakannya karena aku benar-benar tidak tahu jawabannya. Dan aku tidak akan pernah bisa tahu.
Aku melepaskan lengan kananku dari genggamannya. Pelan.
“Kamu nggak perlu bayar apa-apa,” kataku. “Aku nolong kamu bukan buat ditagih. Aku udah bilang itu waktu makan martabak. Aku serius.”
“Rafa—”
“Kamu nggak berutang apa-apa sama aku. Nggak pernah. Jadi kamu bebas.” Aku tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tersenyum, tapi aku tersenyum. Senyum kecil yang sama, di sudut bibir, yang sudah kupakai delapan tahun untuk semua bisikan dan tatapan dan pintu yang tidak bisa kubuka. “Kamu nggak perlu ngerasain buat dua-duanya lagi.”
Aku berbalik. Berjalan ke pagar.
Dia tidak mengejar lagi. Aku mendengar dia jatuh terduduk di anak tangga teras. Aku mendengar isakannya, keras, pecah, seperti isakan Kinan di lantai rumah sakit delapan tahun lalu.
Aku tidak menoleh.
Aku membuka pagar dengan satu tangan. Keluar. Menutupnya kembali.
Di jalan yang sepi, di bawah pohon-pohon besar, aku mengeluarkan ponsel dan memesan ojek. Jari-jariku gemetar. Aku salah ketik alamat tiga kali.
Ojekku datang lima menit kemudian. Aku memakai helm dengan satu tangan. Mengancingkan talinya dengan canggung. Naik ke boncengan.
Dan tanpa berpikir, tanpa memutuskan, seperti kebiasaan yang kembali setelah lama pergi, tangan kiriku kumasukkan ke saku.
Kali ini tidak ada yang menggenggamnya di dalam.
Motor bergerak. Rumah keluarga Atmajaya mengecil di belakangku. Pohon kamboja. Pagar tinggi. Seorang perempuan berpiyama biru yang duduk di anak tangga teras dengan wajah di lutut.
Angin pagi menampar wajahku di balik helm.
Pipiku basah. Aku tidak tahu sejak kapan.
Di saku kiriku, tanganku tidak merasakan apa-apa.
Tapi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku berharap bisa merasakan sesuatu. Apa saja. Bahkan sakit.
Karena tidak merasakan apa-apa, ternyata, jauh lebih sakit.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit reading
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari