Chapter Thirty One
Pacar Vendor
POV: Vannesa
Senin pagi, ada stiker di pintu lemari pendingin pantry.
Stiker besar, dicetak di kertas foto, ditempel dengan selotip bening di atas kertas taruhan yang sudah dicoret-coret. Gambarnya adalah foto Rafa dan aku, diambil diam-diam dari balik partisi kaca entah kapan, kami berdua duduk berdampingan di meja vendor, dia menatap laptop, aku menatap dia. Di atas foto itu, dengan huruf besar berwarna emas:
RESMI. Selamat untuk Bu Vannesa & Bang Rafa. Pemenang taruhan: SABTU MINGGU LALU. Satu-satunya yang menebak benar: ???
Di bawahnya, dengan tulisan tangan Gilang:
Siapa yang pasang lima ratus ribu buat Sabtu??? Tolong ngaku. Uangnya numpuk di laci gue. Gue takut.
Aku berdiri di depan lemari pendingin itu, memegang botol minum kosong, dan tertawa sampai Bu Yanti keluar dari balik rak piring untuk menepuk punggungku.
“Kamu,” kata Rafa ketika aku menaruh kopi di mejanya. “Kamu yang pasang lima ratus ribu.”
“Mungkin.”
“Kamu pasang Sabtu. Kamu pasang sebelum aku ngajak kamu.”
“Aku nggak tahu kamu mau ngajak aku.”
“Kamu pasang hari Kamis. Gilang bilang ada amplop tanpa nama di lacinya hari Kamis sore.” Dia menatapku dengan mata menyipit di balik kacamata. “Aku ngajak kamu hari Senin sore.”
“Kebetulan.”
“Vannesa.”
“Oke.” Aku duduk di kursi sebelah kirinya. “Aku tahu kamu bakal ngajak. Kamu udah dua minggu kelihatan kayak orang yang lagi latihan pidato di depan cermin. Aku cuma nebak harinya.”
Dia menatapku. Lalu dia tertawa, pelan, sambil menggeleng.
“Kamu dapat berapa?”
“Dua juta tiga ratus.” Aku tersenyum lebar. “Aku mau traktir satu lantai makan siang. Pakai uang taruhan kita sendiri.”
“Itu uang dari teman-teman kantor yang kalah.”
“Itu uang dari teman-teman kantor yang mendoakan kita.” Aku menyenggol lengannya. Lengan kiri. “Ayo. Kamu yang pilih tempatnya.”
Dia memilih warung padang di seberang gedung. Tentu saja dia memilih warung padang.
Tiga puluh dua orang makan siang di sana hari itu. Pemilik warung sampai harus menyambung empat meja panjang dan meminjam kursi plastik dari warung sebelah. Pak Tarno datang meski bukan karyawan lantai sembilan. Mbak Rini menangis sedikit waktu mengangkat gelas es teh untuk bersulang. Mas Doni membawa bayinya yang baru berumur dua bulan, yang tidur sepanjang acara di gendongan istrinya.
Dan Gilang berdiri di ujung meja, mengetuk gelas dengan sendok, dan memberi pidato.
“Saudara-saudara,” katanya dengan wajah sangat serius. “Kita berkumpul di sini hari ini untuk merayakan kemenangan cinta atas… atas benteng dari map arsip.”
Semua orang tertawa. Rafa menutup wajahnya dengan tangan kanan.
“Saya sudah kenal Bang Rafa tiga tahun,” lanjut Gilang. “Tiga tahun saya lihat dia kerja sampai malam, bantuin orang, senyum ke semua orang. Tiga tahun saya nggak pernah lihat dia senyum kayak dua minggu terakhir ini.” Suaranya bergetar sedikit. “Jadi Bu Vannesa, terima kasih. Dan Bang Rafa…”
Dia berhenti. Menatap Rafa. Matanya merah.
“Bang,” katanya. “Akhirnya, Bang.”
Lalu dia duduk dengan cepat dan pura-pura sibuk dengan rendangnya, dan Tasya, yang duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya di bawah meja dengan terang-terangan, dan semua orang pura-pura tidak melihat, dengan sangat buruk.
Di sebelahku, Rafa menurunkan tangan dari wajahnya. Matanya basah. Dia menatap meja panjang yang penuh orang, orang-orang yang dulu berbisik di belakangnya, yang dulu tidak tahu namanya, yang sekarang mengangkat gelas es teh untuknya.
Aku mengambil tangan kirinya di bawah meja. Menggenggamnya.
Dia tidak bisa merasakannya. Tapi dia menoleh padaku, dan tersenyum. Dan aku tahu dia tahu.
Pacaran dengan Rafa Elvano ternyata seperti ini:
Setiap pagi, ada kopi di mejaku. Kadang dengan gula, kadang tanpa gula, tergantung apa yang kukeluhkan kemarin. Selalu ada catatan tempel kuning. Kadang hanya satu kata. Semangat. Kadang satu kalimat. Jangan lupa makan, rapat jam dua panjang. Kadang sesuatu yang membuatku harus menutup pintu ruanganku supaya tidak ada yang melihat wajahku. Kamu tadi pagi pakai lipstik yang beda. Aku suka.
Dia memperhatikan semuanya. Aku sudah tahu itu sejak dulu, sejak pisang goreng di rapat pertama, sejak dia tahu aku capek sebelum aku sendiri tahu. Tapi sekarang dia tidak lagi menyembunyikannya.
Setiap siang, kami makan bersama. Kadang di warung padang, kadang di warung soto, kadang di mejanya dengan nasi bungkus dari Bu Yanti. Aku belajar cara dia makan. Cara dia membuka bungkus nasi dengan satu tangan, melipat kertasnya menjadi wadah, menjepit sendok di sela jari. Aku berhenti ingin membantu, pelan-pelan, hari demi hari. Aku mulai melihatnya sebagai sesuatu yang indah. Seperti menonton seseorang memainkan alat musik yang hanya dia yang bisa memainkannya.
Setiap sore, dia mengantarku ke basement. Tidak peduli lampunya mati atau tidak. Dia berdiri di samping mobilku sampai aku menyalakan mesin, lalu melambai, lalu berjalan ke lobi untuk memesan ojek.
“Kamu bisa nebeng aku,” kataku setiap hari.
“Rumahku nggak searah.”
“Aku nggak peduli.”
“Aku peduli. Kamu nyetir satu jam ekstra tiap hari. Kamu capek.” Dia tersenyum. “Aku mau kamu sampai rumah cepat. Terus telepon aku.”
Suatu sore, di basement, tali sepatu ketsku lepas.
Aku membungkuk untuk mengikatnya. Tapi sebelum tanganku sampai, dia sudah berlutut di depanku. Satu lutut di lantai beton basement yang dingin. Tangan kiri tergeletak di pahanya. Tangan kanan meraih tali sepatuku.
“Rafa, nggak usah—”
“Diam,” katanya. “Aku mau pamer.”
Lalu dia mengikatnya. Dengan satu tangan. Satu lingkaran, satu tarikan, ujung sepatunya ditekan ke lantai di saat yang tepat, gerakan cepat dan rumit yang pernah kulihat di lobi dan tidak pernah bisa kuikuti. Simpulnya rapi. Kencang. Lebih rapi dari simpul yang biasa kubuat dengan dua tangan.
Dia melirik jam tangannya. Lalu mendongak padaku dengan senyum yang sangat bangga dan sangat konyol.
“Delapan,” katanya. “Rekor baru. Di sepatu orang lain.”
Aku menatapnya. Pria dua puluh delapan tahun, berlutut di lantai basement, bangga pada rekor delapan detik mengikat tali sepatu pacarnya. Pria yang dulu, kata Kinan, mengikat tali sepatunya sendiri setengah jam malam-malam karena tangannya gemetar.
Aku tidak bisa bicara. Tenggorokanku terasa penuh. Jadi aku menarik kerah kemejanya, menariknya berdiri, dan mencium pipinya. Yang kanan.
Seorang satpam basement yang kebetulan lewat berhenti, menatap kami, lalu berbalik dan berjalan ke arah lain dengan sangat cepat sambil bersiul.
Jadi setiap malam, aku meneleponnya. Dari kamarku, dengan lampu mati, dengan senter perak di genggaman. Kami bicara tentang apa saja. Tentang Mbul yang tidur di sepatunya lagi. Tentang Papa yang menemukan lelucon baru. Tentang Kinan yang sekarang mengirimiku pesan setiap pagi dengan satu kata: awasi.
Kadang kami tidak bicara. Hanya mendengarkan napas satu sama lain di telepon. Dan aku tertidur, dan dia tidak menutup teleponnya sampai dia mendengar napasku melambat.
Aku tahu karena suatu pagi aku bangun, dan panggilan itu masih tersambung. Tujuh jam. Dan ketika aku berbisik halo?, suaranya yang serak karena baru bangun menjawab, pagi.
Dan setiap hari, aku tidak mengatakannya.
Besok, kataku di rooftop. Besok aja.
Minggu pagi, aku bangun dengan niat akan meneleponnya dan menceritakan semuanya. Lalu dia mengirim foto: Mbul tidur di atas laptopnya, dengan caption aku nggak bisa kerja, tolong. Dan aku tertawa, dan aku membalas, dan aku bilang pada diriku sendiri: nanti siang.
Siang itu dia bilang dia sedang di rumah orang tuanya. Kinan sedang membantu mengganti senar gitar lamanya. Dia mengirim foto gitarnya dengan senar-senar baru yang berkilau. Nggak bisa dimainin. Tapi Kinan bilang siapa tahu.
Aku tidak bisa merusak itu. Tidak hari itu.
Senin, di kantor, terlalu banyak orang. Selasa, dia lembur sampai jam sepuluh untuk persiapan uji coba gudang Surabaya. Rabu, aku duduk di depannya di warung soto, sudah membuka mulut, sudah mengatakan Rafa, soal yang waktu itu, dan dia menatapku dengan wajah yang begitu penuh harap, begitu terbuka, dengan tangan kiri di atas meja, tidak disembunyikan, dan aku berkata soal Mbul, dia masih tidur di sepatumu?
Dia tertawa. Aku tertawa. Dan kalimat itu kembali tertelan.
“Nes,” kata Tasya hari Kamis, di pantry. Dia tidak tersenyum. “Udah seminggu.”
“Aku tahu.”
“Kamu bilang besok.”
“Aku tahu, Sya.”
“Setiap hari yang lewat—”
“Bunganya makin besar. Aku tahu.” Aku menatap cangkir kopiku. “Aku udah nyoba. Beneran. Rabu kemarin aku udah buka mulut. Terus aku lihat mukanya.”
“Mukanya kenapa?”
“Bahagia, Sya.” Suaraku kecil. “Dia bahagia. Aku belum pernah lihat dia sebahagia itu. Tangannya nggak di saku lagi. Dia pesen es teh manis padahal dia nggak suka manis, cuma karena aku bilang es teh manis bikin orang senyum. Dia senyum terus.” Aku menggigit bibir. “Gimana caranya aku ngerusak itu?”
Tasya menatapku lama.
“Nes,” katanya pelan. “Kamu tahu apa yang Mamamu bilang ke dirinya sendiri delapan tahun lalu?”
Aku tidak menjawab.
“Nanti. Kalau Nes udah kuat.” Tasya meletakkan tangannya di bahuku. “Dan tiap tahun, makin susah. Kamu udah cerita itu ke aku sendiri.”
Aku menutup mata.
“Kamu bukan ngelindungin dia,” kata Tasya. “Kamu ngelindungin dirimu sendiri. Dari lihat mukanya pas dia tahu.”
Aku tidak bisa membantah. Karena itu benar.
Malam itu, Papa mengetuk pintu kamarku.
“Nes.” Dia masuk dengan wajah berseri-seri, memegang ponsel. “Papa mau undang Rafa makan malam. Sabtu ini. Di rumah.”
Aku duduk tegak di kasur. “Pa—”
“Papa belum sempat ngobrol beneran sama dia. Di kantor cuma sebentar. Di gala cuma lelucon.” Papa duduk di tepi kasur. “Papa mau kenal sama pacar anak Papa. Itu wajar, kan?”
“Wajar, Pa. Tapi—”
“Mama juga setuju. Mama malah yang paling semangat. Mama udah nyusun menu. Rendang, katanya. Kata Tasya, Rafa suka rendang.”
Aku menatap Papa. Lalu menatap pintu. Di ambang pintu, Mama berdiri. Dengan tangan tergenggam di depan dada. Dengan mata yang menatapku penuh arti.
Sudah bilang? tanya mata Mama.
Aku menggeleng pelan. Hampir tidak terlihat.
Wajah Mama berubah. Sesuatu yang sedih dan takut dan sangat, sangat mengerti.
“Sabtu,” kata Papa, tidak menyadari apa-apa. “Jam tujuh. Papa udah siapin lelucon baru. Tentang vendor dan sistem operasi.”
“Pa, jangan lelucon sistem operasi.”
“Kenapa?”
“Karena pasti nggak lucu.”
Papa tertawa, mencium dahiku, dan keluar sambil bersiul. Mama tetap di ambang pintu.
“Nes,” katanya pelan setelah Papa pergi. “Sebelum Sabtu.”
“Iya, Ma.”
“Mama nggak bisa duduk di meja makan sama dia dan pura-pura.” Suara Mama bergetar. “Mama nggak bisa, Nes. Mama udah coba di gala, dan Mama nangis di toilet sejam.”
“Aku tahu, Ma.”
“Kalau kamu nggak bilang sebelum Sabtu…” Mama menatapku. “Mama yang bilang.”
Aku menatap Mama. Mama yang anggun, yang sudah membawa rahasia ini delapan tahun, yang sekarang berdiri di ambang pintu kamarku dengan wajah seorang perempuan yang tidak sanggup membawanya satu hari lagi.
“Jangan, Ma,” bisikku. “Aku yang bilang. Aku janji. Sebelum Sabtu.”
Mama mengangguk. Pelan. Lalu pergi.
Aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan. Membuka chat dengan Rafa. Pesan terakhirnya masih di layar, dikirim jam sembilan tadi.
Papamu barusan telepon. Ngundang aku makan malam Sabtu. Aku gugup banget. Tolong kasih tahu aku Papamu suka apa. Biar aku nggak malu-maluin.
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu aku mengetik:
Papa suka orang yang ketawa sama leluconnya. Kamu cukup ketawa.
Dan kemudian, dengan jari yang gemetar:
Rafa. Jumat malam, sebelum Sabtu. Aku mau ngomong sesuatu. Yang penting. Yang aku janjiin di rooftop. Boleh?
Balasannya datang dalam satu menit.
Boleh. Jumat malam. Aku dengerin semuanya.
Lalu satu lagi.
Apa pun itu, aku nggak akan ke mana-mana. Yang kiri buat kamu, ingat?
Aku menatap kalimat itu. Air mata mulai jatuh ke layar ponsel.
Aku tidak tahu, malam itu, bahwa Jumat tidak akan datang tepat waktu.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor reading
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari