Chapter Thirteen
Bisikan di Pantry
POV: Vannesa
Kabar itu sampai ke lantai dua belas sebelum aku sampai di lantai sembilan.
Aku tahu karena ketika aku masuk lift pagi itu, lift nomor satu, bukan nomor tiga, tidak akan pernah lagi nomor tiga, dua orang dari divisi pemasaran berhenti bicara begitu melihatku. Lalu mereka saling melirik. Lalu mereka menatap angka di atas pintu dengan konsentrasi orang yang sedang menonton final Piala Dunia.
Di lantai sembilan, Mbak Dewi di resepsionis menyapaku dengan senyum yang terlalu lebar. “Pagi, Bu Vannesa! Sehat, Bu? Nggak trauma?”
“Sehat, Mbak.”
“Syukurlah, Bu. Kemarin katanya Ibu sampai…” Dia berhenti, melirik ke kiri dan ke kanan. “…dipegangin.”
Aku berhenti berjalan.
“Dipegangin?”
“Tangannya, Bu.” Mbak Dewi berbisik, penuh semangat. “Kata anak-anak lantai delapan, pas pintu liftnya kebuka, Ibu sama Mas Rafa lagi duduk berdua. Pegangan tangan. Kayak di drama.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan mata berbinar, menunggu konfirmasi, seperti anak kecil menunggu cerita pengantar tidur.
“Aku panik di lift, Mbak,” kataku. “Mas Rafa nenangin aku.”
“Oh.” Mbak Dewi mengangguk-angguk, jelas kecewa. “Oh, gitu. Iya. Nenangin.”
“Iya.”
“Pakai tangan.”
“Mbak Dewi.”
“Iya, Bu. Maaf, Bu. Selamat pagi, Bu.”
Aku berjalan ke ruanganku dengan kepala tegak dan pipi yang, aku sangat yakin, merah seperti sambal padang.
Tasya sudah menunggu di dalam ruanganku, duduk di kursi tamu dengan kaki bersilang dan dua gelas kopi.
“Jadi,” katanya.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Kamu mau ngomong ‘jadi’ dengan nada kayak gitu, dan aku tahu ujungnya ke mana.”
Tasya menyodorkan satu gelas kopi. “Nes, aku sahabatmu. Aku di gudang Cikarang kemarin, sibuk ngitungin palet, sementara sahabatku satu-satunya terjebak di lift sama cowok yang dia taksir dan keluar sambil pegangan tangan. Aku berhak dapat laporan lengkap.”
“Aku nggak naksir dia.”
“Oke.”
“Aku cuma panik.”
“Oke.”
“Dan dia cuma baik.”
“Oke.” Tasya menyesap kopinya. “Terus kenapa kamu ganti nama kontaknya jadi ‘Rafa’ doang?”
Aku membeku. “Kamu tahu dari mana?”
“Kamu naruh HP di meja pas rapat kemarin pagi, terus dia chat, terus layarmu nyala.” Tasya tersenyum sangat puas. “Minggu lalu masih ‘Rafa (Vendor)’. Aku perhatiin, Nes. Aku selalu perhatiin.”
Aku menjatuhkan diri ke kursi dan menutup wajah dengan tangan.
“Aku nggak tahu, Sya,” kataku dari balik telapak tangan. “Aku beneran nggak tahu.”
“Nggak tahu apa?”
“Kemarin di lift, dia bilang sesuatu. Kalimat yang sama persis sama yang orang itu bilang, dulu. Delapan tahun lalu.”
Tasya berhenti tersenyum. Dia satu-satunya orang di luar keluargaku yang tahu tentang malam itu. Dia yang menemaniku waktu aku tidak bisa tidur dengan lampu mati selama berbulan-bulan sesudahnya.
“Kalimat apa?” tanyanya pelan.
“‘Udah, udah. Jangan takut.’”
Tasya diam lama.
“Nes,” katanya akhirnya, hati-hati. “Itu kalimat yang umum banget. Mamaku juga bilang gitu kalau aku kesandung.”
“Aku tahu.”
“Semua orang tua di Indonesia bilang gitu.”
“Aku tahu, Sya.” Aku menurunkan tangan dari wajah. “Dia bilang dia belajar dari mamanya. Buat adiknya yang mimpi buruk. Masuk akal. Cuma kebetulan.”
“Tapi?”
“Tapi pas dia bilang itu,” kataku pelan, “rasanya kayak aku balik ke sana. Ke malam itu. Tapi bukan bagian yang menakutkan. Bagian yang… bagian setelah orang-orang jahat itu pergi. Bagian yang hangat.”
Tasya tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan tangan, meremas tanganku sebentar, lalu melepaskannya.
“Mau aku bilang sesuatu yang nggak mau kamu dengar?” tanyanya.
“Nggak.”
“Aku bilang aja.” Dia berdiri, mengambil gelas kopinya. “Nggak penting dia orang yang dulu atau bukan. Yang penting, kemarin di lift, kamu takut, dan yang pengin kamu pegang tangannya itu dia. Bukan Kevin. Bukan aku. Dia.”
Dia keluar sebelum aku bisa membantah.
Aku menatap kopi di tanganku sampai dingin.
Makan siang hari itu, aku menang.
Aku sudah merencanakannya sejak semalam. Jam sepuluh pagi, aku menelepon warung soto di seberang gedung dan membayar dua porsi soto betawi, dua es teh, dan dua kerupuk di muka lewat transfer. Aku bilang ke pemilik warung: nanti ada cowok berkacamata yang mau bayar pakai QR, jangan diterima. Bilang udah lunas.
Ketika kami selesai makan dan Rafa mengeluarkan ponselnya dengan kecepatan jagoan koboi mencabut pistol, pemilik warung mengangkat tangan.
“Sudah lunas, Mas.”
Rafa mengerjap. “Lunas?”
“Tadi pagi sudah dibayar, Mas. Sama Ibu ini.”
Rafa menoleh padaku perlahan. Aku menyesap es tehku dengan wajah sangat polos.
“Kamu,” katanya.
“Aku bilang kan, minggu ini aku yang bayar.”
“Kamu bayar di muka. Jam berapa?”
“Jam sepuluh.”
“Itu curang.”
“Itu skill,” kataku, meniru nada suaranya minggu lalu.
Dia menatapku. Lalu dia tertawa, tawa rendah yang pelan dan tiba-tiba, sampai dia harus melepas kacamata dan mengusap matanya. Dan aku duduk di sana, di warung soto yang panas dan berisik, merasa seperti baru memenangkan medali emas Olimpiade.
Kami tidak membicarakan lift. Dia tidak bertanya soal kenapa aku panik. Aku tidak bertanya soal kalimat itu. Tapi ketika kami berjalan kembali ke kantor, dia berjalan di sebelah kiriku, dan aku sengaja memperlambat langkah supaya kami sampai lebih lama.
Di lobi, dia pamit. Dia dan Gilang harus berangkat ke gudang Cikarang siang itu untuk persiapan uji coba, dan baru kembali besok.
“Hati-hati,” kataku.
“Kamu juga.” Dia berhenti. “Kalau basement gelap—”
“Telepon kamu. Aku tahu.”
Dia tersenyum dan pergi. Aku berdiri di lobi, menatap pintu putar yang masih berputar pelan setelah dia lewat.
Jam tiga sore, aku ke pantry untuk mengisi botol minum.
Aku tidak sengaja bersembunyi. Aku hanya berdiri di tempat yang sama seperti biasa, di dekat dispenser, di balik lemari pendingin yang tinggi. Tempat yang sama persis dengan beberapa minggu lalu, ketika aku mendengar kalimat itu untuk pertama kalinya dan tidak melakukan apa-apa.
Suara-suara di meja pantry mulai terdengar.
“…beneran pegangan tangan?”
“Beneran. Adikku di lantai delapan lihat sendiri.”
Mbak Rini. Mbak Sari. Dan satu suara lagi yang tidak terlalu kukenal, mungkin dari divisi legal.
“Aduh, Bu Vannesa. Masa sih?”
“Mungkin cuma kasihan. Bu Vannesa kan orangnya baik ke semua orang.”
“Iya, pasti kasihan. Nggak mungkin serius. Anak Pak Hendra. Cantik kayak gitu. Masa sama yang…” Suara Mbak Rini merendah, tapi tidak cukup rendah. “…yang tangannya begitu.”
“Kasihan ceweknya kalau beneran, ya.”
“Kasihan banget. Mau jalan-jalan, harus dia yang nyetir. Mau belanja, harus dia yang bawa. Mau nikah, siapa yang gendong pas masuk kamar? Ceweknya yang gendong cowoknya?”
Tawa pecah. Tawa ringan. Tawa yang sama seperti waktu itu.
Aku berdiri di balik lemari pendingin, memegang botol yang sudah penuh. Kali ini aku tidak membiarkannya meluap.
Beberapa minggu lalu, aku diam di tempat ini. Aku mendengar kalimat yang sama, aku melihat tangan Rafa tenggelam lebih dalam ke saku, dan aku diam. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa itu bukan urusanku. Bahwa aku manajer, dan manajer tidak ikut campur dalam gosip pantry. Bahwa Rafa sudah dewasa dan bisa menangani dirinya sendiri.
Semua itu benar. Dan semua itu alasan.
Aku menutup tutup botolku. Pelan. Rapat. Lalu aku melangkah keluar dari balik lemari pendingin.
Tawa di meja pantry berhenti seperti dipotong gunting.
Mbak Rini menatapku dengan wajah seputih porselen. Mbak Sari menjatuhkan sendok kecil ke cangkirnya. Perempuan dari divisi legal tiba-tiba menemukan sesuatu yang sangat menarik di lantai.
“Bu—Bu Vannesa,” kata Mbak Rini. “Kami nggak—kami cuma—”
“Mbak Rini,” kataku. Suaraku tenang. Aku sendiri terkejut betapa tenangnya. “Printer di resepsionis yang dulu rusak itu, siapa yang benerin?”
Mbak Rini mengerjap. “Mas… Mas Rafa, Bu.”
“Laporan anggaran divisi keuangan bulan lalu, yang formula Excel-nya error dan hampir telat masuk ke Om Darmo, Mbak Sari minta tolong siapa?”
Mbak Sari menunduk. “Mas Rafa, Bu.”
“Anak Pak Tarno yang daftar sekolah online, siapa yang nemenin sampai jam sebelas malam? Cucu Bu Yanti yang ulang tahun di Wonosobo, siapa yang benerin HP-nya biar bisa video call? Dimas yang dimarahin Pak Hartono sampai mau nangis, siapa yang nenangin?”
Hening. Pantry itu begitu sunyi sampai aku bisa mendengar dengung lemari pendingin.
“Dan kemarin,” kataku, lebih pelan, “waktu aku terjebak di lift, dan aku panik sampai nggak bisa napas, siapa yang berlutut di lantai lift pakai satu tangan buat nenangin aku?”
Tidak ada yang menjawab.
“Iya. Aku pegang tangannya,” kataku. “Karena aku takut, dan dia ada. Dan aku nggak nyesel.”
Mbak Rini membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Kalian bilang kasihan ceweknya,” lanjutku. “Aku mau bilang sesuatu, dan aku mau kalian dengar baik-baik, karena aku cuma mau ngomong ini sekali.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Kalau ada yang harus dikasihani di gedung ini, bukan ceweknya. Tapi orang-orang yang lihat laki-laki sebaik itu setiap hari, dan yang mereka lihat cuma tangannya.”
Aku berbalik. Membuka pintu pantry.
Di ambang pintu, aku hampir menabrak Bu Yanti, yang ternyata berdiri di luar sejak entah kapan, memegang nampan berisi gelas-gelas kosong. Matanya merah. Bibirnya gemetar.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk padaku, sekali, dalam, seperti orang yang memberi hormat.
Aku berjalan kembali ke ruanganku tanpa menoleh.
Begitu pintu ruanganku tertutup, lututku lemas.
Aku duduk di lantai, bersandar di pintu, persis seperti kemarin di lift. Jantungku berdebar begitu keras sampai aku bisa mendengarnya di telinga. Tanganku gemetar.
Aku belum pernah melakukan itu. Aku belum pernah berdiri di depan orang dan membela seseorang dengan suara sekeras itu. Aku Vannesa yang ramah. Vannesa yang hafal nama semua orang. Vannesa yang tidak pernah membuat siapa pun merasa tidak nyaman.
Dan aku baru saja membuat tiga orang karyawan merasa sangat, sangat tidak nyaman.
Pintu diketuk. Aku tidak menjawab. Pintu terbuka sedikit, dan kepala Tasya menyembul masuk. Lalu dia melihatku duduk di lantai, dan dia masuk, menutup pintu, dan duduk di sebelahku.
“Bu Yanti cerita,” katanya.
“Semuanya?”
“Semuanya. Bu Yanti nangis di pantry sambil cerita ke Pak Tarno. Pak Tarno nangis juga. Sekarang Pak Tarno lagi cerita ke satpam lantai bawah.” Tasya menghela napas. “Nes, dalam sejam seluruh gedung bakal tahu.”
“Aku tahu.”
“Termasuk Kevin.”
Aku memejamkan mata.
“Termasuk Kevin,” ulangku.
Tasya diam sebentar. Lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “aku udah kenal kamu sembilan tahun. Kamu nggak pernah marah kayak gitu. Nggak waktu ada senior yang ngejek kamu anak orang kaya. Nggak waktu mantanmu selingkuh. Nggak waktu Om Darmo bilang proyekmu buang-buang duit di depan semua direksi.”
“Terus?”
“Terus kamu marah buat dia.”
Aku tidak menjawab.
“Nes,” kata Tasya, sangat lembut. “Kamu udah tahu jawabannya. Kamu cuma belum mau ngaku.”
Rafa tidak tahu.
Dia di gudang Cikarang sampai besok, dan aku sudah minta Tasya, Bu Yanti, Pak Tarno, dan seluruh semesta untuk tidak memberitahunya. Aku tidak mau dia tahu. Aku tidak mau dia merasa berutang. Aku tidak mau dia menatapku dengan rasa terima kasih yang canggung, atau lebih buruk lagi, dengan wajah yang bilang nggak usah, aku udah biasa.
Aku melakukannya bukan untuk dia tahu. Aku melakukannya karena kalau aku diam lagi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.
Malam itu, ponselku bergetar.
Gudang Cikarang aman. Gilang tidur di mobil sambil meluk kardus palet. Kamu udah sampai rumah?
Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku mengetik:
Udah. Basement aman, nggak perlu spesifikasi teknis.
Syukurlah. Hari ini gimana?
Aku menatap pertanyaan itu. Hari ini gimana?
Aku bisa menceritakan semuanya. Aku bisa bilang aku berdiri di pantry dan membelanya dan lututku lemas sesudahnya. Aku bisa bilang aku menang soal bayar makan siang. Aku bisa bilang Tasya bilang aku sudah tahu jawabannya.
Biasa aja, balasku. Kamu?
Biasa aja juga. Tapi tadi ada yang aneh. Bu Yanti telepon aku. Katanya cuma mau bilang aku harus makan yang banyak. Terus dia nangis. Terus dia tutup telepon.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Mungkin Bu Yanti lagi kangen cucunya, balasku.
Mungkin. Kasihan. Besok aku bawain oleh-oleh dari Cikarang buat dia.
Aku menaruh ponsel di dadaku dan tertawa, pelan, sendirian di kamar. Tawa yang basah di ujungnya.
Tentu saja. Tentu saja reaksi pertamanya adalah membawakan oleh-oleh untuk Bu Yanti.
Kasihan ceweknya, kata mereka.
Aku memejamkan mata dan berpikir: tidak. Tidak ada yang perlu dikasihani. Kalau suatu hari ada perempuan yang dipilih oleh pria seperti itu, dia bukan perempuan yang harus dikasihani.
Dia perempuan paling beruntung di dunia.
Aku membuka mata dan menatap langit-langit, menyadari apa yang baru saja kupikirkan.
Lalu aku menutup wajah dengan bantal lagi.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry reading
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari