Chapter Thirty Five
Donatur Misterius
POV: Rafa
Jam lima empat puluh pagi, seseorang menggedor pagar rumahku.
Bukan mengetuk. Menggedor. Besi pagar bergetar dan berdentang, keras, berulang-ulang, sampai Mbul yang tidur di anak tangga teras terlonjak dan kabur ke atap tetangga.
Aku sudah bangun. Aku tidak tidur. Aku sudah tidak benar-benar tidur sejak Minggu. Aku berjalan ke pintu dengan kaus dan celana pendek, dan membukanya.
Kinan berdiri di balik pagar.
Rambutnya berantakan. Matanya merah dan bengkak, seperti orang yang menangis semalaman. Dia masih memakai piyama, piyama bergambar kucing, dan di atasnya dia memakai jaket seadanya. Kunci mobil Papa di tangannya.
“Nan,” kataku. “Kamu—”
“Buka.”
Aku membuka pagar. Dia masuk, berdiri di depanku di teras, dan menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat. Bukan marah. Bukan sedih. Sesuatu di antara keduanya, sesuatu yang retak.
Dia mengangkat ponselnya. Menunjukkan layarnya padaku.
DM dari Vannesa.
Kinan. Aku cewek yang di gang itu. Delapan tahun lalu. Kakakmu nolongin aku.
Mamaku yang bayar rumah sakitnya. Mamaku yang berdiri di koridor waktu kamu duduk di lantai. Mamaku yang pergi.
Aku menatap layar itu. Lalu menatap adikku.
“Kakak tahu,” kata Kinan. Bukan pertanyaan.
“Sejak Minggu.”
“Kakak tahu sejak Minggu.” Suaranya naik. “Dan Kakak nggak bilang aku. Kakak bilang udah selesai, Nan. Kakak nggak makan. Kakak masukin tangan ke saku lagi. Dan Kakak nggak bilang aku.”
“Nan—”
“Aku harus tahu dari dia.” Suaranya pecah. “Dari DM Instagram jam sepuluh malam. Aku baca itu di kasur, Kak. Aku baca itu sampai subuh. Berulang-ulang.”
“Kakak nggak mau kamu—”
“Nggak mau aku apa? Sakit?” Kinan tertawa. Tawa yang tidak ada tawanya. “Kakak kayak mereka. Kakak kayak Mamanya. Semua orang nggak mau aku sakit, jadi semua orang diam, dan aku yang terakhir tahu.”
Aku tidak bisa menjawab.
Kinan menatapku lama. Lalu dia berbalik, berjalan ke pagar.
“Nan. Kamu mau ke mana?”
“Ke sana.”
“Ke mana?”
“Ke rumah mereka.” Dia membuka pintu mobil. “Delapan tahun, Kak. Delapan tahun aku bilang, kalau suatu hari aku ketemu mereka, aku mau tanya kenapa. Kakak inget? Di kamar lama Kakak. Aku bilang aku cuma mau tanya kenapa.”
“Nan, jangan—”
“Aku mau tanya kenapa!”
Dia masuk ke mobil. Membanting pintu. Menyalakan mesin.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kinan Elvano menginjak gas seperti orang yang tidak peduli pada polisi tidur.
Mobil Papa melesat mundur keluar dari gang sempit, hampir menabrak tong sampah tetangga, berputar di mulut gang dengan decit ban, dan menghilang.
Aku berdiri di teras dengan kaus dan celana pendek.
Lalu aku masuk, mengambil celana panjang, memakainya dengan satu tangan secepat yang aku bisa, menyambar ponsel, dan memesan ojek.
Ojekku sampai di depan rumah keluarga Atmajaya dua puluh menit kemudian. Mobil Papa sudah terparkir miring di depan pagar, satu ban naik ke trotoar. Mesinnya masih menyala. Pintu pengemudi terbuka.
Pagar rumah itu juga terbuka.
Aku turun dari ojek sebelum motornya benar-benar berhenti. Aku berlari melewati pagar, ke halaman, ke jalan setapak yang dikelilingi pohon kamboja.
Dan aku berhenti.
Mereka semua di teras. Pak Hendra dengan kaus oblong dan wajah pucat, berdiri di ambang pintu. Vannesa di anak tangga teras paling atas, dengan piyama biru dan rambut berantakan, memeluk dirinya sendiri. Dan di anak tangga paling bawah, berhadapan dengan Kinan, Bu Ratna.
Bu Ratna sudah berpakaian rapi. Kebaya sederhana. Rambut disanggul. Seolah dia sudah menunggu. Seolah dia tidak tidur semalaman, dan bersiap untuk ini.
Kinan berdiri di jalan setapak di depannya. Masih dengan piyama kucing. Tangannya terkepal di sisi tubuh.
Tidak ada yang melihatku datang. Aku berdiri di bawah pohon kamboja, sepuluh langkah dari mereka, dan tidak bisa bergerak.
“Ibu,” kata Kinan. Suaranya bergetar. “Ibu yang bayar?”
“Iya,” kata Bu Ratna.
“Rumah sakit Kakak. Operasinya. Semuanya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Bu Ratna tidak menjawab.
“Kenapa Ibu bayar?” Suara Kinan naik. “Kenapa Ibu bayar, terus pergi? Kenapa Ibu nggak dateng? Satu kali aja. Lima menit aja. Kenapa Ibu nggak pernah dateng?”
“Nak—”
“Aku duduk di lantai!” Kinan berteriak sekarang. Suaranya memantul di dinding-dinding rumah, di pohon-pohon, di langit pagi yang masih pucat. “Aku duduk di lantai koridor itu! Semalaman! Aku nggak tahu Kakak bakal bangun atau nggak! Mama nangis nggak ada suaranya! Papa megangin Mama kayak Mama bakal jatuh! Dan Ibu ada di sana? Ibu ada di sana? Ibu lihat kami, terus Ibu pergi?”
Bu Ratna menutup mata.
“Ibu tahu nggak rasanya?” Kinan terisak. Tangannya gemetar. “Setahun aku latihan sama Kakak tiap hari. Setahun aku lihat Kakak belajar pakai baju lagi. Makan lagi. Nulis lagi. Aku lihat dia nangis di kamar mandi sambil meluk gitar jam tiga pagi. Dan tiap hari aku mikir, keluarga cewek itu di mana? Mereka tahu nggak? Mereka peduli nggak?”
Di anak tangga teras, Vannesa menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Terus ada kuitansi,” lanjut Kinan. “Lunas. Semuanya. Nggak ada nama. Dan aku mikir, oh, mereka tahu. Mereka tahu, dan mereka punya duit, dan mereka pikir duit itu cukup.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Kayak bayar tagihan listrik. Kakakku kehilangan tangannya, dan kalian bayar, kayak bayar tagihan listrik, terus pergi.”
Hening. Hanya isakan Kinan. Dan burung-burung pagi di pohon kamboja yang tidak tahu apa-apa.
Lalu Bu Ratna membuka mata. Dan dia turun dari anak tangga terakhir. Dan dia berlutut.
Di jalan setapak. Di depan Kinan. Kebaya rumahnya menyentuh paving yang masih basah embun.
“Ibu lihat kamu,” kata Bu Ratna. Suaranya sangat pelan, tapi jelas. “Malam itu. Kamu pakai kaus tidur. Gambar kucing. Kayak yang kamu pakai sekarang.”
Kinan membeku.
“Kamu duduk di lantai, di depan kamar pemulihan. Kamu meluk lutut. Kamu nangis kenceng sekali, dan kamu bilang Kakak, Kakak, Kakak. Terus-terusan. Kamu nggak peduli ada orang lihat.” Air mata mengalir di pipi Bu Ratna. “Ibu berdiri dua puluh langkah dari kamu. Satu jam. Ibu hitung. Ibu mau samperin kamu. Ibu mau peluk kamu. Ibu mau bilang maaf, ini salah anak Ibu, Kakakmu begini karena nolong anak Ibu.”
“Terus kenapa nggak?”
“Karena Ibu takut.” Bu Ratna menatap Kinan. “Ibu takut anak Ibu hancur kalau tahu. Dia sembilan belas tahun, dia nggak bisa tidur tanpa lampu. Ibu pikir, kalau Ibu datang, dia pasti tahu. Kalau dia tahu, dia pasti nanggung itu seumur hidup. Jadi Ibu pilih anak Ibu.” Suaranya patah. “Ibu pilih anak Ibu, dan Ibu tinggalin kamu di lantai itu. Dan Ibu pikir, dengan bayar semuanya, Ibu udah cukup. Ibu salah. Ibu sangat, sangat salah.”
Kinan menatapnya. Bibirnya gemetar.
“Setiap malam,” bisik Bu Ratna, “delapan tahun, Ibu inget kamu. Anak perempuan pakai kaus kucing di lantai rumah sakit. Setiap malam, Nak. Ibu nggak pernah lupa.”
Sesuatu di wajah Kinan runtuh.
Aku melihatnya. Dari bawah pohon kamboja. Aku melihat delapan tahun kemarahan adikku, yang dia bawa sejak umur enam belas, yang dia simpan di catatan ponsel dan di tangan fisioterapisnya dan di setiap awas kalau nggak latihan, runtuh. Pelan. Seperti bangunan tua yang akhirnya menyerah pada gempa.
“Aku nyalahin diriku sendiri,” bisik Kinan.
Bu Ratna menatapnya.
“Aku yang nyuruh Kakak beli martabak.” Kinan mulai menangis lagi. Bukan tangis marah. Tangis yang lain. Tangis anak kecil. “Kalau aku nggak nyuruh, dia nggak lewat gang itu. Delapan tahun, aku mikir itu salahku. Aku nggak pernah bilang siapa-siapa. Aku nyalahin diriku sendiri, dan aku nyalahin kalian, karena kalau aku nyalahin kalian, aku nggak harus nyalahin diriku terus.”
“Bukan salahmu,” kata Bu Ratna. “Bukan salahmu, Nak.”
“Aku cuma mau tanya kenapa.” Kinan jatuh berlutut. Di jalan setapak. Di depan Bu Ratna. “Delapan tahun. Aku cuma mau tanya kenapa.”
Bu Ratna mengulurkan tangan. Ragu. Pelan.
Kinan tidak mundur.
Bu Ratna memeluknya. Erat. Seperti ibu memeluk anak yang baru pulang dari tempat yang sangat jauh. Kinan membenamkan wajah di bahu Bu Ratna, dan menangis, keras, seperti malam itu di lantai koridor rumah sakit. Dan Bu Ratna menangis bersamanya, menepuk-nepuk punggungnya, mengayun-ayunkan tubuhnya pelan, dan berbisik berulang-ulang, maaf, maaf, maaf, Ibu minta maaf.
Dua perempuan berlutut di jalan setapak, di bawah pohon kamboja, di pagi yang masih pucat. Menangis bersama untuk delapan tahun yang tidak bisa diulang.
Pak Hendra, di ambang pintu, menutup wajahnya dengan tangan.
Vannesa turun dari anak tangga teras. Pelan. Dia berlutut di sebelah Mamanya. Dia tidak menyentuh Kinan. Dia hanya berlutut di sana, dengan air mata mengalir, dan menunggu.
Setelah lama, Kinan mengangkat kepala dari bahu Bu Ratna. Dia melihat Vannesa.
“Kamu,” bisiknya.
“Maaf,” kata Vannesa. “Aku harusnya bilang di klinik.”
Kinan menatapnya lama. Wajahnya basah dan merah dan bengkak.
“Kamu nangis di klinikku,” kata Kinan. “Lantai klinikku basah.”
“Iya.”
“Kamu udah tahu waktu itu.”
“Iya.”
Kinan diam. Lalu, dengan suara yang aneh, sangat pelan, seperti orang yang baru menyadari sesuatu:
“Kamu bilang martabak itu bukan salahku.”
Vannesa mengangguk.
“Kamu tahu aku nyalahin diri sendiri. Waktu itu. Kamu dengar aku cerita soal martabak, dan kamu tahu itu bukan salahku, karena kamu ada di sana.” Kinan menggigit bibir. “Kamu satu-satunya orang di dunia yang tahu pasti itu bukan salahku. Dan kamu bilang ke aku.”
Vannesa tidak bisa menjawab. Dia hanya menangis.
Pak Hendra melihatku lebih dulu.
Dia menurunkan tangan dari wajahnya, dan matanya menemukan aku, berdiri di bawah pohon kamboja. Dia berjalan menuruni anak tangga teras. Melewati istrinya dan anaknya dan adikku yang berlutut di jalan setapak. Sampai dia berdiri di depanku.
“Nak Rafa,” katanya. Suaranya serak.
“Pak.”
“Papa yang nggak mau bawa Nes ke rumah sakit malam itu.” Dia menatapku dengan mata merah. “Papa takut wartawan. Papa bilang besok kita urus. Papa nggak pernah urus. Papa bahkan nggak tahu Ratna ke sana. Papa pikir semuanya udah beres.” Dia menggeleng pelan. “Papa bikin lelucon soal kontak batin di depanmu. Papa tepuk bahumu. Papa suruh kamu benerin Wi-Fi.”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Bukan nggak apa-apa.” Pak Hendra meletakkan tangannya di bahuku. Bahu kanan. Pelan kali ini. Tidak menepuk. Hanya diam di sana. “Maaf, Nak. Papa minta maaf.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku menatap pria di depanku, pemilik perusahaan distribusi terbesar di Jawa, yang berdiri dengan kaus oblong di halaman rumahnya sendiri jam enam pagi, meminta maaf padaku.
Aku mengangguk. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Di jalan setapak, Kinan berdiri. Pelan. Dengan bantuan Bu Ratna. Dia menyeka wajahnya dengan lengan jaket. Lalu dia melihatku.
Dia berjalan ke arahku. Berhenti di depanku. Menatapku dengan mata yang merah dan bengkak dan, entah bagaimana, lebih jernih dari yang pernah kulihat selama delapan tahun.
“Kak,” katanya.
“Nan.”
“Aku mau ngomong satu hal. Terus aku mau pulang. Aku belum mandi dan aku pakai piyama di depan orang kaya.”
Aku hampir tertawa. Hampir.
“Aku fisioterapis,” kata Kinan. “Tiap hari aku lihat orang nangis. Pasien yang kesakitan. Keluarga pasien yang nungguin. Orang yang nangis karena kasihan. Orang yang nangis karena sakit.” Dia menatapku. “Aku tahu bedanya, Kak. Aku udah enam tahun belajar bedanya.”
Aku diam.
“Dia nggak nangis karena kasihan,” kata Kinan pelan. “Di klinikku. Aku lihat. Orang yang kasihan itu nangisnya dari atas. Dia nangis dari bawah. Kayak orang yang sakit juga.” Kinan menarik napas. “Dia nangis karena dia ada di sana, Kak. Malam itu. Dia juga ada di gang itu. Kakak lupa itu.”
Aku menatap adikku.
Di belakangnya, di jalan setapak, Vannesa masih berlutut di sebelah Mamanya. Menatapku. Dengan wajah yang basah dan rambut yang berantakan dan piyama biru yang basah di lutut karena embun.
Aku melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Minggu, aku tidak melihat utang. Aku melihat gadis sembilan belas tahun di gang gelap, yang tangannya gemetar di bawah tanganku. Yang tidak bisa tidur tanpa lampu selama berbulan-bulan. Yang delapan tahun takut basement.
Dia juga ada di sana. Dia juga terluka malam itu.
Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.
“Ayo pulang, Nan,” kataku.
Kinan menatapku lama. Lalu dia mengangguk.
Aku tidak menoleh ke arah Vannesa ketika aku berjalan ke pagar. Aku tidak bisa. Kalau aku menoleh, aku tidak yakin aku bisa terus berjalan.
Kinan menyetir pulang. Dua puluh kilometer per jam. Kembali seperti nenek-nenek.
Aku duduk di kursi penumpang. Tangan kiri di pangkuan. Tidak di saku.
Kami tidak bicara lama. Jalanan Jakarta mulai ramai. Matahari naik. Kinan berhenti di setiap polisi tidur, seperti biasa, dan bilang hati-hati, ada gunung dengan suara yang masih serak.
Di lampu merah Pancoran, dia bicara tanpa menoleh.
“Kak. Kakak cinta dia?”
Aku menatap jalan di depan.
“Iya,” kataku.
“Terus kenapa Kakak mau pergi ke Surabaya?”
Aku tidak menjawab.
“Gilang yang bilang,” kata Kinan. “Gilang DM aku kemarin. Dia bilang, tolong Kakakmu, dia mau kabur ke Surabaya.”
“Kakak nggak kabur.”
“Terus namanya apa?”
Aku diam lama. Lampu hijau menyala. Kinan menjalankan mobil pelan.
“Karena Kakak cinta dia,” kataku akhirnya.
Kinan mengerem mendadak. Di tengah jalan. Mobil di belakang membunyikan klakson panjang.
Dia menoleh padaku. Menatapku dengan wajah yang sangat, sangat tidak percaya.
“Itu,” katanya, “logika paling bodoh yang pernah aku dengar seumur hidupku.”
Klakson di belakang makin panjang. Kinan tidak peduli. Dia menatapku terus.
“Kakak itu orang paling pintar yang aku kenal,” katanya, suaranya mulai bergetar lagi. “Tapi Kakak bodoh banget. Kakak paling bodoh.”
Lalu dia menjalankan mobil lagi. Dua puluh kilometer per jam. Dan dia menangis sepanjang jalan pulang, diam-diam, sambil tetap berhenti di setiap polisi tidur.
Aku menatap jendela.
Di pangkuanku, tangan kiriku tidak merasakan apa-apa.
Tapi di dadaku, sesuatu yang sudah membeku sejak Minggu mulai retak. Pelan. Seperti es di bawah matahari pertama.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius reading
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari