Chapter Twenty Eight
Tanpa Izin
POV: Rafa
Gala berakhir jam sebelas malam. Vannesa mengantarku pulang.
Aku sudah berhenti membantah soal itu. Aku sudah belajar bahwa membantah Vannesa Atmajaya sama seperti membantah hujan: kamu bisa melakukannya, tapi kamu tetap akan basah.
Mobilnya meluncur di jalanan Jakarta yang mulai sepi. Dia menyetir dengan sepatu hak tinggi dilepas, kaki telanjang di pedal gas. Gaun hijau zamrudnya berkilau setiap kali lampu jalan lewat. Radio memutar lagu-lagu lama dengan volume rendah.
Aku duduk di kursi penumpang, di sebelah kirinya. Sisi kananku menghadap ke arahnya.
Aku tidak bisa berhenti menatapnya.
“Kamu lihatin aku,” katanya tanpa menoleh.
“Nggak.”
“Kamu lihatin aku dari Semanggi sampai Tebet.”
“Aku lihatin jalan.”
“Jalannya di depan, Rafa. Aku di samping.”
Aku mengalihkan pandangan ke jendela. Pipiku panas. Dia tertawa pelan dan tidak menghitung, atau mungkin menghitung dalam hati.
Mobil berhenti di depan gang rumah kontrakanku. Gang sempit, cukup untuk satu mobil, dengan lampu jalan kuning yang berkedip dan pagar-pagar rumah yang berderet rapat. Di ujung gang, rumahku. Kecil, cat putih yang mulai kusam, teras dengan dua anak tangga.
Di anak tangga teras, dalam cahaya lampu jalan, duduk seekor kucing oranye gemuk.
“Itu Mbul?” tanya Vannesa, mencondongkan badan ke kaca depan.
“Itu Mbul.”
“Dia nungguin kamu?”
“Dia nungguin ikan. Aku cuma kebetulan yang bawa ikannya.”
Vannesa tertawa. Dia mematikan mesin. Tiba-tiba mobil itu sunyi. Hanya ada bunyi jangkrik dari kebun kosong di sebelah, dan detak jam di dasbor, dan napas kami berdua.
Aku harus turun. Aku tahu aku harus turun. Aku sudah mengucapkan terima kasih tiga kali sejak keluar dari ballroom. Tidak ada alasan lagi untuk tetap duduk di sini.
Aku tidak turun.
Dia juga tidak menyuruhku turun.
“Malam ini,” kataku akhirnya. “Makasih.”
“Kamu udah bilang makasih empat kali.”
“Tiga.”
“Empat. Satu di lobi hotel, satu di parkiran, satu di Semanggi, satu barusan.” Dia menoleh padaku. “Aku ngitung semua, Rafa. Nggak cuma merah.”
Aku menatapnya. Di bawah cahaya lampu jalan yang masuk dari kaca depan, wajahnya setengah terang, setengah gelap. Rambutnya sudah sedikit berantakan dari dansa. Riasan di matanya sedikit luntur, entah karena keringat atau karena air mata. Dia masih sangat cantik. Tapi bukan itu yang membuatku tidak bisa bernapas.
Yang membuatku tidak bisa bernapas adalah cara dia menatapku. Seperti aku adalah satu-satunya hal di mobil ini yang layak dilihat.
“Vannesa,” kataku.
“Hm?”
“Tadi. Waktu dansa. Kamu nangis.”
Dia diam.
“Kamu bilang kamu bahagia,” lanjutku pelan. “Tapi kamu lihat ke belakangku. Ke seseorang.”
Dia tetap diam. Tangannya di setir mengencang sedikit.
“Mamamu?” tanyaku.
Dia menatapku lama. Lalu dia mengangguk. Sangat pelan.
“Mamamu nangis lagi,” kataku. “Kayak di kantor waktu itu.”
“Rafa—”
“Kamu bilang itu bukan karena Mamamu nggak suka aku. Aku percaya.” Aku menatap tangannya di setir. “Tapi aku mau tahu. Suatu hari. Kalau kamu udah siap.”
Dia menatapku, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang berat. Seperti orang yang berdiri di tepi jurang dan menimbang apakah akan melompat.
“Suatu hari,” bisiknya. “Aku janji. Aku bakal cerita semuanya.”
“Oke.”
“Kamu nggak marah aku belum cerita?”
“Nggak.” Aku tersenyum. “Aku juga butuh delapan tahun buat cerita soal martabak.”
Dia tertawa. Tawa kecil, basah di ujungnya. Lalu dia menyeka matanya dengan punggung tangan, cepat.
“Oke,” katanya. “Kamu turun sekarang. Mbul udah nungguin.”
Aku membuka pintu mobil dengan tangan kanan. Turun. Berdiri di samping mobil, di gang sempit, di bawah lampu jalan kuning.
Lalu dia juga turun.
Aku tidak tahu kenapa dia turun. Mungkin untuk mengantarku sampai pagar. Mungkin untuk menyapa Mbul. Dia berjalan memutari mobil, tanpa sepatu, kaki telanjang di aspal gang yang masih hangat dari matahari siang, sampai dia berdiri di depanku.
“Kamu nggak pakai sepatu,” kataku.
“Sepatunya sakit.”
“Aspalnya kotor.”
“Nanti aku cuci kaki.” Dia menatapku. “Rafa.”
“Hm?”
“Kamu tahu nggak, kamu belum jawab pertanyaanku. Yang di tangga darurat.”
Aku menelan ludah.
“Kamu suka aku atau nggak,” katanya pelan. “Aku udah nunggu seminggu.”
Aku membuka mulut.
Dan sebelum aku bisa mengatakan apa pun, sebelum aku bisa memutuskan apakah aku akan bilang iya atau diam lagi atau mencari jalan keluar yang sopan, dia berjinjit.
Dan mencium pipiku.
Pipi kanan. Cepat. Lembut. Seperti kupu-kupu yang hinggap sebentar lalu terbang lagi.
Aku merasakannya.
Aku merasakan semuanya. Bibirnya yang lembut dan sedikit dingin karena udara malam. Napasnya yang hangat di kulitku. Ujung hidungnya yang menyentuh tulang pipiku sebentar. Wangi rambutnya, bunga yang namanya tidak kuketahui, bercampur dengan wangi parfum yang dia pakai untuk gala.
Aku merasakan semuanya, karena dia memilih pipi kanan. Sisi yang bisa merasakan.
Dia memilihnya. Dengan sengaja. Aku tahu itu.
Dia mundur. Menatapku. Wajahnya merah. Aku belum pernah melihatnya semerah itu, bahkan di mobil minggu lalu.
“Itu tanpa izin,” katanya cepat. “Aku tahu. Maaf. Nggak juga, aku nggak nyesel. Tapi itu tanpa izin. Kalau kamu nggak suka, bilang. Aku nggak akan—”
Aku tidak mendengar sisanya.
Aku berdiri di gang sempit itu, di bawah lampu jalan yang berkedip, dan merasakan bekas bibirnya di pipiku seperti cap yang tidak akan pernah hilang. Panas menjalar dari pipi itu ke seluruh wajahku, ke leherku, ke dadaku, ke ujung jari-jari tangan kananku. Kacamataku berembun total. Aku tidak bisa melihat apa-apa.
Tapi aku tidak perlu melihat. Aku bisa merasakan.
“Rafa?” Suaranya ragu. “Kamu nggak apa-apa?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Rafa, kamu nggak napas.”
Aku menarik napas. Keras. Seperti orang yang baru muncul dari dasar kolam.
“Aku napas,” kataku.
“Kamu merah banget.”
“Iya.”
“Itu dua puluh tiga.”
“Iya.”
“Kamu marah?”
Aku melepas kacamata dengan tangan kanan. Menatapnya tanpa kacamata, dalam kabur. Bentuk samar seorang perempuan bergaun hijau zamrud, tanpa sepatu, berdiri di gang sempit di depan rumah kontrakanku jam sebelas malam.
“Nggak,” kataku. “Aku nggak marah.”
“Terus?”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak tahu kata yang tepat untuk perasaan ini. Perasaan seperti seluruh tubuhku baru saja dinyalakan setelah delapan tahun dalam mode hemat energi.
“Aku ngerasain,” kataku akhirnya. Pelan. “Yang tadi. Aku ngerasain.”
Dia diam.
Lalu, dalam kabur, aku melihatnya menutup mulut dengan kedua tangan.
“Kamu sengaja pilih yang kanan,” kataku.
“Iya,” bisiknya dari balik tangannya.
“Kenapa?”
“Biar kamu ngerasain,” katanya. “Yang kiri buat aku. Yang kanan buat kamu ngerasain aku.”
Aku memakai kacamata lagi. Masih berembun. Aku melepasnya lagi dan mengelapnya dengan ujung jas, dan memakainya lagi, dan akhirnya aku bisa melihatnya.
Dia menangis. Dan tersenyum. Dua-duanya sekaligus.
Di anak tangga teras, Mbul mengeong keras. Panjang. Seperti protes.
Kami berdua menoleh ke arahnya.
“Dia cemburu,” kata Vannesa, tertawa di sela tangisnya.
“Dia lapar.”
“Dia cemburu, Rafa. Lihat mukanya.”
Aku melihat Mbul. Mbul menatap kami dengan mata menyipit, ekor bergoyang pelan, ekspresi penuh penghinaan.
“Oke,” kataku. “Dia cemburu.”
Vannesa tertawa lagi. Lalu dia berjinjit lagi, dan aku membeku lagi, tapi kali ini dia hanya merapikan kerah jasku yang sedikit terlipat. Tangannya di kerahku sebentar.
“Selamat malam, Rafa,” katanya pelan.
“Selamat malam.”
“Besok Minggu. Kamu ke rumah ortu?”
“Iya.”
“Salam buat Kinan. Bilangin, aku udah nggak bisa dimasukin daftar terlarang. Aku udah terlalu jauh.”
Lalu dia berbalik, berjalan ke mobilnya dengan kaki telanjang, masuk, dan menyalakan mesin. Dia membunyikan klakson dua kali, pelan. Lalu mobilnya mundur perlahan keluar dari gang sempit itu, dan menghilang di tikungan.
Aku berdiri di depan pagar sampai suara mesinnya tidak terdengar lagi.
Lalu aku menyentuh pipi kananku dengan tangan kanan.
Masih ada. Aku masih bisa merasakannya.
Minggu siang, di rumah orang tuaku, aku membuka casing gitar.
Aku tidak merencanakannya. Aku pulang seperti biasa. Kinan menjemput, menyetir seperti nenek-nenek, mengomel soal latihan bahu. Mama memasak, Papa bilang panas. Aku makan, lalu masuk ke kamar lamaku untuk sesi latihan dengan Kinan.
Dan setelah Kinan keluar, aku berdiri di depan casing gitar di sudut kamar.
Sudut-sudutnya yang penyok. Resleting kantong luarnya, tempat jepit bulan sabit itu disimpan. Debu tipis yang Mama bersihkan setiap minggu tapi selalu kembali.
Delapan tahun, aku tidak pernah membukanya.
Aku berlutut. Dengan satu tangan, pelan, aku membuka kait-kait casing itu. Satu. Dua. Tiga. Kaitnya kaku, berkarat sedikit. Butuh beberapa kali tarikan.
Lalu aku mengangkat tutupnya.
Gitar itu masih di sana. Gitar akustik bekas dengan badan kayu berwarna madu, yang kubeli dengan tabungan dua tahun. Senarnya sudah berkarat, kecokelatan. Ada goresan kecil di badannya, dari malam itu, ketika casing ini dipakai sebagai tameng. Tapi selain itu, dia utuh. Seperti menunggu.
Di bawah gitar, ada buku tulis kecil. Sampul biru, sudah pudar. Aku mengambilnya. Membukanya.
Lirik-lirik. Tulisan tanganku yang dulu, lebih berantakan, lebih bersemangat. Coretan-coretan. Kunci-kunci gitar yang ditulis di atas kata-kata. Dan di halaman terakhir yang ditulisi, sebuah lagu yang belum selesai.
Tanpa judul. Hanya ada tulisan kecil di pojok kanan atas:
Buat seseorang. Suatu hari.
Aku menatap tulisan itu lama.
Lalu aku menaruh buku itu, dan mengangkat gitarnya. Dengan tangan kanan. Menaruhnya di pangkuanku, di posisi yang dulu sudah hafal di luar kepala. Badan gitar di paha kanan. Leher gitar menjulur ke kiri.
Ke arah tangan kiriku, yang tergeletak di pangkuan, diam.
Aku tidak bisa menekan kunci. Aku tahu itu. Aku sudah mencobanya delapan tahun lalu, di lantai kamar mandi, dan itu malam terburuk dalam hidupku.
Tapi aku bisa memetik.
Aku menaruh jari-jari tangan kananku di atas senar. Senar-senar yang berkarat, dingin, kasar di ujung jari. Lalu aku memetik. Semua senar sekaligus. Tanpa kunci.
Bunyinya sumbang. Serak. Nada-nada terbuka yang tidak membentuk kunci apa pun, bergetar di udara kamar yang sempit.
Tapi itu bunyi. Dari gitarku. Setelah delapan tahun.
Aku memetik lagi. Pelan. Dan lagi. Nada-nada sumbang itu memenuhi kamar, memantul di dinding, di langit-langit dengan stiker bintang glow-in-the-dark, di jendela yang menghadap pohon mangga yang tidak pernah berbuah.
Aku tersenyum.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak bisa memainkan lagu. Aku tidak bisa menekan satu kunci pun. Yang bisa kulakukan hanya memetik senar terbuka yang sumbang. Tapi aku tersenyum, dan aku tidak bisa berhenti.
Karena kemarin malam, di gang sempit di depan rumahku, seseorang mencium pipi kananku. Dan aku merasakannya.
Dan tiba-tiba, bagian diriku yang sudah lama tidak ingin merasakan apa-apa, ingin merasakan semuanya.
Pintu kamar terbuka.
Kinan berdiri di ambang pintu. Dengan piring berisi potongan semangka di tangan. Dia menatapku. Menatap gitar di pangkuanku. Menatap casing yang terbuka.
Piring semangka di tangannya bergetar.
“Kak,” bisiknya.
Aku mengangkat kepala. “Hai, Nan.”
“Kakak… Kakak buka casingnya.”
“Iya.”
“Kakak megang gitarnya.”
“Iya.”
Kinan menaruh piring semangka di meja belajar. Pelan. Seperti takut suara piring akan memecahkan sesuatu. Lalu dia duduk di lantai, di depanku, dan menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku memikirkannya. Lalu aku menjawab dengan jujur.
“Dia cium pipi Kakak semalam,” kataku. “Yang kanan.”
Kinan membeku. Mulutnya terbuka. Matanya melebar.
Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku. Membuka aplikasi catatan. Membuka catatan berjudul DIAWASI.
Aku melihatnya menghapus sesuatu. Mengetik sesuatu yang baru. Lalu dia memutar layar ponselnya ke arahku.
Vannesa. STATUS: DITERIMA.
Di bawahnya, satu baris tambahan:
Alasan: bikin Kakak buka casing gitar. Nggak ada orang lain yang bisa.
Aku menatap layar itu. Lalu menatap adikku.
Kinan menangis. Diam-diam. Seperti malam itu di kamar mandi, ketika dia mengintipku dan aku tidak tahu dia ada di sana.
“Kakak udah bilang suka?” tanyanya, suaranya serak.
“Belum.”
“KAK.”
“Kakak… Kakak masih nyari waktu yang tepat.”
“Kak, dia cium pipi Kakak. Tanpa sepatu. Di gang. Itu waktu yang tepat. Itu waktu yang paling tepat.” Kinan menyeka matanya kasar. “Kakak itu orang paling pintar yang aku kenal, tapi Kakak bodoh banget.”
Aku tertawa. Dan aku memetik gitar lagi. Sumbang. Serak.
Kinan menatap gitar itu. Lalu dia tertawa juga, basah, di sela tangisnya.
“Senarnya karatan,” katanya. “Ganti.”
“Buat apa? Kakak nggak bisa main.”
Kinan menatapku lama. Dengan tatapan yang tidak kumengerti. Tatapan yang seperti menyimpan rencana.
“Ganti aja,” katanya. “Siapa tahu.”
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin reading
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari