← Yang Kiri buat Aku

Chapter Thirty Seven

Dia Nolak Aku Duluan

POV: Rafa

Aku mengemas hidupku ke dalam dua koper dan satu kardus.

Ternyata tidak banyak. Baju kerja, kebanyakan kemeja berkancing magnet yang dijahitkan Kinan. Laptop. Buku-buku teknis. Sepatu. Sebuah bingkai foto keluarga yang diambil di Lebaran tiga tahun lalu, di mana Papa satu-satunya yang tidak tersenyum karena dia tidak tahu fotonya sudah diambil.

Rumah kontrakan ini akan kutitipkan ke pemiliknya. Setahun di Surabaya. Pak Surya sudah mengurus mes karyawan di sana, dekat gudang yang servernya pernah digigit tikus.

Mbul duduk di atas koper yang terbuka. Dia menatapku dengan mata menyipit, seperti tahu sesuatu yang tidak kusukai sedang terjadi.

“Turun, Mbul.”

Mbul tidak turun. Mbul berbaring. Tepat di atas tumpukan kemejaku.

“Aku nggak bisa bawa kamu,” kataku padanya. “Kamu bukan kucingku. Kamu kucing tetangga.”

Mbul menguap. Lalu menutup mata.

Aku duduk di lantai, di sebelah koper, dan menatap kucing oranye gemuk yang tidur di atas bajuku. Besok pagi, pesawatku berangkat jam tujuh. Hari ini hari terakhir di Jakarta.

Aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti sedang menunggu sesuatu.


Jam empat sore, ada yang mengetuk pagar.

Bukan menggedor. Mengetuk. Tiga kali, sopan, dengan jeda yang teratur.

Aku membuka pintu. Dan berhenti.

Kevin Hartanto berdiri di balik pagar. Kemeja putih, lengan digulung, tanpa jas. Tangan di saku celana. Dia terlihat sangat tidak cocok dengan gang sempit ini, dengan pagar-pagar rumah yang berderet rapat dan tong sampah tetangga dan jemuran yang tergantung di teras sebelah. Seperti model iklan jam tangan yang tersesat di lokasi syuting sinetron.

“Mas Rafa,” katanya. “Boleh masuk?”

Aku menatapnya. “Pak Kevin. Tahu alamat saya dari mana?”

“Gilang.” Kevin tersenyum tipis. “Dia kasih alamat ini tanpa aku minta. Dia DM aku kemarin malam. Isinya cuma alamat, sama satu kalimat: tolong, Pak, saya udah nggak punya ide lagi.”

Aku menutup mata sebentar.

Lalu aku membuka pagar.


Kevin duduk di anak tangga teras. Aku duduk di sebelahnya. Mbul, yang akhirnya turun dari koper, duduk di antara kami, menatap Kevin dengan penuh kecurigaan.

“Kucingmu?” tanya Kevin.

“Kucing tetangga.”

“Dia kayak nggak suka aku.”

“Dia nggak suka semua orang.”

Kevin tertawa kecil. Lalu diam. Dia menatap gang sempit di depan kami, tempat, belum lama ini, sebuah mobil berhenti dan seorang perempuan tanpa sepatu mencium pipi kananku di bawah lampu jalan yang berkedip.

“Aku nggak lama,” kata Kevin. “Aku cuma mau bilang satu hal. Terus aku pergi.”

“Oke.”

Dia mengeluarkan ponselnya. Membuka sesuatu. Lalu menyodorkannya padaku.

Kalender. Kalender digitalnya. Satu bulan, dua bulan lalu. Ada satu tanggal yang ditandai dengan warna biru. Hari Jumat. Jam tujuh malam. Rooftop — Nes.

“Ini malam aku ditolak,” kata Kevin.

Aku menatap tanggal itu.

“Aku sudah dengar ceritanya dari Pak Hendra,” lanjut Kevin. “Pak Hendra cerita ke Om Darmo, Om Darmo cerita ke aku. Maaf. Kantor itu kecil.” Dia menatapku. “Bu Ratna cerita ke Nes soal kamu hari Selasa. Di ulang tahunnya. Empat hari setelah malam ini.”

“Saya tahu,” kataku. “Dia kasih saya screenshot chat. Jumat malam. Jam sebelas empat puluh tujuh. Saya percaya dia suka saya sebelum tahu.”

“Tapi?”

“Tapi setelah itu dia tahu.” Aku menatap tanganku. “Dan semua yang dia lakuin setelah itu, saya nggak bisa bedain lagi.”

Kevin diam lama.

“Mas,” katanya akhirnya. “Aku boleh cerita soal malam itu? Malam di rooftop?”

Aku mengangguk.

“Aku udah reservasi rooftop paling bagus di Jakarta. Aku udah latihan kata-kata dua minggu. Aku beliin dia kalung, bintang, perak, yang aku pilih sendiri di Singapura.” Kevin tersenyum tipis. “Dia datang pakai gaun biru muda.”

Aku membeku.

“Dia nggak pernah pakai biru muda,” kata Kevin. “Selama tiga bulan aku kenal dia, dia selalu pakai warna gelap kalau acara malam. Hitam, merah marun, biru tua. Malam itu dia pakai biru muda. Dan dia nggak pakai kalung dariku.”

Aku ingat. Butik di Kokas. Tirai ruang ganti. Yang ini. Karena kamu kelihatan kayak kamu.

“Aku tanya dia, gaunnya dia yang pilih?” lanjut Kevin. “Dia nggak jawab. Pipinya yang jawab.” Kevin tertawa, pelan dan sedikit patah. “Aku ditolak sama cewek yang datang ke rooftop cowok lain, pakai baju pilihan kamu. Mas tahu rasanya?”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf. Aku nggak datang buat itu.” Kevin menatapku serius sekarang. “Dia nolak aku duluan, Mas. Waktu itu dia belum tahu apa-apa soal kamu. Dia belum tahu soal gang, soal rumah sakit, soal tanganmu. Dia cuma tahu kamu vendor yang bacain spesifikasi teknis di lift dan milihin dia gaun di Kokas. Dan dia milih kamu. Bukan aku. Dengan semua yang aku punya, dia milih kamu.”

Aku diam.

“Kamu percaya itu,” kata Kevin. “Kamu bilang kamu percaya. Oke. Terus menurutmu apa yang terjadi hari Selasa? Pas Bu Ratna cerita?”

“Dia tahu.”

“Dia tahu. Terus?”

Aku tidak menjawab.

“Terus perasaannya berubah jadi utang?” Kevin menggeleng. “Mas, kamu system analyst. Kamu yang bilang ke direksi, data lama itu harus dimigrasi dengan hati-hati, jangan ditimpa. Kamu ngomong itu di presentasi. Aku ada di sana.”

Aku menatapnya.

“Perasaan orang nggak punya tombol reset, Mas,” kata Kevin pelan. “Data lama nggak hilang cuma karena ada data baru masuk. Dia suka kamu hari Jumat. Hari Selasa dia tahu kamu penolongnya. Itu nggak menghapus yang hari Jumat. Itu cuma nambahin.”

“Nambahin apa?”

“Nambahin alasan.” Kevin menatap gang di depan kami. “Dia suka kamu karena kamu kamu. Terus dia tahu harga yang kamu bayar buat hidupnya. Dan dia tetap mau kamu. Bukan karena harganya. Tapi dia juga nggak bisa pura-pura nggak tahu harganya.”

Aku menunduk.

“Dia nangis bukan karena kasihan,” lanjut Kevin. “Dia nangis karena dia sayang sama orang yang pernah berdarah buat dia, dan dia nggak tahu cara ngebayar itu, dan dia tahu kamu nggak mau dibayar. Itu bukan utang, Mas. Itu cuma… itu cuma cinta yang tahu terlalu banyak.”

Mbul, di antara kami, mengeong pelan.

Kevin berdiri. Merapikan kemejanya.

“Satu lagi,” katanya. “Terus aku pergi.”

Aku mengangkat kepala.

“Malam itu, di depan pagar rumahnya, aku bilang ke dia: kalau dia nyakitin kamu, bilang aku. Tapi kalau kamu yang nyakitin dia, aku juga mau tahu.” Kevin tersenyum tipis. “Dia nggak pernah bilang apa-apa ke aku. Nggak ngeluh, nggak minta tolong. Aku tahu dari Om Darmo. Dari Pak Tarno yang cerita dia nangis di basement. Dari Gilang yang DM jam sebelas malam.”

Dia menatapku lurus.

“Jadi aku bilang ke kamu, Mas. Kamu nggak nyakitin dia karena kamu jahat. Kamu nyakitin dia karena kamu pikir kamu lagi ngelindungin dia.” Kevin menggeleng pelan. “Aku kenal satu keluarga yang udah delapan tahun ngelakuin itu. Lihat hasilnya.”

Dia berjalan ke pagar. Membukanya. Berhenti.

“Aku masih suka dia,” katanya tanpa menoleh. “Mungkin setahun lagi baru nggak. Tapi aku lebih suka lihat dia bahagia sama kamu daripada lihat dia nangis di basement. Jadi tolong, Mas.” Dia menoleh. “Jangan bikin aku ditolak sia-sia.”

Lalu dia pergi.


Aku duduk di anak tangga teras lama sesudahnya. Matahari mulai turun. Langit berubah jingga. Mbul tidur di sebelahku.

Perasaan orang nggak punya tombol reset.

Aku menatap tangan kiriku. Di pangkuan. Tidak di saku.

Cinta yang tahu terlalu banyak.

Pagar diketuk lagi. Kali ini digedor. Keras. Berulang-ulang.

Aku tidak perlu melihat untuk tahu siapa.

“Buka, Kak.”

Aku membuka pagar. Kinan masuk dengan kotak rendang dari Mama di satu tangan dan wajah seorang jaksa yang sudah menyiapkan tuntutan hukuman mati.

“Kevin barusan keluar dari gang,” katanya. “Kevin Hartanto. Brand Director. Keluar dari gang rumah Kakak. Dia senyum ke aku. Aku nggak tahu harus ngapain, jadi aku senyum balik.”

“Dia datang ngobrol.”

“Ngobrol apa?”

Aku duduk lagi di anak tangga teras. Kinan duduk di sebelahku, menaruh kotak rendang di antara kami. Mbul menatap kotak itu dengan minat baru.

Aku menceritakan semuanya. Kalender. Gaun biru muda. Kalung yang tidak dipakai. Data lama yang tidak hilang.

Kinan mendengarkan tanpa memotong. Ketika aku selesai, dia diam lama.

“Kak,” katanya akhirnya. “Aku mau nanya sesuatu.”

“Apa?”

“Malam itu. Di gang. Waktu Kakak lihat cewek itu dipojokin sama dua preman.” Kinan menatapku. “Kakak nanya nggak, dia pantas ditolong atau nggak?”

Aku mengerjap. “Hah?”

“Kakak nanya nggak? Dia orang baik atau jahat? Dia kaya atau miskin? Dia bakal bilang makasih atau nggak? Dia bakal balas budi atau nggak?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

“Karena…” Aku berhenti. “Karena dia butuh ditolong. Itu aja.”

“Terus Pak Tarno. Anak Pak Tarno yang daftar sekolah. Bu Yanti. Dimas. Mas Doni. Semua orang yang Kakak tolong.” Kinan menghitung dengan jari. “Kakak pernah nanya mereka pantas atau nggak?”

“Nggak.”

“Kakak selalu nolong orang tanpa nanya dia pantas atau nggak.” Kinan menatapku, dan matanya mulai merah. “Terus kenapa Kakak ngukur diri sendiri pakai timbangan yang beda?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kakak bilang ke dia kamu pantas dapat yang utuh. Kakak bilang ke dia kamu bebas. Kakak bilang ke dia aku yang pergi.” Suara Kinan bergetar. “Kakak mutusin semuanya buat dia. Kakak mutusin dia nggak boleh cinta sama Kakak, karena Kakak pikir Kakak nggak cukup. Karena Kakak pikir cinta dia pasti utang, karena nggak mungkin ada orang yang cinta sama Kakak kalau bukan karena utang.”

Aku menatap adikku.

“Itu bukan ngelindungin dia, Kak,” bisik Kinan. “Itu Kakak nggak percaya Kakak layak dicintai.”

Hening.

Hanya jangkrik yang mulai berbunyi di kebun kosong sebelah. Dan azan magrib, jauh, dari masjid di ujung kompleks.

Itu bukan keputusan kamu. Itu keputusan aku.

Vannesa. Di tangga darurat. Dengan sepatu di tangan dan rambut berantakan. Jangan nolak aku karena kamu pikir kamu nggak cukup. Karena itu bukan keputusan kamu. Itu keputusan aku.

Dan kemarin, di lantai sembilan, di depan empat puluh orang. Aku tunggu. Nggak ngejar. Cuma nunggu. Itu keputusan aku, Rafa. Bukan keputusan kamu.

Dia sudah bilang. Dua kali. Dan dua kali aku tidak mendengar.

Aku menatap tangan kiriku di pangkuan. Delapan tahun, aku mengukur semua yang tidak bisa dilakukan tangan ini. Kancing. Tali sepatu. Botol. Pintu. Gitar. Aku menghitung semuanya, setiap hari, dan setiap hitungan jadi bukti bahwa aku kurang.

Dan selama itu, aku tidak pernah sekali pun menghitung apa yang sudah dilakukan tangan ini.

Tangan ini menahan pisau. Tangan ini membuat seorang gadis sembilan belas tahun pulang ke rumahnya, bisa kuliah, bisa lulus, bisa jadi manajer yang hafal nama semua orang, bisa tertawa sampai kepalanya mendongak di warung padang.

Tangan ini memberinya delapan tahun.

Dan ketika dia datang dan bilang aku mau kamu, aku bilang itu pasti utang. Karena aku tidak bisa membayangkan ada orang yang memilihku tanpa alasan lain.

“Kak?” Kinan menatapku. “Kakak nangis.”

Aku mengusap wajahku dengan tangan kanan. Basah.

“Nan,” kataku. Suaraku serak. “Kakak bodoh banget.”

“Aku udah bilang itu dari dulu.”

“Kakak paling bodoh.”

“Iya.” Kinan menyandarkan kepalanya ke bahu kananku. “Tapi Kakak paling pintar juga. Jadi bisa diperbaiki.”

Aku tertawa. Basah. Patah.

Aku mengeluarkan ponselku. Membuka kontak. Pak Surya.

Aku menekan tombol panggil.

“Raf?” suara Pak Surya. “Udah siap? Pesawat besok jam tujuh, jangan telat—”

“Pak,” kataku. “Saya minta maaf. Saya nggak jadi ke Surabaya.”

Hening di seberang telepon.

“Saya tahu ini mendadak. Saya tahu saya udah minta. Saya bakal ganti tiketnya. Saya bakal kerjain proyek Surabaya remote, full, dua kali lipat kalau perlu.” Aku menarik napas. “Tapi saya nggak bisa pergi. Ada yang harus saya selesaikan di sini.”

Pak Surya diam lama. Lalu, anehnya, dia tertawa.

“Gilang udah bilang ke saya kamu bakal telepon,” katanya. “Dia bilang, Pak, jangan kaget kalau Bang Rafa batal. Saya nggak percaya.” Dia menghela napas. “Oke, Raf. Batal. Tapi kamu yang bayar selisih tiketnya.”

“Siap, Pak.”

Aku menutup telepon.

Kinan sudah berdiri. Menatapku dengan mata berbinar dan wajah yang basah.

“Kakak mau ke dia sekarang?” tanyanya. “Aku antar. Aku nyetir cepat. Kayak kemarin.”

Aku menatap langit yang mulai gelap. Menatap kotak rendang dari Mama. Menatap Mbul, yang sekarang tidur di atas sepatuku yang belum dimasukkan ke koper.

“Belum,” kataku.

Kinan mengerutkan dahi. “Kok belum?”

“Ada orang yang harus aku temui dulu,” kataku pelan. “Sebelum Vannesa.”

“Siapa?”

Aku berdiri. Merapikan kemeja dengan tangan kanan.

“Orang yang delapan tahun berdiri di koridor rumah sakit,” kataku. “Dan belum pernah dapat jawaban dari aku.”