Chapter Thirty
Aku Juga
POV: Rafa
Kinan yang menyetir.
Itu bukan rencanaku. Rencanaku adalah dua ojek online, satu untukku dan satu untuk Vannesa, yang akan menjemputnya di rumah dan membawa kami ke tempat tujuan secara terpisah tapi bersamaan. Rencana yang sopan. Rencana yang tidak melibatkan helm di rambutnya.
Tapi Sabtu pagi, Kinan muncul di depan rumah kontrakanku dengan mobil Papa, kunci di tangan, dan wajah seorang jenderal yang tidak menerima penolakan.
“Aku yang antar,” katanya.
“Nan, nggak usah—”
“Kak. Kakak mau ngajak cewek pertama kali dalam delapan tahun. Kakak mau dia naik ojek?” Dia menatapku dengan jijik. “Aku nggak akan biarin keluarga Elvano dipermalukan kayak gitu.”
“Kamu nyetir kayak nenek-nenek.”
“Nenek-nenek itu nyetirnya aman. Kakak mau aman atau mau cepat?”
Aku tidak menjawab. Aku sudah belajar bahwa membantah perempuan dalam hidupku sama saja dengan membantah hujan.
Kami menjemput Vannesa jam empat sore.
Dia keluar dari pagar rumahnya dengan gaun santai berwarna kuning pucat, rambut diikat setengah, sepatu kets putih. Dia melihat mobil Papa. Dia melihat Kinan di kursi pengemudi. Wajahnya berubah dari bingung menjadi senyum lebar.
“Kinan!”
“Halo,” kata Kinan dari balik jendela. Dengan nada yang sangat berusaha terdengar datar dan sangat gagal. “Duduk di belakang. Sama Kakak. Aku sopir hari ini.”
Vannesa masuk ke kursi belakang. Duduk di sebelah kiriku. Tentu saja di sebelah kiriku.
“Kinan,” katanya. “Makasih ya udah mau nganter.”
“Aku nggak nganter kamu,” kata Kinan, menyalakan mesin. “Aku nganter Kakak. Kamu cuma kebetulan ikut.”
“Oke.”
“Dan kalau kalian mau pegangan tangan di belakang, tolong jangan sampai aku lihat di spion. Aku lagi nyetir. Aku butuh konsentrasi.”
Vannesa tertawa. Lalu, dengan sengaja, dengan sangat sengaja, dia mengambil tangan kiriku dari pangkuanku dan menggenggamnya. Di bawah jendela, tapi cukup tinggi untuk terlihat di spion.
Kinan melihat spion. Mendengus keras. Lalu menjalankan mobil dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam.
“Kinan,” kataku. “Kita bisa lebih cepat.”
“Nggak bisa. Aku lagi bawa barang berharga.”
“Barang apa?”
Kinan tidak menjawab. Tapi dari spion, aku melihat matanya melirik tangan kami yang bergandengan. Dan aku melihat ujung bibirnya naik sedikit.
Perjalanan yang seharusnya empat puluh menit makan waktu satu jam lima belas menit. Vannesa tertawa hampir sepanjang jalan, terutama ketika Kinan menginjak rem di depan polisi tidur yang tingginya sekitar dua sentimeter dan berkata, “Hati-hati, ada gunung.”
Tempat yang kupilih adalah tempat yang sudah delapan tahun tidak kudatangi.
Deretan ruko di belakang kampus lamaku. Dulu, lantai dua salah satu ruko itu adalah studio latihan band kami, di atas tempat fotokopi yang selalu bau tinta dan gorengan. Tangganya sempit. Lampunya sering mati.
Sekarang, tempat fotokopi itu sudah jadi minimarket. Dan lantai dua, menurut Bima, drummer band kami yang sekarang sudah jadi bapak dua anak dan pemilik usaha kecil, sudah dia ubah jadi kafe. Kafe kecil dengan atap terbuka, tanaman gantung, dan lampu-lampu kuning yang digantung di atas kepala.
“Lo mau pakai rooftop gue? Sabtu sore? Buat cewek?” Bima hampir berteriak di telepon minggu lalu. “Raf, gue tutup kafenya. Gue tutup seharian. Buat lo, gue tutup.”
Kinan menurunkan kami di depan deretan ruko. “Aku tunggu di minimarket,” katanya. “Kalau udah selesai, telepon. Kalau nggak selesai-selesai, aku masuk.”
“Kamu nggak akan masuk, Nan.”
“Coba aja.” Dia menatap Vannesa. Lama. Lalu dia bilang, sangat pelan, sangat cepat: “Jaga Kakak.”
Lalu dia menutup jendela dan memarkir mobil dengan tujuh kali maju-mundur.
Aku menoleh ke Vannesa, siap untuk tertawa soal Kinan.
Dan aku melihat wajahnya.
Dia pucat.
Bukan pucat biasa. Pucat seperti di lift. Seperti di lantai sembilan ketika lampu padam. Dia berdiri di trotoar, menatap deretan ruko di depannya, dan matanya tidak berkedip.
“Vannesa?”
Dia tidak menjawab. Dia menatap sesuatu di ujung deretan ruko. Aku mengikuti arah pandangannya.
Mulut gang. Gang sempit di antara dua ruko, yang menembus ke jalan di belakang. Lampu jalan di mulutnya menyala sekarang, tidak mati seperti dulu. Temboknya sudah dicat ulang. Tapi aku mengenalinya. Aku akan selalu mengenalinya.
“Itu gangnya,” kataku pelan, tanpa berpikir. “Tempat yang aku ceritain waktu itu. Waktu makan martabak.”
Dia berbalik menatapku. Begitu cepat, seperti tersengat. Matanya melebar. Bibirnya terbuka.
Aku langsung menyesal. “Maaf. Harusnya aku nggak bilang. Kamu takut gelap. Aku nggak mikir. Kita nggak lewat situ kok, kita lewat tangga depan. Aku udah janji sama Kinan nggak akan lewat gang itu lagi seumur hidup.”
Vannesa tidak menjawab. Tangannya, di genggamanku, gemetar hebat.
“Vannesa,” kataku, khawatir sekarang. “Kita bisa pergi. Tempat lain. Nggak apa-apa.”
“Nggak,” katanya. Suaranya serak. “Nggak. Aku… aku pernah ke sini.”
“Ke deretan ruko ini?”
“Ke daerah ini. Waktu kuliah.” Dia menatap gang itu lagi. Lalu menatapku. Dan ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kubaca. Seperti orang yang berdiri di tepi jurang dan akhirnya melihat ke bawah. “Rafa. Ada yang harus aku bilang.”
“Oke.”
“Sekarang. Sebelum naik.”
Aku menatapnya. Tangannya dingin di genggamanku. Wajahnya pucat. Dan aku berpikir: dia takut. Dia takut karena gang itu, karena kenangan buruknya sendiri di tempat gelap, yang dia bilang tidak mau diceritakan. Atau mungkin soal Mamanya. Soal tangisan di kantor dan di gala, yang dia janjikan akan dia ceritakan suatu hari.
Apa pun itu, itu berat. Aku bisa melihatnya di wajahnya.
Dan aku, dengan kebodohan seorang pria yang sudah latihan seminggu untuk satu momen, memutuskan sesuatu.
“Nanti,” kataku lembut.
Dia mengerjap. “Nanti?”
“Apa pun itu, aku dengerin. Janji. Tapi nanti.” Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Aku udah latihan seminggu. Aku takut kalau kamu cerita sesuatu yang berat duluan, aku lupa semua yang mau aku bilang. Biar aku duluan, ya? Terus habis itu kamu cerita. Semuanya. Aku dengerin sampai subuh kalau perlu.”
Dia menatapku lama. Aku melihat perang di wajahnya. Sesuatu yang ingin keluar, dan sesuatu yang lain yang menahannya.
Lalu dia mengangguk. Pelan.
“Oke,” bisiknya. “Kamu duluan.”
Kami naik tangga depan. Tangga yang sempit, yang dulu harus kulewati dengan gitar dimiringkan. Aku tidak melihat ke belakang, ke mulut gang itu.
Di anak tangga pertama, genggaman Vannesa di tanganku mengencang sebentar. Sangat erat. Lalu mengendur lagi. Aku mengira dia hanya takut tangga yang sempit dan gelap.
Rooftop kafe Bima ternyata indah.
Atap terbuka dengan lantai kayu. Tanaman-tanaman dalam pot gantung. Lampu-lampu kuning kecil yang digantung zig-zag di atas kepala, belum menyala karena matahari belum terbenam. Satu meja kayu kecil di tengah, dengan dua kursi dan vas kecil berisi bunga matahari. Dari sini, aku bisa melihat atap-atap kampus lamaku, pohon-pohon angsana, dan langit sore yang mulai berubah jingga.
Bima tidak ada. Dia meninggalkan kunci di bawah pot bunga dan catatan di meja: Kopi di termos. Kue di kulkas. Jangan bikin rooftop gue terbakar. Semoga berhasil, Raf. — B.
Vannesa berdiri di tepi rooftop, memegang pagar, menatap langit. Warna kembali ke wajahnya perlahan. Angin sore menerbangkan ujung rambutnya.
“Dulu di sini studio band kamu?” tanyanya.
“Di sini. Di bawah atap ini dulu ada ruangan. Lampunya sering mati. Kami latihan pakai lilin kadang-kadang.”
“Kamu main gitar di sini.”
“Tiap malam Rabu sama Sabtu.”
Dia menoleh padaku. “Main lagu apa?”
Aku merogoh tas selempangku dengan tangan kanan. Mengeluarkan sesuatu. Buku tulis kecil bersampul biru pudar. Buku yang kutemukan di bawah gitar minggu lalu.
Dia menatap buku itu. Lalu menatapku.
“Ini lagu yang dulu aku tulis,” kataku. “Belum selesai. Aku nggak pernah nyelesaiin.”
Aku membuka buku itu ke halaman terakhir. Tulisan tanganku yang dulu, berantakan dan bersemangat. Kunci-kunci gitar di atas kata-kata. Dan di pojok kanan atas, tulisan kecil itu.
Buat seseorang. Suatu hari.
Vannesa membacanya. Aku melihat matanya bergerak, pelan, dari kata ke kata. Lalu berhenti di tulisan pojok kanan atas.
“Buat seseorang,” bisiknya.
“Delapan tahun lalu, aku nulis itu. Aku nggak tahu buat siapa. Aku cuma tahu suatu hari bakal ada seseorang.” Aku menatap buku itu. “Terus malam itu kejadian. Dan aku berhenti nulis. Aku kira seseorang itu nggak akan datang. Aku kira nggak ada perempuan yang mau datang ke orang kayak aku.”
Aku menarik napas. Ini dia. Seminggu latihan. Di depan cermin kamar mandi, di ojek, di tangga darurat, di kamar lamaku sambil memetik senar sumbang.
“Vannesa,” kataku.
Dia menatapku.
“Hari pertama. Kickoff meeting. Kamu masuk, dan satu ruangan diam. Kamu nyalamin semua orang dan hafal nama mereka. Kamu ngenalin diri ke aku dan kamu nggak lihat tanganku. Terus di pintu, kamu nahan pintu buat aku sambil baca HP. Kayak aku orang biasa. Kayak aku cuma cowok yang barangnya kebanyakan.”
Suaraku mulai bergetar. Aku tidak mencoba menahannya.
“Dari situ,” kataku. “Dari pintu itu. Aku suka kamu. Dari hari pertama. Aku tahu itu bodoh. Aku tahu itu nggak mungkin. Aku bikin benteng dari map arsip dan aku bilang kamu pantas dapat yang utuh dan aku diam sepuluh detik di tangga darurat. Tapi aku suka kamu. Dari hari pertama sampai sekarang. Dan tiap hari makin banyak.”
Vannesa menatapku dengan mata yang mulai basah.
“Kamu nggak pernah kasihan sama aku,” lanjutku. “Nggak sekali pun. Kamu bukain botolku, terus nyuruh aku bukain keripikmu. Kamu masukin tanganmu ke saku kiriku dan bilang kamu yang ngerasain buat dua-duanya. Kamu bawa aku ke gala di depan delapan ratus orang dan bilang pasanganku. Kamu bikin aku buka casing gitar setelah delapan tahun.”
Aku menutup buku tulis itu. Memegangnya di dada.
“Aku nggak bisa ngasih kamu banyak,” kataku. “Aku nggak bisa gendong kamu. Aku nggak bisa meluk pakai dua tangan. Tapi aku mau coba. Kalau kamu mau.” Aku menelan ludah. “Vannesa, kamu mau jadi pacarku?”
Hening.
Angin sore bertiup. Lampu-lampu kuning di atas kepala tiba-tiba menyala, satu per satu, otomatis karena matahari mulai terbenam. Cahaya kuning jatuh di wajahnya.
Dia menangis. Air matanya mengalir diam-diam di pipinya.
“Aku suka kamu, Rafa,” katanya. Suaranya patah. “Aku udah bilang itu dari tangga darurat. Dari lobi. Dari saku kiri.”
“Aku tahu.”
“Terus kamu cuma diam.”
“Aku tahu. Makanya sekarang aku jawab.” Aku tersenyum. Dengan air mata yang juga mulai mengalir di pipiku. “Aku juga, Vannesa. Aku juga suka kamu. Dari dulu. Aku juga.”
Dia tertawa. Tawa yang basah dan gemetar. Lalu dia mengangguk. Berkali-kali. Cepat.
“Mau,” katanya. “Mau. Aku mau. Ya ampun, Rafa, aku udah mau dari dua minggu lalu, kamu lambat banget.”
Aku tertawa. Dia tertawa. Kami berdua berdiri di rooftop kafe kecil di atas minimarket, di bawah lampu-lampu kuning, menangis dan tertawa seperti dua orang bodoh.
Lalu wajahnya memerah. Aku melihatnya. Merah dari pipi sampai telinga, di bawah cahaya kuning.
“Kamu merah,” kataku.
“Aku tahu.”
“Kamu udah hitung merahku dua puluh tiga kali.” Aku melangkah mendekat. “Sekarang giliranku ngitung.”
Dia menatapku.
“Satu,” kataku.
Dia menutup mulut dengan tangan. Wajahnya makin merah.
“Dua,” kataku.
“Rafa—”
“Dan kamu pernah nanya,” kataku, lebih pelan sekarang, “di tangga darurat. Kenapa aku lihat bibir kamu terus. Mau kamu cium atau nggak.”
Dia berhenti bernapas. Aku bisa melihatnya.
“Jangan kabur,” bisikku, “kalau aku serius.”
Aku menaruh buku tulis biru itu di meja kayu. Lalu tangan kananku terangkat. Menyentuh pipinya. Pelan. Ibu jari mengusap air mata di bawah matanya.
Dia tidak kabur.
Dia berjinjit, sedikit, sama seperti di gang depan rumahku. Dan aku menunduk.
Bibirnya lembut. Sedikit asin karena air mata. Sedikit bergetar. Ciuman yang pelan, ragu, seperti dua orang yang belum pernah melakukan ini dan tidak yakin caranya. Aku merasakan napasnya. Merasakan tangannya yang naik ke dadaku, menggenggam kemejaku. Merasakan jantungku yang berdetak begitu keras sampai aku yakin dia bisa merasakannya lewat telapak tangannya.
Lalu aku merasakan sesuatu yang lain.
Tangannya. Tangan kanannya, bergerak dari dadaku, turun ke lengan kiriku. Menemukan tangan kiriku yang tergantung di sisi tubuhku. Menggenggamnya. Mengangkatnya. Dan menaruhnya di pinggangnya sendiri. Menahannya di sana dengan tangannya.
Aku tidak bisa merasakan pinggangnya di tangan kiriku.
Tapi aku merasakan dia melakukannya. Dan itu lebih dari cukup.
Kami berhenti. Pelan. Dahi menempel. Napas bercampur.
“Yang kiri,” bisiknya, “buat aku.”
“Yang kiri buat kamu,” bisikku balik. “Semuanya.”
Kacamataku berembun total. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku tidak peduli.
Kami duduk di rooftop sampai langit gelap. Minum kopi dari termos Bima. Makan kue dari kulkas. Dia bersandar di bahu kananku. Tangan kiriku di pangkuannya, di genggamannya.
Dia tidak bercerita.
Aku menunggu, tapi dia tidak bercerita. Dan ketika aku akhirnya bertanya, “Tadi kamu mau bilang apa? Di bawah?”, dia terdiam lama.
Lalu dia bilang, pelan, ke bahuku:
“Besok aja, ya.”
Aku menoleh padanya.
“Malam ini cuma malam ini,” katanya. “Aku mau ingat malam ini tanpa apa-apa lagi. Boleh?”
Aku menatapnya. Kalimat itu. Hampir sama dengan kalimat yang kukatakan di bawah tangga tadi. Nanti. Biar aku duluan.
Aku tidak tahu, saat itu, bahwa dua kata itu akan menjadi dua kata paling mahal dalam hidup kami.
“Boleh,” kataku. “Besok.”
Dia tersenyum dan memejamkan mata di bahuku.
Di bawah, di minimarket, ponselku bergetar. Pesan dari Kinan.
KAK. SUDAH DUA JAM. AKU UDAH BELI TIGA ES KRIM. KASIRNYA NANYA AKU NUNGGU SIAPA.
Lalu satu lagi.
…Udah jadi?
Aku mengetik dengan satu tangan, sementara tangan kiriku masih di pangkuan Vannesa.
Udah jadi.
Tiga detik kemudian, dari bawah, dari arah minimarket, terdengar teriakan yang sangat keras dan sangat familiar:
“YAAAAAAA!”
Vannesa terbangun dari bahuku, kaget. Lalu dia mendengar teriakan kedua, sama kerasnya, diikuti suara kasir minimarket yang bertanya Mbak, Mbak nggak apa-apa?
Dan dia tertawa sampai menangis lagi.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga reading
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari