Chapter Nineteen
Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
POV: Vannesa
Makan malam ulang tahunku yang kedua puluh tujuh berlangsung dalam keheningan.
Mama tidak turun. Bi Sum, yang sudah bekerja di rumah kami sejak aku masih SD, mengantarkan nampan ke kamar Mama dua kali, dan dua kali nampan itu kembali utuh. Papa duduk di ujung meja, memotong ayam bakar menjadi potongan-potongan kecil yang tidak dia makan.
“Nes,” katanya akhirnya. “Kamu tahu kenapa ayam nggak bisa jadi dokter?”
Aku menatapnya.
“Karena dia takut… disuntik ayam.” Papa tersenyum lemah. Menunggu.
Aku tidak tertawa. Papa juga tidak. Lelucon itu jatuh di tengah meja makan seperti cangkir teh Mama tadi siang, dan kami berdua hanya menatap pecahannya.
“Maaf,” kata Papa pelan. “Papa cuma nggak tahu harus ngomong apa.”
“Mama kenapa, Pa?”
“Papa juga nggak tahu. Dari tadi siang Mama nggak mau ngomong. Cuma nangis.” Papa meletakkan garpunya. “Dua puluh sembilan tahun Papa nikah sama Mama, Nes. Papa belum pernah lihat dia kayak gitu.”
Aku meletakkan sendok. Berdiri.
“Aku ke atas,” kataku.
Papa tidak menahanku.
Pintu kamar orang tuaku tidak dikunci. Mama duduk di kursi dekat jendela, dalam gelap, hanya diterangi lampu taman dari luar. Dia masih memakai kebaya krem dari tadi siang. Sanggulnya sudah terlepas. Rambutnya tergerai kusut di bahu.
Aku menyalakan lampu. Mama tersentak, lalu memalingkan wajah.
“Matikan, Nes.”
“Nggak, Ma.”
Aku menutup pintu di belakangku. Berjalan ke tempat tidur. Duduk di tepinya, berhadapan dengan Mama.
“Mama kenal Rafa,” kataku.
Bukan pertanyaan. Mama tidak menjawab. Tangannya meremas ujung kebaya.
“Tadi Mama bilang maafkan Ibu ke dia. Aku lihat bibir Mama.” Suaraku keluar lebih tenang dari yang kurasakan. “Mama nggak pernah minta maaf ke orang yang nggak Mama kenal. Mama bahkan nggak pernah minta maaf ke Papa kalau salah nyimpen remote TV.”
Mama tertawa. Tawa kecil, patah, yang langsung berubah jadi isakan.
“Ma.”
“Nes,” bisiknya. “Mama nggak tahu harus mulai dari mana.”
“Dari awal, Ma.”
Mama menatapku lama. Lalu dia menatap tanganku, dan aku menyadari bahwa sejak tadi aku menggenggam kunci mobil. Dengan senter perak kecil yang tergantung di sana. Aku bahkan tidak ingat mengambilnya dari tas.
Mama melihat senter itu. Wajahnya runtuh.
“Dari dia?” tanyanya.
“Kado ulang tahun. Buat basement.” Aku menggenggamnya lebih erat. “Dia tahu aku takut gelap.”
Mama menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Lama sekali Mama menangis. Aku tidak memeluknya. Aku ingin, tapi ada sesuatu yang dingin di dadaku, sesuatu yang sudah tahu jawabannya sebelum Mama mengatakannya, dan sesuatu itu membuatku tetap duduk di tepi tempat tidur.
Akhirnya Mama menurunkan tangannya. Matanya merah. Suaranya serak.
“Malam itu,” katanya. “Delapan tahun lalu.”
“Kamu dibawa pulang jam sepuluh malam. Ada bapak-bapak pemilik restoran yang telepon ke rumah. Dia nemu nomor rumah di kartu mahasiswa di dompetmu. Papa sama Pak Sardi yang jemput.” Mama menarik napas. “Kamu setengah sadar. Kepalamu benjol. Bajumu basah semua. Ada darah di tanganmu, tapi itu bukan darahmu.”
Aku tidak ingat itu. Aku tidak ingat darah di tanganku.
“Papa nggak mau bawa kamu ke rumah sakit,” lanjut Mama. “Waktu itu perusahaan lagi mau masuk bursa. Wartawan di mana-mana. Papa takut kalau kamu masuk rumah sakit, beritanya keluar. Putri Hendra Atmajaya diserang di gang gelap. Papa takut kamu jadi tontonan. Jadi Papa panggil dr. Wibowo ke rumah.”
“Terus?”
“Terus bapak pemilik restoran itu bilang, ada anak laki-laki yang nolongin kamu. Luka parah. Dibawa ambulans ke rumah sakit dekat situ. Papa bilang, besok kita urus. Besok kita cari tahu.” Mama menggeleng. “Tapi Mama nggak bisa tidur. Kamu tidur di kamarmu dengan lampu nyala semua, dan Mama duduk di sebelahmu, dan Mama terus kepikiran anak itu. Anak siapa. Hidup atau nggak.”
“Jam dua pagi, Mama bangunin Pak Sardi. Mama nggak bilang Papa. Mama pergi ke rumah sakit.”
Jantungku berdetak pelan dan berat.
“Mama tanya di IGD. Mereka bilang ada korban penusukan, laki-laki, dua puluh tahun, mahasiswa, baru selesai operasi. Mama tanya namanya.” Suara Mama bergetar. “Mereka bilang, Rafa Elvano.”
Aku memejamkan mata.
“Mama lihat dia dari balik kaca ruang pemulihan, Nes. Dia masih pingsan. Pucat sekali. Bahu sama lengan kirinya dibalut perban tebal, sampai ke jari. Selang di mana-mana.” Mama berhenti. Menelan ludah. “Wajahnya masih muda sekali. Kayak anak SMA. Ada kacamata di meja di sebelahnya. Retak.”
Retak. Kacamata yang retak.
“Di koridor, ada ibu-ibu yang duduk sambil nangis. Diem, nggak ada suaranya. Suaminya di sebelahnya, megang bahunya. Dan ada anak perempuan…” Mama menutup mulutnya sebentar. “Anak perempuan, umurnya mungkin enam belas. Pakai kaus tidur gambar kucing. Duduk di lantai koridor, meluk lutut, nangis kenceng sekali. Nggak peduli ada orang lihat. Dia terus bilang Kakak, Kakak, Kakak. Terus-terusan. Kayak kaset rusak.”
Aku tidak bisa bernapas.
Kinan.
Adik yang galak. Yang menyetir seperti nenek-nenek. Yang punya daftar perempuan terlarang. Yang membuatkan pita rapi untuk kado ulang tahunku tadi pagi. Pita yang sekarang ada di saku blazerku, yang tergantung di kursi kamarku sendiri.
Pita dari gadis enam belas tahun yang duduk di lantai rumah sakit dan menangis Kakak, Kakak, Kakak, karena kakaknya menyelamatkan aku.
“Terus dokternya keluar,” kata Mama. “Ngomong sama orang tuanya. Mama berdiri agak jauh, tapi Mama dengar. Dokternya bilang saraf di bahunya rusak parah. Kemungkinan besar tangan kirinya nggak akan bisa gerak lagi.”
Suara Mama pecah di kalimat terakhir. Dia menunduk, bahunya berguncang.
“Mama berdiri di koridor itu satu jam, Nes. Satu jam. Mama mau samperin ibunya. Mama mau bilang, saya ibunya anak yang ditolong anak Ibu. Mama mau bilang terima kasih. Mama mau berlutut.”
“Terus kenapa nggak?” Suaraku keluar seperti bisikan.
Mama mengangkat wajahnya. Menatapku dengan mata yang penuh sesuatu yang jauh lebih berat daripada air mata.
“Karena Mama pikirin kamu.”
Aku diam.
“Kamu sembilan belas tahun, Nes. Kamu nggak bisa tidur tanpa lampu. Kamu teriak setiap kali ada suara keras. Kamu nggak mau keluar kamar dua minggu. Dr. Wibowo bilang kamu trauma berat, dan kamu harus dijaga hati-hati.” Mama menggenggam tangannya sendiri, begitu erat sampai buku jarinya memutih. “Mama bayangin, kalau Mama samperin keluarga itu, kamu pasti tahu. Kamu pasti mau ketemu dia. Terus kamu lihat tangannya. Terus kamu tahu tangannya begitu karena kamu.”
“Ma—”
“Mama takut kamu hancur, Nes.” Suara Mama pecah sepenuhnya. “Kamu udah hancur separuh. Mama takut kalau kamu tahu, sisanya ikut hancur. Mama takut kamu nanggung rasa bersalah itu seumur hidup. Jadi Mama pilih.”
“Pilih apa?”
“Mama pergi ke kasir. Mama bayar semua. Operasi, rawat inap, obat, fisioterapi setahun ke depan, semuanya. Mama minta rumah sakit jangan kasih tahu siapa yang bayar. Terus Mama pulang.” Mama menatap tangannya. “Mama pikir, dengan bayar semuanya, Mama udah… cukup. Udah lunas.”
“Terus Mama bilang ke aku dia baik-baik aja.”
“Iya.”
“Mama bilang dia nggak mau dicari.”
“Iya.”
“Delapan tahun, Ma.” Suaraku naik. Aku tidak bisa menahannya. “Delapan tahun aku nanya, dan delapan tahun Mama bilang dia baik-baik aja!”
“Mama tahu.”
“Dia nggak baik-baik aja!” Air mataku jatuh tanpa kusadari. “Dia nggak bisa main gitar lagi, Ma! Dia dulu anak band! Dia ngikat tali sepatu pakai satu tangan! Dia buka botol dijepit di lutut! Dia buka sambal pakai gigi! Adiknya ninggalin cita-cita jadi arsitek buat jadi fisioterapis, buat ngerawat dia! Setiap hari orang bisikin kasihan ceweknya di belakang dia, dan dia cuma senyum, Ma! Dia selalu senyum!”
Aku berdiri. Aku tidak tahu kapan aku berdiri. Kunci mobil dengan senter perak itu masih di tanganku, kugenggam sampai logamnya menekan telapak tanganku.
“Semua itu karena aku,” bisikku. “Semua itu harga buat aku. Buat aku yang bisa tidur, bisa kuliah, bisa lulus, bisa kerja, bisa naik tangga sembilan lantai, bisa makan nasi goreng sambil ketawa. Delapan tahun hidupku, Ma. Delapan tahun hidupku dibayar pakai tangan orang lain.”
Mama berdiri. Meraih tanganku. Aku mundur selangkah.
Itu pertama kalinya dalam hidupku aku mundur dari tangan Mama.
Mama membeku. Tangannya menggantung di udara, persis seperti tangan Rafa waktu terlepas dari saku di depan satu lantai kantor. Lalu tangan itu jatuh pelan ke sisi tubuhnya.
“Maaf, Nes,” bisik Mama. “Mama salah. Mama tahu Mama salah. Mama tahu sejak malam itu. Tapi setiap tahun, makin lama, makin susah bilangnya. Mama nggak tahu dia tinggal di mana. Mama nggak berani cari tahu. Mama terus bilang ke diri Mama, nanti, nanti, kalau Nes udah kuat. Terus tahu-tahu delapan tahun.” Mama menatapku dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Wajah seorang ibu yang benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. “Terus tadi siang, dia berdiri di depan Mama. Dan dia mungutin pecahan cangkir Mama pakai satu tangan.”
Mama tersedak isakannya sendiri.
“Dan dia bilang, kecelakaan lama, Bu. Udah nggak apa-apa.” Mama menutup mulut. “Dia bilang udah nggak apa-apa, Nes. Ke Mama. Ke orang yang ninggalin dia sendirian di koridor rumah sakit.”
Pintu kamar terbuka.
Papa berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana. Cukup lama, dilihat dari matanya yang basah.
“Ratna,” katanya pelan. “Kamu ke rumah sakit malam itu?”
Mama tidak menjawab. Tapi dia tidak perlu menjawab.
Papa berjalan masuk, pelan, seperti orang tua. Dia duduk di tepi tempat tidur, tempat aku duduk tadi. Menatap lantai.
“Papa yang nggak mau bawa kamu ke rumah sakit,” katanya padaku. Suaranya berat. “Papa yang takut wartawan. Papa yang bilang besok kita urus.” Dia menggeleng pelan. “Papa nggak pernah urus. Papa pikir Mama yang urus. Papa pikir sudah beres. Papa nggak pernah nanya.”
“Pa—”
“Anak itu,” kata Papa. “Rafa. Yang Papa kasih lelucon soal kontak batin tadi siang. Yang Papa tepuk bahunya.” Papa menutup mata. “Papa tepuk bahu yang kanan, Nes. Untung Papa tepuk yang kanan.”
Aku tidak bisa berdiri lagi. Aku duduk di lantai, bersandar di lemari, dan menangis.
Aku menangis untuk Rafa yang dua puluh tahun, di ranjang rumah sakit dengan kacamata retak. Untuk Kinan yang enam belas tahun, di lantai koridor dengan kaus tidur gambar kucing. Untuk ibu yang menangis tanpa suara, dan ayah yang memegang bahunya. Untuk gitar yang tidak pernah dimainkan lagi. Untuk semua bisikan kasihan ceweknya yang dia dengar dengan senyum.
Dan aku menangis untuk Mama. Karena di bawah semua kemarahanku, aku tahu. Mama melakukannya karena sayang. Mama memilih melindungiku, dan pilihan itu salah, dan Mama sudah membawanya sendirian selama delapan tahun.
Mama berlutut di lantai di depanku. Kali ini aku tidak mundur.
Dia memelukku. Aku memeluknya balik. Kami menangis bersama di lantai kamar, dan Papa duduk di tepi tempat tidur dengan tangan menutupi wajahnya, dan di luar jendela, lampu taman menyala kuning dan tenang, seolah malam ini sama saja dengan malam-malam lainnya.
Jam tiga pagi, aku duduk di kasur kamarku sendiri.
Lampu mati. Hanya senter perak kecil di tanganku yang menyala. Aku menyalakannya, lalu mematikannya. Menyalakan, mematikan. Lingkaran cahaya kecil muncul dan hilang di dinding kamar.
Buat basement. Biar kamu nggak perlu telepon aku kalau lampunya redup.
Ponselku tergeletak di sebelahku. Ada pesan yang belum kubaca, dikirim jam delapan malam.
Mamamu udah enakan? Semoga cuma kecapekan. Selamat ulang tahun sekali lagi, Vannesa.
Tentu saja. Tentu saja dia bertanya soal Mama. Mama yang meninggalkannya di koridor rumah sakit. Mama yang menangis di depannya tanpa penjelasan dan merusak hari ulang tahunku. Dia tidak tahu apa-apa, dan hal pertama yang dia lakukan adalah mendoakan Mama cepat sembuh.
Aku mengetik: Maaf.
Lalu menghapusnya.
Aku mengetik: Aku tahu.
Menghapusnya lagi.
Aku mengetik: Kenapa kamu nggak pernah bilang?
Lalu aku berhenti, dan menatap kalimat itu, dan menyadari bahwa dia tidak pernah bilang karena dia tidak tahu. Dia tidak tahu gadis di gang itu aku. Dia tidak pernah mencari. Dia tidak pernah menagih. Dia hanya menjalani delapan tahun dengan satu tangan, dan tersenyum, dan membukakan pintu untuk orang lain dengan bahu kanannya.
Aku menghapus pesan itu juga. Menaruh ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Aku menyalakan senter lagi. Cahayanya jatuh di telapak tanganku. Tangan yang delapan tahun lalu gemetar di gang gelap. Tangan yang, kata Mama, berlumuran darah yang bukan darahku.
Dan tiba-tiba, di tengah keheningan jam tiga pagi, aku mengingat sesuatu.
Bukan malam itu. Minggu lalu. Lift nomor tiga. Gelap total. Aku di sudut, tidak bisa bernapas. Lalu seseorang berlutut di depanku dengan satu tangan bertumpu di dinding. Menaruh tangan kanannya di atas tanganku yang gemetar.
Suara rendah. Serak. Sangat dekat.
Udah, udah. Jangan takut.
Senter di tanganku jatuh ke kasur. Cahayanya menyorot langit-langit, bulat dan putih, persis seperti cahaya senter ponsel yang dia taruh di lantai lift waktu itu.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
Bukan mirip.
Bukan kebetulan.
Bukan semua orang baik yang suaranya sama.
Itu suaranya.
Delapan tahun aku mengingat suara di gang gelap itu. Delapan tahun aku mencarinya di setiap kerumunan, di setiap percakapan, di setiap pria asing yang kebetulan bicara pelan. Dan minggu lalu, suara itu berlutut di depanku di lantai lift, menggenggam tanganku, dan membacakan spesifikasi teknis modul pelacakan armada supaya aku lupa takut.
Dan aku bilang padanya, suaranya mirip kamu.
Dan dia menjawab, mungkin semua orang yang baik suaranya mirip.
Aku menangis lagi. Tanpa suara, kali ini. Seperti ibunya di koridor rumah sakit delapan tahun lalu.
Di luar jendela, langit mulai berubah dari hitam menjadi biru tua. Azan subuh terdengar sayup dari masjid di ujung kompleks.
Aku memungut senter perak itu dari kasur. Mematikannya. Menggenggamnya di dada, dekat jantung, seperti orang menggenggam sesuatu yang tidak boleh hilang lagi.
“Rafa,” bisikku ke kamar yang kosong. “Itu kamu.”
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain reading
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari