Chapter Forty Two
Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
POV: Vannesa
Delapan tahun lalu.
Ponselku mati jam sembilan lewat dua puluh.
Aku ingat karena aku sedang mengetik pesan untuk Mama. Ma, rapat himpunan molor, aku pulang naik taksi ya. Aku menekan kirim, dan layarnya berubah hitam, dan ikon baterai kosong berkedip sekali sebelum hilang.
Pesan itu tidak pernah terkirim.
“Sya,” kataku, menoleh ke Tasya yang sedang merapikan spanduk acara di aula himpunan. “Pinjem charger.”
“Charger-ku ketinggalan di kosan.” Tasya menatapku. “Kamu nggak dijemput Pak Sardi?”
“Mobilnya di bengkel. Makanya aku mau naik taksi.”
“Nginep di kosanku aja.”
“Besok pagi ada kuis statistik. Bukuku di rumah.” Aku mengangkat tas. “Nggak apa-apa. Taksi di jalan besar banyak.”
Tasya ragu. Lalu mengangguk. “Kabarin kalau udah sampai.”
“Ponselku mati, Sya.”
“Oh iya.” Dia tertawa. “Ya udah. Besok kabarin.”
Aku melambai dan keluar dari aula.
Itu terakhir kalinya selama delapan tahun aku berjalan sendirian di malam hari tanpa merasa takut.
Gerimis baru saja berhenti. Aspal kampus mengilat di bawah lampu jalan. Udaranya dingin dan berbau tanah basah.
Aku memakai gaun biru muda. Hadiah dari Tante Wina di Bandung. Dan jepit rambut bulan sabit, hadiah ulang tahun dari Mama bulan lalu. Aku memakai jepit itu hampir setiap hari sejak Mama memberikannya. Mama bilang dia memesannya khusus ke tukang perak langganannya, dan ada bintang kecil terukir di ujungnya. Supaya kamu selalu tahu jalan pulang, kata Mama. Bulan dan bintang.
Jalan besar di depan kampus sepi. Tidak ada taksi. Hanya motor-motor yang lewat sesekali dengan kecepatan tinggi, mencipratkan genangan.
Aku berdiri di trotoar sepuluh menit. Lalu lima belas. Tidak ada taksi.
Di seberang jalan, deretan ruko. Tempat fotokopi yang sudah tutup. Warung-warung yang lampunya mulai dimatikan. Dan di ujung deretan itu, aku ingat dari cerita teman-teman, ada gang yang tembus ke jalan di belakang. Jalan yang lebih ramai. Dekat pangkalan taksi.
Aku menyeberang.
Mulut gang itu gelap. Lampu jalannya mati. Aku berdiri di depannya sebentar, ragu. Lalu aku melihat cahaya kuning di ujung sana. Jendela dapur sebuah restoran. Tidak terlalu jauh. Mungkin lima puluh meter.
Lima puluh meter, pikirku. Aku bisa berlari lima puluh meter.
Aku masuk ke gang.
Aku tidak mendengar mereka datang.
Aku hanya tiba-tiba merasakan tangan di pergelangan tanganku. Kasar. Berat. Menarikku ke samping, ke bawah bayangan tangga besi, sampai punggungku membentur tembok bata yang dingin dan basah.
Aku ingin berteriak. Tangan lain menutup mulutku.
Dua orang. Aku bisa melihat bentuk mereka. Yang satu besar, jaket kulit. Yang satu lebih pendek, kaus hitam. Mereka tertawa. Tawa yang berat dan malas.
Dan di tangan yang berkaus hitam, sesuatu yang mengilat.
Tasku jatuh. Aku mendengarnya mendarat di genangan air. Aku mencoba menendang. Mencoba menggigit tangan di mulutku. Tangan itu hanya menekan lebih keras.
Aku tidak bisa bernapas.
Aku ingat berpikir, dengan kejernihan yang aneh: Mama nggak tahu aku di sini. Pesannya nggak terkirim.
Lalu aku mendengar suara.
“Woi.”
Suara laki-laki. Muda. Keras, tapi bergetar di ujungnya. Seperti orang yang ketakutan tapi berusaha keras terdengar berani.
Dua orang itu menoleh. Tangan di mulutku mengendur sedikit.
“Lepasin dia.”
Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dia berdiri di mulut tikungan gang, siluet dengan cahaya samar di belakangnya. Kurus. Tinggi. Membawa sesuatu di punggung. Sesuatu yang besar dan berbentuk aneh.
Kacamata. Aku melihat kilau kacamata.
“Jalan terus, Dek,” kata si jaket kulit. “Bukan urusan lo.”
“Lepasin dia. Terus pergi. Saya nggak akan lapor siapa-siapa.”
Si kaus hitam melepaskan pergelangan tanganku. Aku merosot. Kepalaku membentur tembok bata. Keras.
Dunia menjadi putih.
Aku tidak ingat semuanya. Dokter bilang itu wajar.
Yang kuingat adalah suara-suara. Bunyi benturan. Sesuatu yang keras mengenai sesuatu yang lain. Umpatan. Lalu teriakan. Teriakan yang membuat darahku membeku, bahkan dalam keadaan setengah sadar. Bukan teriakan marah. Teriakan sakit.
Lalu lagi. Dan lagi.
Lalu langkah kaki yang berlari menjauh. Memercik genangan. Makin jauh. Hilang.
Lalu sunyi.
Aku terbaring di tembok, setengah duduk, setengah jatuh. Kepalaku berdenyut. Pandanganku berputar. Seluruh tubuhku gemetar begitu hebat sampai gigiku bergemeletuk.
Lalu ada seseorang di dekatku.
Aku tidak bisa melihat wajahnya. Terlalu gelap, dan mataku tidak mau fokus. Aku hanya melihat bentuk. Seseorang yang merangkak ke arahku. Pelan. Dengan cara yang aneh. Seperti hanya satu tangannya yang bekerja.
Dan aku mencium sesuatu. Besi. Seperti bau uang logam. Kuat sekali.
“Hei,” katanya. Suaranya serak. Sangat dekat. “Hei. Mereka udah pergi.”
Aku ingin menjawab. Bibirku bergerak. Tidak ada suara.
Lalu sesuatu yang hangat menyentuh tanganku.
Tangan. Tangannya. Di atas tanganku yang gemetar. Hangat, di tengah semua dingin itu. Hangat seperti satu-satunya hal yang hangat di dunia.
“Udah, udah,” bisiknya. “Jangan takut.”
Aku menangis. Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.
“Udah, udah. Jangan takut. Nggak ada yang bakal nyakitin kamu lagi.”
Suaranya rendah. Pelan. Seperti orang menyanyikan lagu pengantar tidur. Aku berpegangan pada suara itu. Aku berpegangan pada tangan itu. Jari-jariku, yang gemetar dan dingin, bergerak sendiri. Menggenggam jarinya.
Aku merasakan dia terdiam sebentar. Seperti terkejut.
Lalu jarinya menggenggam balik. Lemah. Tapi menggenggam.
“TOLONG!”
Dia berteriak. Tiba-tiba. Begitu keras sampai aku tersentak. Tapi tangannya tidak melepaskan tanganku.
“TOLONG! SIAPA AJA! ADA ORANG LUKA DI SINI!”
Suaranya pecah di ujung. Seperti orang yang menghabiskan napas terakhirnya.
Lalu cahaya. Senter. Suara-suara. Langkah kaki banyak orang.
Dan genggaman di tanganku melemah. Perlahan. Seperti air yang merembes dari telapak tangan.
Aku mencoba menggenggam lebih erat. Aku tidak mau dia pergi. Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku tidak mau dia pergi.
Tangannya lepas.
Seseorang mengangkatku. Bapak-bapak dengan celemek, bau bawang goreng. Neng, Neng, sadar, Neng. Seseorang menemukan dompetku di genangan. Seseorang bilang telepon ambulans, yang cowok parah. Seseorang bilang darahnya banyak banget.
Aku mencoba menoleh. Mencoba melihatnya.
Aku hanya melihat bentuk di tanah. Tidak bergerak. Di tengah genangan yang warnanya salah. Dan sesuatu di sebelahnya, hitam dan besar, yang tidak bisa kukenali.
Lalu gelap.
Aku bangun di kamarku sendiri.
Lampu menyala. Semua lampu. Lampu kamar, lampu meja, lampu tidur, lampu kamar mandi. Mama duduk di sebelah kasurku, memegang tanganku, dengan mata yang merah dan bengkak.
“Nes,” bisiknya. “Sayang.”
“Ma,” kataku. Suaraku serak. “Ma, cowok itu.”
Wajah Mama berubah. Sedikit. Sesuatu yang cepat, yang tidak kupahami saat itu.
“Dia udah ditangani, sayang,” kata Mama. “Keluarganya yang ngurus. Dia baik-baik aja.”
“Aku mau ketemu dia.”
“Nanti, sayang. Kamu istirahat dulu.”
“Ma—”
“Nanti.” Mama mencium dahiku. “Tidur, Nes. Mama di sini.”
Aku tidur. Dengan semua lampu menyala.
Aku bertanya lagi seminggu kemudian. Dan sebulan kemudian. Dan tiga bulan kemudian, di kosan Tasya, di mana aku tidur karena tidak berani tidur sendiri di rumah. Mama selalu menjawab hal yang sama. Dia baik-baik aja. Dia nggak mau dicari. Kita harus hormati itu.
Aku percaya.
Aku sembilan belas tahun, dan aku takut pada lorong perpustakaan yang lampunya redup, dan aku percaya.
Aku tidak pernah melupakan suaranya.
Aku mencarinya di mana-mana. Di kampus, di antara mahasiswa yang lewat. Di kafe, di antara pria yang bicara pelan. Di acara kantor, di rapat, di lift. Setiap kali ada suara laki-laki yang rendah dan serak dan pelan, jantungku berhenti sebentar, dan aku menoleh.
Tidak pernah dia.
Aku lulus. Umur dua puluh dua. Di hari wisuda, setelah foto-foto dengan Papa dan Mama dan Tasya, aku berdiri sendirian di depan gedung rektorat, menatap langit sore, dan berbisik ke udara: Makasih. Siapa pun kamu. Aku lulus. Karena kamu.
Tidak ada yang mendengar.
Aku masuk Atma & Corp. Umur dua puluh tiga. Staf biasa. Papa bilang aku harus mulai dari bawah. Aku setuju. Aku belajar nama semua orang. Satpam, OB, sopir truk, kepala gudang. Aku tidak tahu kenapa itu penting bagiku. Hanya terasa penting. Seperti setiap orang yang lewat di hidupku layak diingat namanya.
Mungkin karena ada satu orang yang namanya tidak pernah kutahu.
Umur dua puluh enam, aku jadi manajer. Aku masih menyalakan lampu jauh setiap kali masuk basement kantor. Aku masih tidak bisa masuk lift yang lampunya berkedip. Aku masih tidur dengan lampu tidur menyala.
Dan kadang, di malam yang sunyi, aku masih mendengar suara itu.
Udah, udah. Jangan takut.
Delapan tahun kemudian.
Pagi itu, truk kami nyasar ke Madura.
Aku menghabiskan dua puluh menit di telepon dengan sopir dan kepala gudang Surabaya, mencoba mencari tahu bagaimana truk yang seharusnya ke Sidoarjo bisa menyeberang jembatan Suramadu. Sopirnya bilang Google Maps yang salah. Aku terlambat ke kickoff meeting proyek sistem baru.
Aku berlari dari lift ke ruang rapat, map di satu tangan, ponsel di tangan yang lain. Aku masuk. Aku minta maaf. Aku menyalami semua orang. Pak Hartono, Mas Doni, Pak Bambang.
Lalu dua orang dari vendor. Yang satu muda dan berisik, yang langsung menyebut zodiaknya. Yang satu lagi tinggi, berkacamata, dengan senyum kecil di sudut bibir.
“Rafa,” katanya. “Rafa Elvano. System analyst.”
Suaranya rendah. Tenang.
Aku tidak berhenti. Tidak menoleh dua kali. Suara itu tidak serak. Tidak pecah. Tidak berbisik di tengah gelap dan bau besi. Itu hanya suara vendor yang profesional, di ruang rapat yang terang, di Selasa pagi yang biasa.
Aku menyimpan namanya. Seperti aku menyimpan nama semua orang.
Rapat selesai. Semua orang berkemas. Aku sedang membaca pesan dari gudang Surabaya ketika aku sampai di pintu kaca yang berat itu. Di belakangku, seseorang berjalan dengan tangan penuh. Laptop, map, ponsel. Aku tidak melihat siapa.
Aku menahan pintunya dengan punggung. Mataku masih di ponsel.
“Lanjut, Mas Rafa,” kataku. “Saya tahan.”
Dia melewatiku.
Aku melepas pintu, dan berjalan ke arah lain, dan langsung menelepon Surabaya lagi.
Aku tidak menoleh. Aku tidak melihat pria berkacamata itu berdiri di koridor lebih lama dari yang perlu, dengan tangan kiri di saku, dan telinga yang merah.
Aku tidak tahu, pagi itu, bahwa aku baru saja menahan pintu untuk orang yang delapan tahun lalu menahan pisau untukku.
Aku tidak tahu bahwa tangan yang menggenggam jariku di gang gelap itu sekarang tersembunyi di saku celananya, tiga langkah di belakangku.
Aku tidak tahu apa-apa.
Tapi Mama benar, soal jepit bulan sabit itu. Bulan dan bintang. Supaya aku selalu tahu jalan pulang.
Butuh delapan tahun. Tapi aku menemukannya.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain reading
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari