Chapter Twenty Three
Operasi Bikin Merah
POV: Vannesa
Tasya membuat presentasi.
Aku tidak bercanda. Selasa pagi jam tujuh, sebelum kantor ramai, dia menyeretku ke ruang rapat kecil di ujung lantai sembilan, menutup tirai, menyalakan proyektor, dan menampilkan slide pertama dengan huruf kapital berwarna merah muda:
OPERASI BIKIN MERAH Strategi Komprehensif Penaklukan Vendor Disusun oleh: Tasya, S.E. (Konsultan Asmara Bersertifikat)
“Sya,” kataku. “Kamu begadang bikin ini?”
“Sampai jam dua,” katanya bangga. “Gilang bantu desain.”
“Gilang?”
“Dia jago Canva. Ternyata.” Tasya mengklik slide berikutnya. Sebuah diagram lingkaran berjudul Analisis Target. “Oke. Target: Rafa Elvano. Dua puluh delapan tahun. Kelemahan utama: memerah. Kekuatan utama: menghindar dengan sopan. Tingkat kesulitan: tinggi.”
“Kenapa tinggi?”
“Karena dia udah delapan tahun latihan mundur, Nes.” Tasya menatapku serius. “Kita nggak bisa pakai strategi biasa. Kita harus pakai serangan frontal. Tanpa ampun. Setiap hari.”
Slide berikutnya. Fase 1: Invasi Wilayah.
“Kursi sebelah kirinya,” kata Tasya, mengetuk layar dengan pulpen. “Itu wilayahmu. Kamu klaim. Setiap hari. Nggak ada yang boleh duduk di situ selain kamu.”
“Aku udah selalu duduk di situ.”
“Iya, tapi sekarang dengan niat.”
Slide berikutnya. Fase 2: Serangan Verbal. Di bawahnya ada daftar kalimat. Aku membaca kalimat pertama dan hampir tersedak kopiku.
“Sya. Aku nggak mungkin bilang itu.”
“Kenapa nggak?”
“Itu… itu terlalu.”
“Nes.” Tasya meletakkan pulpen. “Kamu nolak Brand Director paling ganteng di perusahaan. Kamu nangis di klinik adiknya. Kamu udah dibilangin di depan satpam lobi bahwa dia suka kamu. Kita udah lewat tahap terlalu. Kita sekarang di tahap all-in.”
Tasya mengklik slide berikutnya sebelum aku bisa protes. Fase 3: Kontak Fisik (Terbatas). Di bawahnya hanya ada satu kalimat: Menunggu perkembangan. Jangan buru-buru. Target mudah pingsan.
“Target mudah pingsan?”
“Gilang yang nulis,” kata Tasya. “Katanya waktu Rafa kamu bukain botol di Cikarang, dia hampir jatuh dari palet.”
“Dia nggak hampir jatuh.”
“Gilang saksi, Nes. Gilang bilang dia goyang.”
Slide terakhir. Fase 4: ??? Dengan gambar emoji cincin, emoji kue pengantin, dan tiga emoji bayi.
“Sya, kenapa ada tiga bayi?”
“Gilang yang nambahin. Katanya biar optimis. Dia juga minta dicantumin sebagai pengiring pengantin.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Tasya, tanpa belas kasihan, mengklik mundur ke slide Fase 2.
Aku menatap daftar itu lagi. Kalimat-kalimat yang, kalau diucapkan ke pria lain, akan membuatku terdengar seperti tokoh sinetron jam sepuluh malam.
Tapi kalau diucapkan ke Rafa…
Aku membayangkan wajahnya. Telinganya yang merah duluan. Lalu lehernya. Lalu kacamatanya yang berembun.
Aku tersenyum.
“Oke,” kataku. “Aku coba.”
Aku tidak menceritakan pada Tasya bagian yang paling berat.
Bahwa semalam, sebelum tidur, aku duduk lama di tepi kasur dengan senter perak di tangan, dan bertanya pada diriku sendiri apakah yang akan kulakukan ini adil.
Aku tahu rahasianya. Dia tidak. Aku akan mengejarnya, menggodanya, membuatnya percaya bahwa aku menyukainya, dan selama itu aku menyimpan sesuatu yang bisa menghancurkan semuanya.
Tapi aku juga tahu ini: aku menyukainya sebelum aku tahu. Chat jam 23.47 itu nyata. Rooftop itu nyata. Gaun biru muda itu nyata. Semua yang kurasakan sebelum Selasa malam itu milikku, bukan milik rasa bersalah.
Jadi aku memutuskan satu hal. Setiap godaan yang akan kuucapkan, setiap kalimat yang akan membuatnya memerah, harus datang dari bagian diriku yang itu. Bagian yang sudah jatuh cinta sebelum tahu harga yang dia bayar.
Bukan dari utang. Dari aku.
Jam delapan, aku menaruh kopi di mejanya.
Bukan kopi pantry. Kopi dari kafe di lobi, yang antreannya panjang. Aku antre dua puluh menit. Di tutup gelasnya, aku menempelkan catatan tempel kuning. Catatan tempel kuning yang sama dengan yang dia pakai dulu.
Tanpa gula. Aku tahu kamu nggak suka manis. Kecuali aku. — V.
Aku menaruhnya, lalu langsung berjalan ke ruanganku tanpa menoleh.
Dari balik partisi kaca, aku melihatnya datang lima menit kemudian. Dia melihat gelas kopi itu. Mengambilnya. Membaca catatannya.
Lalu dia berhenti bergerak sepenuhnya.
Satu detik. Dua detik. Telinganya berubah warna. Lalu lehernya. Lalu dia menaruh kopi itu dengan sangat pelan di meja, seperti menaruh bom yang belum dijinakkan, dan duduk, dan membuka laptop, dan menatap layar tanpa mengetik apa-apa.
Di meja sebelahnya, Gilang membaca catatan itu dari samping. Mulutnya terbuka. Lalu dia menoleh ke ruanganku dan mengacungkan dua jempol dengan wajah seperti orang yang baru menyaksikan gol di menit terakhir.
Aku mengambil pulpen dan menulis di sudut agendaku.
Merah: 2.
Rapat evaluasi mingguan jam sepuluh. Dua belas orang di ruang rapat besar. Pak Bambang lewat video call dari Semarang.
Aku duduk di sebelah kiri Rafa.
Ini bukan kebetulan lagi. Aku masuk ruang rapat lima menit lebih awal, melihat kursi mana yang dia pilih, dan langsung menaruh laptopku di kursi sebelah kirinya. Mas Doni, yang biasanya duduk di sana, menatap laptopku, menatapku, lalu pindah ke kursi lain tanpa berkata apa-apa. Aku melihatnya tersenyum kecil sambil duduk.
Seluruh lantai sembilan sudah tahu. Kemarin sore, kejadian di lobi menyebar lebih cepat dari gosip lift. Bu Yanti bahkan memberiku dua potong kue lapis pagi ini, tanpa berkata apa-apa, hanya menepuk tanganku dengan wajah penuh arti.
Rafa mempresentasikan progres uji coba gudang Semarang. Dia berdiri di depan layar, menjelaskan grafik dengan suara tenang, dan dia tersenyum kecil setiap kali Pak Bambang di layar video menyela dengan komentar bangga.
Dia menoleh ke meja sekali, untuk menjawab pertanyaan Om Darmo. Matanya melewatiku.
Dan dia tersenyum. Senyum kecil yang sama. Di sudut bibir.
Aku mengambil ponselku, di bawah meja, dan mengetik.
Jangan senyum kayak gitu di rapat. Aku nggak bisa konsentrasi. Kamu yang tanggung jawab.
Aku menekan kirim.
Di depan layar, ponsel di saku celana Rafa bergetar. Aku melihatnya melirik ke bawah sekilas. Dia tidak mengeluarkan ponselnya. Dia melanjutkan presentasi. Tapi tiga puluh detik kemudian, di tengah kalimat soal akurasi pemindaian barcode meningkat tiga puluh persen, dia mengeluarkan ponselnya dan membaca pesanku, dengan cepat, sambil pura-pura mengecek waktu.
Dia berhenti bicara.
Di tengah kalimat. Di depan dua belas orang dan satu Pak Bambang.
“…meningkat tiga puluh,” katanya. Lalu diam.
“Tiga puluh persen, Mas?” tanya Om Darmo.
“Tiga puluh…” Rafa menatap layar. Menatap grafiknya sendiri seperti baru pertama kali melihatnya. “Persen. Iya. Tiga puluh persen.”
Di layar video, Pak Bambang mencondongkan badan ke kamera. “Mas Rafa? Kok merah? Sakit, Mas?”
Dua belas orang menoleh ke Rafa. Lalu, satu per satu, entah kenapa, menoleh ke aku.
Aku menatap laptopku dengan konsentrasi luar biasa.
“AC-nya, Pak,” kata Rafa. “AC-nya panas.”
“AC kok panas, Mas?”
“Rusak, Pak.”
Di sebelahku, Tasya menunduk sangat dalam ke catatannya, bahunya berguncang. Gilang, di ujung meja, menggigit kepalan tangannya sendiri.
Merah: 4.
Siang itu, aku menjalankan Fase 2 dengan sungguh-sungguh.
Aku duduk di sebelah kirinya di meja vendor, seperti biasa, dengan laptop dan dokumen. Kami bekerja. Sungguhan bekerja. Aku tidak mau jadi manajer yang mengabaikan proyek demi menggoda vendor. Tapi di sela-sela pekerjaan, aku menyelipkan serangan-serangan kecil.
Ketika dia menjelaskan alur data pelacakan armada:
“Mas Rafa, pertanyaan teknis.”
“Ya?”
“Kalau aku duduk di sini terus, sistem jantung kamu crash nggak?”
Dia menatapku. Aku menatapnya dengan wajah sangat serius, seperti sedang menanyakan soal bug.
“Itu… bukan pertanyaan teknis,” katanya.
“Itu pertanyaan teknis. Jantung itu sistem. Kamu system analyst. Analisis.”
Telinganya merah. Merah: 5.
Ketika dia mengambil gelas kopi yang kubelikan tadi pagi, yang sudah dingin, dan meminumnya sampai habis:
“Kopinya enak?”
“Enak.”
“Tanpa gula, kan?”
“Iya.”
“Nggak kurang manis?”
“Nggak.”
“Soalnya aku nulis kecuali aku. Kamu belum komentar soal itu.”
Dia tersedak. Batuk-batuk. Gilang, di meja sebelah, langsung menyodorkan tisu tanpa menoleh, seperti asisten dokter bedah yang sudah tahu alat apa yang dibutuhkan. Merah: 6.
Ketika dia melepas kacamata untuk mengelapnya, karena, tentu saja, kacamatanya berembun:
“Kacamata kamu berembun.”
“AC-nya—”
“Aku yang bikin panas, ya?”
Dia berhenti mengelap. Kacamata di tangannya. Tanpa kacamata, dia terlihat berbeda. Lebih muda. Matanya lebih lembut, sedikit menyipit karena tidak bisa melihat jelas. Dia menatap ke arahku, dan aku tahu dia hanya melihat bentuk kabur.
Tapi wajahnya memerah. Seluruhnya. Dari dagu sampai dahi.
“Vannesa,” katanya pelan. “Aku kerja di sini.”
“Aku juga kerja di sini.”
“Kamu klien.”
“Kamu vendor. Klien selalu benar.” Aku tersenyum. “Pakai lagi kacamatanya. Kamu nggak bisa lihat aku senyum kalau nggak pakai.”
Dia memakai kacamatanya lagi. Melihat senyumku.
Merah: 7.
Menjelang sore, dia akhirnya bicara.
Kami berdua di pantry. Kebetulan, sungguhan kebetulan kali ini. Aku mau mengisi botol minum, dan dia sedang mencuci gelas kopi yang tadi pagi. Mencuci gelas dengan satu tangan, di bawah keran, memutar gelasnya perlahan.
Aku berdiri di sebelahnya. Menunggu dispenser penuh.
“Vannesa,” katanya tanpa menoleh.
“Hm?”
“Yang kemarin. Di lobi.” Dia terus memutar gelas di bawah air. “Kamu nggak perlu… kamu nggak perlu ngelakuin ini.”
“Ngelakuin apa?”
“Ini.” Dia mematikan keran. Menaruh gelas di rak pengering. Akhirnya menatapku. “Kopi. Catatan. Pesan di rapat. Kamu nggak perlu. Aku ngerti kamu orang baik. Kamu nggak mau aku ngerasa malu soal kemarin. Tapi kamu nggak perlu pura-pura—”
“Aku nggak pura-pura.”
Dia berhenti.
“Kamu pikir ini apa?” tanyaku. “Kamu pikir aku godain kamu karena kasihan? Karena adikmu teriak di lobi, terus aku nggak enak hati?”
Dia tidak menjawab. Tapi wajahnya menjawab. Itu persis yang dia pikirkan.
Aku menarik napas. Mengambil botol minumku dari dispenser, yang sudah penuh dan hampir meluap, lagi.
“Rafa,” kataku. “Besok kita ngobrol. Beneran ngobrol. Kamu boleh bilang semua yang mau kamu bilang. Semua alasan kenapa aku harusnya berhenti. Aku bakal dengerin semuanya.”
“Oke.”
“Tapi hari ini belum selesai.”
Dia mengerjap. “Belum selesai?”
Aku melangkah mendekat. Satu langkah. Cukup dekat sehingga aku harus sedikit mendongak untuk menatap matanya. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium sabun cuci piring di tangannya dan sesuatu yang lain, sesuatu seperti kayu dan kertas, yang mungkin adalah wanginya sendiri.
“Kamu tahu,” kataku pelan, “kamu wangi.”
Dia membeku.
“Parfum apa?” tanyaku.
“Aku—aku nggak pakai parfum.”
“Oh.” Aku tersenyum. “Berarti itu wangi kamu. Nggak usah dijawab lagi. Biar aku cari tahu sendiri nanti.”
Lalu aku mundur, mengambil botolku, dan berjalan keluar dari pantry tanpa menoleh.
Di koridor, aku bertemu Bu Yanti yang membawa nampan. Dia menatapku, lalu menatap pintu pantry di belakangku, dari mana tidak ada suara apa-apa kecuali, setelah beberapa detik, bunyi gelas yang terjatuh ke wastafel.
Bu Yanti tersenyum lebar dan melanjutkan berjalan, bersenandung.
Merah: 8.
Aku tidak melihatnya. Tapi aku tahu.
Malam itu, di rumah, aku duduk di kasur dengan ponsel.
Aku membuka chat dengan Rafa. Pesan terakhirnya dari jam empat sore, setelah pantry: Kamu jahat.
Aku tersenyum dan mengetik.
Merah hari ini: 9.
Balasannya datang dua menit kemudian.
Kok 9? Aku hitung paling 3.
Kamu nggak bisa lihat telinga kamu sendiri. Aku bisa.
Yang ke-9 kapan?
Barusan. Waktu kamu baca pesan ini.
Hening. Tanda dibaca muncul. Tidak ada balasan.
Aku menunggu. Satu menit. Dua menit.
Lalu:
…Iya. Itu 9.
Aku menutup wajah dengan bantal dan menjerit ke dalamnya. Sebentar. Pelan. Supaya Mama tidak dengar.
Lalu aku mengetik lagi.
Besok targetku 15.
Vannesa, aku mohon.
Mohon apa?
Kasihani aku.
Aku menatap kalimat itu. Lalu tersenyum, pelan, lebar, sampai pipiku sakit.
Nggak mau, tulisku. Aku nggak mau kasihan sama kamu. Nggak pernah. Itu justru intinya.
Tidak ada balasan setelah itu.
Tapi tanda sedang mengetik muncul dan hilang, muncul dan hilang, selama sepuluh menit penuh. Dan aku tertidur sebelum dia berhasil memutuskan apa yang ingin dia katakan.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah reading
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari