← Yang Kiri buat Aku

Chapter Twenty

Udah, Udah

POV: Vannesa

Aku tidak tidur sama sekali. Jam enam pagi, aku mandi, berpakaian, dan berdiri di depan cermin selama sepuluh menit, mencoba menutupi mata bengkak dengan concealer. Concealer itu kalah telak.

“Kamu kelihatan kayak habis ditonjok,” kata Tasya begitu melihatku di lift.

“Makasih, Sya.”

“Aku serius. Kamu kenapa?” Dia memelankan suara. “Mamamu gimana? Kemarin satu gedung nanya-nanya.”

Aku menatap angka di atas pintu lift. Delapan. Sembilan. Pintu terbuka.

“Nanti,” kataku. “Makan siang. Di luar. Jauh dari kantor.”

Tasya menatapku lama. Lalu mengangguk tanpa bertanya lagi. Itu salah satu hal yang paling kusukai darinya: dia tahu kapan harus berhenti bertanya.

Aku melangkah keluar dari lift, dan hal pertama yang kulihat adalah dia.

Rafa sedang berdiri di dekat mesin fotokopi, menunggu dokumennya tercetak. Tangan kanan memegang secangkir kopi. Tangan kiri di saku. Seperti setiap pagi. Seperti yang sudah kulihat puluhan kali selama dua bulan ini.

Tapi pagi ini aku melihatnya dengan mata yang berbeda.

Mesin fotokopi berhenti. Dia menaruh cangkir kopinya di atas mesin, mengambil tumpukan kertas dengan tangan kanan, merapikannya dengan mengetuk-ngetukkan ujungnya ke permukaan mesin, lalu menjepitnya di bawah lengan kanan. Lalu dia mengambil cangkir kopinya lagi. Empat gerakan untuk sesuatu yang bagi orang lain hanya butuh satu.

Dia melakukannya dengan cepat. Rapi. Seperti sudah ribuan kali.

Delapan tahun. Ribuan kali. Karena aku.

Kakiku berhenti di tengah koridor.

Lalu dia menoleh, dan melihatku, dan tersenyum. Senyum kecil di sudut bibir. Senyum yang sama.

“Pagi,” katanya. “Mamamu udah enakan?”

Aku membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.

Aku melihat senyumnya berubah sedikit. Khawatir. Dia melangkah mendekat. “Vannesa? Kamu nggak apa-apa?”

“Aku—” Suaraku pecah. Aku menelan ludah. “Aku nggak apa-apa. Mama udah enakan. Makasih udah nanya.”

Lalu aku berjalan ke ruanganku dengan langkah yang terlalu cepat, dan menutup pintu, dan bersandar di baliknya dengan mata tertutup.

Aku tidak bisa menatapnya.

Bagaimana aku bisa menatapnya?

Sepuluh menit kemudian, pintuku diketuk. Gilang menyembulkan kepala, membawa segelas teh hangat dengan wajah sangat serius.

“Bu,” katanya. “Kiriman.”

“Dari siapa?”

“Dari… orang yang nggak mau disebut namanya, Bu.” Dia menaruh gelas itu di mejaku. “Orangnya pakai kacamata. Tinggi. Tangannya satu di saku. Tapi saya nggak boleh bilang siapa.”

Aku menatap gelas teh itu. Uapnya naik pelan.

“Katanya,” lanjut Gilang, “Ibu kelihatan kurang tidur, dan teh lebih baik daripada kopi kalau lagi kurang tidur. Katanya juga, jangan dijawab kalau nggak mau. Katanya Ibu nggak perlu ngapa-ngapain. Cukup diminum aja.”

Aku menunduk supaya Gilang tidak melihat wajahku.

“Makasih, Mas Gilang,” kataku.

“Sama-sama, Bu.” Dia berhenti di ambang pintu. “Bu. Boleh saya bilang sesuatu yang bukan urusan saya?”

“Boleh.”

“Bang Rafa dari tadi nggak ngetik apa-apa. Dia cuma ngelihatin pintu Ibu.” Gilang menggaruk tengkuk. “Udah, itu aja. Permisi, Bu.”

Aku memegang gelas teh itu dengan dua tangan sampai tehnya dingin.


“Oke,” kata Tasya. “Oke. Tunggu. Aku perlu… aku perlu sebentar.”

Kami duduk di pojok kafe kecil di Kuningan, dua puluh menit naik taksi dari kantor. Tempat yang tidak mungkin didatangi karyawan Atma & Corp. Kopi Tasya sudah dingin di depannya. Dia belum menyentuhnya sejak aku mulai bercerita.

Aku sudah menceritakan semuanya. Mama. Rumah sakit jam dua pagi. Kacamata retak. Gadis berkaus kucing di lantai koridor. Kasir. Delapan tahun.

Dan lift. Dan suara itu.

Tasya menatap meja. Lalu menatapku. Lalu menatap meja lagi.

“Rafa,” katanya pelan. “Rafa kita. Rafa yang bacain spesifikasi teknis. Itu orangnya.”

“Iya.”

“Yang nolong kamu di gang.”

“Iya.”

“Dan tangannya—”

“Iya, Sya.”

Tasya menutup mulut dengan tangan. Matanya berkaca-kaca. Tasya jarang menangis. Tasya bahkan tidak menangis waktu kucingnya mati. Tapi sekarang dia menatapku dengan mata basah dan tidak bisa bicara.

“Aku ingat kamu waktu itu,” bisiknya akhirnya. “Semester tiga. Kamu nggak masuk dua minggu. Terus kamu masuk lagi, dan kamu nggak mau lewat lorong perpustakaan karena lampunya redup. Kamu tidur di kosanku tiga bulan karena nggak berani tidur sendiri.”

“Aku ingat.”

“Aku selalu mikir, orang yang nolong kamu itu siapa. Aku selalu mikir, dia pasti orang baik banget.” Suaranya bergetar. “Aku nggak pernah mikir dia bayar pakai tangannya.”

Kami diam lama. Pelayan kafe datang menawarkan menu. Kami berdua menggeleng tanpa menoleh.

“Terus,” kata Tasya akhirnya, menyeka matanya dengan tisu. “Kamu mau bilang dia?”

Aku sudah memikirkan pertanyaan itu sepanjang malam. Dari jam tiga pagi, ketika aku menyadari suara itu, sampai azan subuh, sampai matahari terbit. Aku memikirkannya dari setiap sudut. Dan setiap kali, aku sampai di jawaban yang sama.

“Belum,” kataku.

Tasya mengerjap. “Belum?”

“Belum sekarang.”

“Nes. Kenapa?”

Aku menatap cangkir kopiku. Memikirkan cara menjelaskannya.

“Kamu tahu dia kayak gimana, Sya. Kamu lihat sendiri. Dia selalu mundur duluan. Dia bilang dia tahu batas. Dia nggak pernah berharap apa-apa buat dirinya sendiri. Dia bahkan kirim semoga lancar waktu aku mau ditembak orang lain.” Aku menarik napas. “Kalau aku bilang sekarang, apa yang dia pikir?”

Tasya tidak menjawab.

“Dia bakal mikir semua yang aku lakuin itu balas budi,” kataku. “Semua yang udah aku lakuin. Makan siang. Senter yang aku pasang di kunci mobil. Aku nolak Kevin. Semuanya. Dia bakal mikir aku kasihan. Dia bakal mikir aku ngerasa berutang.” Suaraku bergetar. “Dan dia bakal mundur. Dengan sopan. Dengan senyum. Dia bakal bilang kamu nggak perlu bayar apa-apa, terus dia pergi, dan aku nggak akan pernah bisa buktiin kalau itu nggak bener.”

“Tapi itu nggak bener, kan?”

“Nggak.” Aku mengeluarkan ponselku. Membuka chat dengan Tasya. Menggulir ke atas, ke Jumat malam. Menunjukkan layarnya ke Tasya.

23.47. Karena aku suka Rafa. Serius, Sya. Bukan naksir-naksiran. Aku suka dia. Aku mau dia.

“Aku suka dia sebelum tahu,” kataku. “Aku nolak Kevin sebelum tahu. Aku punya buktinya. Tapi Rafa nggak akan percaya bukti. Rafa percaya sama kalimat di kepalanya sendiri. Kalimat yang udah delapan tahun dia ulang-ulang.”

“Kalimat apa?”

“Nggak ada cewek yang mau sama cowok kayak aku, kecuali karena kasihan.”

Tasya diam.

“Jadi aku mau dia tahu dulu,” lanjutku pelan. “Aku mau dia tahu aku suka dia karena dia. Karena dia bacain spesifikasi teknis. Karena dia bawain rendang padahal aku bohong. Karena dia bangga sama rekor sembilan detik. Aku mau dia percaya itu dulu, sepenuhnya, sampai nggak ada ruang buat ragu. Baru setelah itu aku bilang.”

Tasya menatapku lama. Dengan tatapan yang tidak kusukai. Tatapan yang terlalu jujur.

“Nes,” katanya pelan. “Kamu sadar nggak ini mirip sama apa?”

Aku tidak menjawab.

“Mamamu juga nggak bilang,” kata Tasya. “Karena dia takut kamu hancur. Mamamu pikir dia lagi ngelindungin kamu. Dan dia nunda, dan nunda, dan tahu-tahu delapan tahun.”

“Ini beda.”

“Beda gimana?”

“Aku nggak akan nunda delapan tahun. Aku cuma nunda sampai—”

“Sampai kapan?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Aku tidak tahu sampai kapan. Sampai dia percaya aku suka dia? Bagaimana aku tahu kapan dia percaya? Bagaimana aku tahu kapan saat yang tepat untuk menghancurkan semuanya dengan satu kalimat?

“Aku tahu ini mirip,” kataku akhirnya. Suaraku kecil. “Aku tahu, Sya. Aku mikirin itu dari jam empat pagi. Aku jadi Mama. Aku ngulang kesalahan Mama.” Aku menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangan. “Tapi aku nggak tahu cara lain. Aku nggak tahu cara bilang aku suka kamu dan aku cewek yang kamu tolong dalam satu napas tanpa yang kedua ngerusak yang pertama.”

Tasya mengulurkan tangan. Menggenggam tanganku di atas meja.

“Oke,” katanya. “Aku nggak setuju. Tapi aku ngerti.”

“Makasih.”

“Dan aku nggak akan bilang dia. Tapi Nes.” Dia meremas tanganku. “Jangan kelamaan. Rahasia itu kayak utang. Makin lama disimpan, bunganya makin besar.”


Mama menungguku di ruang tengah ketika aku pulang malam itu.

Wajahnya masih sembap. Tapi dia sudah mandi, sudah memakai baju rumah, rambutnya sudah disisir. Dia terlihat seperti orang yang sedang berusaha keras untuk kembali berfungsi.

“Nes,” katanya. “Mama mau ketemu dia.”

Aku berhenti di ambang pintu.

“Mama mau minta maaf. Dengan benar. Bukan kayak kemarin.” Mama menggenggam tangannya sendiri. “Mama mau ketemu orang tuanya juga. Adiknya. Mama mau berlutut di depan mereka. Delapan tahun Mama nunda. Mama nggak mau nunda lagi.”

Aku menatap Mama. Mama yang anggun, yang tidak pernah marah, yang bisa membuatmu merasa bersalah hanya dengan menghela napas. Mama yang sekarang siap berlutut di depan keluarga asing.

Dan aku mengatakan hal yang, kalau aku tahu apa akibatnya, tidak akan pernah kukatakan.

“Jangan dulu, Ma.”

Mama mengerjap. “Kenapa?”

“Kalau Mama ketemu dia sekarang, dia bakal tahu.” Aku berjalan mendekat. Duduk di sebelah Mama. “Dia bakal tahu aku cewek itu. Dan dia bakal mikir semua yang aku lakuin selama ini karena itu.”

“Semua yang kamu lakuin?”

Aku diam. Lalu aku mengatakannya. Pertama kali, di depan Mama.

“Aku suka dia, Ma.”

Mama menatapku. Wajahnya berubah perlahan. Kaget, lalu mengerti, lalu sesuatu yang sangat rumit dan sangat sedih.

“Sejak kapan?”

“Sebelum aku tahu. Sebelum kemarin.” Aku menunduk. “Aku nolak Kevin karena dia, Ma.”

Mama menutup mata. Lama.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Ya Tuhan, Nes.”

“Makanya jangan dulu, Ma. Biar aku. Biar aku yang bilang, pada waktunya. Setelah dia tahu aku serius.” Aku menggenggam tangan Mama. “Tolong, Ma. Tunggu sebentar.”

Mama menatapku. Dan aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang aku tidak ingin lihat.

Pengakuan.

Mama mengenali apa yang sedang kulakukan. Karena Mama pernah melakukannya. Menunda. Melindungi. Memilih diam demi seseorang yang disayangi.

“Nes,” katanya pelan. “Mama juga bilang tunggu sebentar ke diri Mama sendiri. Delapan tahun lalu.”

“Aku tahu, Ma.”

“Kamu yakin?”

Aku tidak yakin. Aku sama sekali tidak yakin.

“Sebentar aja, Ma,” bisikku. “Aku janji.”

Mama menarikku ke pelukannya. Menyisir rambutku dengan jari-jarinya, pelan, dari atas ke bawah, seperti waktu aku kecil.

Dia tidak berkata apa-apa lagi. Tapi aku merasakan jari-jarinya gemetar.


Di kamar, aku membuka laptop.

Aku mengetik nama di mesin pencari. Aku tidak bangga dengan ini. Tapi aku mengetiknya.

Kinan Elvano fisioterapis.

Hasil pertama adalah halaman profil di situs sebuah klinik fisioterapi di Rawamangun. Foto seorang perempuan muda berambut dikuncir, berseragam putih, dengan wajah serius yang langsung kukenali dari lantai tiga Kota Kasablanka. Perempuan yang berdiri di balik manekin. Yang menatap kami dengan mata detektif.

Di bawah fotonya: Kinan Elvano, S.Ft. Spesialisasi: rehabilitasi cedera saraf perifer dan bahu.

Cedera saraf perifer. Bahu.

Dia memilih spesialisasi itu. Tentu saja dia memilih spesialisasi itu.

Aku menatap tombol Buat Janji Temu di bagian bawah halaman.

Aku tahu ini ide buruk. Aku tahu Tasya akan bilang ini ide buruk. Aku tahu Kinan sudah melihat wajahku dan memasukkan namaku ke daftar yang judulnya aku tidak tahu.

Tapi Kinan adalah satu-satunya orang di dunia yang ada di sana. Di koridor rumah sakit itu. Di kamar tempat Rafa belajar lagi dari awal. Kinan tahu delapan tahun itu, setiap harinya.

Dan kalau aku mau mencintai Rafa dengan benar, aku harus tahu harga yang dia bayar. Semuanya. Bukan versi yang dia ceritakan sambil tersenyum di warung nasi goreng.

Aku menekan tombol itu.

Keluhan: aku mengetik. Lalu berhenti. Lalu mengetik lagi.

Bahu kaku.

Itu bukan sepenuhnya bohong. Bahuku memang kaku. Sejak semalam. Sejak aku duduk di lantai kamar Mama dan menangis sampai subuh.

Jadwal tersedia: Sabtu, 10.00.

Aku menekan Konfirmasi.

Lalu aku menutup laptop, mematikan lampu, dan berbaring dalam gelap dengan senter perak kecil di genggamanku. Tidak kunyalakan.

Udah, udah, bisikku pada diriku sendiri. Jangan takut.

Suaraku tidak semerdu suaranya. Tapi untuk malam ini, cukup.