← Yang Kiri buat Aku

Chapter Forty

Yang Kiri buat Aku

POV: Rafa

Butuh tujuh minggu untuk menulis empat baris.

Delapan tahun lalu, aku menulis tiga bait dalam satu malam, dengan gitar di pangkuan dan lampu studio yang berkedip. Tujuh minggu terakhir ini, aku duduk di kamar lamaku setiap Sabtu malam dengan buku tulis bersampul biru di pangkuan dan pulpen di tangan kanan, dan menulis, dan mencoret, dan menulis lagi.

Masalahnya bukan kata-katanya. Masalahnya, dulu aku menulis untuk seseorang yang belum ada. Mudah menulis untuk bayangan. Bayangan tidak punya tawa yang membuat kepalanya mendongak. Bayangan tidak menghitung merahmu sampai ratusan. Bayangan tidak belajar kunci D sampai ujung jarinya berdarah.

Menulis untuk orang yang nyata ternyata jauh lebih sulit. Karena setiap kata terasa terlalu kecil.

“Kak,” kata Kinan hari Kamis, dari ambang pintu kamar lamaku. “Udah?”

Aku menatap buku tulis di pangkuanku. Empat baris. Di bawah tiga bait yang kutulis delapan tahun lalu, dengan tinta yang berbeda warna.

“Udah,” kataku.

Kinan masuk dan membacanya dari balik bahuku. Lama. Lalu dia menegakkan badan, dan aku melihat matanya merah.

“Bagus,” katanya dengan suara serak. “Jelek. Maksudku bagus. Maksudku, aku benci Kakak.”

“Kamu nangis.”

“Aku alergi debu.” Dia menyeka mata dengan lengan kaus. “Sabtu, ya. Rooftop Bima. Jam tujuh.”

“Kamu yakin dia nggak curiga?”

Kinan menatapku dengan wajah paling polos yang pernah dibuat manusia. “Kak. Dia pikir Sabtu itu dia yang bikin kejutan buat Kakak.”

Aku mengerjap. “Hah?”

“Dia udah latihan tujuh minggu. D-nya udah nggak sumbang. Dia mau main lagu Kakak di rooftop Bima. Hari Sabtu. Buat Kakak.” Kinan tersenyum lebar. Senyum yang sangat berbahaya. “Dia minta aku pastiin Kakak datang. Kakak minta aku pastiin dia datang. Aku bilang iya ke dua-duanya.”

Aku menatap adikku.

“Nan,” kataku pelan. “Kamu agen ganda.”

“Aku fisioterapis,” katanya. “Aku terbiasa ngerjain dua tangan sekaligus.”


Aku tidak jadi ke Surabaya. Pak Surya memberiku proyek baru di Jakarta, dan ironisnya, proyek itu datang dari Pak Gunawan. Mitra bisnis Papa Vannesa yang berbisik kasihan di gala. Dia menelepon kantorku dua minggu setelah go-live, dengan suara canggung, dan bilang dia mau sistem yang sama persis dengan Atma & Corp. Dan Mas Rafa yang pegang, katanya. Harus Mas Rafa.

Aku tidak lagi menyembunyikan tangan kiriku di saku. Tidak di rapat dengan Pak Gunawan. Tidak di lift. Tidak di warung padang.

Kadang tangan itu di pangkuanku. Kadang di atas meja.

Paling sering, di genggaman seseorang.


Sabtu malam, rooftop kafe Bima penuh.

Aku tahu akan penuh. Aku yang mengundang semua orang. Tapi aku tidak menyangka akan sepenuh ini.

Lampu-lampu kuning kecil tergantung zig-zag di atas kepala, lebih banyak dari terakhir kali. Bima menambahkannya sendiri. Buat lo, Raf, gue tambahin dua ratus, katanya. Tanaman-tanaman dalam pot gantung. Meja-meja kayu kecil yang disusun melingkar, menyisakan ruang kosong di tengah. Dan di ruang kosong itu, satu kursi kayu. Satu gitar bersandar di sana. Gitarku. Badan kayu berwarna madu, dengan goresan kecil di sisinya.

Di sekeliling ruang kosong itu, semua orang.

Mama dan Papa. Mama memakai kebaya terbaiknya, dan Papa memakai kemeja batik yang terlalu kaku karena disetrika tiga kali. Pak Hendra dan Bu Ratna, duduk di sebelah Mama dan Papa. Bu Ratna dan Mama berpegangan tangan. Mereka sudah bertemu tiga kali dalam tujuh minggu ini. Pertama kali, di rumah pagar hijau, Bu Ratna berlutut di teras dan Mama menariknya berdiri dan memeluknya lama, dan dua ibu itu menangis bersama untuk dua anak yang dulu berada di dua ujung gang yang sama.

Tasya dan Gilang, yang sekarang tidak lagi berpura-pura tidak saling kenal. Gilang memakai kemeja paling rapi yang pernah kulihat, dan Tasya terus merapikan kerahnya. Mas Doni dan istrinya. Bu Yanti dengan kotak pisang goreng yang pinggirnya garing. Pak Tarno dengan kemeja batik, bukan seragam satpam, terlihat asing dan bangga. Mbak Rini dan Mbak Sari. Dimas. Om Darmo, yang duduk di pojok dengan wajah serius tapi datang tiga puluh menit lebih awal.

Pak Bambang, yang datang dari Semarang naik kereta, membawa satu karung beras dua puluh lima kilo yang dia letakkan di dekat tangga dengan pengumuman: Ini DP. Truknya nyusul.

Dan Kevin. Di meja paling belakang. Sendirian. Dia melihatku dan mengangkat gelasnya. Aku mengangguk.

Vannesa belum datang.

Kinan bilang dia akan datang jam tujuh tepat. Kinan bilang Vannesa mengira ini acara syukuran go-live yang diadakan Bima. Kinan bilang Vannesa akan membawa gitar bekasnya sendiri, yang dia beli di toko musik dekat kantor, karena dia tidak tahu gitarku sudah ada di sini.

Aku berdiri di dekat kursi kayu. Tangan kanan di saku jas. Di dalam saku itu, sebuah kotak kecil berlapis beludru biru.

Jantungku berdetak seperti drum Bima di malam-malam latihan dulu.


Jam tujuh tepat, pintu tangga terbuka.

Vannesa melangkah ke rooftop. Gaun biru muda. Gaun yang sama. Gaun yang kupilih di Kokas, yang dia pakai ke rooftop pria lain dan menolaknya. Rambut tergerai. Di punggungnya, tas gitar hitam.

Dia berhenti.

Dia melihat lampu-lampu kuning. Melihat meja-meja yang melingkar. Melihat semua orang. Mama dan Papanya. Mama dan Papaku. Tasya yang melambai. Gilang yang mengacungkan dua jempol. Pak Bambang yang menunjuk karung beras dengan bangga.

Lalu dia melihat kursi kayu di tengah ruangan. Dan gitar yang bersandar di sana.

Dan dia melihatku.

Aku melihat wajahnya berubah. Bingung. Lalu mengerti. Lalu dia menoleh cepat ke Kinan, yang berdiri di dekat tangga dengan wajah seorang pengkhianat yang sangat puas.

“KINAN,” katanya.

“Surprise,” kata Kinan.

“Kamu bilang ini syukuran go-live!”

“Iya. Syukuran. Go-live.” Kinan menunjuk aku. “Dia udah go-live. Tujuh minggu lalu. Dari Surabaya.”

Seluruh rooftop tertawa.

Vannesa menatapku. Pipinya merah. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia melepaskan tas gitar dari punggungnya, pelan, dan menaruhnya di lantai.

“Kamu tahu,” katanya. “Kamu tahu aku mau main buat kamu.”

“Kinan agen ganda.”

“Aku bakal bunuh Kinan.”

“Nanti,” kataku. “Sekarang, sini.”

Dia berjalan ke tengah ruangan. Ke arahku. Semua orang diam. Bahkan Pak Bambang berhenti menunjuk karung berasnya.

Aku duduk di kursi kayu. Mengangkat gitarku dengan tangan kanan. Menaruhnya di pangkuan. Badan gitar di paha kanan. Leher gitar menjulur ke kiri.

Ke arah tangan kiriku yang tergeletak di pangkuan. Diam.

Aku menatap Vannesa.

“Yang kiri,” kataku, “buat kamu.”

Dia menatapku lama. Lalu dia mengerti.

Dia berdiri di sisi kiriku. Dekat. Sangat dekat, sampai lengannya menempel di bahu kiriku yang tidak bisa merasakan apa-apa. Lalu dia mengulurkan tangan kirinya. Ke leher gitar. Ke papan fret.

Jari-jarinya menemukan senar. Aku melihat ujung-ujung jarinya. Tidak lagi merah dan melepuh. Sekarang ada kapalan kecil di sana. Di ujung telunjuk. Di ujung jari tengah.

Seperti kapalan di tangan kiriku yang dia temukan di saku, di Tebet.

“G,” bisiknya.

Jari-jarinya membentuk kunci G. Kencang. Tepat.

Aku memetik.


Bunyinya bersih.

G yang jernih, bulat, bergetar di udara malam. Pertama kalinya dalam delapan tahun, gitarku menghasilkan kunci yang utuh. Bukan senar terbuka yang sumbang. Kunci. Nada yang tersusun.

Aku mendengar Mama terisak di belakangku.

“C,” bisik Vannesa. Jari-jarinya pindah. Aku memetik.

“D.”

Aku menahan napas. Dia menahan napas. Jari telunjuk, jari tengah, jari manis. Segitiga kecil yang harus tepat.

Aku memetik.

D. Bersih. Tidak sumbang.

Di pojok, Kinan menutup mulut dengan kedua tangan dan menangis.

“Em.”

Dan kemudian kami memainkannya. Lagu itu. Lagu yang kutulis delapan tahun lalu di studio di bawah atap ini, yang tidak pernah selesai. Urutan kunci yang dia hafal dari foto buku tulis yang Kinan ambil diam-diam. Aku memetik dengan tangan kanan. Dia menekan kunci dengan tangan kiri. Dua orang. Satu gitar. Satu lagu.

Tiga bait pertama, aku menyanyikannya. Pelan. Suaraku bergetar. Lirik dari delapan tahun lalu, dari anak dua puluh tahun yang belum tahu apa-apa soal kehilangan. Lirik tentang seseorang yang belum datang. Tentang menunggu. Tentang yakin suatu hari dia akan ada.

Lalu kami sampai di bait keempat. Bait yang tidak pernah ada. Bait yang kutulis tujuh minggu terakhir, dengan tinta yang berbeda warna.

Vannesa tidak tahu bait itu. Kinan tidak memotretnya. Tapi kuncinya sama. G, C, D, Em. Dan dia terus menekan senar, sementara aku menyanyikan sesuatu yang belum pernah dia dengar.

Kalau tanganku tak lagi sampai,
biar kau yang menggenggam di sisi yang tak kurasa.
Aku yang petik, kau yang tekan —
satu lagu, dua tangan, cukup untuk kita.

Jari-jarinya di papan fret gemetar. Kunci terakhir, Em, keluar sedikit sumbang.

Aku tidak peduli. Tidak ada yang peduli.

Aku memetik senar terakhir, dan membiarkan bunyinya memudar di udara malam, di bawah dua ratus lampu kuning, di atas deretan ruko dan gang sempit yang sekarang terang benderang.

Rooftop itu sunyi.

Lalu seseorang mulai bertepuk tangan. Pak Tarno. Lalu Pak Bambang. Lalu semua orang. Tepuk tangan yang keras, panjang, dan basah, karena semua orang menangis sambil bertepuk tangan.

Vannesa tidak bertepuk tangan. Dia masih berdiri di sisi kiriku, tangan kirinya masih di leher gitar, menatapku dengan wajah yang basah total.

“Judulnya,” bisiknya. “Lagunya. Sekarang udah ada judulnya?”

Aku menaruh gitar, pelan, bersandar di kursi. Berdiri.

“Udah,” kataku.

“Apa?”

Aku tidak menjawab. Aku mengeluarkan kotak kecil berlapis beludru biru dari saku jas.

Rooftop itu sunyi lagi. Kali ini sunyi yang berbeda.


Aku berlutut.

Berlutut dengan satu tangan tidak pernah mudah. Aku sudah berlatih. Tujuh minggu. Di kamar lamaku, di depan cermin, dengan Kinan sebagai penonton dan pengkritik yang kejam. Terlalu goyang, Kak. Ulang. Lututnya jangan kena paku di lantai. Ulang. Satu lutut di lantai kayu. Tangan kanan menahan keseimbangan, lalu terangkat, memegang kotak kecil itu.

Dan di sini aku berhenti. Karena ada satu hal yang tidak bisa kulatih.

Aku tidak bisa membuka kotak itu dengan satu tangan sambil tetap menyodorkannya.

Aku menatap Vannesa. Dia menatapku dari atas, dengan tangan menutup mulut, dengan air mata yang terus mengalir.

Aku tersenyum.

“Vannesa,” kataku. “Aku pinjam tangan kirimu sebentar.”

Dia menatapku.

“Buat bukain ini,” kataku.

Seluruh rooftop tertawa. Tawa yang basah, yang pecah di tengah tangis. Aku mendengar Gilang berteriak YA ALLAH, BANG, dan Tasya memukul lengannya.

Vannesa tertawa juga. Dia menurunkan tangan dari mulutnya. Dan dengan tangan kirinya, tangan yang baru saja menekan kunci-kunci laguku, tangan dengan kapalan kecil di ujung jari, dia membuka tutup kotak itu.

Dia berhenti.

Di dalam kotak, di atas beludru biru, ada dua benda.

Sebuah cincin. Emas putih, sederhana, dengan satu batu kecil.

Dan di sebelahnya, sebuah jepit rambut. Perak. Kecil. Berbentuk bulan sabit. Dengan ukiran bintang kecil di ujung yang tebal.

Ujungnya tidak lagi bengkok. Aku membawanya ke tukang perak di Pasar Baru tiga minggu lalu. Bapak tua dengan kacamata tebal yang memperbaikinya dengan hati-hati luar biasa, dan menggosoknya sampai berkilau seperti baru. Hadiah buat siapa, Mas? tanyanya. Buat pemiliknya, jawabku. Dia kehilangan ini delapan tahun lalu.

Vannesa menatap jepit itu. Seluruh tubuhnya membeku.

“Itu—” bisiknya. “Itu—”

“Nyangkut di tudung jaketku,” kataku. “Malam itu. Kinan yang nemuin. Delapan tahun aku simpan di kantong casing gitar.”

Dia jatuh berlutut di depanku.

Di lantai kayu. Gaun biru muda menyentuh lantai. Sekarang kami sejajar. Dia menatap jepit itu, lalu menatapku, dan dia tidak bisa bicara.

Di belakangnya, aku melihat Bu Ratna menutup wajah dengan kedua tangan. Mama memeluknya.

Aku mengambil jepit itu dari kotak, dengan tangan kanan. Pelan. Aku menyibakkan rambut di sisi kiri kepalanya, di tempat jepit itu dulu terpasang, di foto di bawah pohon kamboja.

Aku memasangkannya. Klik.

Jepit bulan sabit itu kembali ke rambut pemiliknya. Setelah delapan tahun di tudung jaket berdarah dan kantong casing gitar yang penyok.

“Selamat datang pulang,” bisikku. Ke jepit itu. Ke dia.

Vannesa menangis. Terisak. Tangannya naik, menyentuh jepit di rambutnya dengan ujung jari yang gemetar.

Lalu aku mengambil cincin itu. Menatap tangannya.

Tangan kirinya.

“Vannesa Atmajaya,” kataku. Suaraku gemetar. Aku tidak mencoba menahannya. “Delapan tahun lalu, aku nolongin cewek di gang yang nggak aku kenal. Aku kehilangan tanganku. Aku nggak pernah nyesel. Aku nggak pernah minta apa-apa.”

Dia menatapku.

“Hari ini aku minta,” kataku. “Pertama kalinya. Aku minta sesuatu buat diriku sendiri.”

Aku menarik napas.

“Mau nikah sama aku?”


Dia tidak langsung menjawab.

Dia menatapku lama. Air mata mengalir. Jepit bulan sabit berkilau di rambutnya, di bawah dua ratus lampu kuning.

Lalu dia mengulurkan tangan kirinya ke arahku. Jari-jarinya terbuka. Jari manis di depan cincin.

“Yang kiri,” bisiknya, “buat aku.”

Aku tidak bisa melihat apa-apa. Kacamataku basah total. Aku memasangkan cincin itu di jari manis tangan kirinya dengan tangan kanan yang gemetar hebat, meleset sekali, dua kali, dan dia tertawa di sela tangisnya dan membantuku dengan tangannya yang lain, dan cincin itu akhirnya masuk.

“Mau,” katanya. “Mau. Ya ampun, Rafa, mau. Selamanya mau.”

Rooftop itu meledak.

Sorak-sorai. Tepuk tangan. Pak Bambang berteriak TRUKNYA BERANGKAT BESOK! Gilang memeluk Tasya dan menangis seperti bayi. Bu Yanti menjatuhkan kotak pisang goreng. Pak Tarno memberi hormat, tangan di dahi, seperti tentara, dengan wajah basah.

Aku tidak mendengar semuanya. Aku hanya melihat dia.

Dia mencondongkan badan ke arahku. Dan menciumku. Di lantai kayu rooftop, berlutut, di depan dua keluarga dan satu lantai kantor dan satu karung beras. Ciuman yang dalam, basah, asin karena air mata, dan tidak peduli siapa pun yang melihat.

Tangan kirinya, dengan cincin baru di jari manis, naik ke pipiku.

Tangan kananku di tengkuknya.

Tangan kiriku di pangkuanku.

Dan dia meraihnya. Di tengah ciuman. Mengangkatnya. Menaruhnya di pinggangnya. Menahannya di sana.

Aku tidak bisa merasakannya.

Aku tidak perlu.


Setelah itu, di tengah keributan, aku mendengarnya.

Dua suara di meja dekat pagar rooftop. Aku mengenal mereka. Dua perempuan dari divisi legal lantai dua belas, yang pernah berbisik di pantry lantai sembilan. Mereka datang karena Mbak Rini yang mengajak.

“…ya ampun,” bisik salah satunya. Suaranya basah. “Beruntung banget ceweknya.”

Vannesa, yang masih berlutut di depanku, masih memegang tanganku, mendengarnya juga. Dia menoleh ke arah suara itu.

Lalu dia tersenyum. Dan berkata, cukup keras supaya seluruh rooftop mendengar:

“Beruntung dua-duanya.”

Rooftop itu tertawa lagi. Dan aku menatapnya, perempuan yang memegang tangan kiriku di lantai kayu di bawah lampu kuning, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku percaya kalimat itu sepenuhnya.


Jauh kemudian, ketika semua orang sibuk. Papa Hendra memeluk Papa Yusuf yang kaku. Pak Bambang mengumumkan rencana truknya lewat mikrofon Bima. Kinan menunjukkan ponselnya pada Bu Ratna, dan aku melihat sekilas judul catatan yang sudah dia ganti. Bukan DAFTAR. Bukan DIAWASI. Satu kata: KELUARGA. Di tengah semua itu, Vannesa dan aku duduk di tepi rooftop. Bersandar di pagar. Menatap ke bawah.

Ke gang sempit di antara dua ruko.

Lampu di mulutnya menyala terang. Tembok yang dicat ulang. Seorang anak kecil berlari melintas sambil tertawa, dikejar ibunya.

“Delapan tahun lalu,” kata Vannesa pelan, “aku di situ.”

“Aku juga.”

“Kita berdua di situ. Dan kita nggak tahu.”

“Sekarang kita tahu.”

Dia menyandarkan kepalanya ke bahu kananku. Di bahu yang bisa merasakan.

“Rafa,” katanya.

“Hm?”

“Judul lagunya. Kamu belum jawab.”

Aku tersenyum. Aku menatap tangan kirinya di pangkuannya, dengan cincin di jari manis dan kapalan di ujung-ujung jari. Lalu tangan kiriku, di pangkuanku, di genggaman tangannya.

“Yang Kiri buat Aku,” kataku.

Dia tertawa. Pelan. Basah.

“Itu kalimatku.”

“Aku tahu. Makanya aku pakai.” Aku menoleh padanya. “Semua yang terbaik di lagu itu, kamu yang kasih.”

Dia menatapku. Lama. Lalu pipinya memerah. Pelan-pelan. Dari pipi sampai telinga, di bawah lampu kuning.

“Kamu merah,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku hitung. Tiga.”

“Kamu masih di angka tiga?” Dia tertawa. “Aku udah tiga ratus dua belas.”

Aku mengerjap. “Tiga ratus?”

“Tiga ratus dua belas. Dari lobi, dari hari Kinan teriak, sampai barusan.” Dia mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin itu di bawah cahaya. “Yang tadi waktu kamu bilang pinjam tangan kirimu, itu tiga ratus dua belas. Yang paling merah seumur hidupmu. Kacamatamu berembun sampai kamu nggak bisa pasang cincin.”

“Kamu masih bakal ngitung?”

“Sampai kamu tua,” katanya. “Sampai kamu kakek-kakek yang nggak bisa lihat telinganya sendiri. Aku yang lihat. Aku yang ngitung.”

Aku tertawa.

Dan di bawah kami, di gang yang sekarang terang, anak kecil itu berhenti berlari dan menatap ke atas. Ke rooftop. Ke dua orang yang duduk di tepi pagar di bawah lampu kuning, tertawa seperti orang bodoh.


Aku masih tidak bisa merasakan tangan kiriku.

Aku tidak bisa merasakan kancing kemeja atau tali sepatu atau botol yang kujepit di antara lutut. Aku tidak bisa merasakan senar gitar di bawah jari-jari yang dulu hafal setiap kunci. Aku tidak bisa merasakan tangan Vannesa yang menggenggamnya sekarang, di pangkuanku, dengan cincin baru di jari manisnya.

Delapan tahun lalu, aku mengira itu artinya aku kurang.

Sekarang aku tahu lebih baik.

Tangan itu memberi seseorang delapan tahun. Dan seseorang itu kembali, dan mengambil sisi kiri itu, dan bilang dia yang akan merasakan untuk kami berdua.

Aku tidak perlu merasakannya.

Karena ada yang merasakannya untukku.

Yang kanan buat aku. Buat kerja, buat mengetik, buat membuka botol, buat mengikat tali sepatu dalam delapan detik, buat memetik gitar.

Dan yang kiri, mulai sekarang, sampai kami tua, sampai dia berhenti menghitung karena angkanya sudah terlalu besar—

Yang kiri buat dia.

Tamat.