Chapter Twenty Six
Yang Kiri buat Aku
POV: Rafa
“Kamu masih utang martabak,” kata Vannesa hari Jumat sore.
Aku mengangkat kepala dari laptop. “Utang?”
“Dua loyang. Denda. Waktu aku bilang ‘Mas’ sama ‘saya’ di pesan. Kamu yang nentuin dendanya.” Dia duduk di kursi sebelah kiriku, tentu saja, dan mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. “Aku mau nagih.”
“Itu dendamu. Kamu yang harus bayar ke aku.”
“Oh.” Dia berhenti mengetuk. Menatapku. “Iya juga, ya.”
“Iya.”
“Ya udah.” Dia tersenyum. “Kalau gitu aku bayar. Malam ini. Tapi kamu harus ikut makan. Martabak dua loyang nggak mungkin aku habisin sendiri.”
Di meja sebelah, Gilang berhenti mengetik. Dia tidak menoleh. Tapi aku bisa melihat telinganya menegang, seperti anjing yang mendengar bunyi bungkus makanan dibuka.
“Aku lembur,” kataku.
“Kamu nggak lembur. Laporanmu udah masuk jam dua. Aku yang approve.”
“Aku… mau ke rumah ortu.”
“Ini Jumat. Kamu ke rumah ortu hari Minggu. Kinan yang bilang.”
Aku menatapnya. “Kamu ngobrol sama Kinan?”
“Kadang.” Dia mengangkat bahu dengan wajah polos. “Kita saling follow Instagram sekarang. Dia kirim DM kemarin. Isinya cuma foto kamu tidur di sofa sambil mangap, sama tulisan awasi terus.”
Aku menutup mata.
“Martabak,” kata Vannesa. “Jam enam. Aku tahu tempat yang enak.”
Tempat yang dia tahu ternyata warung martabak kaki lima di dekat Tebet. Gerobak tua dengan lampu petromaks, kompor besar, dan antrean yang mengular sampai ke trotoar. Penjualnya bapak-bapak berkumis tebal yang mengayun-ayunkan adonan martabak di udara seperti pesulap.
“Ini martabak terenak se-Jakarta,” kata Vannesa sambil mengantre. “Papa yang nemuin. Dua puluh tahun lalu. Papa bilang martabak di sini bikin orang lupa masalah.”
“Papamu suka martabak?”
“Papa suka semua yang digoreng pakai minyak banyak. Mama yang ngelarang.” Dia tertawa. “Jadi kalau Papa stres, dia kabur ke sini diam-diam. Mama tahu, tapi pura-pura nggak tahu.”
Kami mengantre dua puluh menit. Vannesa memesan satu martabak manis keju cokelat dan satu martabak telur spesial. Ketika pesanannya selesai, bapak penjual itu menatapku, menatap tangan kiriku di saku, lalu menatap Vannesa.
“Pacarnya, Neng?” tanyanya.
Aku membuka mulut untuk bilang bukan.
“Lagi diusahain, Pak,” kata Vannesa lebih cepat. “Doain ya.”
Bapak itu tertawa terbahak-bahak, kumisnya bergoyang, lalu menambahkan satu kotak kecil martabak mini tanpa diminta. “Bonus, Neng. Buat semangat.”
Aku berdiri di sebelahnya dengan wajah terbakar.
“Sembilan belas,” bisiknya.
Kami makan di bangku plastik di trotoar, di bawah pohon angsana yang daunnya berguguran pelan. Di depan kami, jalanan Tebet ramai dengan motor dan pejalan kaki dan pedagang kaki lima. Lampu-lampu warung menyala kuning.
Vannesa makan martabak manis dengan lahap, keju meleleh di jarinya. Aku mengambil sepotong martabak telur.
Lalu aku berhenti.
Martabak telur. Spesial. Dua telur bebek.
Aku sudah pernah makan martabak telur sejak malam itu. Berkali-kali. Kinan akhirnya makan martabak lagi dua tahun kemudian, dan sejak itu martabak jadi lelucon keluarga kami. Tapi entah kenapa, malam ini, duduk di bangku plastik di trotoar dengan Vannesa di sebelahku, aku tiba-tiba teringat gerimis. Aspal yang mengilat. Gang yang gelap.
“Kamu kenapa?” tanya Vannesa.
“Nggak.”
“Kamu lihatin martabaknya kayak lihat hantu. Waktu di kantor dulu juga gitu. Waktu aku pesen martabak telur jam satu pagi.”
Aku menatap martabak di tanganku. Lalu, tanpa benar-benar memutuskan, aku mulai bercerita.
“Malam itu,” kataku, “aku lagi mau beli martabak telur. Buat adikku.”
Vannesa berhenti mengunyah.
“Kinan nelepon empat kali. Dia lagi ngerjain PR kimia. Dia bilang kalau dia nggak lulus kimia, itu salahku.” Aku tersenyum kecil. “Aku pulang latihan band, bawa gitar. Warung martabaknya di seberang jalan besar. Aku motong lewat gang biar cepet.”
Aku tidak menatapnya. Aku menatap jalanan di depan, motor-motor yang lewat, lampu-lampu yang berkedip.
“Di gang itu ada cewek. Dipojokin dua orang. Salah satunya bawa pisau.” Aku mengangkat bahu. “Terus ya… cedera olahraga. Olahraganya sok jadi pahlawan.”
Vannesa tidak tertawa kali ini. Dia diam total. Aku menoleh, dan dia sedang menatap martabak di tangannya dengan wajah pucat.
“Ceweknya,” katanya. Suaranya sangat pelan. “Gimana?”
“Selamat.” Aku menggigit martabakku. “Itu yang penting.”
“Kamu pernah ketemu dia lagi?”
“Nggak. Aku nggak pernah lihat mukanya. Gelap. Kacamataku jatuh.” Aku menelan. “Aku nggak tahu siapa dia. Dan dia nggak tahu siapa aku. Kayaknya lebih baik begitu.”
“Kenapa lebih baik?”
“Karena kalau dia tahu, dia bakal ngerasa berutang. Dan aku nggak mau ada orang yang ngerasa berutang sama aku.” Aku menatap martabak di tanganku. “Aku nolongin dia bukan buat ditagih. Aku cuma… nggak bisa lewat aja.”
Hening lama.
Aku menoleh lagi. Vannesa sedang menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Bahunya sedikit gemetar.
“Vannesa?”
“Pedes,” katanya serak. “Sambelnya pedes.”
“Kamu makan martabak manis.”
“Aku nyolong sambel martabak telurmu.” Dia mengusap matanya dengan punggung tangan, cepat. “Pedes banget. Bapaknya kebanyakan cabe.”
Aku menatapnya. Aku tidak percaya soal sambal itu. Tapi aku juga tidak mengerti kenapa ceritaku membuatnya menangis. Mungkin karena dia takut gelap. Mungkin karena ceritaku mengingatkannya pada sesuatu yang dulu, sesuatu yang dia bilang tidak mau diceritakan.
Aku tidak bertanya. Aku mengambil tisu dari kotak martabak dan menyodorkannya padanya.
Dia mengambil tisu itu. Dan menggenggam tanganku sebentar, sangat sebentar, sebelum melepaskannya.
Kami berjalan setelah makan.
Aku tidak ingat siapa yang mengusulkan. Mungkin tidak ada. Mungkin kami hanya berdiri dari bangku plastik, membuang kotak martabak, dan kaki kami mulai berjalan sendiri menyusuri trotoar Tebet, di bawah pohon-pohon angsana dan lampu jalan yang kuning.
Dia berjalan di sebelah kiriku.
Trotoarnya sempit dan ramai. Pedagang kaki lima di mana-mana. Pejalan kaki dari arah berlawanan. Motor yang sesekali naik ke trotoar karena jalanan macet. Setiap kali ada orang lewat, Vannesa bergeser mendekat padaku, sampai bahunya menempel di lengan kiriku.
Aku tidak bisa merasakannya. Tapi aku bisa melihatnya. Dan setiap kali aku melihatnya, dadaku terasa sesak.
Tangan kiriku di saku. Seperti biasa.
Lalu, di depan sebuah toko roti yang sudah tutup, di bawah lampu jalan yang berkedip, Vannesa berhenti berjalan.
Aku ikut berhenti. “Kenapa?”
Dia tidak menjawab. Dia menatap saku kiriku. Lama.
Lalu, pelan, sangat pelan, seperti orang yang mendekati burung liar dan takut membuatnya terbang, dia mengangkat tangan kanannya.
Dan menyelipkannya ke dalam saku kiriku.
Aku membeku.
Aku melihatnya. Aku melihat tangannya masuk ke saku celanaku, pelan, sampai jari-jarinya menemukan tanganku di dalam. Aku melihatnya menggeser jari-jarinya, menyelip di antara jari-jariku yang tidak bisa bergerak. Aku melihat tangannya menggenggam tanganku.
Aku tidak merasakan apa-apa.
Aku menatap saku celanaku, tempat tangannya dan tanganku sekarang berada, tersembunyi, bersama. Dan aku tidak merasakan hangatnya. Tidak merasakan jari-jarinya. Tidak merasakan genggamannya. Seperti menonton film tentang tanganku sendiri, dengan suara yang dimatikan.
Delapan tahun, aku sudah berdamai dengan ini. Dengan tangan yang tidak bisa merasakan. Aku sudah menerimanya.
Tapi aku belum pernah menerima ini. Ada seseorang yang menggenggam tanganku, dan aku tidak bisa merasakannya.
“Vannesa,” kataku. Suaraku keluar patah. “Aku… aku nggak bisa ngerasain tangan kamu.”
Dia menatapku. Matanya berkaca-kaca di bawah lampu jalan yang berkedip.
“Nggak apa-apa,” katanya pelan.
“Aku nggak bisa ngerasain apa-apa. Kamu pegang, dan aku nggak tahu kamu pegang. Kalau aku nggak lihat, aku nggak tahu kamu ada.”
“Nggak apa-apa, Rafa.”
“Kenapa nggak apa-apa?”
Dia menggenggam tanganku lebih erat. Aku melihatnya, dari cara buku jarinya menegang di balik kain saku.
“Karena aku yang ngerasain buat dua-duanya,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
“Aku ngerasain tangan kamu,” lanjutnya, suaranya bergetar. “Dingin. Jari-jarimu panjang. Ada kapalan kecil di ujung jari telunjuk sama jari tengah. Bekas gitar, kan? Masih ada, Rafa. Delapan tahun, dan masih ada.” Air matanya jatuh. Satu. Lalu satu lagi. “Aku ngerasain semuanya. Buat kamu. Kamu cukup lihat aja. Biar aku yang ngerasain.”
Sesuatu di dadaku pecah.
Bukan pecah seperti kaca. Pecah seperti tanah kering yang akhirnya kena hujan. Retak, lalu basah, lalu sesuatu tumbuh dari retakan itu.
Kapalan di ujung jari. Aku sudah lupa soal itu. Aku sudah delapan tahun tidak melihat tangan kiriku dengan saksama. Aku menyembunyikannya di saku begitu lama sampai aku lupa bahwa tangan itu masih menyimpan sesuatu dari masa lalu. Dari lagu yang belum selesai. Dari jari-jari yang dulu hafal setiap kunci di papan fret.
Dan dia menemukannya. Dalam gelap. Di dalam saku.
“Mulai sekarang,” kata Vannesa pelan, “yang kiri buat aku.”
Aku menatapnya.
“Yang kanan buat kamu,” katanya. “Buat kerja. Buat ngetik. Buat bukain botol, buka sambal, ngikat tali sepatu sembilan detik. Yang kanan punya kamu.” Dia menggenggam tanganku di dalam saku. “Tapi yang kiri buat aku. Yang kiri punyaku. Aku yang pegang. Aku yang jaga. Aku yang ngerasain.”
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.
Aku tidak menyadarinya sampai kacamataku buram. Bukan berembun. Buram karena air. Aku mengangkat tangan kananku untuk melepas kacamata, dan pipiku basah.
Aku tidak menangis sejak malam itu di lantai kamar mandi, delapan tahun lalu, dengan gitar di pelukanku. Aku sudah lupa rasanya.
Rasanya seperti ini. Rasanya seperti dibukakan pintu yang selama ini kukunci dari dalam.
“Rafa,” bisik Vannesa.
Aku tidak bisa menjawab. Aku berdiri di trotoar Tebet, di depan toko roti yang sudah tutup, di bawah lampu jalan yang berkedip, dengan kacamata di tangan kanan dan pipi basah, dan tangan kiri di dalam saku bersama tangannya.
Vannesa melepaskan tanganku dari saku. Lalu dia melangkah maju. Dan memelukku.
Kedua lengannya melingkari pinggangku. Erat. Kepalanya bersandar di dadaku, di sisi kanan, di atas jantungku yang berdetak terlalu keras.
Aku berdiri kaku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku belum pernah dipeluk seperti ini. Bukan pelukan Mama, bukan pelukan Kinan yang kasar dan cepat. Pelukan seseorang yang memilih untuk memeluk, dengan seluruh tubuhnya, di tengah trotoar yang ramai.
Tangan kananku terangkat. Ragu. Lalu turun, pelan, ke punggungnya.
Satu tangan. Satu-satunya yang kupunya.
“Aku cuma bisa meluk pakai satu tangan,” bisikku ke rambutnya.
“Ya udah,” katanya ke dadaku. “Sisanya aku yang peluk kamu.”
Dan dia memelukku lebih erat, dengan kedua lengannya, seolah dia bisa menutupi bagian yang hilang dengan pelukannya sendiri.
Orang-orang lewat. Aku mendengar mereka. Seorang ibu-ibu berbisik ya ampun, romantis. Seorang pengendara ojek bersiul panjang. Seorang anak kecil bertanya pada ibunya Ma, kakak itu kenapa nangis? dan ibunya menjawab karena bahagia, Dek.
Aku tidak peduli. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tidak peduli siapa yang melihat.
Ponselku bergetar di saku kanan. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Vannesa melepaskan pelukannya sedikit, cukup untuk menatapku. Matanya merah. Hidungnya merah. Dia tersenyum.
“Angkat,” katanya. “Kayaknya urgent.”
Aku mengeluarkan ponsel dengan tangan kanan. Tiga pesan dari Kinan.
KAK.
GILANG BILANG KAKAK MAKAN MARTABAK SAMA DIA.
KAKAK UDAH NGAKU BELUM??? AKU UDAH NUNGGU DUA MINGGU.
Vannesa membacanya dari samping. Lalu dia tertawa, basah dan jelek dan indah, dan menyandarkan dahinya ke bahu kananku.
“Gilang,” gumamnya ke bahuku. “Gilang harus dipecat.”
“Gilang vendor. Kamu nggak bisa pecat dia.”
“Aku bisa minta Pak Surya pindahin dia ke Merauke.”
Aku tertawa. Tawa yang basah, yang keluar dari tempat yang sudah lama tidak kubuka.
Aku memasukkan ponsel kembali ke saku kanan. Tidak membalas Kinan. Belum.
Lalu, pelan, aku mengangkat tangan kiriku dengan tangan kananku. Mengeluarkannya dari saku. Membiarkannya tergantung di sisi tubuhku, di bawah lampu jalan, di mana semua orang bisa melihatnya.
Vannesa menatapnya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia menggenggamnya. Tanpa saku. Tanpa persembunyian. Di tengah trotoar Tebet yang terang.
Kami berjalan lagi. Pelan. Dia di sebelah kiriku, menggenggam tanganku yang tidak bisa merasakan apa-apa.
Aku tidak bisa merasakannya.
Tapi aku bisa melihatnya. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, melihat saja sudah terasa seperti cukup.
“Dua puluh,” bisik Vannesa.
“Aku nggak merah.”
“Kamu merah. Seluruh badanmu merah. Kamu kayak martabak telur yang kelamaan digoreng.”
Aku tertawa lagi.
Dan di suatu tempat jauh di belakang kami, bapak penjual martabak berkumis tebal itu, yang ternyata menonton semuanya dari balik gerobaknya, berteriak keras ke seluruh jalanan Tebet:
“UDAH JADI, NENG? DOANYA TERKABUL?”
Vannesa menoleh ke belakang dan berteriak balik, “BELUM, PAK! TAPI HAMPIR!”
Seluruh trotoar tertawa.
Aku tidak melepaskan tangannya.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku reading
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari