Chapter Seven
Sistem yang Tidak Pernah Salah
POV: Vannesa
Jam tujuh malam, hari Rabu, Tasya berdiri di ambang pintu ruanganku dengan wajah seperti orang yang baru melihat hantu.
“Nes,” katanya. “Jangan panik.”
Tidak ada kalimat di dunia ini yang lebih membuat orang panik daripada jangan panik.
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan panik dulu.”
“Tasya, kalau kamu nggak ngomong sekarang, aku panik.”
Dia masuk, menutup pintu, lalu meletakkan laptopnya di mejaku seperti meletakkan bom yang belum dijinakkan. Di layar ada file Excel. File Excel yang sangat kukenal, karena aku sudah menatapnya selama dua minggu: konsolidasi stok dari dua puluh gudang, bahan utama presentasiku untuk rapat direksi besok pagi jam sembilan.
“Lihat kolom K,” kata Tasya.
Aku melihat kolom K. Stok gudang Medan: 48.000 karton. Stok gudang Makassar: 96.000 karton. Stok gudang Semarang: 212.000 karton.
“Semarang nggak mungkin segitu,” kataku. “Gudangnya cuma muat seratus ribu. Itu pun kalau Pak Bambang tidur di atas karung.”
“Iya.”
“Terus kenapa…”
“Makronya rusak.” Tasya menarik napas. “Tadi sore aku minta anak magang update data terakhir dari gudang-gudang. Dia jalanin makro yang lama. Makronya nambahin data baru ke data lama, bukan ganti. Semua angka jadi dobel. Beberapa jadi tripel. Dan dia nge-save di atas file aslinya.”
Aku menatap layar. Angka-angka itu menatapku balik, ramah dan salah.
“Backup?” tanyaku.
“Backup terakhir tiga minggu lalu.”
“Grafik di slide?”
“Semua narik dari file ini.”
Aku bersandar di kursi. Menatap langit-langit. Menghitung sampai sepuluh dalam hati, trik yang diajarkan Mama waktu aku kecil.
Besok jam sembilan, aku harus berdiri di depan Papa, Om Darmo si direktur keuangan yang sejak awal menganggap proyek sistem ini “buang-buang duit anak muda”, dan lima direktur lain. Aku harus meyakinkan mereka bahwa anggaran tahap dua layak dicairkan. Dan senjata utamaku adalah data stok yang menunjukkan betapa berantakannya sistem lama.
Yang ironisnya, sekarang terbukti dengan sangat meyakinkan. Sayangnya dengan cara yang membuatku terlihat bodoh.
“Oke,” kataku. “Oke. Kita punya data mentahnya? Yang dikirim gudang-gudang?”
“Di email. Di WhatsApp. Ada yang PDF. Ada yang foto kertas. Gudang Kupang kirim video, Nes. Video orang ngitung karton sambil nyanyi.”
“Berapa file?”
“Kira-kira… tiga ratus?”
Aku berhenti menghitung dalam hati. Aku sudah sampai di angka tujuh, dan tujuh jelas tidak akan cukup.
“Tim IT internal?”
“Udah pulang semua. Mas Doni lagi nemenin istrinya kontrol bayi.”
Aku menatap pintu kaca ruanganku. Di luar, lantai sembilan sudah hampir gelap. Hanya lampu-lampu meja yang masih menyala di beberapa sudut. Dan di sudut paling jauh, di meja tim vendor, satu lampu masih menyala.
Aku bisa melihat siluet seseorang di sana. Kepala sedikit menunduk. Satu tangan bergerak cepat di atas papan ketik.
“Mas Rafa masih di sini,” kata Tasya, mengikuti arah pandanganku.
“Aku nggak bisa minta dia.”
“Kenapa?”
“Ini bukan kerjaan dia. Ini bukan bagian kontraknya. Dia vendor, Sya. Dia bukan…” Aku tidak tahu harus menyebut apa. Penyelamat pribadiku, mungkin.
Tasya menatapku dengan wajah paling datar yang bisa dibuat manusia.
“Nes,” katanya. “Kamu mau presentasi besok pakai data Semarang dua ratus ribu karton, atau kamu mau ngerendahin gengsi lima menit?”
Dia sedang membalas email ketika aku mengetuk partisi kaca di sebelah mejanya.
“Mas Rafa.”
Dia menoleh, dan seperti biasa, dia tersenyum lebih dulu sebelum bertanya ada apa. Aku sudah mulai menyadari kebiasaannya itu. Seolah senyum adalah salam pembuka otomatis yang dia pasang untuk semua orang.
“Belum pulang?” tanyanya.
“Kamu juga belum.”
“Saya nunggu hujan reda.”
Aku melirik jendela. Tidak hujan. Langit Jakarta malam itu kering, jingga, penuh polusi dan lampu gedung.
“Nggak hujan, Mas.”
“Oh.” Dia melirik jendela juga. “Berarti saya nunggu hujan datang dulu, terus reda.”
Aku tertawa. Sebentar, tanpa sengaja, dan rasanya aneh tertawa di tengah bencana. Lalu tawaku hilang, dan aku menjelaskan semuanya. Makro. Kolom K. Semarang dua ratus ribu karton. Tiga ratus file. Video orang Kupang yang menyanyi.
Dia mendengarkan tanpa memotong. Ketika aku selesai, dia diam sebentar.
“Boleh saya lihat file mentahnya?”
“Mas, aku nggak minta Mas ngerjain ini. Aku cuma… aku cuma mau tanya, ada cara cepat nggak? Biar aku kerjain sendiri sama Tasya.”
“Ada.”
“Apa?”
“Saya yang ngerjain.”
“Mas Rafa—”
“Bu Vannesa.” Dia menatapku, dan senyumnya berubah sedikit. Lebih lembut. “Ini data stok. Data stok itu yang nanti masuk ke sistem yang saya bangun. Kalau datanya berantakan, sistem saya juga berantakan. Jadi ini kerjaan saya juga.”
Aku tahu itu bukan alasan sebenarnya. Dia juga tahu aku tahu. Tapi dia menatapku dengan wajah yang begitu tenang, begitu yakin, seolah kami sedang membicarakan menu makan siang dan bukan bencana yang bisa membuatku dipermalukan di depan tujuh direktur.
“Oke,” kataku pelan. “Makasih.”
“Sama-sama. Tapi satu syarat.”
“Apa?”
“Tolong pesenin makan. Saya belum makan dari siang.”
Aku memesan martabak.
Aku tidak tahu kenapa aku memesan martabak. Mungkin karena itu yang pertama muncul di aplikasi. Mungkin karena martabak adalah makanan bencana, makanan yang dimakan orang Indonesia ketika malam terlalu panjang dan masalah terlalu besar. Aku memesan dua: martabak manis keju cokelat, dan martabak telur spesial.
Ketika kotak-kotak itu datang dan aku membukanya di meja vendor, Rafa berhenti mengetik.
Dia menatap martabak telur itu. Lama. Ada sesuatu di wajahnya yang tidak kupahami. Bukan sedih. Lebih seperti orang yang mendengar lagu lama di radio dan tiba-tiba ingat sesuatu yang sudah lama tidak dia ingat.
“Mas nggak suka martabak telur?” tanyaku.
“Suka.” Dia tersenyum, dan senyumnya kali ini aneh, jauh. “Adik saya dulu suka banget. Terus dia bilang nggak mau makan martabak lagi seumur hidup.”
“Kenapa?”
“Panjang ceritanya.” Dia mengambil sepotong dengan tangan kanannya. “Tapi dia udah makan lagi kok, sekarang. Kemarin dia habisin satu loyang sendiri.”
Aku menunggu dia melanjutkan. Dia tidak melanjutkan. Dia hanya mengunyah, lalu kembali ke laptopnya, dan aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
Selama lima jam berikutnya, aku menyaksikan sesuatu yang belum pernah kulihat.
Dia tidak mengerjakan tiga ratus file itu satu per satu. Dia menulis sesuatu, script, katanya, yang bisa membaca semua file Excel dan CSV dari email sekaligus, mencocokkannya berdasarkan kode gudang, dan membuang data ganda. Aku tidak mengerti setengah dari yang dia jelaskan. Tapi aku mengerti cara dia bekerja.
Jari tangan kanannya bergerak di atas papan ketik dengan kecepatan yang membuatku pusing. Kalau dia butuh menulis komentar panjang, dia bicara pelan ke mikrofon, dan kalimat-kalimat muncul di layar seperti sihir. Kalau dia butuh menahan dokumen kertas sambil membaca angkanya, dia menjepitnya di bawah siku kanan. Kalau dia butuh menekan dua tombol sekaligus yang jaraknya terlalu jauh untuk satu tangan, dia menekan yang satu dengan ibu jari, yang satu lagi dengan kelingking, seperti pianis yang meraih oktaf.
Tidak sekali pun dia mengeluh.
Tidak ketika file PDF dari gudang Pontianak ternyata hasil scan miring yang harus dia ketik ulang angkanya. Tidak ketika gudang Kupang benar-benar mengirim video orang menghitung karton sambil menyanyikan lagu dangdut, dan dia harus menonton seluruh empat menitnya untuk mencatat angka yang disebutkan di antara lirik. Tidak ketika jam menunjukkan pukul sebelas, lalu dua belas, lalu setengah satu.
Dia menonton video Kupang itu dengan wajah serius, mencatat angka, lalu berkata, “Suaranya bagus.”
“Serius, Mas?”
“Serius. Nadanya pas. Mungkin kita bisa rekrut dia jadi jingle sistem baru.”
Tasya, yang sudah setengah tertidur di sofa ruang tunggu, tertawa sampai terjatuh dari sofa.
Di tengah malam, Gilang ikut bergabung lewat video call dari rumahnya. Dia memakai piyama bergambar dinosaurus dan tampak seperti baru dibangunkan dari kematian.
“Bang,” katanya dengan suara serak. “Lo nelepon gue jam dua belas malam. Ini kekerasan.”
“Saya butuh kamu cek validasi data gudang Jawa Timur.”
“Bang, gue lagi mimpi indah.”
“Mimpi apa?”
“Mimpi Mbak Tasya bilang gue lucu.”
Hening di ruangan. Tasya, yang sudah kembali ke sofa, mendadak duduk tegak.
Gilang menyadari apa yang baru saja dia katakan. Wajahnya memucat di layar. “Bang. Bang, Mbak Tasya ada di situ?”
“Ada.”
“Bang, matiin video gue.”
“Saya nggak bisa, Lang. Ini laptop kantor.”
“BANG—”
“Mas Gilang,” kata Tasya, sangat tenang, dari seberang ruangan. “Kamu lucu kok.”
Gilang menutup laptopnya. Sambungan terputus. Lima menit kemudian dia mengirim hasil validasi data Jawa Timur lewat email tanpa satu kata pun di badan pesannya, kecuali subjek: jangan dibahas lagi selamanya.
Aku tertawa sampai perutku sakit. Rafa tersenyum ke laptopnya, bahunya berguncang pelan.
Dan untuk sesaat, jam satu pagi di lantai sembilan, dengan kotak martabak kosong dan data yang hampir bersih, aku lupa bahwa aku sedang di tengah bencana.
Jam dua kurang sepuluh, dia memutar laptopnya ke arahku.
“Selesai,” katanya. “Semua angka udah dicocokkan dengan data mentah. Ada tujuh gudang yang laporannya memang beda dengan catatan pusat, bukan karena makro, tapi karena memang selisih. Saya tandai kuning. Mungkin itu bisa jadi poin presentasi Ibu besok: bukti kenapa sistem baru dibutuhkan.”
Aku menatap layar. Kolom K sekarang berisi angka-angka yang masuk akal. Semarang: 87.400 karton. Rapi, bersih, benar. Dan tujuh baris kuning yang, aku langsung melihatnya, adalah senjata yang lebih baik daripada semua grafik di presentasiku.
“Mas,” kataku. Suaraku tiba-tiba serak. “Makasih.”
“Sama-sama.”
“Aku serius. Aku nggak tahu harus bales pakai apa.”
Dia tersenyum, lalu mengangkat kotak martabak telur yang sudah kosong. “Udah dibales.”
“Martabak itu nggak cukup.”
“Martabak itu selalu cukup,” katanya, “kalau dimakan di waktu yang tepat.”
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku merasa ada cerita di balik kalimat itu, cerita tentang adiknya dan martabak dan sesuatu yang sudah lama berlalu. Tapi dia sudah menutup laptopnya dan berdiri, menyelipkan laptop di bawah lengan kanan, mengambil ponsel dengan tangan yang sama.
“Ibu pulang dulu,” katanya. “Tidur. Presentasi jam sembilan, kan?”
“Kamu juga.”
“Saya tidur di mana aja bisa. Bakat.”
Presentasiku pagi itu berjalan lebih baik dari yang kubayangkan.
Om Darmo, yang biasanya menatap setiap slide proyek sistem seperti menatap tagihan listrik yang terlalu mahal, berhenti di tujuh baris kuning itu. Dia mengerutkan dahi. Dia bertanya. Aku menjawab. Dia bertanya lagi, lebih tajam, tentang deviasi stok di gudang Pontianak.
Aku membuka laptop untuk mencari jawabannya, dan menemukan catatan tempel kuning di sudut layar. Tulisan tangan yang rapi, sedikit miring ke kanan.
Kalau Pak Darmo tanya soal Pontianak, jawabannya di slide 14. Selisihnya karena retur yang nggak tercatat. Semoga lancar. — R.
Aku menatap catatan itu. Lalu membuka slide 14.
Jawabannya ada di sana.
Om Darmo mengangguk pelan. Mencatat sesuatu. Lalu, untuk pertama kalinya selama dua bulan, dia bilang, “Oke. Ini masuk akal.”
Di ujung meja, Papa menatapku dengan senyum yang ditahan. Senyum bangga, yang membuat dadaku hangat. Setelah rapat selesai, dia menghampiriku.
“Bagus, Nes. Data selisih stoknya itu yang bikin Darmo luluh. Kamu kerjain semalam?”
“Nggak sendirian, Pa. Vendor kita. Mas Rafa. Dia yang bersihin semua datanya sampai jam dua pagi.”
Papa mengangkat alis. “Vendor lembur sampai jam dua pagi buat data yang bukan tanggung jawabnya?”
“Iya.”
“Hmm.” Papa mengusap dagu. “Orangnya yang mana? Kenalin sama Papa nanti. Papa suka orang yang begitu.”
“Nanti ya, Pa.”
“Dan Nes?”
“Ya?”
“Vendor itu, kalau lembur sampai jam dua pagi buat kamu, biasanya bukan karena dia cinta sama data.” Papa menepuk bahuku. “Itu analisis bisnis dari Papa. Gratis.”
Dia pergi sebelum aku sempat membantah.
Ponselku bergetar di lift. Pesan dari Kevin, dikirim jam tujuh pagi dari Singapura.
Good luck buat presentasinya hari ini, Nes! You got this. 💪
Aku menatap pesan itu, dan menyadari dengan sedikit rasa bersalah bahwa aku lupa Kevin tahu soal presentasi ini. Aku lupa membalas. Aku bahkan lupa memikirkannya sejak semalam.
Aku mengetik: Makasih, Kev! Lancar kok. Lalu mengirimnya.
Lift berhenti di lantai sembilan. Pintu terbuka.
Di sudut ruangan, di meja vendor, Rafa sedang tertidur dengan kepala di atas lengan kanannya, kacamata miring, laptop masih menyala. Gilang duduk di sebelahnya dengan jari di bibir, memberi isyarat kepada semua orang yang lewat untuk diam.
Aku berjalan ke ruanganku pelan-pelan, supaya hak sepatuku tidak berbunyi.
Di mejaku, aku mencabut catatan tempel kuning itu dari laptop. Aku seharusnya membuangnya. Itu cuma catatan kerja.
Aku menyelipkannya di balik casing ponselku.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah reading
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari