← Yang Kiri buat Aku

Chapter Twenty Seven

Gala Atma & Corp

POV: Vannesa

Setiap tahun, di bulan yang sama, Atma & Corp menggelar gala ulang tahun perusahaan di ballroom hotel bintang lima.

Tahun ini ulang tahun ketiga puluh lima. Papa memesan ballroom terbesar di Jakarta Pusat, mengundang delapan ratus orang, dan menyewa orkestra dua puluh pemain yang, menurut Papa, “akan membuat suasana seperti film-film Eropa”. Mama memilih bunga. Tasya memimpin panitia. Om Darmo menghitung anggarannya dan harus minum obat darah tinggi dua kali.

Dan aku, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun menghadiri gala ini, datang dengan pasangan.

“Kamu yakin?” tanya Tasya di telepon, Jumat sore. “Delapan ratus orang, Nes. Semua direksi. Semua klien besar. Semua mitra bisnis Papamu. Semua karyawan dari lantai satu sampai lantai dua belas.”

“Yakin.”

“Mereka semua bakal lihat.”

“Itu intinya, Sya.”

Tasya diam sebentar. Lalu dia tertawa pelan. “Oke. Aku siapin kursi di meja keluarga. Sebelah kirimu, kan?”

“Sebelah kanan,” kataku.

“Hah?”

“Dia duduk di sebelah kananku. Biar aku yang di sebelah kirinya.”

Tasya diam lagi. Lebih lama. Lalu suaranya berubah lembut.

“Nes,” katanya. “Kamu udah jatuh cinta banget, ya.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu.


Rafa menjemputku jam tujuh malam. Maksudku, dia datang ke rumahku naik taksi online, dan aku yang akan menyetir ke hotel. Itu kesepakatan yang kami buat setelah debat panjang lewat chat, di mana dia bersikeras bahwa pria seharusnya menjemput perempuan, dan aku bersikeras bahwa pria yang tidak punya mobil tidak bisa menjemput siapa-siapa kecuali dengan ojek, dan aku tidak mau datang ke gala dengan rambut berantakan karena helm.

Aku turun dari tangga, dan dia sedang berdiri di ruang tengah, bicara dengan Papa.

Jas hitam. Kemeja putih. Dasi kupu-kupu hitam, dasi jepit, aku yakin, dan aku tersenyum membayangkannya memilih dasi jepit di toko dengan wajah serius. Rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya. Kacamatanya baru, atau setidaknya bingkainya dibersihkan sampai berkilau.

Tangan kirinya di saku jas.

Dia melihatku turun. Dan dia berhenti bicara di tengah kalimat.

Aku memakai gaun baru. Bukan biru muda. Biru muda sudah punya kenangannya sendiri, dan aku tidak mau mencampurnya. Gaun ini berwarna hijau zamrud, panjang sampai mata kaki, dengan punggung sedikit terbuka. Tasya yang memilihnya. Tasya bilang warna hijau zamrud adalah “warna perempuan yang tahu apa yang dia mau”.

Rafa menatapku dari ujung tangga sampai ke bawah. Pelan. Seperti orang yang membaca kalimat panjang dan tidak mau melewatkan satu kata pun.

Telinganya merah. Lalu lehernya. Lalu, di bawah lampu kristal ruang tengah, aku melihat kacamatanya mulai berembun.

“Dua puluh satu,” kataku begitu sampai di bawah.

Papa, yang berdiri di sebelah Rafa, menatap kami bergantian dengan wajah bingung. “Dua puluh satu apa?”

“Rahasia, Pa.”

“Rahasia bisnis?”

“Rahasia yang lebih penting dari bisnis.”

Papa mengangkat alis. Lalu, pelan, senyum lebar merekah di wajahnya. Senyum yang sama seperti waktu di kantor, di hari ulang tahunku, sebelum cangkir teh itu jatuh.

“Nak Rafa,” kata Papa, menepuk bahu kanan Rafa. “Kamu tahu kenapa gala perusahaan itu kayak pernikahan?”

“Kenapa, Pak?”

“Karena dua-duanya mahal, dan dua-duanya bikin Papa nangis.” Papa tertawa sendiri. “Tolong jaga anak saya malam ini. Dia kalau pakai sepatu hak tinggi suka jatuh.”

“Papa!”

“Siap, Pak,” kata Rafa. Serius. Seperti menerima tugas negara.

Aku melihat Mama di ambang pintu dapur. Mama tidak mendekat. Mama hanya berdiri di sana, memakai kebaya merah marun untuk gala, dengan tangan tergenggam di depan dada, menatap Rafa.

Matanya basah.

Rafa melihatnya juga. Dia mengangguk sopan ke arah Mama. “Selamat malam, Bu.”

“Malam, Nak,” kata Mama. Suaranya sangat lembut. Sangat pelan. “Kamu… kamu kelihatan gagah.”

“Terima kasih, Bu.”

Mama tersenyum, lalu cepat-cepat berbalik ke dapur. Aku mendengar isakannya yang tertahan dari balik pintu.

Rafa menatapku. Pertanyaan di matanya.

Nanti, kataku tanpa suara. Aku janji.

Dia mengangguk pelan. Dan aku menggandeng lengan kanannya, dan kami berjalan ke mobil, dan aku berusaha keras tidak memikirkan isakan Mama di dapur.


Ballroom itu seperti istana.

Lampu gantung kristal sebesar mobil. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan bunga lili dan mawar putih di tengahnya. Orkestra di panggung, memainkan waltz pelan. Delapan ratus orang dengan gaun dan jas terbaik mereka, berdiri dengan gelas di tangan, tertawa dan mengobrol.

Ketika kami masuk, ballroom itu tidak hening. Terlalu besar untuk hening. Tapi aku merasakannya. Gelombang kecil yang menyebar dari pintu masuk ke seluruh ruangan, seperti riak di kolam ketika batu dilempar. Kepala-kepala yang menoleh. Bisik-bisik yang dimulai. Mata yang turun ke lengan Rafa yang kugandeng, lalu ke tangan kirinya di saku jas, lalu kembali ke wajahku.

Aku merasakan lengan Rafa menegang di genggamanku.

“Nggak apa-apa,” bisikku.

“Mereka lihat.”

“Biarin.”

“Vannesa, ini gala perusahaan keluargamu. Ada klien. Ada direksi. Kalau mereka—”

“Rafa.” Aku berhenti berjalan. Di tengah ballroom, di bawah lampu kristal, di depan delapan ratus orang. Aku menatapnya. “Aku bawa kamu ke sini bukan buat disembunyiin. Aku bawa kamu ke sini buat dilihat.”

Dia menatapku lama.

Lalu tangan kanannya, yang kugandeng, bergerak sedikit. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku. Dan menggenggam.

Kami berjalan lagi. Ke meja keluarga, di dekat panggung.

Di sepanjang jalan, aku menyapa semua orang. Seperti biasa. Aku hafal nama mereka. Pak Hartono dan istrinya. Pak Anwar dari gudang Cikarang, yang memakai jas kebesaran dan terlihat sangat tidak nyaman. Mas Doni dan istrinya yang baru melahirkan, yang langsung menatap Rafa dengan mata berbinar dan berbisik “Ini dia orangnya?” pada suaminya.

Dan setiap kali aku menyapa seseorang, aku bilang:

“Kenalin, ini Rafa. Pasanganku malam ini.”

Pasanganku.

Setiap kali aku mengucapkannya, aku merasakan tangannya menggenggam tanganku sedikit lebih erat.


Tidak semua orang tersenyum.

Di meja dekat bar, aku mendengar dua mitra bisnis Papa, bapak-bapak dari perusahaan logistik yang aku tahu namanya tapi tidak pernah suka orangnya, berbicara cukup keras.

“…anaknya Hendra? Sama siapa itu?”

“Katanya vendor IT.”

“Yang tangannya kenapa itu?”

“Nggak tahu. Kasihan ya. Anaknya Hendra kan cantik. Bisa dapat yang lebih baik.”

Rafa mendengarnya. Aku tahu karena tangannya, di genggamanku, mengendur sedikit. Seperti orang yang bersiap melepaskan.

Aku tidak membiarkannya.

Aku berhenti berjalan. Berbalik. Menatap dua bapak-bapak itu dengan senyum paling ramah dan paling mematikan yang pernah kubuat.

“Pak Gunawan. Pak Surianto.” Aku mengangguk sopan. “Selamat malam. Terima kasih sudah datang.”

Mereka terkejut. Mereka tidak menyangka aku mendengar.

“Oh, Mbak Vannesa. Selamat malam. Selamat ulang tahun perusahaannya.”

“Terima kasih, Pak.” Aku menarik Rafa sedikit lebih dekat. “Kenalin, ini Rafa Elvano. System analyst dari Sinergi Dataloka. Beliau yang merancang sistem distribusi baru kami. Yang bikin akurasi stok gudang kami naik tiga puluh persen dalam dua bulan. Yang Pak Gunawan tanya-tanya ke Papa minggu lalu, katanya mau pakai vendor yang sama buat perusahaan Bapak.”

Pak Gunawan membuka mulut. Menutupnya.

“Oh,” katanya. “Oh, jadi ini… Mas Rafa?”

“Iya, Pak,” kata Rafa sopan. Dia mengulurkan tangan kanannya. “Salam kenal.”

Pak Gunawan menatap tangan itu, lalu menyambutnya dengan canggung. “Salam kenal, Mas. Sistemnya… sistemnya bagus sekali, kata Hendra.”

“Terima kasih, Pak.”

“Mungkin… mungkin kita bisa ngobrol soal proyek, ya, Mas? Nanti?”

“Boleh, Pak. Kartu nama saya ada di kantor.”

Aku tersenyum pada mereka berdua. Lalu menarik Rafa pergi.

Setelah beberapa langkah, Rafa berbisik, “Kamu kejam.”

“Aku jujur.”

“Kamu pakai sistemku buat nampar mereka.”

“Aku pakai fakta.” Aku meremas tangannya. “Kalau mereka mau lihat tanganmu, biarin mereka lihat juga apa yang tanganmu bikin.”

Dia diam. Lalu, dari sudut mata, aku melihat senyum kecil itu. Di sudut bibirnya. Tapi kali ini sedikit lebih lebar. Sedikit lebih berani.


Di meja keluarga, Kevin duduk tiga kursi dari kami.

Dia datang sendirian. Dia melihat kami datang, dan dia berdiri, dan dia tersenyum.

“Mas Rafa,” katanya, mengulurkan tangan. “Selamat malam. Jasnya bagus.”

“Makasih, Pak Kevin.”

“Kevin aja.” Kevin menatapku, lalu menatap tangan kami yang bergandengan. Senyumnya tidak goyah. Sedikit sedih, mungkin, tapi tulus. “Hijau zamrud, Nes. Cocok.”

“Makasih, Kev.”

Dia mengangguk, lalu duduk lagi. Sepanjang makan malam, dia mengobrol dengan Om Darmo soal kampanye iklan, dan tidak sekali pun membuat suasana canggung.

Aku melihat Rafa memperhatikannya. Lama.

“Dia orang baik,” bisik Rafa.

“Iya.”

“Kamu nolak dia.”

“Iya.”

“Karena aku?”

Aku menoleh padanya. Di bawah lampu kristal, dengan orkestra memainkan waltz di belakang kami, aku menatapnya dan menjawab dengan jujur.

“Karena kamu,” kataku. “Sebelum semua ini. Sebelum lobi. Sebelum Kinan teriak. Aku nolak dia karena kamu.”

Dia menatapku lama. Dan aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dia percaya.

Untuk pertama kalinya, dia benar-benar percaya.

Dan di dalam dadaku, rahasia yang kubawa terasa sedikit lebih berat.


Setelah makan malam, orkestra mulai memainkan lagu dansa.

Papa dan Mama membuka lantai dansa, seperti setiap tahun. Papa berdansa dengan kaku dan penuh semangat, Mama dengan anggun dan sabar. Lalu pasangan-pasangan lain mulai bergabung. Direksi dengan istri mereka. Karyawan muda dengan pasangan mereka. Tasya dengan Gilang, yang ternyata bisa berdansa dengan sangat baik dan membuat Tasya tertawa terus.

Aku menatap Rafa.

Dia menatap lantai dansa dengan wajah seorang pria yang sedang mencari jalan keluar darurat.

“Aku nggak bisa dansa,” katanya.

“Semua orang bisa dansa.”

“Dansa butuh dua tangan. Satu di pinggang, satu pegang tangan pasangan.”

“Siapa bilang?”

“Semua video tutorial dansa di YouTube.”

Aku tersenyum. Berdiri. Mengulurkan tanganku.

“Ayo,” kataku. “Aku tunjukin cara dansa yang nggak ada di YouTube.”

Dia ragu. Lama. Lalu dia berdiri, dan membiarkanku menariknya ke lantai dansa.

Delapan ratus orang. Aku tahu mereka melihat. Aku tidak peduli.

Di tengah lantai dansa, di bawah lampu kristal terbesar, aku berdiri di depannya. Lalu aku mengambil tangan kanannya dan menaruhnya di pinggangku.

“Yang kanan di sini,” kataku.

Lalu aku mengulurkan tangan ke saku jasnya. Mengeluarkan tangan kirinya, pelan, dengan kedua tanganku. Mengangkatnya. Dan menaruhnya di bahuku. Aku menahannya di sana dengan tanganku sendiri, menekannya lembut ke bahuku, supaya tidak jatuh.

“Yang kiri di sini,” kataku. “Aku yang pegang.”

Dia menatapku. Matanya berkaca-kaca di balik kacamata.

“Yang kiri buat aku, ingat?” bisikku.

Orkestra memainkan lagu yang lambat. Aku tidak tahu judulnya. Sesuatu dengan biola yang panjang dan piano yang lembut.

Kami bergerak. Pelan. Tidak seperti dansa di film. Tidak ada putaran, tidak ada langkah rumit. Hanya bergoyang, ke kiri dan ke kanan, di tempat. Tangannya di pinggangku. Tanganku menahan tangannya di bahuku. Tanganku yang lain di dadanya, di atas jantungnya.

Aku bisa merasakan jantungnya. Berdetak cepat. Sangat cepat.

“Kamu gemetar,” bisikku.

“Aku takut nginjek kakimu.”

“Kakiku kuat. Aku keliling gudang pakai sepatu kets tiap minggu.”

Dia tertawa pelan. Tawa yang bergetar. Dan tubuhnya sedikit lebih rileks.

Kami berdansa. Satu lagu. Lalu lagu kedua.

Di tengah lagu kedua, aku melihat Mama.

Mama berdiri di tepi lantai dansa, sendirian. Papa sedang bicara dengan seseorang di dekat panggung. Mama menatap kami. Menatap tangan Rafa di bahuku. Tangan kiri Rafa, yang kutahan di sana dengan tanganku.

Air mata mengalir di pipi Mama. Diam-diam. Tanpa suara. Seperti ibu Rafa di koridor rumah sakit delapan tahun lalu.

Mama tidak menyekanya. Mama hanya berdiri di sana, menatap kami, dengan tangan tergenggam di depan dada, dan menangis.

Rafa tidak melihatnya. Dia membelakangi Mama. Dia sedang menatapku.

Dan aku menatap Mama dari balik bahu Rafa, dan untuk sesaat, di tengah waltz yang indah dan lampu kristal yang berkilau, aku merasakan beratnya semua yang belum kukatakan. Semua yang Mama belum katakan. Delapan tahun rahasia, berdiri di tepi lantai dansa, dengan mata basah.

Sebentar lagi, kataku pada Mama tanpa suara.

Mama menutup mata. Mengangguk pelan. Lalu berbalik dan berjalan pergi, ke arah toilet, dengan langkah yang sedikit goyah.

“Vannesa?” bisik Rafa. “Kamu kenapa?”

Aku menatapnya. Menyadari mataku juga basah.

“Nggak,” kataku. “Aku cuma bahagia.”

Itu bukan bohong. Aku memang bahagia. Tapi itu juga bukan seluruh kebenarannya.

Dia menatapku. Lalu, pelan, tangan kanannya di pinggangku bergerak ke punggungku. Menarikku lebih dekat. Sampai kepalaku bersandar di bahu kanannya.

“Dua puluh dua,” bisikku ke jasnya.

“Kamu nggak bisa lihat mukaku dari situ.”

“Aku bisa dengar jantungmu,” kataku. “Jantungmu merah.”

Dia tertawa. Pelan. Dan kami terus berdansa, sampai lagu selesai, dan lagu berikutnya dimulai, dan aku tidak ingin berhenti.