Chapter Thirty Eight
Ibu yang Berlutut
POV: Rafa
Kinan mengantarku ke rumah keluarga Atmajaya dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam.
Itu rekor baru untuk Kinan. Dia tidak menyebutnya, tapi aku tahu. Dia berhenti di polisi tidur hanya setengah detik, bukan tiga detik seperti biasa. Dia tidak bilang hati-hati, ada gunung. Dia menyetir dengan dua tangan di setir dan dagu terangkat, seperti orang yang mengantar seseorang ke medan perang.
“Kak,” katanya di lampu merah terakhir. “Vannesa nggak di rumah.”
Aku menoleh. “Dari mana kamu tahu?”
“Karena dia lagi di rumah Mama.”
Aku menatapnya.
“Sabtu malam,” kata Kinan, menatap lampu merah. “Dia selalu ke rumah Mama Sabtu malam. Sebulan ini. Harusnya aku di sana juga. Tapi aku ke rumah Kakak.” Dia menggigit bibir. “Mama yang nemenin dia sekarang.”
“Ngapain dia di rumah Mama?”
Lampu hijau. Kinan menjalankan mobil.
“Nanti Kakak tahu,” katanya. “Satu-satu, Kak. Selesaiin yang ini dulu.”
Pak Hendra yang membuka pagar.
Dia melihatku. Wajahnya berubah. Kaget, lalu sesuatu yang lain. Sesuatu yang hati-hati, seperti orang yang takut berharap.
“Nak Rafa,” katanya.
“Selamat malam, Pak. Maaf mendadak.” Aku menarik napas. “Bu Ratna ada?”
Pak Hendra menatapku lama. Lalu dia membuka pagar lebih lebar.
“Ada,” katanya pelan. “Di teras belakang. Dia di sana tiap malam sekarang. Duduk aja.”
Aku menoleh ke mobil. Kinan mengangguk dari balik kaca, dan mematikan mesin. Dia akan menunggu.
Pak Hendra menuntunku melewati ruang tengah. Melewati ruang keluarga, di mana router di rak atas lemari jati berkedip hijau, stabil. Aku melihat bingkai foto di rak kedua. Vannesa sembilan belas tahun, di bawah pohon kamboja, dengan jepit bulan sabit di rambutnya. Masih di sana.
Pak Hendra berhenti di pintu kaca yang menuju teras belakang.
“Papa tunggu di dalam,” katanya. Dia menepuk bahu kananku. Sekali. Pelan. “Kalau kamu butuh apa-apa.”
Bu Ratna duduk di kursi rotan di teras belakang. Menghadap halaman yang gelap. Pohon kamboja. Kolam ikan kecil. Lampu taman yang temaram.
Dia tidak memakai kebaya. Hanya daster sederhana dan kardigan tipis. Rambutnya tergerai, beberapa helai beruban di pelipis yang tidak pernah kulihat sebelumnya karena selalu tersanggul rapi. Dia terlihat lebih kecil. Lebih tua. Seperti orang yang sudah lama tidak tidur.
Aku berdiri di ambang pintu kaca, lama, mengumpulkan keberanian. Dia tidak menoleh.
“Bu,” kataku.
Dia terlonjak. Menoleh. Melihatku.
Dan dia berdiri begitu cepat sampai kursi rotannya bergeser dengan bunyi keras di lantai teras.
“Nak—Nak Rafa—”
“Maaf, Bu. Saya ngagetin.”
Dia menatapku seperti melihat hantu. Tangannya menggenggam ujung kardigan. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.
Aku berjalan mendekat. Pelan. Berhenti dua langkah di depannya.
“Saya datang,” kataku, “karena saya belum pernah jawab Ibu.”
Dia menatapku, bingung.
“Di kantor, di ulang tahun Vannesa, Ibu bilang maafkan Ibu. Minggu kemarin, di ruang keluarga, Ibu bilang Ibu pengecut. Waktu Kinan datang, Ibu minta maaf ke Kinan.” Aku menarik napas. “Tapi saya belum pernah jawab Ibu. Saya cuma pergi.”
Bu Ratna menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai mengalir.
Lalu dia berlutut.
Di lantai teras yang dingin. Di depanku. Seperti di ruang keluarga Minggu lalu. Seperti di jalan setapak di depan Kinan.
“Nak,” bisiknya. “Ibu nggak minta dimaafin. Ibu nggak pantas dimaafin. Ibu ninggalin kamu di rumah sakit. Ibu biarin ibumu nangis sendirian. Ibu biarin adikmu duduk di lantai. Ibu bohong ke anak Ibu delapan tahun. Ibu nawarin terapi Singapura kayak Ibu mau bayar lagi, kayak duit bisa—”
“Bu.”
“—kayak duit bisa balikin tanganmu, Ibu tahu itu nggak bisa, Ibu tahu, tapi Ibu nggak tahu harus ngapain lagi—”
“Bu Ratna.”
Dia berhenti. Menatapku dari lantai, wajahnya basah.
Aku berlutut.
Di depannya. Di lantai teras yang sama. Dengan tangan kanan bertumpu di lantai, pelan, menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh ke kiri. Berlutut dengan satu tangan tidak pernah mudah. Tapi aku sudah melakukannya di lift, dan di basement, dan di lantai ruang keluarga Minggu lalu. Aku bisa melakukannya lagi.
Sekarang wajah kami sejajar.
“Bu,” kataku pelan. “Saya nggak pernah marah sama Ibu.”
Bu Ratna menatapku. Tidak percaya.
“Saya udah nyari,” kataku. “Minggu lalu, waktu Ibu cerita di ruang keluarga. Saya nyari marah itu. Saya tahu Kinan pasti marah. Kinan punya hak. Tapi saya nggak nemu. Saya nggak pernah nemu.” Aku menatapnya. “Ibu tahu kenapa?”
Dia menggeleng.
“Karena malam itu, waktu saya bangun di rumah sakit, hal pertama yang saya tanya itu ceweknya selamat nggak. Perawatnya bilang, sudah dijemput keluarganya, selamat.” Aku tersenyum. Senyum kecil. “Ibu yang jemput. Ibu yang bawa dia pulang. Ibu yang duduk di sebelahnya sepanjang malam dengan lampu nyala semua.”
Bu Ratna terisak.
“Ibu ngelakuin apa yang saya nggak bisa lakuin,” kataku. “Saya cuma bisa nahan pisaunya. Ibu yang jaga dia setelahnya. Delapan tahun. Ibu yang bikin dia jadi Vannesa yang sekarang. Yang hafal nama semua orang. Yang nahan pintu buat orang yang barangnya kebanyakan.”
“Tapi Ibu ninggalin kamu—”
“Ibu milih anak Ibu.” Aku menggeleng pelan. “Bu, kalau saya punya anak, dan anak saya hancur, dan saya harus milih antara anak saya atau orang asing di koridor rumah sakit, saya juga bakal milih anak saya. Mama saya juga. Semua ibu di dunia juga.”
Bu Ratna menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Dan Bu,” lanjutku, lebih pelan. “Uang itu.”
Dia menurunkan tangannya perlahan.
“Kinan bilang itu kayak bayar tagihan listrik. Kinan marah. Kinan boleh marah.” Aku menarik napas. “Tapi Ibu tahu nggak, waktu itu Papa saya pensiunan guru? Gajinya kecil. Mama saya ibu rumah tangga. Kalau bukan karena Ibu, Mama saya harus jual rumah. Rumah pagar hijau yang catnya ngelupas. Rumah yang ada pohon mangga yang nggak pernah berbuah, yang Papa terlalu sayang buat ditebang.”
Aku melihatnya mengerti. Pelan.
“Fisioterapi setahun itu,” kataku. “Yang Ibu bayar diam-diam. Itu yang bikin Kinan bisa nemenin saya latihan tiap hari. Itu yang bikin Kinan tahu dia mau jadi fisioterapis. Itu yang bikin saya bisa ngikat tali sepatu sembilan detik.” Suaraku mulai bergetar. “Ibu nggak ninggalin saya, Bu. Ibu cuma nggak datang. Itu beda.”
Bu Ratna menatapku lama sekali. Air mata terus mengalir di pipinya.
Lalu dia mengulurkan tangan. Ragu. Gemetar.
Dan menyentuh tangan kiriku.
Tangan kiriku yang tergeletak di pahaku. Dia menyentuhnya dengan ujung-ujung jarinya, sangat pelan, seperti menyentuh sesuatu yang suci. Lalu dia menggenggamnya. Dengan kedua tangannya.
Aku tidak bisa merasakannya. Tapi aku melihatnya. Aku melihat setiap jarinya.
“Terima kasih,” bisik Bu Ratna. Ke tanganku. Bukan ke wajahku. Ke tanganku. “Terima kasih udah nolong anak Ibu. Terima kasih udah kasih dia delapan tahun. Terima kasih, Nak. Delapan tahun Ibu mau bilang ini. Terima kasih.”
Dan dia mencium punggung tangan kiriku.
Aku tidak bisa merasakannya.
Tapi aku menangis. Keras. Untuk pertama kalinya sejak Tebet. Untuk pertama kalinya di depan orang yang bukan keluargaku. Aku menangis di lantai teras belakang keluarga Atmajaya, dengan Bu Ratna menggenggam tangan kiriku, dan delapan tahun yang terasa seperti beban berat di bahu kiriku yang mati rasa, entah bagaimana, terasa sedikit lebih ringan.
Karena tidak ada yang pernah bilang terima kasih pada tangan itu.
Semua orang melihat tangan itu dan melihat apa yang hilang. Tidak ada yang pernah melihatnya dan melihat apa yang sudah dia berikan.
Lama kemudian, kami duduk di lantai teras. Berdampingan. Bersandar di dinding. Menatap pohon kamboja dalam gelap.
Seekor ikan di kolam kecil melompat, memecah permukaan air dengan bunyi pelan, lalu diam lagi. Pohon kamboja menjatuhkan satu bunga ke rumput. Malam terasa sangat tenang, seolah seluruh halaman ikut menahan napas bersama kami.
Pak Hendra keluar membawa dua gelas teh hangat. Dia menaruhnya di lantai di sebelah kami, tanpa berkata apa-apa, dan masuk lagi. Aku melihatnya mengusap matanya dengan lengan kaus sebelum pintu kaca tertutup.
“Nak,” kata Bu Ratna pelan.
“Ya, Bu?”
“Nes di rumah ibumu.”
“Kinan bilang.”
“Kamu tahu dia ngapain di sana?”
Aku menggeleng.
Bu Ratna tersenyum. Senyum pertama yang kulihat di wajahnya sejak hari ulang tahun Vannesa. Senyum yang basah, lelah, tapi tulus.
“Dia belajar gitar,” katanya.
Aku membeku.
“Sebulan,” lanjut Bu Ratna. “Sejak pagi Kinan datang ke sini. Kinan yang ngajarin. Tiap Sabtu di kamar lamamu. Tiap malam di kamarnya sendiri, pakai gitar bekas yang dia beli di toko musik dekat kantor.” Bu Ratna menatap halaman. “Ibu dengar dari kamar Ibu. Tiap malam. Kunci yang sama diulang-ulang. G. C. D. Em. Sampai jam satu, jam dua pagi. Awalnya sumbang sekali. Sekarang sudah lumayan. Kecuali yang D. D-nya masih sumbang.”
Aku tidak bisa bicara.
“Jarinya berdarah, Nak,” kata Bu Ratna. Suaranya bergetar. “Ujung-ujung jari tangan kirinya. Melepuh, terus pecah, terus melepuh lagi. Ibu lihat dia pakai plester diam-diam sebelum ke kantor. Ibu tanya kenapa. Dia bilang, nggak apa-apa, Ma, nanti kapalan sendiri. Rafa juga dulu gitu.”
Ada kapalan kecil di ujung jari telunjuk sama jari tengah. Bekas gitar, kan? Masih ada, Rafa.
“Kinan foto buku lagumu,” kata Bu Ratna. “Lagu yang belum selesai itu. Nes belajar kunci-kuncinya. Semuanya. Kunci yang kamu tulis delapan tahun lalu.”
Aku menutup mata.
“Ibu tanya dia,” lanjut Bu Ratna, sangat pelan sekarang. “Satu malam, jam dua pagi, waktu Ibu nggak tahan lagi dengar dia latihan sambil nangis. Ibu masuk kamarnya. Ibu tanya, Nes, buat apa? Dia udah mau pergi ke Surabaya.”
“Dia jawab apa, Bu?”
Bu Ratna menatapku. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tersenyum.
“Dia bilang, yang kiri buat aku, Ma. Aku udah janji. Kalau dia nggak bisa neken kunci, aku yang neken. Biar dia bisa main lagi. Biar lagunya selesai.”
Aku tidak bisa bernapas.
Aku duduk di lantai teras, dengan punggung di dinding, dan merasakan kalimat itu masuk ke dadaku dan tinggal di sana. Seperti kunci yang akhirnya menemukan lubangnya.
Yang kiri buat aku.
Aku bertanya padanya, di teras ini, seminggu lalu: itu janji, atau cicilan?
Dan jawabannya ada di kamar lamaku. Di ujung jari-jarinya yang berdarah. Di kunci D yang masih sumbang. Di lagu yang kutulis delapan tahun lalu untuk seseorang yang belum ada, yang sekarang sedang dia pelajari, satu kunci demi satu kunci, supaya aku bisa memainkannya lagi.
Bukan cicilan.
Tidak pernah cicilan.
“Bu,” kataku. Suaraku patah. “Saya harus pergi.”
Bu Ratna tersenyum. Dia mengangguk.
Aku berdiri. Dengan bantuan dinding. Terlalu cepat, sedikit oleng. Bu Ratna ikut berdiri, memegang lengan kananku sebentar untuk menstabilkanku. Aku tidak menolak.
Di ambang pintu kaca, aku menoleh.
“Bu,” kataku. “Makasih udah bilang terima kasih.”
Bu Ratna menutup mulutnya dengan tangan. Dan mengangguk. Berkali-kali.
Pak Hendra menungguku di ruang tengah. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya memelukku, cepat, keras, lalu melepaskanku dan mendorongku ke pintu depan.
“Pergi sana,” katanya dengan suara serak. “Papa suruh Kinan nyetir cepat.”
Kinan sudah berdiri di samping mobil, mesin menyala. Dia melihat wajahku dan tidak bertanya apa-apa.
“Rumah Mama?” tanyanya.
“Rumah Mama.”
“Kakak udah tahu?”
“Udah tahu.”
Kinan menatapku. Lalu dia tersenyum lebar, senyum yang basah dan bangga dan sangat Kinan, dan dia melompat ke kursi pengemudi.
“Pegangan, Kak,” katanya. “Aku mau pecahin rekor.”
Dia menginjak gas.
Dan malam itu, di jalanan Jakarta Selatan ke Jakarta Timur, Kinan Elvano menyetir enam puluh kilometer per jam, tanpa berhenti di satu polisi tidur pun, sambil berteriak AWAS, GUNUNG setiap kali mobil melompat.
Aku berpegangan pada pegangan di atas pintu dengan tangan kanan. Tangan kiriku di pangkuan. Tidak di saku.
Aku tertawa sepanjang jalan, sampai perutku sakit.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut reading
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari