← Yang Kiri buat Aku

Chapter Thirty Four

Utang yang Nggak Pernah Ditagih

POV: Vannesa

Senin pagi, tidak ada kopi di mejaku.

Aku sudah tahu tidak akan ada. Aku sudah tahu sejak Minggu pagi, sejak aku duduk di anak tangga teras dengan wajah di lutut dan mendengar pagar tertutup. Aku sudah tahu sejak Minggu malam, ketika aku menelepon dua belas kali dan dua belas kali tidak diangkat, dan akhirnya satu pesan masuk jam sebelas malam: Aku baik-baik aja. Kamu istirahat.

Tapi aku tetap berdiri di depan mejaku jam delapan pagi, menatap permukaannya yang kosong, dan merasa seperti ada yang mencabut sesuatu dari dadaku.

Tidak ada gelas kopi. Tidak ada catatan tempel kuning.

Aku duduk. Membuka laptop. Menatap layar.

Melalui partisi kaca, aku melihat meja vendor. Rafa sudah di sana. Dia mengetik dengan tenang, kacamata di hidung, wajah datar.

Tangan kirinya di saku.

Aku menatap tangan itu lama. Dua minggu tangan itu di meja, di pangkuan, di genggamanku. Dua minggu dia tidak menyembunyikannya. Dan sekarang tangan itu kembali ke tempat lamanya, terbenam di saku celana, seperti tidak pernah keluar.

Di meja sebelahnya, Gilang menatapku melalui partisi kaca. Wajahnya tidak berbinar. Wajahnya bingung, sedih, bertanya.

Di belakang Gilang, papan tulis kecil di sudut area vendor sudah bersih. Skor yang dia tulis minggu lalu, Bang Rafa: 6, Bu Vannesa: 23, sudah dihapus. Tidak ada yang menulis apa-apa lagi di sana.


Rapat mingguan jam sepuluh.

Aku masuk ruang rapat lima menit lebih awal. Kebiasaan. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Rafa sudah di sana. Duduk di kursi paling ujung, di dekat jendela. Di sebelah kirinya, Gilang. Di sebelah kanannya, Mas Doni. Tidak ada kursi kosong di dekatnya.

Aku berdiri di ambang pintu. Gilang melihatku. Dia membuka mulut, lalu menutupnya, lalu menunduk ke laptopnya dengan wajah seperti orang yang sedang dihukum.

Aku duduk di kursi paling jauh dari Rafa. Di ujung lain meja.

Rapat dimulai. Rafa mempresentasikan jadwal go-live. Suaranya tenang. Rapi. Profesional. Dia menjelaskan setiap tahap dengan jelas, menjawab setiap pertanyaan dengan sabar. Pak Bambang di layar video memujinya dua kali.

“Tanggal go-live nasional dua belas hari lagi,” kata Rafa. “Tim kami akan standby penuh sampai go-live. Setelah itu, masa dukungan satu bulan dilanjutkan secara remote oleh tim Sinergi Dataloka.”

“Remote, Mas?” tanya Om Darmo. “Bukan on-site?”

“Remote, Pak. Kontrak on-site kami berakhir di hari go-live.”

Aku menatapnya dari ujung meja. Dia tidak menatapku.

“Bu Vannesa,” katanya, tetap tidak menatapku, membaca dari laptopnya. “Untuk koordinasi harian sampai go-live, saya usul Mas Gilang yang jadi titik kontak utama dari tim kami. Supaya lebih efisien.”

Bu Vannesa.

Satu ruangan hening. Dua belas orang. Mereka semua tahu. Mereka semua merayakan di warung padang delapan hari yang lalu. Mereka mendengar Bu Vannesa keluar dari mulut Rafa dengan nada yang sama seperti hari pertama kickoff meeting, dua setengah bulan lalu.

Om Darmo menatap Rafa. Lalu menatapku. Wajahnya yang biasa keras berubah sedikit.

“Setuju,” kataku. Suaraku keluar lebih tenang dari yang kurasakan. “Mas Gilang titik kontak utama.”

“Terima kasih, Bu.”

Di sebelah Rafa, Gilang menutup matanya.


Dia tetap baik. Itu yang paling sulit.

Kalau dia marah, aku bisa menerimanya. Kalau dia menghindar, menatapku dengan dingin, pura-pura aku tidak ada, aku bisa menerimanya. Aku pantas menerimanya.

Tapi dia tetap baik.

Dia menyapaku di koridor. Pagi, Bu. Dengan senyum kecil yang sopan. Dia membukakan pintu lift untukku dengan bahu kanannya ketika kami kebetulan masuk lift yang sama. Dia mengirimiku dokumen yang kuminta dalam waktu lima menit, rapi, lengkap, dengan catatan tambahan yang berguna. Ketika aku lupa membawa charger ke rapat sore, sebuah charger muncul di sebelah laptopku, tanpa ada yang melihat siapa yang menaruhnya.

Charger itu miliknya. Aku mengenalinya. Ada stiker kecil bergambar kucing oranye di kepalanya. Stiker yang Kinan tempelkan.

Dia baik padaku seperti dia baik pada semua orang. Seperti dia baik pada Bu Yanti, Pak Tarno, Dimas, Mas Doni. Seperti aku hanya salah satu dari sekian banyak orang yang dia tolong setiap hari tanpa meminta apa-apa.

Seperti aku kembali menjadi klien.

Bu Yanti menaruh pisang goreng di mejanya setiap pagi. Pisang goreng yang pinggirnya garing, yang dia bikin khusus. Setiap sore, piring itu dikembalikan ke pantry. Utuh.

“Mas Rafa nggak makan, Bu,” bisik Bu Yanti padaku hari Rabu, di pantry. Matanya merah. “Tiga hari. Makan siang juga cuma kopi.”

Aku tidak bisa menjawab.


Rabu malam, aku lembur.

Aku tidak perlu lembur. Tapi aku tidak bisa pulang ke rumah yang penuh dengan Mama yang menangis di kamar dan Papa yang duduk di ruang keluarga menatap router di rak atas lemari jati tanpa berkata apa-apa. Jadi aku lembur, menatap laporan yang tidak kubaca, sampai jam sembilan.

Meja vendor sudah kosong sejak jam enam. Dia pulang tepat waktu setiap hari sekarang. Dia tidak lembur lagi.

Jam sembilan lewat seperempat, aku turun ke basement.

Lampunya redup, seperti biasa. Aku menggenggam kunci mobil dengan senter perak kecil. Aku belum menyalakannya.

Pintu lift terbuka di basement, dan Pak Tarno berdiri di sana.

“Bu Vannesa,” katanya. Dia membawa senter besar, senter satpam. “Saya antar ke mobil, Bu.”

Aku mengerjap. “Pak Tarno? Kok di sini? Bukannya Bapak jaga di lobi?”

“Iya, Bu. Tapi saya diminta.” Pak Tarno menyalakan senternya, menerangi lorong parkir. “Setiap Ibu pulang malam, saya antar ke mobil. Sampai proyeknya selesai.”

“Diminta siapa?”

Pak Tarno tidak menjawab langsung. Dia berjalan di depanku, menyorot lorong dengan senter besarnya, sampai kami sampai di mobilku. Lalu dia berhenti, dan menatapku dengan wajah seorang bapak yang tidak tega.

“Mas Rafa, Bu,” katanya pelan. “Senin pagi. Dia datang ke pos satpam jam enam. Dia bilang, Pak, tolong antar Bu Vannesa ke basement tiap pulang malam. Dia takut gelap. Saya nggak bisa lagi.” Pak Tarno menunduk. “Dia kasih saya uang, Bu. Buat kopi, katanya. Saya tolak. Dia maksa. Saya tolak lagi. Akhirnya dia bilang, ya udah, Pak, tapi tolong ya. Janji.”

Aku berdiri di samping mobilku. Kunci di tangan. Senter perak kecil tergantung di sana.

Saya nggak bisa lagi.

Dia masih menjagaku. Dari jauh. Dengan tangan orang lain. Karena dia pikir aku lebih baik tanpa dia di dekatku, tapi dia tidak bisa berhenti memastikan aku tidak takut.

Aku masuk ke mobil. Menutup pintu. Pak Tarno menunggu di luar, dengan senter besar, sampai aku menyalakan mesin.

Aku tidak menyalakan mesin.

Aku menunduk di atas setir dan menangis. Keras. Seperti anak kecil. Pak Tarno di luar jendela tidak pergi. Dia berdiri di sana, membelakangi mobilku, menyorot lorong parkir yang kosong dengan senternya, menjaga, sampai aku selesai.


Malam itu, dari kamarku, aku mengirim sesuatu.

Screenshot. Chat dengan Tasya. Jumat malam, 23.47. Lima minggu lalu.

Karena aku suka Rafa. Serius, Sya. Bukan naksir-naksiran. Aku suka dia. Aku mau dia.

Di bawahnya, aku mengetik:

Ini hari Jumat. Mama cerita ke aku hari Selasa, empat hari setelahnya. Aku suka kamu sebelum tahu, Rafa. Ini buktinya.

Tanda dibaca muncul dalam satu menit.

Lalu tidak ada apa-apa selama sepuluh menit. Tanda sedang mengetik muncul, hilang, muncul, hilang.

Lalu:

Aku percaya.

Aku menatap dua kata itu.

Aku udah bilang aku percaya, lanjutnya. Aku nggak butuh bukti, Vannesa. Aku tahu kamu suka aku sebelum kamu tahu. Itu bukan masalahnya.

Terus apa masalahnya???

Lama. Sangat lama. Aku menatap layar sampai mataku perih.

Lalu ponselku berdering.

Dia menelepon.

Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mendengar napasnya di seberang, pelan, dan bunyi jangkrik dari kebun kosong di sebelah rumah kontrakannya. Dan, samar, suara mengeong. Mbul.

“Vannesa,” katanya. Suaranya serak. Seperti orang yang sudah lama tidak bicara.

“Hai.”

“Kamu udah makan?”

Aku tertawa. Tawa yang langsung pecah menjadi isakan. “Kamu yang nggak makan. Bu Yanti bilang tiga hari.”

Dia diam.

“Rafa,” kataku. “Aku salah. Aku tahu aku salah. Aku harusnya bilang dari awal. Aku takut. Aku kayak Mama, aku nunda dan nunda. Maaf. Aku minta maaf. Tapi tolong jangan—”

“Kamu nggak salah.”

Aku berhenti.

“Kamu nggak salah,” ulangnya pelan. “Kamu cuma orang baik yang dapat beban yang nggak adil. Kamu delapan tahun takut gelap. Terus tiba-tiba kamu tahu orang yang kamu suka itu orang yang berdarah di gang itu buat kamu. Siapa yang bisa bawa itu dengan baik?” Suaranya bergetar sedikit. “Aku nggak marah, Vannesa. Aku sama sekali nggak marah.”

“Terus kenapa?”

Dia diam lama.

“Karena setiap kali kamu lihat aku,” katanya akhirnya, “kamu lihat malam itu.”

“Nggak—”

“Iya. Aku lihat. Di Tebet, di gala, di rooftop, di mobil. Kamu nangis tiap lihat tanganku. Dulu kamu nggak pernah nangis. Dulu kamu bukain botolku sambil baca tablet. Dulu kamu nyuruh aku bukain keripik.” Napasnya tersendat. “Aku kangen Vannesa yang nyuruh aku bukain keripik.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Kamu nggak berutang apa-apa sama aku,” lanjutnya, lebih pelan. “Tapi kamu nggak bisa berhenti ngerasa berutang. Dan aku nggak mau jadi orang yang tiap hari kamu lihat terus kamu inget kamu berutang. Aku nggak mau jadi beban yang kamu tanggung seumur hidup, sambil pura-pura itu cinta.”

“Aku nggak pura-pura!”

“Aku tahu.” Suaranya pecah. “Aku tahu kamu nggak pura-pura. Itu yang bikin aku takut. Karena kamu bahkan nggak bisa bedain. Dan aku juga nggak bisa.”

Aku menangis. Aku tidak bisa berhenti.

“Aku nggak mau bebas,” kataku di sela isakan. “Aku nggak mau bebas, Rafa. Aku nggak minta dibebasin.”

“Aku tahu,” katanya lembut. “Makanya aku yang pergi.”

Hening.

Hanya jangkrik. Mbul yang mengeong sekali lagi. Dan napas kami berdua, di dua kamar yang berbeda, di dua ujung Jakarta.

“Makan, ya,” bisiknya. “Terus tidur. Pak Tarno bakal antar kamu tiap malam. Kamu nggak perlu takut basement.”

“Rafa—”

“Selamat malam, Vannesa.”

Telepon ditutup.


Kamis pagi, Gilang mengetuk pintu ruanganku.

Dia masuk tanpa menunggu jawaban. Menutup pintu. Berdiri di depan mejaku dengan wajah yang tidak pernah kulihat dari Gilang. Tidak ada senyum. Tidak ada lelucon.

“Bu,” katanya. “Saya nggak tahu apa yang terjadi. Bang Rafa nggak mau cerita. Tapi saya harus bilang sesuatu.”

“Apa, Mas?”

“Kemarin Bang Rafa telepon Pak Surya. Saya dengar.” Gilang menelan ludah. “Dia minta dipindah setelah go-live. Proyek jangka panjang. Di Surabaya. Satu tahun.”

Aku menatapnya.

“Pak Surya setuju,” kata Gilang pelan. “Dia berangkat tiga hari setelah go-live.”

Aku tidak bisa bernapas.

Gilang menatapku dengan mata merah. “Bu, saya nggak tahu Ibu salah apa, atau Bang Rafa salah apa. Saya nggak peduli. Saya cuma tahu, dua minggu lalu Bang Rafa ketawa kayak orang yang baru lahir. Dan sekarang dia makan kopi doang dan masukin tangannya ke saku lagi.” Suaranya bergetar. “Tolong, Bu. Apa pun itu. Tolong.”


Malam itu, aku duduk di teras belakang dengan Mama.

Mama tidak menyisir rambutku. Mama hanya duduk di kursinya, menatap halaman yang gelap, dengan wajah yang sudah tidak punya air mata lagi untuk ditangiskan.

“Dia mau pergi, Ma,” kataku. “Surabaya. Setahun.”

Mama menutup mata.

“Mama pergi dari koridor rumah sakit,” kataku pelan. “Karena Mama mau ngelindungin aku. Aku nunda bilang ke dia, karena aku mau ngelindungin dia dari mikir aku kasihan. Dan sekarang dia pergi, karena dia mau ngelindungin aku dari ngerasa berutang.” Aku menatap pohon kamboja dalam gelap. “Semua orang ngelindungin semua orang, Ma. Dan semua orang sakit.”

Mama tidak menjawab.

Ponselku bergetar di pangkuan. Pesan dari Instagram. Dari akun yang pagi-pagi biasanya mengirimiku satu kata: awasi.

Kinan: Kakak masukin tangannya ke saku lagi. Dia nggak makan. Dia nggak mau cerita ke aku. Dia cuma bilang “udah selesai, Nan”. KAMU APAIN DIA.

Aku menatap pesan itu.

Aku bisa berbohong lagi. Aku bisa bilang nanti aku cerita. Aku bisa bilang tanya Kakakmu. Aku bisa menunda, sekali lagi, seperti yang sudah kulakukan sejak malam ulang tahunku. Seperti yang Mama lakukan delapan tahun.

Aku sudah selesai menunda.

Aku mengetik pelan, kalimat demi kalimat, dengan tangan yang tidak lagi gemetar.

Kinan. Aku cewek yang di gang itu. Delapan tahun lalu. Kakakmu nolongin aku.

Mamaku yang bayar rumah sakitnya. Mamaku yang berdiri di koridor waktu kamu duduk di lantai. Mamaku yang pergi.

Aku tahu sejak ulang tahunku. Aku nggak bilang ke Kakakmu. Waktu aku datang ke klinikmu, aku udah tahu. Aku dengar semua ceritamu, dan aku nggak bilang apa-apa.

Kakakmu tahu hari Minggu. Dari foto. Bukan dari aku.

Maaf. Aku minta maaf. Kamu boleh benci aku.

Aku menekan kirim.

Tanda dibaca muncul hampir seketika.

Lalu tidak ada apa-apa.

Tidak ada balasan. Tidak ada tanda sedang mengetik. Hanya dua centang biru, di bawah kalimat terakhirku, menatapku dalam gelap.

Di sebelahku, Mama membaca layar ponselku dari samping. Aku tidak menyembunyikannya.

Mama menatap nama Kinan. Lama.

“Anak perempuan yang pakai kaus kucing,” bisiknya.

“Iya, Ma.”

Mama mengangguk pelan. Lalu dia berdiri, dan masuk ke dalam rumah, dan aku mendengar pintu kamarnya tertutup.

Aku tidak tahu, malam itu, bahwa besok pagi Kinan Elvano akan berdiri di depan pagar rumah kami.