← Yang Kiri buat Aku

Chapter Four

Saku Kiri

POV: Rafa

“Bu lagi,” kata Vannesa.

Aku mengangkat kepala dari laptop. “Maaf?”

“Barusan Mas Rafa bilang ‘Bu Vannesa, ini alur approval-nya’. Itu ‘Bu’ yang kesebelas hari ini.” Dia mengangkat sebelas jari. Maksudku, dia mengangkat sepuluh jari, lalu meminjam satu jari Tasya yang kebetulan lewat membawa map. Tasya berhenti, menatap jarinya sendiri yang sekarang dipegang atasannya, lalu menatapku.

“Saya dipakai buat apa ini?” tanya Tasya.

“Buat ngitung,” kata Vannesa. “Mas Rafa manggil aku ‘Bu’ sebelas kali. Padahal udah aku bilang dari hari pertama, Vannesa aja.”

Tasya menarik jarinya kembali dengan wajah seseorang yang tidak digaji untuk ini, lalu pergi. Vannesa menatapku lagi. Menunggu.

“Kebiasaan,” kataku. “Di kantor saya, klien selalu dipanggil Bapak atau Ibu. Kalau nggak, Pak Surya bisa kena serangan jantung.”

“Pak Surya nggak ada di sini.”

“Beliau punya mata-mata di mana-mana.”

“Siapa?”

Aku melirik ke meja sebelah, tempat Gilang sedang pura-pura mengetik tapi jelas-jelas menguping sejak lima belas menit lalu. Gilang langsung mengetik lebih keras.

Vannesa tertawa. Tawa yang tidak ditahan, kepala sedikit mendongak. Dua orang di meja seberang ikut menoleh, lalu tersenyum tanpa tahu kenapa. Itu efek yang dia miliki pada ruangan, aku mulai menyadarinya. Seperti membuka jendela di kamar yang pengap.

“Oke,” katanya. “Nego. Di rapat besar, boleh ‘Bu’. Kalau cuma berdua kerja kayak gini, ‘Vannesa’. Deal?”

Aku menatap uluran tangannya. Lalu menyambutnya.

“Deal,” kataku. “Bu.”

Dia menyipitkan mata.

“Vannesa,” ralatku.

“Nah.” Dia melepaskan tanganku dan kembali ke dokumennya, puas. “Dua belas, tapi yang terakhir aku maafin.”


Minggu kedua di Atma & Corp berarti sesi requirement tanpa henti. Aku sudah mewawancarai kepala gudang dari enam kota, tiga manajer armada, dan satu sopir truk yang, ternyata, adalah sopir yang pernah nyasar ke Madura. Namanya Pak Kardi, dan dia punya teori panjang tentang bagaimana satelit sengaja menyesatkan truk-truk yang membawa barang bagus.

Tapi sesi yang paling lama, dan yang paling sulit, adalah sesi dengan project owner.

Bukan karena Vannesa sulit diajak kerja. Justru sebaliknya. Dia cepat, tajam, dan dia tahu setiap sudut operasional perusahaan keluarganya lebih baik daripada siapa pun di gedung ini. Dia bisa menyebutkan kapasitas gudang Medan di luar kepala. Dia tahu jam berapa armada Surabaya biasanya macet di tol. Dia bahkan tahu nama anak-anak Pak Kardi.

Yang sulit adalah duduk di sebelahnya selama empat jam dan berpura-pura bahwa aku hanya seorang vendor.

Ruang kerja yang disediakan untuk tim kami ada di sudut lantai sembilan, dipisahkan dari area divisi operasional oleh partisi kaca setinggi dada. Vannesa lebih suka menghampiri meja kami daripada memanggil kami ke ruangannya. “Biar kalian nggak bolak-balik,” katanya. Jadi setiap siang, dia datang membawa laptop dan kopi, menarik kursi kosong, dan duduk di sebelahku.

Di sebelah kiriku.

Aku yakin dia tidak memilihnya dengan sengaja. Kursi kosong di meja kami kebetulan ada di sisi kiri. Tapi itu berarti setiap siang, selama berjam-jam, sisi tubuhku yang paling ingin kusembunyikan berada paling dekat dengannya.

Jadi tangan kiriku tetap di saku.

Aku sudah melakukannya begitu lama sampai aku jarang memikirkannya lagi. Tangan itu tidak bisa bergerak sendiri, dan kalau dibiarkan tergantung, dia akan berayun sedikit setiap kali aku berjalan, seperti benda yang tidak terpasang dengan benar. Orang-orang akan menatapnya. Anak kecil akan bertanya. Di saku, dia diam dan tidak terlihat, dan aku bisa menjadi pria biasa yang kebetulan suka memasukkan tangan ke saku.

Hanya saja, siang ini, saku itu mengkhianatiku.


Kejadiannya jam dua lewat sedikit. Vannesa sedang menjelaskan alur retur dari toko ritel, dan aku sedang menggambar diagramnya di tablet. Lalu ponselnya berdering. Dia melirik layar, dan wajahnya berubah.

“Pak Bambang,” katanya. “Kalau beliau nelepon jam segini, pasti ada yang meledak.”

Dia berdiri begitu cepat sampai sikunya menyenggol gelas kopiku. Gelas itu oleng ke arahku. Aku refleks berdiri dan mundur untuk menghindari tumpahannya.

Dan tangan kiriku terlepas dari saku.

Rasanya aneh, selalu aneh. Aku tidak merasakannya jatuh. Aku hanya melihatnya: lenganku terayun keluar, tergantung lemas di sisi tubuh, berayun sekali, dua kali, seperti bandul jam yang kehabisan tenaga. Pulpen yang tadi terselip di saku ikut terjatuh dan menggelinding di lantai.

Waktu seakan melambat.

Aku melihat semuanya dengan kejernihan yang menyakitkan. Gilang yang berhenti mengetik. Dua staf di balik partisi kaca yang menoleh. Tasya yang berdiri di dekat printer, matanya melebar sedikit. Dan Vannesa, ponsel masih berdering di tangannya, yang menatap ke bawah.

Ke tanganku.

Aku menunggu. Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku sudah melihatnya berkali-kali. Tatapan yang berubah. Jeda canggung. Aduh, maaf, Mas. Lalu kebaikan hati yang terlalu hati-hati, yang membuat semua interaksi berikutnya terasa seperti berjalan di atas es tipis.

Dengan tangan kananku, aku mengangkat tangan kiriku dan memasukkannya kembali ke saku. Cepat. Rapi. Seperti menutup laci yang terbuka.

Vannesa membungkuk.

Dia memungut pulpenku dari lantai, menaruhnya di meja di depanku, lalu mengangkat gelas kopi yang untungnya tidak jadi tumpah dan menggesernya lebih jauh dari tepi meja.

“Sori, sikuku bar-bar,” katanya. Lalu dia mengangkat ponselnya. “Halo, Pak Bambang? Iya. Iya, Pak. Gudang kebanjiran? Sebentar, Pak, jangan panik dulu…”

Dan dia berjalan pergi, menuju ruangannya, sudah tenggelam dalam urusan gudang yang kebanjiran.

Itu saja.

Aku berdiri di sana dengan tangan kanan masih menggenggam kain saku, menatap pulpen yang dia kembalikan.

Dia tidak berkata apa-apa soal tanganku. Tidak ada jeda. Tidak ada tatapan yang berubah. Dia memungut pulpenku persis seperti dia akan memungut pulpen siapa saja yang jatuh karena sikunya yang bar-bar.

“Bang,” bisik Gilang. “Lo oke?”

Aku duduk pelan-pelan. “Oke.”

“Muka lo aneh.”

“Muka saya memang begini.”

“Nggak, Bang. Biasanya muka lo aneh yang tenang. Ini aneh yang…” Dia mencari kata. “Aneh yang lagi meleleh.”

Aku tidak menjawab. Aku menatap diagram alur retur di tabletku dan mencoba mengingat di mana tadi aku berhenti menggambar. Aku tidak bisa ingat.


Gilang punya teori tentang cinta, dan dia menjelaskannya padaku di warung ketoprak sore itu tanpa diminta.

“Jadi gini, Bang. Cinta itu kayak bug di production.”

“Lang.”

“Dengerin dulu. Awalnya lo nggak sadar. Semua kelihatan normal. Terus lo lihat satu log error kecil. Lo pikir, ah, sekali doang. Terus muncul lagi. Terus lagi. Tiba-tiba server lo down jam tiga pagi dan lo nangis di depan monitor.”

“Itu bukan cinta. Itu trauma kerja.”

“Sama aja, Bang.” Dia menyuap ketoprak dengan ekspresi filsuf. “Dan lo, Bang, udah di tahap log error-nya muncul tiap lima menit.”

Aku menuang kecap ke piringku. Botolnya kujepit di antara lutut, tutupnya kubuka dengan tangan kanan. Penjual ketoprak, yang baru kali ini melihatku, memperhatikan dengan alis terangkat. Aku tersenyum padanya. Dia tersenyum balik, sedikit canggung, lalu menambahkan kerupuk ekstra ke piringku tanpa bilang apa-apa. Aku tidak menolak. Kerupuk ekstra adalah kerupuk ekstra.

“Lang,” kataku. “Saya nggak naksir siapa-siapa.”

“Bang, tadi lo ngegambar diagram retur. Terus Bu Vannesa ketawa di ujung ruangan. Terus lo ngegambar panah dari ‘toko’ ke ‘hati’.”

Aku berhenti mengunyah.

“Gue foto, Bang,” kata Gilang lembut. “Buat barang bukti.”

“Hapus.”

“Nggak.”

“Gilang.”

“Itu satu-satunya hal lucu yang terjadi di hidup gue minggu ini, Bang. Biarin gue punya satu hal ini.” Dia menyeruput es tehnya. “Lagian, gue ngerti kok. Siapa yang nggak? Separuh lantai sembilan naksir dia. Mas-mas IT internal itu udah tiga kali pura-pura butuh tanda tangan cuma buat lewat depan mejanya.”

“Separuh lantai sembilan,” ulangku.

“Tapi lo beda, Bang.”

“Beda apa?”

Gilang meletakkan sendoknya. Untuk pertama kalinya sore itu, wajahnya serius.

“Lo satu-satunya yang dia pungutin pulpennya tanpa ngeliat ke tangan lo,” katanya.

Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku tidak bilang apa-apa.


Kevin Hartanto datang keesokan paginya membawa bunga.

Aku melihatnya dari mejaku di sudut ruangan. Semua orang melihatnya. Sulit untuk tidak melihat pria setinggi itu berjalan melintasi lantai sembilan dengan buket lili putih sebesar kepala anak kecil.

Dia mengetuk pintu kaca ruangan Vannesa. Vannesa mendongak dari laptop, dan wajahnya berubah terkejut. Lalu dia tertawa, tawa yang malu-malu dan sedikit tidak percaya, dan menerima bunga itu dengan kedua tangan.

Di sekitarku, lantai sembilan meledak dalam bisik-bisik.

“Ya ampun, lili.”

“Kan katanya Jumat mau nembak.”

“Jumat depan katanya. Tapi Pak Kevin mau dinas ke Singapura dulu, jadi dikasih bunga dulu biar nggak lupa.”

“Romantis banget sih.”

“Cocok, ya. Cantik sama ganteng.”

Aku menunduk ke laptop. Aku sedang menulis spesifikasi modul pelacakan armada, dan aku menulis kalimat yang sama tiga kali karena aku lupa sudah menulisnya.

Di balik kaca, Kevin mengatakan sesuatu, dan Vannesa memukul lengannya pelan. Gerakan yang akrab, yang kemarin juga kulihat di lobi. Lalu Kevin menunjuk bunga itu, lalu menunjuk dirinya sendiri, lalu membuat gerakan pesawat terbang dengan tangannya. Vannesa tertawa lagi.

Dua tangan, pikirku. Dia bisa membawa buket bunga sebesar itu dan masih punya tangan lain untuk mengetuk pintu. Dia bisa membuat gerakan pesawat terbang yang konyol. Dia mungkin bisa menggendong Vannesa kalau suatu hari dia terkilir, atau membawa semua belanjaan sekaligus, atau memeluknya dengan dua lengan yang sama-sama bisa merasakan hangat tubuhnya.

Aku tidak iri. Aku sudah lama berhenti iri pada tangan orang lain.

Aku hanya menyadari, dengan kejernihan yang sama seperti kemarin ketika tanganku terlepas dari saku, bahwa aku tidak akan pernah bisa menjadi pria yang berdiri di depan pintu kaca itu dengan buket lili.

Tangan kiriku kumasukkan lebih dalam ke saku.

“Bang,” bisik Gilang dari mejanya.

“Hm.”

“Mau gue beliin bunga juga?”

“Buat siapa?”

“Buat lo, Bang. Lo kelihatan kayak butuh bunga.”

Aku menatapnya. Dia menatapku dengan simpati yang sangat tulus dan sangat menyebalkan.

“Kerja, Lang.”

“Siap, Bang.”


Sore itu, ketika sebagian besar orang sudah pulang, Vannesa datang ke meja kami lagi. Bunga lili sudah dipindahkan ke vas di ruangannya. Aku bisa melihatnya dari sini, putih dan mencolok di antara tumpukan map.

Dia duduk di kursi sebelah kiriku, seperti biasa, dan membuka laptop.

“Sisa alur retur,” katanya. “Maaf ya, kemarin kepotong sama banjir gudang Semarang.”

“Gudangnya gimana?”

“Selamat. Pak Bambang bikin tanggul dari karung beras. Sekarang dia mau diakui sebagai pahlawan nasional.” Dia menggeleng sambil tersenyum. “Tadi dia nanya, di sistem baru nanti ada fitur deteksi banjir nggak.”

“Ada,” kataku.

Dia menoleh cepat. “Serius?”

“Namanya jendela. Pak Bambang cukup lihat ke luar.”

Dia menatapku sedetik, dua detik. Lalu tawanya meledak, begitu tiba-tiba sampai dia harus menutup mulut dengan kedua tangan. Bahunya berguncang. Matanya berair.

“Jangan,” katanya di sela tawa. “Jangan bilang itu ke Pak Bambang. Dia bakal nangis.”

“Saya nggak akan bilang.”

“Mas Rafa lucu ternyata.”

“Saya vendor. Vendor harus punya banyak fitur.”

Dia tertawa lagi, lebih pelan kali ini, lalu menatapku dengan dagu bertumpu di tangan. Tatapan yang sama seperti di kickoff meeting hari pertama. Penasaran. Seperti sedang membaca buku yang ternyata lebih bagus dari sampulnya.

“Mas Rafa selalu senyum, ya,” katanya. “Nggak capek?”

Aku terdiam sebentar.

Tidak ada yang pernah menanyakan itu. Orang-orang biasanya bilang kamu murah senyum atau kamu orangnya positif banget, sebagai pujian, sebagai kesimpulan. Tidak ada yang bertanya apakah itu melelahkan.

“Senyum itu gratis,” kataku akhirnya. “Saya vendor. Saya suka yang gratis.”

Dia tidak tertawa kali ini. Dia hanya menatapku sedikit lebih lama, seperti tahu bahwa aku baru saja menjawab pertanyaan yang berbeda dari yang dia ajukan.

Lalu dia tersenyum, dan kembali ke laptopnya. “Oke. Alur retur. Dari toko ke gudang regional…”

Aku mengikuti penjelasannya. Menggambar diagramnya lagi, dari awal.

Kali ini, aku memastikan tidak ada panah yang mengarah ke hati.

Tapi telingaku merah sepanjang sisa sore itu, dan aku tahu Gilang memotretnya diam-diam dari balik monitor.