← Yang Kiri buat Aku

Chapter Eight

Lembur

POV: Rafa

Hujan turun tepat jam lima sore, seperti sengaja menunggu jam pulang kantor.

Aku sudah bekerja di Jakarta cukup lama untuk tahu bahwa hujan jam lima sore berarti satu hal: tidak ada yang akan pulang cepat. Jalanan akan berubah jadi sungai, ojek online akan hilang dari peta, dan setiap lobi gedung di Sudirman akan penuh orang yang menatap langit dengan wajah menyerah.

Jadi aku lembur. Lagi pula, persiapan uji coba sistem di gudang Semarang masih jauh dari selesai.

Gilang pulang jam empat, sebelum hujan, dengan alasan harus mengantar ibunya ke pengajian. Aku tidak percaya alasannya, terutama karena Tasya juga pulang jam empat, dan mereka berdua masuk lift yang sama sambil pura-pura tidak saling kenal.

“Bang,” kata Gilang sebelum pintu lift tertutup. “Jangan lupa makan.”

“Iya.”

“Jangan lupa minum.”

“Iya.”

“Jangan lupa—”

Pintu lift tertutup. Aku tidak pernah tahu apa lagi yang tidak boleh kulupakan.

Jam enam, lantai sembilan kosong. Jam tujuh, lampu-lampu di sebagian ruangan otomatis meredup, menyisakan cahaya putih di area kerja kami dan kegelapan di sisanya. Hujan masih turun, deras, menampar jendela kaca seperti ingin masuk.

Jam tujuh lewat seperempat, pintu ruangan Vannesa terbuka.

“Mas Rafa masih di sini?”

Aku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu dengan blazer sudah dilepas, rambut dicepol asal-asalan dengan pulpen sebagai tusuk konde, dan wajah orang yang sudah menatap spreadsheet terlalu lama.

“Masih,” kataku. “Ibu juga.”

“Aku nggak bisa pulang. Tadi lihat jalanan dari atas. Semanggi udah kayak kolam renang.” Dia berjalan mendekat, lalu, seperti biasa, menarik kursi di sebelah kiriku dan menjatuhkan diri di atasnya dengan helaan napas panjang. “Lagian aku masih harus review dokumen UAT.”

“Saya juga.”

“Ya udah, kita review bareng aja.”

Itu bukan pertanyaan. Dia sudah membuka laptopnya.


Kami bekerja dalam diam selama satu jam.

Diam yang nyaman. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku merasa nyaman diam di dekat seseorang yang bukan keluargaku. Dia membaca dokumen, sesekali menggumam, sesekali mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. Aku menulis skenario uji coba. Hujan berbunyi di jendela. Sesekali petir menyambar jauh di atas Monas, dan lampu ruangan berkedip sebentar.

Sekitar jam setengah tujuh, ponselku bergetar. Pesan dari Gilang.

Bang, lo masih di kantor? Sendirian?

Nggak.

Sama siapa?

Aku tidak menjawab. Tiga puluh detik kemudian, ponselku bergetar lagi. Kali ini sebuah gambar: meme kucing yang mengenakan kacamata, duduk di depan laptop, dengan tulisan besar di bawahnya: LEMBUR KARENA KERJAAN (BOHONG).

Aku membalik ponselku sampai layarnya menghadap meja.

“Siapa?” tanya Vannesa tanpa mengangkat kepala.

“Gilang.”

“Kenapa?”

“Dia khawatir saya lupa makan.”

“Gilang baik, ya.”

“Gilang,” kataku, “adalah ujian dari Tuhan.”

Dia tertawa pelan, masih membaca dokumennya, dan aku kembali ke skenario uji coba dengan telinga yang sedikit hangat.

Setiap kali lampu berkedip, dia berhenti mengetuk.

Aku memperhatikan itu. Sepersekian detik, tangannya yang memegang pulpen berhenti di udara, bahunya menegang sedikit. Lalu lampu menyala stabil lagi, dan dia melanjutkan seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku tidak bertanya.

Jam delapan, perut kami berbunyi hampir bersamaan. Dia menatapku. Aku menatapnya. Lalu dia tertawa.

“Aku pesen makan, ya,” katanya. “Mau apa?”

“Apa aja. Ojek pasti susah.”

“Oh iya.” Dia menatap jendela yang dicambuki hujan. “Terus kita makan apa? Makan kertas UAT?”

Pintu lantai sembilan terbuka. Pak Tarno, satpam malam, masuk dengan jas hujan yang meneteskan air dan dua kantong plastik di tangan.

“Bu Vannesa, Mas Rafa,” katanya, berseri-seri. “Nasi goreng gerobak depan. Tadi saya lihat lampu lantai sembilan masih nyala, jadi saya pesenin sekalian.”

Vannesa menatapnya seperti menatap malaikat. “Pak Tarno, Bapak harus naik gaji.”

“Amin, Bu. Tolong sampaikan ke Pak Hendra.”

“Saya sampaikan besok.”

“Tapi yang punya Mas Rafa saya minta dipisah acarnya, Bu. Mas Rafa nggak suka acar.”

Vannesa menoleh padaku dengan alis terangkat. “Pak Tarno tahu Mas nggak suka acar?”

“Mas Rafa sering beliin saya kopi kalau saya jaga malam, Bu,” kata Pak Tarno. “Kami sering ngobrol. Mas Rafa juga yang bantuin anak saya daftar sekolah online kemarin. Situsnya ribet, Bu. Saya nggak ngerti. Mas Rafa sampai nemenin sampai jam sebelas malam.”

“Pak Tarno,” kataku, pelan.

“Iya, Mas?”

“Nasi gorengnya keburu dingin.”

Pak Tarno tertawa, menaruh kantong plastik di meja, menolak uang yang Vannesa sodorkan dua kali, lalu menerimanya pada kali ketiga karena Vannesa mengancam akan menaruhnya di saku jas hujannya. Dia pergi sambil bersiul.

Vannesa menatapku lama.

“Apa?” tanyaku.

“Nggak,” katanya. Tapi dia terus menatapku sambil membuka bungkus nasi gorengnya, dan senyum kecil muncul di sudut bibirnya, dan dia tidak menjelaskan apa-apa.


Kami makan di meja kerja, beralaskan kertas UAT yang sudah dicoret-coret. Nasi goreng gerobak yang terlalu berminyak dan terlalu enak. Kerupuk yang sudah melempem karena udara lembap. Vannesa makan dengan lahap, seperti orang yang lupa makan siang, yang memang benar.

Aku membuka bungkus sambal dengan gigi.

Dia melihatnya. Aku tahu dia melihatnya, karena dia berhenti mengunyah sebentar. Aku menunggu. Menunggu keheningan itu. Keheningan Laras.

“Kamu kok bisa rapi banget bukanya?” tanyanya. “Aku kalau buka sambal pakai gigi, pasti muncrat ke mana-mana.”

Aku mengerjap. “Latihan.”

“Berapa lama?”

“Delapan tahun.”

“Pantes.” Dia mengangguk serius, lalu mengambil sachet sambal miliknya sendiri dan mencoba membukanya dengan gigi. Sambalnya muncrat. Ke pipinya, ke kertas UAT, ke kemeja putihnya.

Kami berdua menatap noda merah di kemejanya.

“Oke,” katanya. “Aku butuh delapan tahun lagi.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tertawa sampai bahuku berguncang dan kacamataku melorot, dan dia ikut tertawa sambil menggosok-gosok kemejanya dengan tisu, yang membuat nodanya justru makin lebar.

“Jangan digosok,” kataku di sela tawa. “Makin nyebar.”

“Terus diapain?”

“Ditepuk-tepuk pakai air dingin.”

“Mas kok tahu?”

“Adik saya fisioterapis. Dia tahu semua cara ngilangin noda darah.” Aku berhenti, menyadari betapa aneh kalimat itu terdengar. “Maksud saya, dia orangnya praktis.”

“Noda darah dan noda sambal itu sama?”

“Sama-sama merah.”

Dia tertawa lagi, lalu berdiri untuk ke pantry. Ketika dia kembali, kemejanya basah di bagian noda dan dia terlihat jauh lebih santai daripada satu jam lalu. Dia duduk lagi di sebelah kiriku, lebih dekat dari sebelumnya, lututnya hampir menyentuh lututku.

Lalu, di tengah suapan nasi goreng, dia bertanya.

“Boleh aku tanya sesuatu? Kamu boleh nggak jawab.”

Aku tahu pertanyaan apa itu, sebelum dia menanyakannya. Aku sudah mendengar nada itu ratusan kali. Nada hati-hati, pelan, seperti orang yang mengetuk pintu kamar orang sakit.

“Tangan saya?” tanyaku.

Dia mengangguk. Tidak ada iba di wajahnya. Hanya penasaran, jujur dan terbuka, seperti anak kecil yang bertanya kenapa langit biru.

Aku sudah punya jawaban untuk ini. Jawaban standar, yang kupakai untuk klien, kenalan, dan ibu-ibu arisan. Ringan, lucu, dan tidak mengundang pertanyaan lanjutan.

“Cedera olahraga,” kataku.

“Olahraga apa?”

“Olahraganya sok jadi pahlawan.”

Dia menatapku sedetik. Lalu dia tertawa, tawa keras yang mengejutkan, sampai dia harus menutup mulut supaya nasi gorengnya tidak ikut keluar.

“Serius?” tanyanya di sela tawa.

“Serius.”

“Menang nggak?”

Aku terdiam.

Tidak ada yang pernah bertanya itu. Orang-orang biasanya tertawa pada leluconku, lalu mengganti topik dengan sopan. Atau mereka tidak tertawa, dan menatapku dengan iba yang lebih dalam, seolah leluconku adalah cara menyembunyikan luka. Tapi tidak ada yang pernah bertanya apakah aku menang.

Aku memikirkan gang gelap itu. Genangan air yang berubah warna. Jari-jari kecil yang menggenggam jariku. Perawat yang bilang selamat, nggak ada luka serius.

“Menang,” kataku. “Lawannya kabur.”

“Bagus.” Dia mengangguk puas, seperti baru mendengar skor pertandingan bola. “Terus sekarang, sakit nggak?”

“Nggak. Sebagian besar mati rasa. Nggak sakit, cuma nggak ada.”

“Nggak ada,” ulangnya pelan.

“Kayak… kayak lagu yang volumenya dikecilin sampai nol. Lagunya masih diputar, tapi nggak kedengeran.” Aku mengangkat bahu. “Tahun pertama yang berat. Belajar semuanya lagi pakai satu tangan. Pakai baju, makan, ngetik. Adik saya yang bantu tiap hari. Dia yang paling repot.”

“Adik yang fisioterapis?”

“Dia masuk jurusan itu karena saya.” Aku menatap nasi gorengku. “Padahal dulu dia pengin jadi arsitek.”

Vannesa tidak menjawab. Ketika aku mengangkat kepala, dia sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Matanya sedikit berkilat, mungkin karena cahaya lampu.

“Adik kamu pasti sayang banget sama kamu,” katanya.

“Dia galak.”

“Orang galak itu biasanya yang paling sayang.”

Aku tersenyum. “Nanti saya bilang ke dia. Dia pasti marah dibilang sayang.”


Petir menyambar tepat di atas gedung.

Bunyinya seperti langit dibelah dua. Dan lampu lantai sembilan padam.

Gelap total. Hanya cahaya samar dari layar laptop kami yang tersisa, biru pucat dan dingin. Di luar jendela, gedung-gedung lain juga gelap. Pemadaman satu kawasan.

Di sebelahku, aku mendengar Vannesa menarik napas tajam.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Genset gedung biasanya nyala sebentar lagi.”

Dia tidak menjawab. Aku menoleh, dan dalam cahaya laptop yang pucat, aku melihat wajahnya.

Dia membeku. Punggungnya kaku, tangannya mencengkeram tepi meja, dan matanya menatap kegelapan di ujung ruangan dengan cara yang tidak kusukai. Seperti sedang melihat sesuatu yang tidak ada di sana. Napasnya pendek-pendek.

Aku mengenali napas itu. Aku pernah mendengarnya, dulu, di tempat lain. Napas orang yang sedang berusaha tidak panik.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku tidak bertanya. Aku hanya mengambil ponselku, menyalakan senternya, dan meletakkannya di meja di antara kami dengan cahaya menghadap ke langit-langit, sehingga ruangan di sekitar kami tiba-tiba terang dan putih.

“Lebih baik?” tanyaku.

Dia mengerjap. Menatap cahaya itu. Lalu napasnya melambat, sedikit demi sedikit.

“Lebih baik,” bisiknya.

Lampu berkedip, lalu menyala kembali. Genset gedung. Dengung AC kembali terdengar. Lantai sembilan terang lagi, seolah tidak pernah gelap.

Vannesa melepaskan cengkeramannya dari tepi meja. Dia tertawa kecil, canggung.

“Sori,” katanya. “Aku… nggak terlalu suka gelap.”

“Nggak apa-apa.”

“Pernah ada kejadian jelek. Dulu. Aku nggak mau cerita sekarang.”

“Nggak usah cerita.”

Dia menatapku. Aku bisa melihat dia menunggu aku bertanya. Semua orang pasti bertanya.

Aku tidak bertanya.

“Tapi,” kataku, “kalau nanti Ibu lagi di basement parkir yang gelap, dan nggak nyaman, telepon saya aja. Saya temenin ngobrol sampai mobilnya keluar.”

“Ngobrol apa?”

“Apa aja. Saya bisa bacain spesifikasi teknis modul pelacakan armada. Itu dijamin bikin orang lupa takut. Biasanya bikin orang lupa hidup.”

Dia tertawa. Tawa yang lepas, yang membuat bahunya turun dan wajahnya kembali berwarna.

“Janji?” tanyanya.

“Janji.”


Hujan reda jam sepuluh. Kami turun bersama ke lobi.

Dia menawarkan mengantarku. Mobilnya di basement, katanya, dan rumahku searah. Aku tahu rumahku tidak searah. Rumahku di timur, rumah keluarga Atmajaya di selatan, dan semua orang di Atma & Corp tahu rumah keluarga Atmajaya di mana.

“Nggak usah,” kataku. “Saya udah pesen ojek.”

“Tapi masih basah jalanannya.”

“Ojeknya pakai jas hujan.”

Dia menatapku, menimbang. Lalu dia menghela napas dan mengangguk. “Oke. Tapi kabarin kalau udah sampai.”

Ojekku datang. Aku keluar dari pintu putar, menerima helm dari pengemudi, memakainya dengan satu tangan. Selalu sedikit canggung, mengancingkan tali helm dengan satu tangan. Pengemudinya menunggu dengan sabar.

Ketika aku naik ke boncengan dan motor mulai bergerak, aku menoleh ke belakang.

Dia masih berdiri di lobi. Di balik pintu kaca, di bawah lampu kuning, dengan kemeja yang masih ada noda sambal samar dan rambut yang masih ditusuk pulpen. Dia melambaikan tangan.

Dia terus melambai sampai motor berbelok di ujung jalan.

“Pacarnya, Mas?” tanya pengemudi ojek, berteriak melawan angin.

“Bukan. Klien.”

“Klien kok nungguin sampai belok?”

Aku tidak menjawab. Aku memegang pegangan belakang motor dengan tangan kanan, menatap lampu-lampu Jakarta yang basah dan berkilau, dan merasakan wajahku panas di balik helm meski angin malam dingin.

Di dalam saku, tangan kiriku tidak merasakan apa-apa.

Tapi aku merasakan segalanya.