← Yang Kiri buat Aku

Chapter One

Jangan Takut

POV: Rafa

Delapan tahun lalu.

Ponselku bergetar untuk keempat kalinya tepat ketika aku menutup casing gitar.

Aku tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa yang menelepon. Di dunia ini hanya ada satu orang yang menganggap tiga panggilan tak terjawab sebagai tanda bahwa aku sudah mati dan perlu dicek.

“Kak.” Suara Kinan langsung menyerbu begitu kuangkat. “Martabak.”

“Halo juga, Kinan. Kabar Kakak baik, makasih udah nanya.”

“Martabak telur. Spesial. Dua telur bebek. Jangan pakai daun bawang banyak-banyak, nanti Papa ngomel.”

“Papa yang minta?”

“Aku yang minta. Tapi kalau Papa ngomel, nanti aku bilang Kakak yang beli.”

Adikku baru enam belas tahun, dan dia sudah paham cara kerja fitnah lebih baik daripada separuh politisi di negeri ini.

Di belakangku, Bima, drummer band kami, tertawa sambil menggulung kabel. “Adik lo lagi, Raf?”

“Siapa lagi.”

“Bilangin, gue juga mau.”

“Kinan, Bima nitip.”

“Bima bayar sendiri,” jawab Kinan tanpa jeda. “Kak, jangan lama. Aku lapar, dan aku masih harus ngerjain PR kimia. Kalau aku nggak lulus kimia, itu salah Kakak.”

Sambungan terputus. Aku menatap layar sebentar, lalu memasukkan ponsel ke saku jaket.

“Anak itu,” kataku, “suatu hari bakal jadi orang yang sangat sukses atau sangat berbahaya.”

“Dua-duanya,” kata Bima.

Aku tidak membantah.


Studio latihan kami ada di lantai dua sebuah ruko di belakang kampus, di atas tempat fotokopi yang selalu bau tinta dan gorengan. Sewanya murah karena lampunya sering mati dan tangganya sempit sampai-sampai gitar harus diangkat miring. Tapi bagi empat mahasiswa semester lima dengan mimpi yang terlalu besar untuk dompet mereka, tempat itu sudah seperti Abbey Road.

Malam itu kami latihan lagu baru. Laguku.

Sebenarnya aku belum berani menyebutnya lagu. Masih separuh jadi, liriknya masih banyak yang bolong, dan reff-nya masih sering kuganti setiap kali aku merasa kurang pas. Tapi melodinya sudah ada. Kunci-kuncinya sudah ada. Setiap kali aku memainkannya, jari kiriku berpindah di papan fret seperti sedang mencari sesuatu yang belum kutemukan.

“Judulnya apa?” tanya Dita, vokalis kami, tadi.

“Belum ada.”

“Buat siapa?”

Aku waktu itu tertawa. “Buat seseorang. Suatu hari.”

“Cheesy banget,” katanya. Tapi dia menyanyikannya dua kali, dan dua kali itu aku merasa dadaku penuh.

Aku menyandang casing gitar di punggung, pamit, lalu turun tangga dengan posisi miring seperti biasa. Di luar, gerimis baru saja berhenti. Aspal mengilat memantulkan lampu jalan, dan udara berbau tanah basah bercampur asap knalpot.

Warung martabak langganan Kinan ada di seberang jalan besar, sekitar sepuluh menit jalan kaki kalau lewat trotoar. Lima menit kalau memotong gang di belakang deretan ruko.

Aku memilih gang. Tentu saja aku memilih gang. Aku mahasiswa, aku lapar, dan adikku sedang menunggu dengan PR kimia sebagai sandera.


Gang itu lebih gelap dari yang kuingat.

Lampu jalan di mulutnya mati, dan satu-satunya cahaya datang dari jendela dapur restoran di ujung sana, kuning dan redup. Tembok di kanan-kiri lembap, penuh coretan dan tempelan sedot WC. Aku berjalan cepat, casing gitar menepuk-nepuk punggungku.

Lalu aku mendengar sesuatu.

Awalnya kukira kucing. Suara tertahan, seperti orang yang ingin berteriak tapi mulutnya dibekap. Lalu tawa. Tawa laki-laki, berat dan malas.

Langkahku melambat.

Di tikungan gang, di bawah bayangan tangga besi darurat, ada tiga sosok. Dua laki-laki bertubuh besar, satu memakai jaket kulit, satu berkaus hitam. Dan di antara mereka, terpojok ke tembok, seorang perempuan.

Aku tidak bisa melihat wajahnya. Terlalu gelap. Aku hanya melihat rambutnya yang panjang, berantakan, dan sebuah kilau kecil di sana, seperti jepit rambut yang memantulkan cahaya dari jendela jauh itu. Tasnya sudah tergeletak di genangan air. Salah satu laki-laki itu memegang pergelangan tangannya ke tembok. Yang satu lagi memegang sesuatu yang lebih mengilat daripada jepit rambut.

Pisau.

Aku ingat berpikir, dengan kejernihan yang aneh: aku seharusnya lari dan cari bantuan.

Tapi perempuan itu mengeluarkan suara kecil, suara yang patah, dan tubuhku bergerak sebelum pikiranku selesai.

“Woi.”

Suaraku lebih keras daripada yang kuduga. Gang itu menggemakannya.

Dua laki-laki itu menoleh. Yang berjaket kulit menyipitkan mata ke arahku, menilai: mahasiswa kurus, kacamata, casing gitar. Dia tersenyum. Aku tidak suka senyumnya.

“Jalan terus, Dek,” katanya. “Bukan urusan lo.”

“Lepasin dia.”

“Lo budek?”

“Lepasin dia,” ulangku, “terus pergi. Saya nggak akan lapor siapa-siapa.”

Itu bohong. Aku pasti akan lapor. Tapi saat itu aku masih percaya bahwa kalimat yang tepat, diucapkan dengan nada yang tepat, bisa menyelesaikan apa saja. Aku dua puluh tahun. Aku belum pernah berkelahi seumur hidupku. Pertengkaran paling brutal yang pernah kualami adalah memperebutkan remote TV dengan Kinan.

Yang berkaus hitam melepaskan pergelangan tangan perempuan itu. Perempuan itu merosot ke tembok, kepalanya terantuk bata dengan bunyi yang membuat perutku mencelus. Dia tidak bangun.

Laki-laki itu berjalan ke arahku sambil memutar-mutar pisaunya.

“Pergi,” kataku lagi. Kali ini suaraku bergetar.

Dia tertawa. Lalu dia menerjang.


Aku tidak ingat semua detailnya. Dokter bilang itu wajar. Otak manusia punya cara sendiri untuk menyimpan hal-hal yang terlalu berat, memotongnya jadi kepingan-kepingan kecil supaya tidak tertelan sekaligus.

Yang kuingat adalah casing gitar.

Aku melepasnya dari punggung dan mengayunkannya seperti tameng, seperti pemukul, seperti satu-satunya benda di dunia yang berdiri di antara pisau itu dan tubuhku. Bunyinya keras saat membentur lengan si kaus hitam. Dia mengumpat. Aku mengayunkannya lagi.

Lalu ada rasa panas di bahu kiriku.

Aneh. Rasanya tidak seperti ditusuk. Rasanya seperti seseorang menempelkan besi panas di sana, lalu menariknya. Aku terhuyung. Casing gitar terlepas dari tanganku. Si jaket kulit memegangiku dari belakang, dan rasa panas itu datang lagi. Di bahu. Di lengan atas. Di lengan bawah. Satu, dua, tiga kali, aku tidak tahu. Aku hanya tahu tangan kiriku tiba-tiba basah dan hangat, dan aku tidak bisa menggenggam apa pun lagi.

Aku berteriak. Aku tidak ingat apa yang kuteriakkan.

Lalu, dengan cara yang tidak pernah bisa kujelaskan, aku menendang. Kakiku mengenai lutut seseorang. Ada bunyi, ada umpatan, dan pegangan di belakangku lepas.

Mereka mundur.

Si kaus hitam menatap tangannya sendiri. Menatap pisaunya. Menatap aspal di bawahku yang mulai menghitam. Aku ikut menatap ke bawah dan melihat genangan air hujan itu berubah warna.

“Anjing,” bisik si jaket kulit. “Anjing, banyak banget.”

“Cabut. Cabut, bego!”

Mereka lari. Langkah mereka memercik genangan, makin lama makin jauh, lalu hilang.

Gang itu sunyi lagi.


Aku jatuh berlutut.

Aku tidak berniat berlutut. Kakiku saja yang memutuskan begitu. Lengan kiriku tergantung di sisi tubuh seperti bukan milikku. Aku mencoba menggerakkan jari-jarinya, dan tidak ada yang terjadi. Seperti mengirim pesan ke nomor yang sudah tidak aktif.

Nanti, pikirku. Urus nanti.

Aku merangkak ke arah perempuan itu dengan satu tangan.

Dia masih bersandar di tembok, matanya setengah terbuka tapi tidak fokus. Napasnya pendek-pendek. Dari jarak sedekat ini aku masih tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Gelap, dan kacamataku entah terlempar ke mana. Yang kulihat hanya garis pipi yang pucat, rambut yang basah menempel di dahi, dan jepit kecil yang tadi berkilau itu, sekarang miring di sisi kepalanya.

Tangannya gemetar hebat. Seluruh tubuhnya gemetar.

“Hei,” kataku. Suaraku serak. “Hei. Mereka udah pergi.”

Dia tidak menjawab. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak punya pengalaman menenangkan orang selain adikku sendiri, dan Kinan biasanya tenang kalau diberi es krim. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang kutahu. Hal yang selalu Mama lakukan setiap kali Kinan kecil terbangun menangis karena mimpi buruk.

Aku menaruh tangan kananku di atas tangannya yang gemetar.

“Udah, udah,” bisikku. “Jangan takut.”

Getarannya tidak berhenti. Tapi jari-jarinya, pelan sekali, menggenggam jariku.

“Udah, udah. Jangan takut. Nggak ada yang bakal nyakitin kamu lagi.”

Pandanganku mulai berkunang. Ada suara berdenging di telingaku, makin lama makin keras. Aku sadar, dengan cara yang terasa sangat jauh, bahwa aku harus minta tolong sekarang. Sebelum aku tidak bisa minta tolong lagi.

Aku menarik napas sedalam yang bisa kutarik.

“TOLONG!”

Suaraku memantul di dinding-dinding gang.

“TOLONG! SIAPA AJA! ADA ORANG LUKA DI SINI!”

Di ujung gang, pintu dapur restoran itu terbuka. Seseorang berteriak. Lalu ada langkah kaki, banyak langkah kaki, dan cahaya senter yang menyilaukan.

Hal terakhir yang kuingat adalah jari-jari kecil yang masih menggenggam jariku.

Lalu gelap.


Aku bangun karena suara isakan.

Bukan satu isakan. Dua. Yang satu berat dan tertahan, yang satu lagi keras sekali. Aku kenal yang keras. Aku kenal isakan itu sejak dia masih bayi dan menangis karena balonnya terbang.

“Kinan,” kataku. Atau mencoba mengatakannya. Yang keluar lebih mirip gumaman.

Isakan keras itu berhenti mendadak. Lalu ada wajah yang terlalu dekat dengan wajahku, merah dan basah dan berantakan.

“KAK!”

“Jangan teriak,” bisikku. “Ini rumah sakit.”

“KAKAK SADAR! MA! KAKAK SADAR!”

“Kinan, ini rumah sakit.”

Dia tidak peduli. Dia memelukku, dan aku merasakan sesuatu yang aneh: dia memeluk sisi kiriku, tapi aku hampir tidak merasakan apa-apa di sana. Seperti dipeluk lewat selimut tebal. Seperti bahuku bukan bahuku.

Mama berdiri di belakang Kinan dengan mata bengkak. Papa di sampingnya, diam, tangannya di pundak Mama. Papa jarang bicara. Tapi malam itu, atau pagi itu, aku tidak tahu jam berapa, rahangnya mengeras dengan cara yang belum pernah kulihat.

Aku ingin bertanya banyak hal. Tapi yang keluar pertama justru ini:

“Ceweknya gimana?”

Hening.

Mama menutup mulutnya dengan tangan. Papa menunduk. Kinan menatapku seperti aku baru saja mengucapkan sesuatu dalam bahasa alien.

“Ceweknya,” ulangku. “Yang di gang. Dia selamat?”

Seorang perawat yang sedang mengganti cairan infus menjawab dengan lembut. “Sudah dijemput keluarganya semalam, Mas. Selamat. Nggak ada luka serius.”

Aku mengembuskan napas. Rasanya seperti menurunkan beban yang kubawa sepanjang tidur.

“Oke,” kataku. “Oke. Bagus.”

Lalu aku tersenyum.

Aku tidak tahu kenapa Kinan menangis lagi melihatnya.


Dokter datang siang harinya. Namanya dr. Hadi, dan dia punya suara yang terlatih untuk menyampaikan kabar buruk dengan pelan, seperti orang yang menurunkan barang pecah belah dari rak tinggi.

Dia menjelaskan banyak hal. Tusukan di bahu. Kerusakan pada jaringan saraf yang disebut pleksus brakialis, jalinan saraf yang menghubungkan tulang belakang dengan lengan. Operasi darurat semalam. Kemungkinan pemulihan.

“Kemungkinan pemulihan,” ulangku.

Dia diam sebentar. Terlalu lama.

“Kita akan lihat perkembangannya dalam beberapa bulan,” katanya akhirnya. “Tapi, Mas Rafa, saya harus jujur. Dengan tingkat kerusakan seperti ini, kemungkinan besar fungsi motorik tangan kiri tidak akan kembali. Sensasinya juga kemungkinan besar akan sangat berkurang.”

Mama terisak. Kinan meremas selimutku sampai buku jarinya putih.

Aku menatap tangan kiriku yang terbaring di atas selimut, dibalut perban, diam seperti benda mati. Aku mencoba menggerakkan jari-jarinya sekali lagi. Jari telunjuk. Jari tengah. Jari-jari yang selama delapan tahun terakhir hafal letak setiap kunci di papan fret gitarku. G. C. D. Em. Kunci-kunci lagu yang belum selesai itu.

Tidak ada yang bergerak.

Aku menunggu rasa hancur itu datang. Aku menunggu diriku menangis, marah, atau menyesal. Sebagian dari diriku memang hancur. Aku bisa merasakannya, seperti retakan panjang di kaca yang belum pecah. Band. Lagu itu. Semua rencana kecil yang bahkan belum sempat kuucapkan ke siapa pun.

Tapi di bawah retakan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tenang dan hangat dan keras kepala.

Dia selamat.

Gadis yang gemetar di gang itu, yang jarinya menggenggam jariku, dia pulang ke rumah malam itu. Dia akan bangun besok, dan lusa, dan tahun depan. Dia tidak akan pernah tahu siapa aku, dan aku tidak akan pernah tahu siapa dia. Tapi dia selamat.

“Oke,” kataku pada dr. Hadi.

Dia mengerjap. “Oke?”

“Oke, Dok. Makasih udah jujur.”

Kinan berdiri begitu mendadak sampai kursinya terguling. “KOK OKE?!”

“Kinan—”

“Kakak nggak bisa main gitar lagi! Kakak nggak bisa—Kakak—” Dia tersedak isakannya sendiri. “Kenapa Kakak senyum? Kenapa Kakak malah senyum?!”

Aku menatap adikku. Enam belas tahun, rambut dikuncir asal-asalan, masih memakai kaus tidur bergambar kucing. Dia pasti berlari dari rumah begitu mendapat telepon. Dia pasti tidak tidur semalaman.

“Karena ceweknya selamat,” kataku.

Kinan menatapku lama. Lalu dia duduk di lantai, di samping ranjang, memeluk lututnya sendiri, dan menangis seperti anak kecil.

Aku mengulurkan tangan kananku dan menaruhnya di kepalanya.

“Udah, udah,” bisikku.

Dia menangis lebih keras.


Seminggu kemudian, Kinan datang ke kamarku membawa sesuatu di telapak tangannya.

“Aku nyuci jaket Kakak,” katanya dengan suara datar yang sengaja dibuat datar. Matanya masih sembap. Matanya selalu sembap minggu itu. “Darahnya nggak mau hilang. Aku buang aja jaketnya. Tapi ini nyangkut di tudungnya.”

Dia membuka telapak tangannya.

Sebuah jepit rambut. Perak, kecil, berbentuk bulan sabit. Satu ujungnya sedikit bengkok.

Aku mengenalinya. Kilau kecil di rambut gadis itu. Pasti tersangkut di jaketku ketika aku merangkak ke arahnya.

“Punya dia, ya?” tanya Kinan pelan.

Aku mengangguk.

Kinan menatap jepit itu lama, seperti ingin melemparnya ke luar jendela. Lalu, dengan hati-hati yang tidak cocok dengan wajah cemberutnya, dia menaruhnya di telapak tangan kananku dan melipat jari-jariku di atasnya.

“Simpan,” katanya. “Tapi jangan dilihatin terus. Nanti Kakak jadi aneh.”

“Kakak udah aneh.”

“Makin aneh.”

Dia berbalik dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti.

“Kak.”

“Hm?”

“Martabaknya nggak usah. Aku nggak mau makan martabak lagi seumur hidup.”

Aku tertawa. Tertawa sungguhan, untuk pertama kalinya sejak malam itu. Tawa yang membuat bahuku berdenyut sakit, tapi aku tidak peduli.

“Sayang banget,” kataku. “Padahal waktu itu Kakak udah hampir sampai.”

Kinan menoleh, dan untuk sesaat, di antara mata sembap dan hidung merahnya, dia tersenyum.


Jepit rambut itu kusimpan di kantong kecil casing gitarku. Casing yang sudut-sudutnya penyok karena malam itu dipakai sebagai tameng. Gitarnya selamat, anehnya. Senarnya bahkan tidak putus.

Aku tidak pernah memainkannya lagi.

Tapi aku juga tidak pernah menyesal.

Delapan tahun kemudian, aku masih tidak menyesal.

Aku juga masih tidak tahu siapa dia. Aku tidak pernah mencarinya. Kupikir, kalau takdir memang baik, gadis itu sedang menjalani hidup yang terang di suatu tempat, tanpa perlu mengingat gang gelap itu, dan tanpa perlu mengingat aku.

Kupikir, begitu saja sudah cukup.

Aku tidak tahu bahwa takdir punya selera humor.