← Yang Kiri buat Aku

Chapter Sixteen

Kado untuk Kinan

POV: Rafa

Ada tiga hal yang kubenci dari mal di hari Sabtu: keramaian, eskalator yang terlalu sempit untuk orang yang tidak bisa berpegangan dengan dua tangan, dan pramuniaga yang langsung menawarkan bantuan dengan suara terlalu lembut begitu melihat tangan kiriku.

Sayangnya, Kinan berulang tahun hari Minggu, dan Kinan hanya mau satu hal.

“Sepatu kerja,” katanya di telepon kemarin, dengan nada seorang ratu yang sedang mengeluarkan titah. “Yang empuk. Yang aku bisa berdiri seharian tanpa betis mau copot. Merek yang itu. Warna hitam. Ukuran tiga puluh delapan setengah.”

“Setengah?”

“Kaki aku unik, Kak.”

Jadi di sinilah aku, Sabtu jam sebelas, di lantai tiga Kota Kasablanka, berdiri di depan etalase toko sepatu dan menatap tiga puluh model sepatu hitam yang, bagi mataku yang tidak terlatih, semuanya terlihat persis sama.

Gilang seharusnya menemaniku. Gilang punya selera. Gilang tahu bedanya sepatu kerja yang empuk dan sepatu kerja yang terlihat empuk tapi sebenarnya alat penyiksaan. Tapi kemarin sore Gilang tiba-tiba ingat ada acara keluarga, sepupu dari pihak ibu yang khitanan, dan dia mengatakannya dengan wajah yang sangat tidak meyakinkan sambil terus melirik ponselnya.

Aku mengambil satu sepatu dari rak. Memutarnya dengan satu tangan. Menaruhnya lagi.

“Rafa?”

Aku menoleh.

Vannesa berdiri di pintu toko. Bukan Vannesa yang biasa, dengan blazer dan tablet dan rambut dicepol. Vannesa hari Sabtu, dengan kaus putih longgar, celana jins, sandal, rambut tergerai, dan kacamata hitam yang dinaikkan ke atas kepala. Dia memegang tas belanja kecil di satu tangan dan es kopi di tangan yang lain.

Dua pramuniaga toko sepatu berhenti merapikan rak. Seorang bapak-bapak yang sedang mencoba sepatu lari berhenti di tengah jalan dengan satu kaki masih di udara.

“Vannesa,” kataku. “Kebetulan.”

“Iya! Kebetulan banget!” Suaranya sedikit terlalu tinggi. “Aku lagi… belanja. Sama Tasya.”

“Tasya di mana?”

Vannesa menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.

“Tadi ada,” katanya.

Ponselnya bergetar. Dia membacanya, dan wajahnya berubah. Pertama bingung, lalu kesal, lalu merah.

“Tasya bilang dia sakit perut mendadak,” katanya pelan. “Dia udah pulang.”

“Barusan?”

“Barusan. Mendadak. Perut juga manusia.”

Aku menatapnya. Dia menatapku. Di suatu tempat di Jakarta, aku yakin Gilang dan Tasya sedang tertawa di telepon.

“Kamu ngapain di toko sepatu cewek?” tanyanya, mengganti topik dengan kecepatan orang yang melompat dari kapal tenggelam.


“Nan,” kata Vannesa, sambil memegang sepatu yang ketujuh.

“Hm?”

“Yang ulang tahun. Namanya Nan?”

Kami sudah di toko itu dua puluh menit. Dia langsung mengambil alih begitu tahu aku mencari sepatu kerja ukuran tiga puluh delapan setengah. Dia menekan-nekan sol dalam dengan jempol, membengkokkan ujung sepatu untuk mengecek kelenturan, dan menanyai pramuniaga soal bahan dengan detail yang membuat pramuniaga itu berkeringat.

“Kinan,” kataku. “Aku manggilnya Nan.”

“Oh.” Dia menaruh sepatu ketujuh. Mengambil sepatu kedelapan. Tidak menatapku. “Kinan. Nama yang bagus.”

“Makasih.”

“Udah lama?”

“Udah lama apa?”

“Kalian.” Dia menekan sol sepatu kedelapan dengan jempol. Terlalu keras. “Udah lama… kenal?”

Aku berpikir. “Dua puluh empat tahun.”

Sepatu kedelapan jatuh dari tangannya.

“Dua puluh empat tahun?”

“Iya. Sejak dia lahir.”

Hening sebentar. Vannesa menatapku. Aku menatapnya balik, tidak mengerti kenapa wajahnya mendadak seperti orang yang baru menerima rapor dengan nilai jauh lebih baik dari dugaannya.

“Sejak dia lahir,” ulangnya pelan.

“Kinan adikku,” kataku. “Yang fisioterapis. Yang galak. Aku pernah cerita, kan?”

Dia membuka mulut. Menutupnya. Lalu, tanpa peringatan, dia tertawa. Tawa keras, lepas, sampai dia harus berpegangan pada rak sepatu dan pramuniaga itu menatapnya dengan khawatir.

“Adik,” katanya di sela tawa. “Adik. Ya ampun. Adik.”

“Kenapa?”

“Nggak.” Dia mengusap mata. “Nggak apa-apa. Aku cuma… adik. Oke. Adik yang galak. Sepatu buat adik yang galak.”

Dia mengambil sepatu kedelapan dari lantai, dan kali ini dia menatapnya dengan antusiasme yang tidak ada sebelumnya. Seperti beban berat baru saja diangkat dari bahunya dan dia tidak tahu harus melakukan apa dengan energi berlebih.

“Oke,” katanya dengan semangat baru. “Adik kamu berdiri seharian, kan? Fisioterapis. Berarti dia butuh bantalan tumit yang tebal, penyangga lengkungan kaki, dan jangan yang solnya terlalu keras. Yang ini.” Dia mengangkat sepatu kedelapan. “Yang ini paling bagus. Aku punya yang modelnya mirip. Aku pakai buat keliling gudang, nggak pernah pegal.”

Aku mengambil sepatu itu dan membayar. Satu tangan, QR, cepat.

Vannesa tidak memprotes kali ini. Dia hanya tersenyum sepanjang waktu, seperti orang yang baru menang lotre dan belum memberi tahu siapa-siapa.

Aku tidak mengerti kenapa. Tapi aku tidak bertanya.


“Sekarang giliranmu,” katanya ketika kami keluar dari toko sepatu.

“Giliran apa?”

“Bantuin aku.” Dia menunjuk sebuah butik di seberang. “Aku butuh baju. Buat… acara.”

Aku tahu acara apa. Seluruh lantai sembilan tahu acara apa. Rooftop, Jumat depan, dengan Kevin Hartanto. Gilang menceritakannya dengan nada duka seperti menyampaikan berita kematian.

“Aku nggak ngerti baju,” kataku.

“Kamu punya mata, kan?”

“Punya. Minus tiga.”

“Cukup.” Dia menarik lengan kemejaku. Lengan kanan. “Ayo.”

Butik itu dingin, wangi, dan penuh gaun yang harganya membuatku ingin memeriksa ulang saldo rekening. Vannesa mengambil tiga gaun dari rak, menyuruhku duduk di sofa di depan ruang ganti, lalu menghilang di balik tirai.

Aku duduk. Tas belanja berisi sepatu Kinan di pangkuan. Tangan kiri di saku.

Pramuniaga butik, seorang perempuan muda dengan riasan sempurna, menatapku dengan senyum ramah. “Pacarnya, Mas?”

“Bukan,” kataku. “Rekan kerja.”

“Oh.” Senyumnya berubah sedikit. Lebih penasaran. “Rekan kerja yang dibawa milih baju.”

Aku tidak menjawab.

Tirai terbuka.

Gaun pertama berwarna merah marun, panjang sampai lutut, dengan potongan yang pas di pinggang. Vannesa berdiri di depan cermin besar, memutar badan ke kiri dan ke kanan.

“Gimana?”

Aku menatapnya. Lalu aku menyadari mulutku sedikit terbuka, dan menutupnya.

“Bagus,” kataku.

“Cuma bagus?”

“Bagus banget.”

Dia menyipitkan mata, lalu kembali ke balik tirai. Gaun kedua berwarna hitam, lebih sederhana, dengan tali tipis di bahu.

“Gimana?”

“Bagus.”

“Rafa. Kamu bilang bagus terus.”

“Karena memang bagus.”

“Yang mana yang lebih bagus?”

Aku tidak tahu harus jawab apa. Aku tidak tahu soal gaun. Aku tidak tahu soal warna, potongan, atau bahan. Yang aku tahu hanya bahwa setiap kali tirai itu terbuka, jantungku berhenti berdetak sepersekian detik. Dan bahwa gaun apa pun yang dia pilih, dia akan memakainya untuk berdiri di rooftop di depan pria lain.

Tirai terbuka untuk ketiga kalinya.

Gaun ketiga berwarna biru muda. Warna langit pagi. Sederhana, panjang sampai betis, dengan lengan pendek yang sedikit mengembang. Tidak semewah yang merah. Tidak seanggun yang hitam. Tapi ketika dia berdiri di depan cermin dan tersenyum pada bayangannya sendiri, dia terlihat seperti dirinya. Seperti Vannesa yang duduk di atas palet kayu gudang Cikarang dengan topi baseball miring. Seperti Vannesa yang tertawa sampai nasi goreng hampir keluar dari mulutnya.

“Yang ini,” kataku, sebelum aku sempat berpikir.

Dia menoleh. “Kenapa?”

“Karena…” Aku berhenti. Mencari kata yang tidak terlalu jujur. Tidak ketemu. “Karena kamu kelihatan kayak kamu.”

Dia diam.

Di sebelahku, pramuniaga butik menutup mulutnya dengan tangan.

Vannesa menatapku lama. Lalu dia berbalik ke cermin. Menatap bayangannya sendiri. Aku melihat pipinya memerah di cermin, dan aku melihat dia menggigit bibir bawahnya.

“Oke,” katanya pelan. “Yang ini.”


Kami makan siang di food court. Dia memaksa membayar kali ini, dan aku membiarkannya, karena dia mengancam akan memberi tahu Pak Surya bahwa aku menolak ditraktir klien, yang menurutnya adalah pelanggaran etika bisnis.

“Itu bukan pelanggaran etika bisnis,” kataku.

“Pak Surya nggak tahu itu.”

Dia makan bakso. Aku makan nasi ayam. Dia bertanya tentang Kinan, dan aku bercerita. Tentang Kinan yang menyetir seperti nenek-nenek. Tentang Kinan yang punya daftar perempuan terlarang. Tentang Kinan yang mengancam akan membuat spanduk kalau aku tidak latihan bahu.

“Daftar perempuan terlarang?” Vannesa berhenti menyuap. “Serius?”

“Serius. Dia simpan di notes HP-nya. Ada tujuh nama.”

“Kenapa bisa masuk daftar?”

“Macam-macam.” Aku mengangkat bahu. “Ada yang ninggalin aku waktu di rumah sakit. Ada yang nanya soal tanganku sambil ketawa. Ada yang bilang aku inspiratif, terus nggak pernah ngajak ngomong lagi.”

Vannesa diam. Sendok baksonya menggantung di udara.

“Aku harap aku nggak masuk daftar itu,” katanya akhirnya.

“Kamu nggak masuk.”

“Dari mana kamu tahu?”

Karena kamu tidak pernah menatap tanganku, pikirku. Karena kamu memungut pulpenku dan membukakan botolku dan menyuruhku membuka keripikmu, dan tidak pernah sekali pun membuatku merasa kurang.

“Karena Kinan belum pernah ketemu kamu,” kataku.

Dia tertawa. “Jadi masih ada kemungkinan?”

“Selalu ada kemungkinan. Kinan itu nggak bisa diprediksi.”

“Kalau ketemu, aku harus gimana biar nggak masuk daftar?”

“Bawain martabak.”

“Martabak lagi?”

“Keluarga kami punya sejarah panjang sama martabak.”

Dia tertawa lagi, dan aku ikut tertawa, dan di tengah food court yang ramai dan bising, untuk sesaat, aku lupa soal rooftop dan Jumat depan dan gaun biru muda yang akan dia pakai untuk pria lain.

Hanya sesaat.


Kami berpisah di dekat eskalator. Dia turun ke basement untuk mengambil mobil, aku akan turun ke lobi untuk memesan ojek.

“Makasih ya,” katanya. “Udah nemenin milih baju.”

“Makasih juga. Udah milihin sepatu.”

Dia menatap tas belanja di tanganku. Lalu menatapku.

“Salam buat Kinan,” katanya. “Bilang, dari orang yang semoga nggak masuk daftar.”

“Oke.”

Dia tersenyum, melambai, dan melangkah ke eskalator. Aku melihatnya turun perlahan, tas belanja berisi gaun biru muda di tangannya, sampai dia menghilang di lantai bawah.

Lalu aku merasakan tatapan.

Tatapan tajam, panas, menusuk ke belakang kepalaku seperti laser. Tatapan yang kukenal sejak dua puluh empat tahun lalu.

Aku menoleh perlahan.

Di dekat eskalator seberang, berdiri di samping pot tanaman besar, Kinan menatapku. Dengan tangan terlipat di dada. Dengan mata menyipit. Dengan wajah detektif yang sudah menemukan barang bukti dan sedang merancang dakwaan.

Dia seharusnya tidak ada di sini. Aku seharusnya menjemputnya di rumah jam tiga sore.

Ponselku bergetar.

SIAPA ITU.

Aku menatap layar. Pesan kedua masuk.

KAKAK NGGAK USAH BOHONG. AKU LIHAT SEMUANYA. DARI TOKO SEPATU. SAMPAI FOOD COURT.

Pesan ketiga.

KAKAK KETAWA. KAKAK KETAWA KAYAK ORANG BODOH.

Pesan keempat.

DAN KAKAK BELIIN SEPATUNYA DI TOKO YANG SAMA TAPI DIPILIHIN DIA??? KAKAK MAU AKU PAKAI SEPATU PILIHAN CEWEK ASING???

Aku mengangkat kepala. Kinan sudah berjalan ke arahku, dengan langkah seorang jaksa menuju meja hijau.

“Nan,” kataku ketika dia sampai di depanku. “Kamu ngapain di sini? Katanya jemput jam tiga.”

“Aku bosen di rumah. Aku mau ngagetin Kakak.” Dia menatap tas belanja di tanganku, lalu ke eskalator tempat Vannesa menghilang, lalu kembali ke wajahku. “Ternyata aku yang kaget.”

“Dia klien.”

“Klien yang milihin sepatu adik Kakak?”

“Dia kebetulan lewat.”

“Klien yang Kakak temenin milih baju? Aku lihat, Kak. Kakak duduk di sofa depan ruang ganti kayak pacar-pacar di drama. Kakak bilang ‘yang ini’. Aku dengar, Kak. Aku berdiri di balik manekin.”

Aku menutup mata. “Kinan.”

“Namanya siapa?”

“Nan.”

“Namanya. Siapa.”

Aku membuka mata. Adikku menatapku dengan wajah yang tidak bisa dibohongi. Wajah yang sama yang dia pakai delapan tahun lalu di rumah sakit, ketika dia bertanya kenapa aku tersenyum.

“Vannesa,” kataku akhirnya.

Kinan mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi notes. Aku melihat judul catatannya: DAFTAR.

“Nan, jangan—”

“Aku nggak masukin dia ke daftar,” katanya, mengetik cepat. “Belum. Aku bikin daftar baru.”

“Daftar apa?”

Dia memutar ponselnya ke arahku. Catatan baru. Judulnya: DIAWASI.

Satu nama di bawahnya.

Vannesa. Klien. Rambut panjang. Ketawanya kenceng. Milihin sepatu yang ternyata bagus. Bikin Kakak ketawa kayak orang bodoh. STATUS: BELUM DIPUTUSKAN.

“Kinan.”

“Kakak diam.” Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu mengambil tas belanja dari tanganku dan mengintip isinya. Menatap sepatu itu lama. Menekan solnya dengan jempol, persis seperti yang dilakukan Vannesa tadi.

“…Empuk,” gumamnya dengan nada tidak rela.

“Dia bilang itu yang paling bagus buat berdiri seharian.”

“Aku nggak nanya dia bilang apa.” Kinan menutup tas belanja dan memeluknya ke dada. Lalu dia menatapku, dan wajah detektifnya melunak sedikit. Hanya sedikit.

“Kak,” katanya pelan. “Kakak bahagia tadi.”

Aku tidak menjawab.

“Aku udah lama nggak lihat Kakak ketawa kayak gitu.” Suaranya bergetar sedikit, lalu dia menutupinya dengan dengusan keras. “Tapi dia tetap diawasi. Status belum diputuskan. Kalau dia bikin Kakak sedih sekali aja, langsung pindah ke daftar yang lama.”

“Dia mau ditembak orang lain Jumat depan, Nan.”

Kinan diam.

“Gaun yang tadi,” kataku, “buat itu.”

Kinan menatapku lama. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Dia menggandeng lengan kananku, erat, seperti waktu dia kecil dan takut tersesat di pasar.

“Ayo pulang,” katanya. “Mama bikin rendang.”

Kami berjalan ke lobi bersama. Dia tidak bicara lagi. Tapi sepanjang jalan, dia tidak melepaskan lenganku.