Chapter Eleven
Kevin Bilang Minggu Depan
POV: Vannesa
Kevin pulang dari Singapura hari Senin, membawa oleh-oleh untuk seluruh lantai sembilan.
Cokelat untuk divisi operasional. Kaya jam untuk divisi keuangan. Gantungan kunci Merlion untuk para OB, yang Bu Yanti terima dengan wajah bingung dan langsung dipasang di kunci lemari pantry. Dan untukku, sebuah kotak kecil berpita biru yang dia letakkan di mejaku dengan senyum yang sedikit gugup.
“Buka nanti aja,” katanya. “Pas di rumah.”
“Kenapa?”
“Biar aku nggak lihat reaksimu. Kalau kamu nggak suka, aku nggak mau tahu.”
Aku tertawa. “Kev, kamu nggak pernah salah pilih hadiah.”
“Selalu ada yang pertama kali.” Dia menyandarkan diri di ambang pintu, tangan di saku, tinggi dan rapi dan sedikit kecokelatan karena matahari Singapura. Lalu suaranya berubah. Lebih pelan. “Nes, Jumat depan. Kamu masih kosong, kan?”
“Masih.”
“Aku udah reservasi. Tempatnya di rooftop. Kamu pakai baju yang bagus, ya. Bukan blazer kerja.”
“Aku punya baju selain blazer kerja, Kev.”
“Aku belum pernah lihat.”
“Kamu belum pernah lihat karena kamu selalu ngajak aku makan di jam kerja.”
Dia tertawa. Lalu, sebelum pergi, dia menatapku sedikit lebih lama dari biasanya. “Aku kangen kamu, Nes.”
Pintu tertutup di belakangnya.
Aku duduk di mejaku, menatap kotak berpita biru itu. Semua orang di lantai sembilan pasti sudah melihatnya masuk dan keluar. Dalam lima menit, aku yakin seluruh gedung akan tahu tentang rooftop dan Jumat depan dan baju yang bukan blazer kerja.
Aku kangen kamu, Nes.
Aku menunggu jantungku berdebar.
Aku menunggu lama.
Satu jam kemudian, aku melihat mereka berdua di koridor.
Kevin sedang berjalan ke lift. Rafa sedang berjalan dari arah pantry, membawa gelas kopi di tangan kanan. Mereka berpapasan tepat di depan ruanganku, dan aku, yang seharusnya sedang membaca laporan armada, melihat semuanya lewat partisi kaca.
Kevin berhenti lebih dulu. Dia tersenyum, senyum ramah yang dia berikan pada semua orang, lalu mengulurkan tangan kanannya.
“Mas Rafa, ya? Vendor sistem? Kevin. Brand.”
Rafa memindahkan gelas kopinya ke antara siku dan pinggang, menjepitnya dengan cekatan, lalu menyambut tangan Kevin. “Rafa. Salam kenal, Pak.”
“Kevin aja. Aku dengar Mas yang nyelametin presentasi Nes minggu lalu. Makasih, ya. Dia cerita.”
“Cuma bersihin data.”
“Sampai jam dua pagi, katanya.” Kevin tertawa. “Itu bukan ‘cuma’.”
Aku melihat mata Kevin turun sebentar ke gelas kopi yang terjepit di siku Rafa. Hanya sebentar. Lalu, tanpa jeda, tanpa komentar, Kevin mengambil gelas itu, memegangnya sebentar sampai Rafa selesai bersalaman, lalu mengembalikannya ke tangan kanan Rafa. Gerakan yang halus, sopan, dan sangat Kevin.
“Nggak usah, Pak,” kata Rafa. “Udah biasa.”
“Oh. Sori.” Kevin mengangkat kedua tangannya, sedikit malu. “Refleks.”
“Nggak apa-apa. Makasih.”
Mereka saling mengangguk dan berpisah. Kevin ke lift. Rafa ke mejanya.
Aku tetap menatap koridor yang kosong itu lama sesudahnya.
Kevin tidak salah. Kevin baik. Kevin melakukan persis apa yang akan dilakukan orang baik mana pun: melihat seseorang kesulitan, lalu membantu. Kalau aku di posisinya, aku mungkin melakukan hal yang sama.
Tapi aku melihat wajah Rafa ketika gelas itu dikembalikan ke tangannya. Senyumnya tetap di sana. Sopan, hangat, tidak berubah sedikit pun. Hanya saja tangan kirinya, yang selalu di saku, tenggelam sedikit lebih dalam.
Aku sudah pernah melihat gerakan itu. Di pantry, minggu pertama. Setelah Mbak Rini dan Mbak Sari tertawa.
Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang membuat perutku terasa aneh: aku sudah hafal cara Rafa menyembunyikan tangannya. Aku tahu kapan saku itu menjadi lebih dalam. Aku sudah memperhatikannya begitu lama, dan begitu teliti, sampai aku bisa membaca perasaannya dari satu gerakan kecil yang bahkan Kevin tidak menyadarinya.
Orang tidak menghafal hal seperti itu tentang vendor.
“Rooftop,” kata Tasya dengan nada khidmat, seperti menyebut nama tempat suci. “Dia nembak di rooftop.”
“Belum tentu nembak.”
“Nes. Rooftop. Jumat malam. Baju bagus. Tiga bulan makan siang ditambah satu buket lili ditambah kotak berpita biru.” Tasya menghitung dengan jari. “Kalau itu bukan nembak, aku bakal makan kotak berpita birunya.”
Kami duduk di pantry, jam empat sore, dengan dua gelas kopi yang sudah dingin. Pantry ini, entah kenapa, sudah menjadi tempat pengakuan dosa kami. Mungkin karena ada lemari pendingin besar yang bisa dijadikan tempat bersembunyi.
“Kalau dia nembak,” kataku pelan, “aku harus jawab apa?”
Tasya menatapku. “Kamu harus jawab sesuai isi hatimu.”
“Isi hatiku kayak gudang Kupang.”
“Maksudnya?”
“Berantakan. Nggak ada yang tahu isinya berapa. Dan ada orang nyanyi dangdut di dalamnya.”
Tasya tertawa, lalu berhenti, dan menatapku dengan lebih serius.
“Nes,” katanya. “Kamu suka Kevin?”
“Suka.”
“Suka yang gimana?”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
Aku suka Kevin. Aku suka caranya tertawa. Aku suka dia ingat soal seledri. Aku suka dia sopan pada OB dan satpam, dan dia tidak pernah membanggakan lulusan luar negerinya. Semua yang harus disukai dari seorang pria, aku menyukainya.
Tapi ketika aku membayangkan rooftop itu, membayangkan Kevin berdiri di depanku dengan lampu kota di belakangnya, membayangkan dia bilang aku suka kamu, Nes, mau nggak kita serius, yang muncul di dadaku bukan debaran.
Yang muncul adalah perasaan seperti membaca kontrak yang semua pasalnya benar.
“Aku nggak tahu,” kataku.
Tasya tidak berkomentar. Dia hanya mendorong gelas kopinya ke arahku, meski gelasku sendiri masih penuh.
“Minggu ini,” katanya, “coba perhatiin satu hal.”
“Apa?”
“Kalau ada kabar bagus, atau kabar lucu, atau hal kecil yang bikin kamu ketawa, perhatiin siapa orang pertama yang pengin kamu kasih tahu.”
Aku tidak perlu menunggu seminggu. Aku hanya perlu menunggu empat jam.
Jam delapan malam, aku sedang di mobil, terjebak macet di Gatot Subroto, ketika Pak Bambang mengirim pesan suara ke grup proyek. Isinya dua menit penuh tentang bagaimana dia berhasil menggunakan pemindai barcode di gudang Semarang untuk pertama kalinya. Suaranya penuh kebanggaan. Dia menjelaskan cara memegang pemindainya, cara menekan tombolnya, dan bagaimana bunyi bip-nya “seperti musik surga”.
Di akhir pesan, ada jeda. Lalu suara Pak Bambang, lebih pelan, dengan logat Jawa yang kental:
“Ternyata sistem baru ini nggak nyusahin anak-anak saya. Matur nuwun, Mas Rafa. Saya salah.”
Aku tertawa sendiri di dalam mobil, di tengah macet, dengan klakson bersahutan di sekitarku.
Lalu, tanpa berpikir, aku meraih ponsel. Membuka chat. Jariku sudah mengetik separuh kalimat.
Kamu denger voice note Pak Bambang?? Dia bilang bunyi bip kayak musik surga 😭
Aku berhenti.
Chat yang kubuka bukan chat dengan Kevin. Bukan dengan Tasya. Bukan dengan Mama.
Chat itu bernama Rafa (Vendor).
Aku menatap layar. Mobil di belakangku membunyikan klakson karena jalanan di depan sudah bergerak tiga meter. Aku maju tiga meter. Lalu berhenti lagi dan menatap layar lagi.
Perhatiin siapa orang pertama yang pengin kamu kasih tahu.
Aku menghapus pesan itu, huruf demi huruf.
Lalu aku mengetiknya lagi. Dan mengirimnya.
Balasannya datang dua menit kemudian.
Dengar. Adikku lagi mampir ke rumah, bawain lauk dari Mama. Sekarang dia lagi ngetawain aku karena aku senyum-senyum dengerin voice note bapak-bapak.
Kamu senyum-senyum?
Pak Bambang bilang dia salah. Itu kalimat paling indah yang pernah kudengar dari klien.
Aku tertawa lagi. Sendirian, di mobil, di tengah macet.
Pesan berikutnya datang tanpa aku membalas.
Btw, aku belum denda kamu. Tadi siang kamu bilang “Mas” dua kali.
Itu di rapat!
Satu di rapat. Satu di pantry. Pantry bukan rapat.
Kamu ngitung??
Aku belajar dari kamu.
Aku menatap layar ponselku, dan pipiku panas, dan di luar jendela mobil lampu-lampu rem membentang merah sampai ke ujung jalan.
Mobil di belakangku membunyikan klakson lagi. Aku tidak peduli.
Di rumah, Mama sedang duduk di teras belakang dengan buku. Papa sudah tidur. Papa selalu tidur jam sembilan, kecuali ada pertandingan bola, dan dia akan membangunkan seisi rumah setiap kali ada gol.
“Nes.” Mama menutup bukunya. “Makan?”
“Udah, Ma.”
“Sini.”
Aku duduk di lantai teras, di depan kursinya, seperti waktu aku kecil. Mama melepas ikat rambutku dan mulai menyisirnya dengan jari-jarinya, pelan, dari atas ke bawah. Kebiasaan lama. Sejak aku kecil, setiap kali aku pulang dengan wajah capek atau sedih, Mama akan menyisir rambutku tanpa bertanya apa-apa. Aku akan bercerita kalau aku mau. Kalau tidak, Mama akan tetap menyisir sampai aku mengantuk.
“Kevin sudah pulang?” tanya Mama.
“Udah. Tadi pagi.”
“Dia anak yang baik.”
“Iya, Ma.”
“Papamu suka dia.”
“Papa suka semua orang yang ketawa sama leluconnya.”
Mama tertawa kecil. Jari-jarinya terus menyisir. Aku memejamkan mata.
“Ma,” kataku setelah beberapa saat.
“Hm?”
“Aku mau nanya sesuatu. Yang udah lama.”
Jari-jari Mama tidak berhenti. “Tanya apa, sayang?”
“Orang yang dulu nolong aku.” Aku membuka mata, menatap halaman belakang yang gelap. Pohon kamboja. Kolam ikan kecil. Lampu taman yang temaram. “Delapan tahun lalu. Dia beneran baik-baik aja, kan?”
Jari-jari Mama berhenti.
Hanya sebentar. Satu atau dua detik. Tapi aku merasakannya, karena rambutku berhenti ditarik, dan tangan Mama diam di kepalaku seperti tangan orang yang tiba-tiba lupa apa yang sedang dia lakukan.
Lalu jari-jarinya bergerak lagi.
“Iya, sayang,” kata Mama. Suaranya lembut, seperti biasa. “Dia baik-baik saja.”
“Mama pernah ketemu dia?”
“Keluarganya yang mengurus semuanya. Mama sudah bilang, kan? Dia tidak mau dicari.”
“Aku cuma pengin bilang makasih.”
“Mama tahu.” Jari-jarinya menyisir, pelan, sangat pelan. “Tapi kadang, Nes, orang yang menolong itu tidak mau diingatkan. Mereka ingin melupakan juga. Kita harus menghormati itu.”
Aku mengangguk. Itu jawaban yang sama yang Mama berikan delapan tahun lalu, dan lima tahun lalu, dan dua tahun lalu. Jawaban yang masuk akal. Jawaban yang lembut.
Aku tidak tahu kenapa, malam ini, jawaban itu terasa sedikit berbeda.
Mungkin karena jeda satu detik itu.
“Kenapa tiba-tiba nanya?” tanya Mama.
“Nggak tahu. Belakangan aku sering kepikiran.” Aku memeluk lututku. “Ada orang di kantor yang bilang sesuatu. Kalimat yang mirip sama yang dia bilang waktu itu. Nggak persis, tapi mirip.”
“Kalimat apa?”
Aku ingin menjawab. Tapi ketika aku memikirkannya, aku sadar aku tidak bisa menunjuk kalimat yang mana. Hanya perasaan. Seperti mendengar lagu yang nadanya familier tapi judulnya tidak ingat. Suara rendah yang pelan di tengah lampu padam. Cahaya senter ponsel di meja. Nggak usah cerita.
“Nggak penting,” kataku. “Mungkin aku cuma capek.”
Mama tidak bertanya lagi. Dia terus menyisir rambutku, lama, lebih lama dari biasanya. Dan ketika akhirnya dia berhenti dan mencium puncak kepalaku, aku merasa bibirnya sedikit gemetar.
“Tidur, Nes,” katanya. “Sudah malam.”
Di kamar, aku membuka kotak berpita biru dari Kevin.
Isinya kalung. Rantai perak tipis dengan liontin kecil berbentuk bintang. Cantik, sederhana, pasti mahal. Selera Kevin memang selalu bagus.
Aku menatapnya lama. Lalu aku menaruhnya kembali di kotaknya, menutupnya, dan meletakkannya di laci meja rias.
Aku mengambil ponsel. Ada pesan dari Kevin, dikirim jam delapan tadi.
Udah buka hadiahnya? 😊
Aku belum membalasnya. Aku bahkan tidak melihatnya tadi. Pesan itu terkubur di bawah pesan-pesan lain, di bawah voice note Pak Bambang, di bawah chat dengan nama Rafa (Vendor).
Aku mengetik: Udah! Cantik banget, Kev. Makasih ya. Lalu mengirimnya.
Lalu aku membuka chat yang lain. Chat terakhirnya masih di sana.
Aku belajar dari kamu.
Aku menatapnya lama. Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya: aku mengubah nama kontaknya.
Rafa (Vendor) menjadi Rafa.
Hanya Rafa. Tanpa keterangan. Seperti dia bukan lagi seseorang yang perlu diberi label supaya aku ingat siapa dia.
Aku menaruh ponsel di dadaku dan menatap langit-langit kamar.
Jumat depan. Rooftop. Baju yang bukan blazer kerja.
Aku seharusnya memikirkan itu. Aku seharusnya memikirkan jawaban yang akan kuberikan pada pria yang semua orang bilang sempurna.
Tapi yang kupikirkan justru ini: besok lusa, makan siang, aku yang bayar. Dan aku harus menemukan cara supaya dia tidak curang pakai QR lagi.
Aku menutup wajah dengan bantal.
“Kamu kenapa, Vannesa,” gumamku ke bantal. “Kamu kenapa.”
Bantal tidak menjawab.
Tapi di suatu tempat di timur Jakarta, di sebuah rumah kontrakan kecil, aku membayangkan seorang pria berkacamata sedang ditertawakan adiknya karena tersenyum pada voice note bapak-bapak. Dan entah kenapa, bayangan itu membuatku tersenyum juga, di balik bantal, sendirian, sampai aku tertidur.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan reading
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari