Chapter Twenty Four
Kursi Kosong di Sebelah Kiri
POV: Rafa
Rabu pagi, aku datang ke kantor jam enam tiga puluh dan memindahkan mejaku.
Bukan mejanya. Meja itu terlalu berat untuk diangkat dengan satu tangan, dan aku tidak mau Pak Tarno melihatku menyeret meja kantor jam setengah tujuh pagi seperti orang yang sedang melarikan diri. Aku hanya memindahkan kursi-kursinya. Kursi kosong yang biasanya ada di sebelah kiriku, tempat Vannesa selalu duduk, kupindahkan ke sisi kanan. Lalu aku menaruh tumpukan map arsip di atas meja sebelah kiri, tinggi, sehingga tidak ada ruang untuk laptop.
Rencana sederhana. Kalau dia mau duduk di dekatku, dia harus duduk di kanan. Sisi yang bisa merasakan. Sisi yang bisa bergerak. Sisi yang normal.
Aku tidak tahu kenapa ini penting. Aku hanya tahu bahwa kemarin, setiap kali dia duduk di sebelah kiriku, setiap kali bahunya hampir menyentuh bahuku yang mati rasa, aku merasa seperti sedang ditelanjangi. Seperti dia bisa melihat bagian diriku yang paling ingin kusembunyikan.
Gilang datang jam delapan. Dia melihat tumpukan map. Dia melihat kursi yang sudah pindah. Dia menatapku.
“Bang,” katanya. “Lo bikin benteng?”
“Saya merapikan arsip.”
“Di meja sebelah kiri lo. Setinggi lima puluh senti.”
“Arsipnya banyak.”
Gilang menatap tumpukan map itu lama. Lalu dia duduk di kursinya, membuka laptop, dan bergumam, “Bang, gue kasih benteng lo sepuluh menit.”
Dia salah. Bentengku bertahan tujuh menit.
Vannesa datang jam delapan lewat tujuh, membawa dua gelas kopi. Dia berjalan ke meja kami, melihat tumpukan map di sebelah kiriku, melihat kursi yang sudah pindah ke kanan.
Dia berhenti. Menatap tumpukan map itu seperti jenderal menatap benteng musuh.
Lalu dia menaruh kedua gelas kopi di mejaku, mengangkat tumpukan map itu dengan dua tangan, semuanya sekaligus, dan memindahkannya ke meja Gilang.
“Bu—” kata Gilang.
“Tolong simpan, Mas Gilang. Makasih.”
Gilang menatap tumpukan map setinggi lima puluh senti yang sekarang menutupi separuh monitornya. Dia tidak protes. Dia bahkan tersenyum.
Vannesa menarik kursi dari sisi kanan, memutarnya, menyeretnya kembali ke sisi kiri, dan duduk.
Di sebelah kiriku. Dengan kopi. Dengan senyum.
“Pagi,” katanya.
“…Pagi.”
“Kamu bangun jam berapa buat bikin benteng?”
“Aku nggak bikin benteng.”
“Pak Tarno bilang kamu datang jam enam tiga puluh. Pak Tarno juga bilang kamu kelihatan kayak orang yang lagi nyembunyiin mayat.”
Aku menutup mata. “Pak Tarno terlalu banyak bicara.”
“Pak Tarno pendukung setiaku.” Dia menyodorkan satu gelas kopi. “Tanpa gula. Catatan hari ini ada di bawah gelas.”
Aku mengangkat gelasnya. Di bawahnya, catatan tempel kuning.
Bentengnya lucu. Tapi aku jago panjat tembok. — V.
Telingaku panas.
“Sepuluh,” kata Vannesa pelan, sambil membuka laptopnya.
Jam sepuluh, rapat koordinasi di ruang rapat kecil. Enam orang, meja bundar.
Aku sudah belajar dari kemarin. Aku masuk ruang rapat paling akhir, setelah semua orang duduk, supaya aku bisa melihat di mana Vannesa duduk dan memilih kursi yang jauh darinya.
Vannesa belum datang ketika aku masuk. Ada enam kursi. Empat sudah terisi: Tasya, Mas Doni, Pak Anwar dari gudang Cikarang, dan Gilang. Dua kosong, bersebelahan.
Aku duduk di salah satunya. Yang di sebelah kanan. Supaya kursi kosong satu-satunya ada di sebelah kiriku, dan kalau dia datang, dia terpaksa duduk di sana, dan setidaknya aku sudah siap.
Lalu Vannesa masuk, dan dia tidak duduk di kursi kosong itu.
Dia berjalan mengitari meja. Berhenti di sebelah Gilang, yang duduk di sebelah kananku. Membungkuk dan membisikkan sesuatu.
Gilang berdiri, mengambil laptopnya, dan pindah ke kursi kosong di sebelah kiriku. Lalu Vannesa duduk di kursi Gilang yang sekarang kosong. Di sebelah kananku.
Aku mengerjap.
Aku tidak mengerti. Kenapa kanan? Bukankah dia selalu—
Lalu Vannesa berdiri lagi.
“Mas Gilang,” katanya manis. “Tukeran lagi, yuk. Di sini silau.”
Gilang, dengan wajah seorang pria yang sudah pasrah pada takdirnya, berdiri dan pindah kembali ke kursi aslinya. Vannesa duduk di kursi kiri.
Di sebelah kiriku. Lagi.
Pak Anwar menatap kejadian itu dengan mulut sedikit terbuka. Mas Doni pura-pura sibuk dengan dokumen, tapi bahunya berguncang. Tasya menulis sesuatu di catatannya, dan aku sangat yakin itu bukan notulen rapat.
“Kenapa kamu—” bisikku.
“Aku mau lihat mukamu waktu kamu kira kamu menang,” bisik Vannesa balik, tanpa menoleh. “Lucu.”
Rapat berjalan empat puluh menit. Aku tidak ingat apa yang dibahas.
Yang kuingat hanya satu momen. Di tengah rapat, Pak Anwar meminta aku menjelaskan ulang soal penempatan access point baru. Aku bergeser di kursi, mencari posisi yang lebih nyaman untuk menjelaskan. Kursinya keras. Kursi rapat di ruangan kecil itu memang terkenal keras, dan punggungku masih pegal dari perjalanan tol Cikampek minggu lalu.
Aku bergeser lagi.
Lalu Vannesa mencondongkan badan sedikit ke arahku, dan berbisik, sangat pelan, cukup pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya:
“Kalau kamu nggak nyaman duduk di kursi, aku bisa pangku kamu.”
Aku berhenti bernapas.
Seluruh tubuhku berhenti. Otakku berhenti. Aku yakin jantungku juga berhenti, setidaknya selama dua detik, sebelum mulai lagi dengan kecepatan dua kali lipat.
Panas naik dari perutku, dari dadaku, dari leherku, meledak di wajahku seperti kembang api. Kacamataku berembun total dalam hitungan detik. Aku tidak bisa melihat Pak Anwar. Aku tidak bisa melihat dokumen di depanku. Aku hanya bisa melihat kabut putih, dan mendengar suara Vannesa di telingaku, yang terus berulang, aku bisa pangku kamu, aku bisa pangku kamu.
“Mas Rafa?” suara Pak Anwar. “Access point-nya?”
“Access—” suaraku keluar seperti kaleng penyok. “Access point. Iya. Access point.”
“Di mana, Mas?”
“Di…” Aku melepas kacamata. Mengelapnya dengan tangan gemetar. “Di tempat yang… banyak sinyalnya. Sedikit sinyalnya. Yang sinyalnya kurang.”
“Oh. Iya, Mas. Di situ.”
Di seberang meja, Gilang menjatuhkan kepalanya ke meja. Pelan. Bunyi tok kecil. Dan dia tidak mengangkatnya lagi sampai rapat selesai.
Di sebelahku, Vannesa menulis sesuatu di agendanya, dan menggeser agenda itu sedikit supaya aku bisa melihat.
11. Yang paling merah sejauh ini.
Sore itu, aku mengajaknya bicara.
Aku sudah memikirkan ini sepanjang siang. Sejak rapat. Sejak aku bisa pangku kamu. Sejak aku sadar bahwa kalau ini dibiarkan terus, aku tidak akan bisa berhenti. Aku akan mulai berharap, dan harapan adalah hal yang paling berbahaya bagi pria sepertiku.
Aku mengirim pesan: Bisa ngobrol? Setelah jam kerja. Kamu yang pilih tempat.
Dia membalas dalam tiga detik: Tangga darurat lantai sembilan. Jam 6. Biar nggak ada yang nguping.
Jam enam, lantai sembilan sudah kosong. Aku membuka pintu tangga darurat, dan dia sudah di sana, duduk di anak tangga paling atas, blazer dilepas, sepatu hak dilepas dan ditaruh di sebelahnya.
Tangga darurat itu remang-remang. Lampu neon di atas berkedip sesekali. Aku melihatnya melirik lampu itu, sekilas, lalu mengeluarkan kunci mobil dari saku dan menggenggamnya. Dengan senter perak kecil yang tergantung di sana.
Dia tidak menyalakannya. Hanya menggenggamnya.
Aku duduk di anak tangga di bawahnya. Tidak terlalu dekat. Menyamping, supaya aku bisa menatapnya tanpa harus memutar kepala terlalu jauh.
“Oke,” katanya. “Aku dengerin. Semuanya. Janji.”
Aku menarik napas.
“Vannesa,” kataku. “Kamu cantik. Kamu baik. Kamu pinter. Semua orang di gedung ini sayang sama kamu. Kamu bisa milih siapa aja.”
“Aku tahu.”
Aku mengerjap. “Kamu tahu?”
“Aku nggak pura-pura rendah hati, Rafa. Aku tahu aku bisa milih siapa aja.” Dia memeluk lututnya. “Lanjut.”
Aku menatapnya, lalu menatap anak tangga di bawahku.
“Aku nggak bisa bukain pintu buat kamu sambil bawa barang,” kataku. “Aku nggak bisa gendong kamu kalau kamu kakinya keseleo. Aku nggak bisa nyetir mobil biasa. Aku nggak bisa bawa belanjaan banyak. Aku nggak bisa meluk kamu pakai dua tangan.”
Suaraku mulai gemetar. Aku berhenti. Menenangkannya.
“Orang-orang bakal bisik-bisik,” lanjutku. “Kamu udah dengar sendiri. Kasihan ceweknya. Setiap kali kita jalan bareng, mereka bakal lihat kamu, terus lihat tanganku, terus mikir kamu lagi berbuat baik. Kamu bakal capek. Mungkin nggak sekarang. Mungkin setahun lagi. Dua tahun. Tapi kamu bakal capek, dan kamu terlalu baik buat bilang, jadi kamu bakal nanggung sendiri.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Dan Mamamu,” kataku lebih pelan. “Aku lihat Mamamu nangis waktu lihat tanganku. Aku nggak tahu dia bilang apa ke kamu malam itu. Tapi aku ngerti. Nggak ada ibu yang mau anaknya—”
“Mamaku nangis bukan karena itu.”
Suaranya tajam. Lebih tajam dari yang pernah kudengar.
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan mata yang tiba-tiba basah.
“Mamaku nangis bukan karena nggak mau aku sama kamu,” katanya. “Aku janji. Aku bakal cerita kenapa. Nanti. Tapi bukan karena itu. Jangan pernah pikir itu karena itu.”
Aku tidak mengerti. Tapi ada sesuatu di suaranya yang membuatku percaya.
“Oke,” kataku pelan.
“Udah? Itu semua?”
“Satu lagi.”
“Apa?”
Aku menatap tangan kiriku. Tergeletak di pangkuan, diam, seperti benda yang bukan milikku.
“Kamu pantas dapat yang utuh,” kataku.
Hening.
Lampu neon berkedip. Di bawah, jauh di lantai-lantai bawah, terdengar pintu tangga darurat dibuka dan ditutup, lalu langkah kaki yang menjauh.
Vannesa berdiri. Menuruni satu anak tangga. Dua. Sampai dia berdiri di anak tangga yang sama denganku, di sebelah kiriku. Lalu dia duduk. Dekat. Bahunya menyentuh bahu kiriku. Aku tidak bisa merasakannya, tapi aku bisa melihatnya.
“Sekarang giliranku,” katanya.
Aku diam.
“Kamu bilang aku bisa milih siapa aja. Oke. Aku milih.” Dia menatapku dari jarak yang sangat dekat. “Aku nggak mau yang utuh, Rafa. Aku mau kamu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kamu boleh nolak aku,” lanjutnya, lebih pelan. “Kalau kamu nggak suka aku, bilang. Aku bakal berhenti. Aku janji. Aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku bakal duduk di kursi kanan, atau di ujung meja, atau di ruangan lain.” Suaranya bergetar. “Tapi jangan nolak aku karena kamu pikir kamu nggak cukup. Karena itu bukan keputusan kamu. Itu keputusan aku. Dan aku udah mutusin.”
Aku menatapnya. Dia menatapku. Jarak di antara wajah kami mungkin dua puluh senti. Mungkin kurang.
Mataku turun. Tanpa sengaja. Ke bibirnya.
Hanya sekejap. Aku langsung mengangkat mata lagi. Tapi dia sudah melihatnya.
Dia tersenyum. Pelan. Nakal.
“Kok lihat bibir aku terus?” bisiknya. “Mau aku cium?”
Aku mundur. Begitu cepat sampai punggungku membentur pegangan tangga. Wajahku terbakar. Leherku terbakar. Seluruh tubuhku terbakar. Aku yakin kalau lampu neon di atas padam sekarang, wajahku akan tetap menerangi seluruh tangga darurat.
Vannesa tertawa. Tawa yang lepas, keras, memantul di dinding-dinding tangga darurat. Dia tertawa sampai harus menunduk dan memeluk lututnya.
“Dua belas,” katanya di sela tawa. “Dua belas, tiga belas, empat belas. Itu tiga sekaligus. Itu rekor.”
“Vannesa.”
“Aku nggak cium kok.” Dia menyeka air mata tawanya. “Belum. Aku cuma nanya.”
Dia berdiri. Mengambil sepatu dan blazernya. Menaiki anak tangga, ke pintu lantai sembilan. Di sana, dia berhenti, dan menoleh.
“Rafa.”
Aku mengangkat kepala.
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” katanya. “Kamu suka aku atau nggak? Itu satu-satunya jawaban yang bakal bikin aku berhenti.”
Aku membuka mulut.
Aku bisa bilang nggak. Satu kata. Mudah. Dia akan berhenti. Dia sudah berjanji. Dan dia akan aman dari semua bisikan, semua beban, semua pintu yang tidak bisa kubukakan untuknya.
Tapi kata itu tidak keluar.
Aku menatapnya, berdiri di puncak tangga darurat dengan sepatu di tangan dan rambut sedikit berantakan dan senyum yang, entah bagaimana, tidak pernah sekali pun terlihat kasihan padaku. Dan aku tidak bisa berbohong padanya. Tidak kemarin di lobi. Tidak sekarang.
Aku diam.
Dia menunggu. Lalu senyumnya melebar, pelan, seperti kemarin.
“Oke,” katanya lembut. “Aku anggap itu iya lagi.”
“Aku nggak bilang iya.”
“Kamu nggak bilang nggak.” Dia membuka pintu. “Besok aku duduk di kiri lagi. Siap-siap.”
Pintu menutup di belakangnya.
Aku duduk sendirian di tangga darurat yang remang-remang, dengan punggung menempel di pegangan tangga, wajah yang masih panas, dan jantung yang tidak mau pelan.
Lampu neon di atas berkedip. Sekali. Dua kali.
Aku tidak takut gelap. Aku tidak pernah takut gelap.
Tapi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku takut pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari gang gelap mana pun.
Aku takut berharap.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri reading
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari