Chapter Thirty Two
Makan Malam Keluarga Atmajaya
POV: Rafa
Jumat pagi jam lima, Pak Surya meneleponku.
“Raf. Surabaya. Server gudang down total. Uji coba mereka Senin, dan semua data migrasi hilang separuh. Mereka panik. Kamu harus ke sana. Pesawat jam delapan.”
Aku duduk di tepi kasur dalam gelap, ponsel di telinga, dan hal pertama yang kupikirkan bukan server. Bukan data migrasi. Bukan uji coba Senin.
Hal pertama yang kupikirkan adalah Jumat malam.
Aku mau ngomong sesuatu. Yang penting. Yang aku janjiin di rooftop.
“Pak,” kataku. “Saya bisa kerjain dari sini? Remote?”
“Servernya fisik rusak, Raf. Harus ada yang pegang langsung. Gilang lagi di Medan. Cuma kamu yang ngerti arsitekturnya.”
Aku menutup mata.
“Oke, Pak. Saya berangkat.”
Aku menelepon Vannesa dari bandara, jam tujuh pagi. Dia mengangkat di dering pertama, suaranya serak karena baru bangun.
“Surabaya?” katanya setelah aku menjelaskan. “Sekarang?”
“Pesawat jam delapan. Aku usahain balik Sabtu siang. Langsung ke rumahmu buat makan malam.”
Hening di seberang telepon.
“Vannesa? Maaf. Aku tahu kamu mau ngomong malam ini. Kita bisa telepon nanti malam? Kamu cerita lewat telepon?”
Hening lagi. Lalu suaranya, pelan: “Nggak. Nggak lewat telepon. Aku mau lihat mukamu waktu aku cerita.”
“Oke.”
“Setelah makan malam. Sabtu. Aku antar kamu pulang, terus di mobil aku cerita. Semuanya.”
“Oke. Setelah makan malam.”
“Rafa.”
“Hm?”
Dia diam lama. Aku mendengar napasnya di telepon. Pengumuman di bandara memanggil penumpang tujuan Surabaya.
“Hati-hati,” katanya akhirnya. “Aku sayang kamu.”
Aku berhenti berjalan. Di tengah terminal. Seorang bapak dengan koper besar hampir menabrakku dari belakang dan mengumpat pelan.
Dia belum pernah mengatakan itu. Kami sudah bilang suka. Di rooftop, di bawah lampu kuning. Tapi sayang belum.
“Aku juga,” kataku. Suaraku serak. “Aku juga sayang kamu.”
Aku mendengar dia tertawa kecil. Basah. Lalu telepon ditutup.
Aku berdiri di tengah terminal sampai panggilan terakhir untuk penerbangan ke Surabaya.
Server gudang Surabaya ternyata rusak karena tikus menggigit kabel utamanya.
Aku menghabiskan tiga puluh jam di ruang server yang panas dan pengap, dengan kepala gudang yang panik dan teknisi lokal yang lebih panik lagi. Aku memulihkan data dari cadangan cadangan. Aku menulis ulang skrip migrasi. Aku tidur dua jam di sofa ruang istirahat yang baunya seperti kaus kaki.
Setiap malam, Vannesa meneleponku. Dia tidak bercerita apa-apa yang penting. Dia bercerita tentang Papanya yang latihan lelucon di depan cermin. Tentang Mamanya yang memasak rendang sejak Jumat pagi, “karena rendang yang enak butuh dua hari”. Tentang Tasya yang memilihkan baju untukku lewat foto.
Dan setiap kali dia tertawa di telepon, aku merasa ada sesuatu yang tertahan di belakang tawanya. Seperti orang yang tertawa sambil memegang sesuatu yang berat.
Sabtu jam empat sore, aku mendarat di Jakarta. Aku tidak sempat pulang. Aku mandi di toilet bandara, berganti kemeja yang Kinan antar ke bandara, kemeja batik biru tua yang dipilih Tasya dari foto, dan naik taksi langsung ke rumah keluarga Atmajaya.
Kinan memelukku di pintu kedatangan sebelum aku pergi.
“Kak,” bisiknya. “Jangan malu-maluin.”
“Kakak nggak akan malu-maluin.”
“Jangan makan pakai tangan. Mereka orang kaya.”
“Kinan, orang kaya juga makan pakai tangan.”
“Pokoknya jangan.” Dia melepaskan pelukan dan merapikan kerah kemejaku dengan jari-jari fisioterapisnya yang cekatan. “Dan kalau Mamanya nangis lagi, Kakak jangan bingung. Kakak peluk aja.”
“Nan, Kakak nggak bisa peluk mama orang.”
“Bisa. Kakak punya satu tangan. Satu tangan cukup buat meluk.” Dia menepuk dadaku. “Pergi sana.”
Rumah keluarga Atmajaya di kawasan selatan Jakarta, di jalan yang sepi dengan pohon-pohon besar di kiri-kanan. Pagarnya tinggi. Halamannya luas, dengan pohon kamboja dan kolam ikan kecil.
Vannesa menungguku di teras. Gaun krem sederhana. Rambut tergerai. Dia berlari turun tangga teras begitu taksiku berhenti, dan memelukku sebelum aku sempat membayar sopir.
“Kamu kurusan,” katanya ke dadaku.
“Tiga puluh jam di ruang server.”
“Kamu bau bandara.”
“Aku mandi di toilet bandara.”
Dia tertawa dan melepaskan pelukan. Lalu dia menatapku. Lama. Dengan mata yang sedikit merah, seperti kurang tidur.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa.” Dia tersenyum. Senyum yang sedikit terlalu cepat. “Ayo masuk. Papa udah nunggu dari jam lima.”
Pak Hendra menyambutku di ruang tengah dengan pelukan yang terlalu erat dan tepukan di punggung yang terlalu keras.
“Nak Rafa! Akhirnya! Duduk, duduk. Kamu mau minum apa? Teh? Kopi? Jus? Papa punya jus markisa, katanya bagus buat pencernaan. Papa nggak tahu itu benar atau nggak, tapi rasanya enak.”
“Teh aja, Pak.”
“Papa aja. Panggil Papa. Kamu udah pacar Nes, masa masih Pak.” Dia menepuk bahuku lagi. Bahu kanan. “Kamu tahu kenapa vendor IT itu pasti jadi menantu yang baik?”
Aku menatapnya. Vannesa, di belakangnya, menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kenapa, Pak?”
“Karena dia udah biasa restart hubungan yang error.” Pak Hendra tertawa terbahak-bahak. Sendirian. Lalu dia menatapku, menunggu.
Aku ingat pesan Vannesa. Kamu cukup ketawa.
Aku tertawa.
Dan anehnya, tawaku tulus. Karena lelucon itu begitu buruk, dan Pak Hendra begitu bangga, dan Vannesa di belakangnya begitu malu, sehingga seluruh situasinya menjadi lucu.
Pak Hendra menatapku dengan mata berbinar. Lalu dia menoleh ke Vannesa. “Nes. Dia ketawa. Dia ketawa beneran. Kevin dulu cuma senyum sopan.”
“Pa!”
“Papa suka dia.” Pak Hendra merangkul bahuku. “Papa suka dia, Nes.”
Makan malam disajikan di ruang makan yang besar, dengan meja kayu panjang dan lampu gantung kristal kecil. Rendang, gulai daun singkong, sambal hijau, perkedel, sayur lodeh, dan nasi putih yang masih mengepul.
Bu Ratna keluar dari dapur dengan piring terakhir. Dia memakai kebaya sederhana berwarna biru muda. Rambutnya disanggul rendah. Wajahnya tersenyum, tapi matanya sembap. Seperti orang yang sudah menangis sebelumnya dan berusaha keras menyembunyikannya.
“Nak Rafa,” katanya pelan. “Selamat datang.”
“Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan.”
“Nggak merepotkan. Sama sekali nggak.” Suaranya bergetar sedikit. Dia menaruh piring rendang di depanku. Tepat di depanku. “Ibu masak dua hari. Kata Tasya kamu suka rendang.”
“Suka sekali, Bu.”
Bu Ratna tersenyum. Lalu dia duduk di seberangku, dan sepanjang makan malam, dia tidak berhenti menatapku.
Bukan tatapan yang tidak ramah. Justru sebaliknya. Tatapan yang terlalu hangat. Terlalu penuh. Seperti orang yang sedang menatap sesuatu yang sangat berharga dan takut kehilangannya.
Dan dia tidak berhenti memberi.
Dia menaruh rendang di piringku. Tiga potong. Lalu empat. Lalu lima, sebelum aku sempat menghabiskan yang pertama. Dia menuangkan teh untukku setiap kali gelasku setengah kosong. Dia memotongkan perkedel menjadi potongan kecil dan menaruhnya di piringku tanpa bertanya, seperti memotongkan makanan untuk anak kecil, lalu tiba-tiba berhenti, menatap tangannya sendiri, dan berkata “maaf, maaf, Ibu kebiasaan” dengan suara yang pecah.
“Nggak apa-apa, Bu,” kataku.
Di sebelahku, Vannesa diam. Dia hampir tidak makan. Tangannya di bawah meja, menggenggam tangan kiriku. Erat. Sangat erat.
Pak Hendra tidak menyadari apa-apa. Dia bercerita tentang gudang pertama Atma & Corp, tiga puluh lima tahun lalu, sebuah gudang kecil di Tanjung Priok dengan dua truk dan satu mesin ketik. Aku mendengarkan, dan tertawa di tempat yang tepat, dan bertanya di tempat yang tepat. Pak Hendra makin bersemangat.
Lalu, di tengah cerita Pak Hendra, Bu Ratna berkata:
“Nak Rafa. Ibu mau nawarin sesuatu.”
Pak Hendra berhenti bercerita. Vannesa menegang di sebelahku.
“Ibu dengar,” kata Bu Ratna pelan, “ada rumah sakit di Singapura. Yang spesialis saraf. Katanya mereka punya terapi baru. Untuk cedera saraf bahu. Ibu sudah tanya-tanya.” Dia menatap tangan kiriku, yang ada di pangkuan, di genggaman Vannesa. “Kalau Nak Rafa mau, Ibu yang atur semuanya. Biayanya, perjalanannya, semuanya.”
Hening di meja makan.
Aku menatap Bu Ratna. Wajahnya penuh harap. Penuh sesuatu yang tulus dan sangat, sangat sedih.
Dan aku merasakan sesuatu yang dingin merambat dari perutku.
Aku sudah pernah merasakan ini. Delapan tahun. Dari kerabat jauh yang menawarkan pengobatan alternatif di pernikahan sepupu. Dari ibu-ibu arisan Mama yang menyelipkan brosur tukang urut ke tas Mama. Dari orang-orang baik yang melihat tanganku dan langsung ingin memperbaikinya. Karena di mata mereka, aku adalah sesuatu yang rusak.
Aku tidak menyangka akan merasakannya di sini. Di meja makan keluarga perempuan yang kucintai.
“Terima kasih, Bu,” kataku. Pelan. Sopan. Aku sudah latihan kalimat ini ribuan kali. “Tapi dokter saya sudah bilang, kerusakannya permanen. Saya sudah coba berbagai terapi, dulu. Saya sudah berdamai.”
“Tapi mungkin terapi baru—”
“Ma,” kata Vannesa. Suaranya tajam.
Bu Ratna berhenti. Menatap Vannesa. Lalu menatapku. Matanya berkaca-kaca.
“Maaf,” bisiknya. “Maaf. Ibu cuma… Ibu cuma mau bantu.”
“Saya tahu, Bu. Terima kasih.”
Bu Ratna berdiri dengan tiba-tiba. “Ibu ambil puding dulu,” katanya, dan dia berjalan ke dapur dengan langkah cepat.
Pak Hendra menatap pintu dapur dengan wajah bingung. Lalu dia menatapku, dan tersenyum canggung. “Istri saya itu, kalau sayang sama orang, suka berlebihan. Maaf ya, Nak.”
“Nggak apa-apa, Pak.”
Tapi di bawah meja, genggaman Vannesa di tanganku sekarang begitu erat sampai aku bisa melihat buku jarinya memutih. Dan ketika aku menoleh padanya, dia sedang menatap piringnya dengan mata yang basah.
Setelah puding, Pak Hendra mengantarku ke teras.
“Nak Rafa,” katanya, dengan tangan di bahuku. “Besok pagi, kamu ada acara?”
“Belum ada, Pak.”
“Bagus. Wi-Fi rumah ini kacau. Sudah tiga bulan. Teknisinya datang tiga kali, katanya routernya kurang canggih. Papa beli yang paling mahal, tetap kacau.” Dia menatapku dengan wajah memohon. “Kamu bisa lihat besok? Pagi-pagi? Sekalian nonton bola. Ada pertandingan jam sepuluh.”
Aku tertawa. “Bisa, Pak. Jam delapan?”
“Jam delapan. Papa siapin kopi.” Dia menepuk bahuku lagi. “Dan Nak Rafa.”
“Ya, Pak?”
Pak Hendra menatapku lama. Lalu dia bilang, dengan suara yang lebih pelan dan lebih serius dari yang pernah kudengar darinya:
“Nes itu anak satu-satunya. Papa sayang sekali sama dia. Dan Papa lihat cara dia lihat kamu malam ini.” Dia menepuk bahuku sekali lagi, lebih pelan. “Jaga dia, ya.”
“Saya jaga, Pak.”
Vannesa mengantarku pulang.
Dia tidak bicara sepanjang perjalanan. Tidak menyalakan radio. Hanya menyetir, dengan tangan mencengkeram setir, dengan wajah yang pucat di bawah lampu-lampu jalan yang lewat.
Aku tidak mendesaknya. Aku menunggu.
Mobil berhenti di depan gang rumahku. Mbul tidak ada di teras malam ini. Lampu jalan kuning berkedip.
Dia mematikan mesin. Tangannya tetap di setir.
“Rafa,” katanya.
“Hm?”
“Soal Mama. Tadi. Soal Singapura.”
“Nggak apa-apa. Aku ngerti. Mamamu cuma mau bantu.”
“Bukan.” Suaranya pecah. “Bukan itu. Mama bukan kasihan sama kamu. Mama—”
Dia berhenti. Menatap setir. Napasnya pendek-pendek.
“Aku mau cerita,” bisiknya. “Sekarang. Aku janji cerita sekarang.”
“Oke,” kataku lembut. “Aku dengerin.”
Dia menoleh padaku. Matanya penuh air. Bibirnya gemetar.
Dan dia tidak bercerita.
Dia menatapku, di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip, dengan wajah seperti orang yang berdiri di tepi jurang dan tidak bisa melompat. Aku melihat perang di matanya. Aku melihat kata-kata yang ingin keluar, dan sesuatu yang menahannya, sesuatu yang besar dan menakutkan.
Lalu dia mencondongkan badan ke arahku. Dan menciumku.
Bukan ciuman seperti di rooftop. Bukan pelan dan ragu. Ciuman yang dalam. Yang putus asa. Yang seperti orang yang tenggelam dan mencari udara. Tangannya naik ke wajahku, ke rambutku, menarikku lebih dekat. Aku merasakan air matanya di pipiku. Merasakan napasnya yang tersengal. Merasakan bibirnya yang terbuka, yang mencari, yang tidak mau berhenti.
Aku membalasnya. Tangan kananku di tengkuknya. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku hanya tahu dia menangis, dan dia menciumku seperti ini adalah terakhir kalinya, dan aku tidak mengerti kenapa.
Ketika akhirnya kami berhenti, napas kami berdua tersengal. Dahinya menempel di dahiku. Kacamataku miring.
“Vannesa,” bisikku. “Kenapa?”
“Besok,” bisiknya. Suaranya patah. “Maaf. Aku nggak bisa malam ini. Aku… aku mau ingat ini dulu. Besok. Setelah kamu benerin Wi-Fi Papa. Aku cerita. Semuanya. Aku janji. Ini janji terakhir.”
Aku menatapnya. Dari jarak yang sangat dekat, di dalam mobil yang gelap.
Aku ingin mendesaknya. Aku ingin bilang sekarang saja, apa pun itu, aku kuat. Tapi dia menatapku dengan mata yang begitu takut, begitu lelah, dan aku berpikir: apa pun ini, dia sudah membawanya lama sekali. Satu malam lagi tidak akan mengubah apa-apa.
“Oke,” kataku. “Besok.”
Dia menutup mata. Air mata mengalir.
“Makasih,” bisiknya.
Aku turun dari mobil. Dia menyalakan mesin. Klakson dua kali, pelan. Mobilnya mundur keluar dari gang.
Aku berdiri di depan pagar, menatap tikungan tempat mobilnya menghilang, dengan bibir yang masih bisa merasakan bibirnya dan pipi yang masih basah oleh air matanya.
Di dalam dadaku, ada sesuatu yang dingin. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Aku menyentuh bibirku dengan tangan kanan.
Ini janji terakhir.
Aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu membuatku tidak bisa tidur sampai subuh.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya reading
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari