← Yang Kiri buat Aku

Chapter Forty One

Epilog: Akad

POV: Rafa

Aku sudah berlatih kalimat itu empat ratus kali.

Kinan yang menghitung. Tentu saja Kinan yang menghitung. Dia duduk di kasur kamar lamaku selama tiga minggu, dengan stopwatch di ponsel dan buku catatan di pangkuan, dan setiap kali aku mengucapkan kalimat kabul itu, dia menulis angka dan waktu.

“Tiga koma empat detik,” katanya. “Terlalu cepat. Kayak orang dikejar debt collector.”

Aku mengulang.

“Enam detik. Terlalu lambat. Penghulunya bakal ketiduran.”

Aku mengulang.

“Kak, Kakak napas di tengah. Nggak boleh napas di tengah. Satu tarikan napas.”

“Nan, Kakak ini manusia. Manusia butuh napas.”

“Nggak hari Sabtu.” Dia menulis sesuatu di buku catatannya. “Hari Sabtu Kakak bukan manusia. Hari Sabtu Kakak calon suami. Calon suami nggak butuh napas.”

Empat ratus kali. Dan pagi ini, berdiri di depan cermin di kamar tamu rumah keluarga Atmajaya, dengan beskap putih dan peci yang dipasangkan Kinan, aku lupa separuhnya.

“Kak.” Kinan berdiri di belakangku. Kebaya hijau muda, rambut disanggul, wajah serius. “Ulang.”

Aku mengulang dalam hati. Nama Vannesa lengkap. Nama Papa Hendra. Mahar. Tunai.

“Lancar?”

“Lancar.”

“Bohong. Telinga Kakak merah.”

Aku menyentuh telingaku. Refleks. Kinan tersenyum. Lalu senyum itu goyah, dan matanya berkaca-kaca, dan dia berbalik cepat pura-pura merapikan sesuatu di meja rias.

“Nan.”

“Debu,” katanya ke meja rias. “Rumah orang kaya juga ada debunya.”

Aku berjalan ke belakangnya. Memeluknya dari belakang, dengan satu tangan. Dia diam. Lalu tangannya naik, memegang lenganku.

“Kakak udah nggak butuh aku lagi,” bisiknya.

“Kakak selalu butuh kamu.”

“Nggak. Sekarang ada dia yang neken kunci.” Dia terisak sekali. Keras. Lalu menyeka mata dengan ujung jari supaya riasannya tidak rusak. “Tapi aku tetap yang ngecek latihan bahu. Itu nggak bisa dia ambil. Itu wilayahku.”

“Wilayahmu.”

“Dan aku tetap fisioterapis anak-anak Kakak nanti.”

“Nan, belum ada anak.”

“Nanti.” Dia berbalik, menatapku, dan merapikan kerah beskapku dengan jari-jari fisioterapisnya yang cekatan. “Ayo. Penghulunya udah datang. Jangan napas di tengah.”


Ruang tengah rumah keluarga Atmajaya penuh.

Kursi-kursi berjajar rapi. Bunga melati di mana-mana, baunya manis dan tenang. Keluarga dari dua pihak duduk berhadapan. Di satu sisi, keluarga Atmajaya: om, tante, sepupu, kerabat yang datang dari Surabaya dan Makassar. Di sisi lain, keluargaku: Mama dan Papa, Pakde dari Klaten, Bude dari Semarang, dan sepupu-sepupu yang dulu di pernikahan keluarga sering bertanya itu tangannya kenapa. Hari ini tidak ada yang bertanya.

Dan di belakang, di kursi-kursi tambahan yang terus bertambah, lantai sembilan.

Gilang dan Tasya, yang sekarang sudah bertunangan dan tidak berhenti berpegangan tangan. Bu Yanti dengan kebaya ungu. Pak Tarno dengan beskap sewaan yang kebesaran. Mbak Rini, Mbak Sari, Mas Doni dengan istri dan bayinya, Dimas. Om Darmo, duduk tegak di kursi paling depan dari barisan kantor, dengan wajah seserius orang yang menghadiri rapat anggaran.

Kevin duduk di dekat pintu. Dia mengangguk padaku ketika aku masuk.

Aku duduk di depan meja kecil berlapis kain putih. Di seberangku, penghulu, bapak-bapak tua berkacamata tebal yang tersenyum ramah. Di sebelah penghulu, Papa Hendra. Wali nikah. Wajahnya pucat, sepucat yang pernah kulihat di teras belakang malam itu.

“Nak Rafa,” bisiknya ketika aku duduk. “Papa gugup.”

“Saya juga, Pak.”

“Papa udah latihan tiga ratus kali.”

“Saya empat ratus.”

Papa Hendra menatapku. Lalu tertawa pelan, gugup. “Kamu menang.”

Aku tidak melihat Vannesa. Dia belum boleh keluar sampai akad selesai. Dia di kamarnya di lantai atas, bersama Bu Ratna dan Mama.

Tapi aku tahu dia bisa mendengar semuanya.


Penghulu membacakan khotbah singkat. Aku tidak mendengar satu kata pun. Jantungku berdetak terlalu keras.

Lalu dia berkata, “Silakan, Pak Hendra.”

Papa Hendra mengulurkan tangan kanannya. Aku menyambutnya dengan tangan kananku.

Dan aku menyadari sesuatu. Genggaman tangan dalam ijab kabul memang selalu dengan tangan kanan. Selalu. Tidak ada yang akan bertanya soal tangan kiri hari ini. Tidak ada yang akan menatap saku. Hari ini, untuk satu kalimat paling penting dalam hidupku, aku persis sama dengan semua pria lain yang pernah duduk di kursi ini.

Papa Hendra menarik napas. Tangannya gemetar di tanganku. Dia mengucapkan ijabnya. Nama Vannesa. Namaku. Mahar.

Suaranya pecah di tengah. Dia berhenti. Menelan ludah. Lalu melanjutkan.

Dan kemudian giliranku.

Aku membuka mulut.

Dan dari luar, dari jalan di depan pagar, terdengar bunyi klakson.

Keras. Panjang. Klakson truk. TET-TEEEET-TEEEEEEET.

Seluruh ruangan menoleh ke jendela.

Klakson itu berbunyi lagi. Lalu suara laki-laki berteriak, dengan logat Jawa yang sangat kental, dari jalan di luar pagar:

“PERMISI! BERAS DARI SEMARANG! SATU TRUK! MANA PENGANTINNYA?”

Hening total.

Lalu Gilang, di barisan belakang, tidak bisa menahan diri dan tertawa. Lalu Tasya. Lalu Pak Tarno. Lalu seluruh ruangan meledak dalam tawa, termasuk penghulu, yang harus melepas kacamatanya untuk mengusap mata.

Pak Bambang. Tentu saja. Dia berjanji di hari go-live, dan dia menepatinya, dan dia menepatinya tepat di tengah ijab kabul.

Papa Hendra menatapku. Tangannya masih menggenggam tanganku. Dan dia tertawa juga, tawa yang gugup dan lega sekaligus.

“Ulang?” tanya penghulu, tersenyum.

“Ulang,” kata Papa Hendra.

Tapi ada yang berubah. Jantungku tidak berdetak terlalu keras lagi. Tangan Papa Hendra tidak gemetar lagi. Tawa tadi seperti membuka jendela di ruangan yang pengap.

Papa Hendra mengucapkan ijabnya lagi. Kali ini tidak pecah. Lancar. Bangga.

Dan aku menjawab.

Satu tarikan napas. Nama Vannesa lengkap. Mahar. Tunai.

Aku tidak berhenti di tengah. Aku tidak lupa satu kata pun.

“Sah?” tanya penghulu ke para saksi.

“SAH!”

Suara itu datang dari seluruh ruangan. Dari keluarga. Dari lantai sembilan. Dan, samar, dari luar pagar, dari seorang pria berlogat Jawa yang ternyata menempelkan telinganya ke pagar.

“SAH!” teriak Pak Bambang dari luar. “ALHAMDULILLAH! TRUKNYA MASUK MANA?”


Dia turun dari tangga.

Aku melihatnya dari tempatku duduk. Kebaya putih, panjang, dengan bordir halus. Rambut disanggul tinggi, dengan melati terjalin di sekelilingnya. Wajahnya dirias, tapi matanya basah.

Dan di sisi kiri rambutnya, di antara melati, sebuah jepit rambut perak berbentuk bulan sabit.

Dia menuruni tangga pelan-pelan, diapit Bu Ratna dan Mama. Seluruh ruangan hening. Seperti hari pertama di ruang rapat lantai sembilan, ketika dia masuk dan seluruh dunia seperti dimatikan suaranya.

Tapi hari ini, dia tidak menatap siapa-siapa. Tidak menyapa siapa-siapa. Dia hanya menatapku.

Dia berjalan sampai di depanku. Duduk di sebelahku. Di sebelah kiriku.

“Kamu nggak napas di tengah,” bisiknya.

“Kinan ngelatih aku empat ratus kali.”

“Aku tahu. Kinan kirim videonya ke aku semua. Empat ratus video.”

Aku menoleh padanya. Dia tersenyum. Dan telingaku merah, aku tahu tanpa perlu cermin.

“Tiga ratus tiga belas,” bisiknya.


Cincin.

Kami sudah membicarakannya berminggu-minggu sebelumnya. Kebiasaan di keluarga kami berdua adalah cincin pernikahan di tangan kanan. Tapi Vannesa mengajukan satu permintaan, dan kedua keluarga setuju tanpa berdebat.

Tangan kiri. Untuk kami berdua.

Dia memasangkan cincinku lebih dulu.

Dia mengangkat tangan kiriku dari pangkuanku. Pelan. Dengan dua tangan. Menahannya di atas meja kecil berlapis kain putih. Jari-jariku tidak bergerak. Tidak bisa membuka untuk menerima cincin.

Jadi dia membukanya sendiri. Satu per satu. Jari manis diluruskan dengan lembut. Lalu dia memasangkan cincin itu. Pelan. Sampai pangkal jari.

Aku tidak bisa merasakannya.

“Kamu nggak ngerasain, kan?” bisiknya.

“Nggak.”

“Nggak apa-apa.” Dia menggenggam tangan kiriku, dengan cincin baru di jari manisnya, di atas meja. “Aku yang ngerasain.”

Seseorang di barisan keluarga terisak. Aku tidak tahu siapa. Mungkin Mama. Mungkin Bu Ratna. Mungkin Pak Tarno di barisan belakang.

Lalu giliranku. Aku mengambil cincinnya dengan tangan kanan. Dia mengulurkan tangan kirinya. Jari-jari dengan kapalan kecil di ujung-ujungnya, dari gitar. Aku memasangkan cincin itu di jari manisnya. Kali ini aku tidak meleset. Aku sudah latihan. Empat ratus kali, dengan cincin plastik dari Kinan.

Dua tangan kiri. Dua cincin.

“Yang kiri,” bisik Vannesa.

“Buat kamu,” jawabku.


Resepsi di taman belakang rumah keluarga Atmajaya. Di bawah pohon kamboja. Dengan lampu-lampu kuning kecil yang digantung zig-zag, persis seperti rooftop Bima. Bima sendiri yang memasangnya.

Truk Pak Bambang terparkir di depan pagar, penuh karung beras. Pak Bambang berdiri di sebelahnya sepanjang sore, membagikan beras ke setiap tamu yang pulang. Oleh-oleh, Mas. Dari Semarang. Buat masak nasi. Biar inget pengantinnya.

Papa Yusuf berpidato.

Aku tidak tahu dia akan berpidato. Tidak ada yang tahu. Ketika pembawa acara bertanya apakah ada perwakilan keluarga mempelai pria yang ingin memberi sambutan, semua orang menoleh ke Pakde dari Klaten, yang sudah menyiapkan pidato tiga halaman.

Tapi Papa yang berdiri.

Seluruh keluargaku terdiam. Mama menutup mulutnya. Kinan menjatuhkan sendoknya.

Papa berjalan ke depan. Mengambil mikrofon dari pembawa acara. Menatap semua tamu dengan wajah datarnya yang biasa.

Lalu dia menatapku.

“Rafa,” katanya. “Delapan tahun lalu, kamu pulang kehilangan satu tangan. Hari ini, kamu pulang membawa satu tangan yang lain. Papa bangga sekali, Nak.”

Diam. Lalu, setelah jeda:

“Panas.”

Dia mengembalikan mikrofon ke pembawa acara dan kembali ke kursinya.

Taman itu sunyi sebentar. Lalu tepuk tangan meledak. Mama menangis di bahu Bu Ratna. Pakde dari Klaten diam-diam melipat pidato tiga halamannya dan memasukkannya ke saku.

Kinan, di sebelahku, menatap ponselnya. Jarinya bergerak cepat.

“Dua puluh tiga kata,” bisiknya, suaranya pecah. “Papa ngomong dua puluh tiga kata. Itu rekor seumur hidup.”


Menjelang malam, Vannesa melempar buket bunga.

Dia berdiri di anak tangga teras belakang, membelakangi kerumunan perempuan yang berkumpul di rumput. Tasya di depan, siap. Mbak Rini, Mbak Sari, sepupu-sepupu dari dua keluarga.

Vannesa melempar.

Buket itu melayang tinggi, melewati kepala Tasya, melewati kepala semua orang, dan jatuh tepat di tangan seseorang yang sama sekali tidak ikut berkumpul. Seseorang yang berdiri di pinggir, di dekat meja minuman, sedang mengomeli pelayan soal es batu.

Kinan.

Dia menatap buket di tangannya dengan wajah ngeri.

Dan di sebelahnya, sedang mengambil minuman dari meja yang sama, Kevin Hartanto.

Mereka saling menatap. Kinan dengan buket bunga. Kevin dengan segelas jus markisa.

Kinan menyipitkan mata. Mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Membuka aplikasi catatan. Mengetik sesuatu dengan sangat cepat.

Kevin menatap layar ponselnya dari samping. Lalu dia tertawa.

“Aku dimasukin daftar?” tanyanya.

“Diawasi,” kata Kinan tanpa menoleh.

Vannesa, di sebelahku, mencengkeram lenganku. “Rafa. Rafa. Kamu lihat itu?”

Aku melihatnya. Dan aku memutuskan, demi keselamatan semua pihak, untuk tidak berkomentar.


Rumah kecil kami di Jakarta Timur. Di tengah-tengah antara rumah Mama dan kantor baruku. Tidak besar. Dua kamar, dapur kecil, teras dengan dua anak tangga.

Mbul sudah di sana ketika kami sampai jam sebelas malam. Tetanggaku yang lama akhirnya menyerahkannya. Dia nggak mau makan kalau Mas nggak ada, katanya. Tiga hari nunggu di teras kontrakan Mas yang kosong. Bawa aja.

Mbul duduk di anak tangga teras rumah baru, menatap kami dengan ekspresi penuh penghinaan, seolah kami terlambat.

“Maaf, Mbul,” kata Vannesa, menggendongnya. “Tadi ada truk beras.”

Mbul mengeong. Protes. Lalu mendengkur di pelukannya.

Di dalam, rumah itu gelap. Aku meraba dinding, mencari saklar lampu.

“Jangan,” kata Vannesa.

Aku berhenti.

Dia menurunkan Mbul ke lantai. Berjalan ke arahku dalam gelap. Aku bisa mendengar langkahnya, pelan, tanpa ragu. Dia berhenti di depanku.

“Kamu nggak takut?” tanyaku pelan.

“Nggak,” katanya.

“Nggak perlu senter?”

“Nggak perlu.” Aku merasakan tangannya menemukan tangan kananku, dan menggenggamnya. Lalu tangannya yang lain menemukan tangan kiriku. Menggenggamnya juga. “Aku udah punya kamu.”

Aku tidak bisa melihatnya dalam gelap.

Tapi aku merasakan dia berjinjit. Merasakan napasnya di wajahku. Merasakan bibirnya, lembut, di bibirku.

Dan aku tidak perlu melihat.

Mbul mengeong sekali dari ruang tengah. Lalu diam.

Pintu kamar tertutup pelan.

Epilog.