Chapter Forty Three
Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari
POV: Papa Yusuf
Aku guru matematika selama tiga puluh dua tahun.
Guru matematika tahu satu hal yang tidak diketahui kebanyakan orang: kata-kata itu seperti angka. Kalau terlalu banyak, hitungannya jadi kacau. Kalau pas, hasilnya benar.
Jadi aku bicara secukupnya. Rata-rata dua puluh kata sehari. Laila yang menghitung, dulu, di tahun pertama pernikahan kami. Dia bilang itu karena dia khawatir aku sakit. Aku bilang aku tidak sakit. Aku hanya tidak suka membuang kata.
Laila bicara cukup untuk kami berdua. Kinan mewarisi volumenya. Rafa mewarisi diamku.
Aku tidak pernah menyesal soal itu. Kecuali satu malam.
Malam itu telepon berdering jam sepuluh lewat lima belas.
Laila yang mengangkat. Aku melihat wajahnya berubah. Aku melihat tangannya yang memegang gagang telepon mulai gemetar. Aku berdiri dari kursi sebelum dia menutup telepon.
“Rafa,” kata Laila. Hanya itu.
Aku mengambil kunci motor.
Kinan sudah di ambang pintu kamarnya, dengan kaus tidur bergambar kucing, rambut berantakan, buku kimia masih di tangan. Dia mendengar. Dia selalu mendengar.
“Papa. Kakak kenapa?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu jawabannya.
Kami bertiga naik motor. Tidak boleh. Laila di tengah, Kinan di belakang, tanpa helm. Aku menyetir melewati jalanan Jakarta yang basah dengan kecepatan yang tidak pernah kupakai sebelumnya. Aku tidak peduli polisi. Aku tidak peduli lampu merah.
Di rumah sakit, Rafa sedang dioperasi.
Aku duduk di kursi koridor. Laila di sebelahku, menangis tanpa suara. Kinan duduk di lantai, meluk lutut, menangis dengan suara yang sangat keras. Kakak, Kakak, Kakak. Terus-terusan.
Aku memegang bahu Laila. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Aku tidak menangis. Guru matematika tidak menangis di koridor rumah sakit. Ada yang harus tetap berdiri tegak supaya yang lain bisa bersandar.
Jam dua pagi, aku melihat seorang perempuan.
Berdiri di ujung koridor. Dua puluh langkah dari kami. Perempuan dengan baju mahal dan wajah yang pucat. Dia berdiri di sana lama sekali. Menatap kami. Menatap Kinan di lantai.
Aku kira dia keluarga pasien lain. Rumah sakit penuh orang yang berdiri lama di koridor.
Satu jam kemudian, dia pergi.
Aku baru tahu delapan tahun kemudian siapa dia.
Dokter keluar jam tiga. Namanya dr. Hadi. Dia bicara dengan suara yang pelan dan hati-hati, seperti orang yang menurunkan barang pecah belah.
Saraf. Bahu. Kerusakan parah. Kemungkinan besar permanen.
Laila menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kinan berhenti menangis. Dia hanya menatap dokter itu, dengan wajah seperti orang yang tidak mengerti bahasa yang sedang diucapkan.
Aku mengangguk. Aku bilang, “Terima kasih, Dok.”
Tiga kata.
Lalu aku bilang aku harus pulang mengambil baju ganti untuk Rafa. Aku naik motor sendirian.
Di jalan tol yang sepi jam tiga pagi, di atas motor tua yang mesinnya sudah batuk-batuk, aku menangis.
Aku menangis dengan suara yang tidak pernah kudengar keluar dari mulutku sendiri. Di balik helm. Sendirian. Dengan air mata yang membuat lampu-lampu jalan menjadi kabur dan panjang. Aku menangis untuk anakku yang dua puluh tahun, yang dulu umur dua belas menangis di kamarnya karena tidak bisa memainkan kunci D, lalu esoknya mencoba lagi, dan lagi, sampai bisa.
Sekarang dia tidak akan pernah bisa memainkan kunci apa pun lagi.
Aku menangis sampai rumah. Lalu aku mencuci muka di kamar mandi, mengambil baju ganti, dan kembali ke rumah sakit dengan wajah datar.
Tidak ada yang tahu. Laila tidak tahu. Kinan tidak tahu. Rafa tidak tahu.
Sampai sekarang.
Seminggu kemudian, bagian keuangan rumah sakit memanggil kami.
Aku sudah menyiapkan diri. Aku sudah menghitung. Tabungan kami. Uang pensiun yang belum cair. Sertifikat rumah pagar hijau, yang sudah kuletakkan di map, siap dibawa ke bank.
Petugas keuangan menyerahkan selembar kertas.
LUNAS.
Operasi. Rawat inap. Obat. Fisioterapi dua belas bulan. Semuanya.
“Siapa yang bayar?” tanyaku. Dua kata.
“Maaf, Pak. Pembayarnya minta dirahasiakan.”
Aku menatap kertas itu lama. Laila menangis. Kinan, di sebelahnya, menatap kertas itu dengan wajah yang pelan-pelan mengeras. Aku melihat kemarahan tumbuh di mata anak perempuanku yang enam belas tahun. Kemarahan yang dia bawa delapan tahun.
Aku melipat kertas itu dengan hati-hati. Menaruhnya di dalam map. Di atas sertifikat rumah yang tidak jadi dibawa ke bank.
Aku menyimpannya di lemari. Di laci paling bawah. Di bawah ijazah dan akta nikah.
Setiap tahun, di bulan April, aku mengeluarkannya. Membacanya. Lalu menaruhnya lagi.
Aku tidak pernah bilang pada siapa pun kenapa.
Aku tidak marah seperti Kinan. Aku hanya ingin tahu. Seorang guru matematika selalu ingin tahu jawaban dari soal yang tidak selesai. Dua tahun pertama, aku kembali ke bagian keuangan rumah sakit tiga kali. Aku bertanya dengan sopan. Mereka menjawab dengan sopan. Maaf, Pak. Dirahasiakan.
Akhirnya aku berhenti bertanya. Tapi aku tidak berhenti menyimpan kertas itu.
Karena kertas itu adalah alasan rumah pagar hijau masih milik kami. Alasan pohon mangga masih berdiri di halaman.
Pohon mangga itu kutanam di hari Rafa lahir.
Laila bilang aku berlebihan. Pohon mangga butuh bertahun-tahun untuk berbuah, katanya. Aku bilang tidak apa-apa. Aku mau pohon itu tumbuh bersama anakku.
Pohon itu tumbuh. Tinggi. Rimbun. Tapi tidak pernah berbuah.
Tetangga bilang tebang saja. Pakde dari Klaten bilang bibitnya pasti jelek. Laila bilang, dengan lembut, mungkin sudah waktunya diganti pohon lain.
Aku tidak mau.
Aku tidak pernah bisa menjelaskan kenapa dengan kata-kata. Aku bukan orang yang pandai dengan kata-kata. Tapi aku tahu satu hal dari tiga puluh dua tahun mengajar: ada murid yang cepat, ada murid yang lambat. Yang lambat bukan berarti tidak bisa. Kadang yang lambat hanya butuh waktu lebih lama untuk menemukan jawabannya.
Pohon itu hanya butuh waktu.
Seperti anakku.
Selama setahun setelah malam itu, aku menulis sesuatu setiap malam.
Buku kecil bersampul cokelat. Di laci yang sama dengan kertas lunas itu. Setiap malam, setelah Laila tidur, aku menulis satu baris.
Hari ke-12. Rafa bisa pakai kaus sendiri. 14 menit.
Hari ke-31. Rafa makan pakai sendok tanpa tumpah. Kinan tepuk tangan.
Hari ke-58. Rafa ketawa nonton TV. Pertama kali sejak April.
Hari ke-97. Rafa nulis namanya pakai tangan kanan. Jelek. Tapi bisa dibaca.
Hari ke-143. Rafa nangis di kamar mandi jam 3 pagi, peluk gitar. Kinan lihat, tapi nggak masuk. Aku juga nggak.
Kinan tidak tahu aku juga bangun malam itu. Aku mendengar pintu kamarnya terbuka, lalu menutup lagi dengan sangat pelan, seperti orang yang baru melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Aku keluar ke koridor. Aku berdiri di depan pintu kamar mandi yang tertutup, dan mendengar anakku menangis tanpa suara di baliknya.
Aku tidak masuk. Laki-laki perlu menangis sendirian kadang-kadang. Aku tahu itu dari jalan tol jam tiga pagi.
Tapi aku duduk di lantai koridor. Membelakangi pintu kamar mandi. Sampai isakannya berhenti. Supaya kalau dia butuh sesuatu, aku ada.
Dia tidak pernah tahu aku di sana.
Hari ke-201. Rafa ikat tali sepatu sendiri. Kinan hitung pakai stopwatch. 3 menit 40 detik.
Hari ke-365. Setahun. Rafa senyum ke dokter. Rafa bilang “makasih, Dok, saya udah berdamai.” Aku percaya dia.
Itu baris terakhir di buku cokelat itu. Setelah itu aku berhenti menulis. Anakku sudah bisa berjalan sendiri.
Delapan tahun kemudian, Kinan pulang dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Dia bilang namanya Vannesa. Klien Rafa. Rambut panjang. Ketawanya kenceng. Dia bilang Rafa ketawa seperti orang bodoh di depan perempuan itu, di food court Kokas.
Aku tidak bilang apa-apa. Tapi malam itu, aku mengeluarkan buku cokelat dari laci. Membukanya ke halaman terakhir. Menatap baris Hari ke-365.
Aku menulis baris baru. Tinta yang berbeda.
Hari ke-2.941. Kinan bilang Rafa ketawa kayak orang bodoh. Ada perempuan.
Beberapa minggu kemudian, Rafa pulang dan membuka casing gitar di kamar lamanya. Aku mendengar bunyi senar sumbang dari kamarnya. Aku berdiri di koridor. Di tempat yang sama tempat aku dulu duduk membelakangi pintu kamar mandi.
Kali ini aku tidak mendengar tangis. Aku mendengar Rafa tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa mendengar senyum. Tapi aku mendengarnya.
Hari ke-2.967. Rafa buka casing gitar. Senarnya karatan. Dia senyum.
Lalu, suatu malam, di teras, Kinan menceritakan semuanya. Gang itu. Perempuan itu. Keluarga Atmajaya. Ibu yang berdiri di koridor rumah sakit dua puluh langkah dari kami.
Perempuan dengan baju mahal dan wajah pucat.
Aku masuk ke kamar. Mengeluarkan kertas lunas dari laci paling bawah. Membacanya lagi.
Delapan tahun, aku ingin tahu jawaban soal ini. Dan jawabannya ternyata berdiri di koridor yang sama denganku, malam itu, dan aku mengira dia keluarga pasien lain.
Aku tidak marah. Aku mencoba, demi Kinan. Tapi aku tidak bisa.
Karena seorang ibu yang berdiri satu jam di koridor rumah sakit, menatap anak perempuan orang lain menangis di lantai, bukan orang yang tidak peduli.
Dia orang yang terlalu peduli, dan tidak tahu harus berbuat apa.
Aku mengenal perasaan itu. Aku menangis di jalan tol jam tiga pagi karena perasaan yang sama.
Minggu lalu, Rafa bilang dia mau menikah.
Dia bilang di meja makan. Di depan Laila dan Kinan. Laila menjatuhkan sendok. Kinan berteriak. Aku meletakkan garpu, pelan, dan menatap anakku.
Anakku yang dulu menangis di kamar mandi jam tiga pagi. Yang ikat tali sepatu dalam tiga menit empat puluh detik. Yang senyum ke dokter dan bilang dia sudah berdamai, dan aku percaya dia.
Aku salah. Dia tidak berdamai. Dia menyerah dengan sopan.
Tapi sekarang dia duduk di meja makan dengan tangan kiri di atas meja, tidak di saku, dan bilang dia mau menikah. Dengan perempuan yang belajar kunci D sampai jarinya berdarah.
“Bagus,” kataku.
Satu kata.
Rafa menatapku. Dan aku melihat matanya berkaca-kaca. Dia tahu. Dia selalu tahu apa yang ada di balik kata-kataku yang sedikit.
Malam sebelum pernikahan, aku duduk di meja belajar di kamarku dengan kertas dan pulpen.
Pakde dari Klaten sudah menyiapkan pidato tiga halaman untuk mewakili keluarga. Aku tidak berencana berpidato. Aku tidak pernah berpidato. Bahkan di pernikahanku sendiri, aku hanya bilang terima kasih sudah datang, empat kata, lalu duduk.
Tapi malam itu, aku menulis.
Aku menulis tiga halaman. Lalu mencoret semuanya. Terlalu banyak kata. Hitungannya kacau.
Aku menulis satu halaman. Mencoret lagi.
Aku menulis satu paragraf. Mencoret.
Jam dua pagi, aku menulis satu kalimat. Lalu satu lagi. Lalu aku menghitung.
Dua puluh tiga kata.
Aku menatap kertas itu lama. Lalu menambahkan satu kata lagi di bawahnya. Kata yang tidak perlu dihitung, karena itu bukan pidato. Itu kebiasaan.
Laila bangun, melihatku di meja, dan bertanya apa yang kutulis.
“Soal,” kataku.
“Soal apa?”
“Soal yang sudah selesai.”
Dia menatapku lama. Lalu dia tersenyum, dan kembali tidur.
Besok paginya, di hari pernikahan, sebelum kami berangkat ke rumah keluarga Atmajaya, aku berdiri di halaman rumah pagar hijau.
Di bawah pohon mangga.
Dan aku melihatnya.
Di salah satu dahan yang rendah, di antara daun-daun yang rimbun, ada sesuatu yang kecil dan putih kekuningan. Bunga. Satu tangkai bunga mangga. Mungil, rapuh, hampir tidak terlihat di antara hijau.
Dua puluh delapan tahun. Pertama kalinya.
Aku berdiri di sana lama sekali. Laila memanggil dari mobil. Kinan membunyikan klakson. Aku tidak bergerak.
Aku mengeluarkan buku cokelat dari saku kemeja batikku. Aku membawanya hari itu tanpa tahu kenapa. Aku membukanya ke halaman terakhir. Menulis satu baris lagi.
Hari ke-3.047. Rafa menikah. Pohon mangga berbunga.
Lalu aku menutup buku itu, memasukkannya ke saku, dan berjalan ke mobil.
“Papa kenapa lama?” tanya Kinan.
Aku masuk ke mobil. Menutup pintu. Menatap ke depan.
“Panas,” kataku.
Kinan menatapku di spion. Lalu, entah bagaimana, seperti Rafa, dia mengerti. Matanya berkaca-kaca.
Dia menjalankan mobil. Dua puluh kilometer per jam.
Aku tidak keberatan. Ada soal yang tidak perlu diselesaikan dengan cepat.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari reading