← Yang Kiri buat Aku

Chapter Five

Minggu di Rumah Mama

POV: Rafa

Rumah orang tuaku berjarak lima belas menit dari rumah kontrakanku kalau naik ojek, dua puluh menit kalau jalan kaki, dan empat puluh lima menit kalau Kinan yang menjemput, karena Kinan menyetir seperti nenek-nenek yang sedang membawa kue ulang tahun di jok belakang.

Minggu pagi ini, Kinan yang menjemput.

“Pakai sabuk pengaman,” katanya sebelum aku sempat duduk.

“Kinan, Kakak dua puluh delapan tahun.”

“Orang umur dua puluh delapan tahun juga bisa terlempar dari mobil, Kak. Aku fisioterapis. Aku lihat pasien kecelakaan tiap hari. Pakai.”

Aku menarik sabuk pengaman dengan tangan kanan, melintangkannya ke dada, lalu mencari kuncinya di sisi kiri. Selalu bagian yang menyebalkan. Kuncinya ada di bawah pinggul kiriku, dan aku harus memutar badan dengan canggung untuk menancapkannya dengan tangan kanan.

Kinan menunggu. Dia tidak membantu. Dia tahu aku tidak suka dibantu untuk hal-hal yang masih bisa kulakukan sendiri, dan dia menghormati itu dengan cara yang sangat Kinan: menunggu dengan tangan di setir, mengetuk-ngetukkan jari, dan menatap lurus ke depan seperti orang yang sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak ikut campur.

Klik.

“Tiga detik lebih cepat dari bulan lalu,” katanya.

“Kamu ngitung?”

“Aku selalu ngitung.” Dia menyalakan mesin. “Latihan bahunya dikerjain nggak minggu ini?”

“Dikerjain.”

“Berapa kali?”

“…Beberapa kali.”

Kinan menginjak rem mendadak, di tengah gang, padahal kami bahkan belum keluar ke jalan besar. Seekor ayam di pinggir gang menatap kami dengan terkejut.

“Kak.”

“Tiga kali.”

“Tiga? Aku bilang tiap hari!”

“Kakak sibuk. Proyek baru.”

“Proyek baru nggak bikin sendi bahu Kakak berhenti kaku!” Dia menjalankan mobil lagi, sangat pelan, sambil mengomel. “Aku nggak mau ya, lima tahun lagi Kakak dateng ke klinikku dengan bahu beku terus bilang ‘Kinan, kok sakit ya’. Aku bakal bilang ‘Rasain’. Aku bakal bilang itu di depan semua pasienku.”

“Kamu nggak akan bilang gitu.”

“Aku bakal bikin spanduk.”

Aku tertawa. Kinan cemberut sepanjang sisa perjalanan, dan dia hanya berhenti cemberut ketika kami sampai di depan rumah dan dia memarkir mobil dalam tujuh kali maju-mundur.


Rumah kami tidak besar. Rumah tipe 45 di kompleks guru, dengan pagar hijau yang catnya sudah mengelupas dan pohon mangga yang tidak pernah berbuah tapi terlalu disayangi Papa untuk ditebang. Tapi setiap kali aku melewati pagar itu, bahuku terasa lebih ringan.

Mama sudah menunggu di dapur. Tentu saja Mama sudah menunggu di dapur. Aku tidak ingat pernah datang ke rumah ini dan tidak menemukan Mama di dapur.

“Rafa.” Dia memelukku dengan tangan yang masih bau bawang. “Kurusan.”

“Nggak kurus, Ma. Sama kayak minggu lalu.”

“Kurusan. Mama bisa lihat.” Dia menepuk pipiku, lalu menunjuk meja makan. “Duduk. Mama bikin rendang, sayur lodeh, perkedel. Nanti bawa pulang semuanya.”

“Ma, Rafa tinggal sendiri. Nggak habis.”

“Makanya makan yang banyak.”

Logika Mama tidak pernah bisa dibantah, karena logika Mama tidak pernah dirancang untuk masuk akal. Dirancang untuk membuat anaknya kenyang.

Papa sedang duduk di teras belakang dengan koran dan kopi tubruk. Pak Yusuf Elvano, pensiunan guru matematika, pria yang bicara rata-rata dua puluh kata sehari dan menghabiskan separuhnya untuk mengomentari cuaca. Aku mewarisi pendiamnya dari dia. Kinan mewarisi volume suaranya dari Mama.

“Pa.”

Papa menurunkan koran. Menatapku. Mengangguk.

“Panas,” katanya.

“Iya, Pa. Panas.”

Dia mengangguk lagi, puas, dan kembali ke korannya. Itu percakapan terpanjang kami minggu ini, dan aku menikmatinya.


Setelah makan, Kinan menyeretku ke kamar lamaku untuk sesi latihan.

“Kakak nggak perlu,” kataku.

“Kakak perlu. Rebahan.”

Aku rebahan di kasur lamaku, kasur yang terlalu pendek untuk kakiku sejak umur tujuh belas. Kinan duduk di sampingku, mengambil lengan kiriku dengan dua tangan, dan mulai menggerakkannya pelan. Mengangkat. Memutar. Menekuk siku. Meluruskan lagi. Latihan rentang gerak pasif, katanya, supaya sendi-sendinya tidak kaku dan ototnya tidak menyusut terlalu parah.

Aku tidak bisa merasakan sebagian besar gerakannya. Hanya tarikan samar di bahu, seperti mendengar suara dari ruangan sebelah. Tapi aku bisa melihat tangan Kinan, yang dulu kecil dan sekarang cekatan, memegang lenganku dengan hati-hati yang tidak pernah berkurang selama delapan tahun.

Delapan tahun lalu, dia enam belas. Setiap hari, sepulang sekolah, selama satu tahun penuh, dia duduk di kasur ini dan melakukan hal yang sama. Dia menonton video tutorial fisioterapi sampai jam dua pagi. Dia menangis diam-diam di kamar mandi setiap kali aku meringis. Dia tidak pernah bolos satu hari pun. Lalu dia lulus SMA, dan tanpa bertanya pada siapa pun, dia mendaftar ke jurusan fisioterapi.

Waktu aku bertanya kenapa, dia bilang, “Karena aku udah jago. Sayang kalau nggak dilanjutin.”

Kami berdua tahu itu bukan alasan sebenarnya.

“Kak,” katanya sekarang, sambil memutar pergelangan tanganku pelan.

“Hm.”

“Kakak kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kakak dari tadi senyum sendiri.” Dia menyipitkan mata. “Waktu makan tadi juga. Mama ngomongin harga cabai, Kakak senyum. Harga cabai lagi naik, Kak. Nggak ada yang senyum waktu harga cabai naik.”

“Kakak cuma lagi senang.”

“Senang kenapa?”

“Proyek lancar.”

Kinan berhenti menggerakkan lenganku.

Aku kenal tatapan itu. Tatapan yang sama yang dia pakai ketika dia umur sepuluh dan menemukan aku menyembunyikan rapor matematika yang nilainya jelek. Tatapan detektif yang sudah menemukan barang bukti dan sedang memutuskan kapan akan membacakan dakwaan.

“Kak,” katanya pelan. “Siapa?”

“Siapa apa?”

“Siapa ceweknya.”

“Nggak ada cewek.”

“Kakak bohong. Telinga Kakak merah.”

Aku mengangkat tangan kanan ke telinga. Refleks. Kesalahan fatal.

“AHA!” Kinan melepaskan lenganku, yang jatuh ke kasur dengan bunyi pelan, dan menunjukku dengan dua jari. “Tuh kan! Kakak pegang telinga! Kakak ngaku!”

“Kakak nggak ngaku apa-apa.”

“Namanya siapa? Kerja di mana? Umur berapa? Dia baik nggak? Dia pernah ngomong jelek soal tangan Kakak nggak? Kalau pernah, aku mau datang ke kantornya.”

“Kinan.”

“Aku serius, Kak. Aku punya daftar.”

“Daftar apa?”

“Daftar cewek yang nggak boleh deket-deket Kakak.” Dia menghitung dengan jari. “Mbak Anita yang dulu ninggalin Kakak pas Kakak masih di rumah sakit. Cewek yang di nikahan sepupu yang nanya ‘itu tangannya kenapa’ sambil ketawa. Temen kantor Kakak yang dulu, yang bilang Kakak ‘inspiratif’ terus nggak pernah ngajak ngobrol lagi…”

“Kinan, itu tiga tahun lalu.”

“Aku nggak lupa. Aku nggak pernah lupa.” Matanya berkilat. “Jadi. Siapa?”

Aku menghela napas. Menatap langit-langit kamar yang masih ada bekas stiker bintang-bintang glow-in-the-dark dari waktu aku SD.

“Nggak siapa-siapa,” kataku akhirnya. “Beneran. Cuma klien. Dan dia udah punya seseorang.”

Kinan diam.

“Lagian,” tambahku, lebih pelan, “Kakak tahu batas, Nan.”

Wajah Kinan berubah. Semangat detektifnya hilang, digantikan sesuatu yang lebih tajam dan lebih sedih.

“Aku benci kalimat itu,” katanya.

“Kalimat apa?”

“‘Kakak tahu batas.’” Dia mengambil lenganku lagi, sangat pelan, dan mulai menggerakkannya kembali. “Kakak selalu ngomong gitu. Kayak Kakak itu barang diskon yang cuma boleh dipajang di rak bawah.”

“Kakak nggak bilang gitu.”

“Kakak nggak perlu bilang. Aku lihat mukanya.” Dia menekuk sikuku, pelan, hati-hati. “Kakak itu orang paling baik yang aku kenal. Kakak nolongin orang yang bahkan nggak Kakak kenal, sampai tangan Kakak jadi begini. Kalau ada orang di dunia ini yang layak dapet yang terbaik, itu Kakak.”

Aku tidak menjawab.

Kinan tidak melanjutkan. Kami hanya diam, dia menggerakkan lenganku dan aku menatap stiker bintang di langit-langit, sampai sesi latihan selesai.


Gitar itu masih di sudut kamar.

Aku melihatnya setiap kali pulang, dan setiap kali, aku berpura-pura tidak melihatnya. Casing hitam dengan sudut-sudut yang penyok, bersandar di dinding di antara lemari dan meja belajar lama. Mama selalu membersihkan debunya. Tidak ada yang pernah memindahkannya.

Hari ini, setelah Kinan keluar untuk membantu Mama membungkus lauk, aku mendekatinya.

Aku tidak membuka casingnya. Aku tidak pernah membukanya selama delapan tahun. Aku tahu apa yang ada di dalam: gitar akustik bekas yang kubeli dengan uang tabungan dua tahun, dengan senar yang pasti sudah berkarat sekarang, dan buku tulis kecil berisi lirik yang tidak pernah selesai.

Tapi ada kantong kecil di sisi luar casing. Kantong beresleting, tempat dulu aku menyimpan pick dan kapo.

Aku membuka resletingnya dengan satu tangan.

Jepit rambut itu masih di sana. Perak, bulan sabit, satu ujungnya sedikit bengkok. Warnanya sudah agak kusam. Aku mengeluarkannya dan menaruhnya di telapak tangan, dan seperti setiap kali, aku mencoba mengingat wajah pemiliknya.

Tidak bisa. Tidak pernah bisa. Yang kuingat hanya kilau kecil di rambut yang berantakan. Jari-jari dingin yang gemetar di bawah tanganku. Dan genggaman lemah yang, entah bagaimana, terasa seperti ucapan terima kasih yang tidak sempat diucapkan.

“Kakak masih mikirin dia?”

Aku menoleh. Kinan berdiri di ambang pintu, tangan penuh kantong plastik berisi kotak-kotak lauk.

“Kadang,” kataku.

Dia masuk dan duduk di tepi kasur. Menatap jepit rambut di tanganku.

“Kakak nggak pernah pengin tahu siapa dia?”

“Dulu pengin. Sekarang nggak terlalu.” Aku memutar jepit itu pelan di telapak tangan. “Kakak cuma harap dia baik-baik aja. Bahagia. Nggak takut lagi sama gang gelap.”

Kinan mendengus. “Aku pengin tahu.”

“Buat apa?”

“Bukan dia. Keluarganya.” Suaranya mengeras. “Orang yang bayarin rumah sakit Kakak itu. Yang lunasin semua biayanya diam-diam terus nggak pernah muncul. Pasti keluarga ceweknya, kan? Siapa lagi?”

“Mungkin.”

“Mereka punya duit buat bayar rumah sakit, tapi nggak punya waktu buat dateng bilang makasih?” Kinan menggeleng. “Nggak pernah jenguk. Nggak pernah nanya Kakak gimana. Kakak kehilangan tangan buat anak mereka, Kak. Mereka seharusnya dateng.”

“Nan, mungkin mereka punya alasan.”

“Alasan apa?”

Aku tidak tahu. Aku tidak pernah tahu. Delapan tahun, dan aku tidak pernah benar-benar memikirkannya. Bagiku, gadis itu selamat, dan itu sudah cukup. Tapi aku tahu bagi Kinan, yang menangis di kamar mandi setiap malam selama setahun, itu tidak pernah cukup.

“Kalau suatu hari aku ketemu mereka,” kata Kinan pelan, “aku mau tanya kenapa. Cuma itu. Aku cuma mau tanya kenapa.”

Aku memasukkan jepit rambut itu kembali ke kantong casing gitar, dan menutup resletingnya.

“Kamu nggak akan ketemu mereka,” kataku. “Jakarta itu besar.”

Kinan tidak menjawab. Dia hanya berdiri, menyerahkan kantong-kantong lauk padaku, dan memelukku dari samping. Pelukan cepat, kasar, seperti dia marah pada seseorang dan memutuskan untuk melampiaskannya dalam bentuk pelukan.

“Latihan bahu tiap hari,” katanya ke bahuku. “Awas kalau nggak.”

“Iya.”

“Dan kalau ceweknya itu, yang klien itu, ternyata nyakitin Kakak…”

“Dia nggak akan nyakitin Kakak. Dia bahkan nggak tahu Kakak ada.”

Kinan melepaskan pelukannya dan menatapku lama.

“Kakak itu bodoh,” katanya. “Kakak itu orang paling pintar yang aku kenal, tapi Kakak bodoh banget.”

Dia keluar sebelum aku bisa membalas.


Papa mengantarku ke pagar. Mama sudah memberiku empat kotak lauk dan satu plastik perkedel tambahan “buat camilan”. Kinan menawarkan mengantar, tapi aku bilang aku mau jalan kaki. Dua puluh menit. Aku butuh udara.

Di pagar, Papa berhenti. Menatapku dengan wajah datarnya yang biasa.

“Raf,” katanya.

“Ya, Pa?”

Papa diam lama. Terlalu lama untuk ukuran Papa. Lalu dia menepuk bahu kananku. Sekali. Berat.

“Kinan benar,” katanya.

Lalu dia berbalik dan masuk ke rumah, dan aku berdiri di depan pagar hijau yang catnya mengelupas, memegang empat kotak lauk dengan satu tangan, menyadari bahwa itu kalimat terpanjang yang pernah Papa ucapkan tentang perasaanku.

Aku berjalan pulang. Kantong plastik berayun di tangan kananku. Tangan kiriku di saku.

Di tengah jalan, ponselku bergetar. Pesan di grup proyek Atma & Corp. Dari Vannesa.

Tim, besok pagi gudang Semarang video call jam 8. Pak Bambang mau pamer tanggul karung berasnya. Tolong semua pasang wajah kagum. 🙏

Aku berhenti di trotoar.

Lalu aku tersenyum. Sendirian, di bawah matahari sore yang panas, dengan empat kotak lauk dan satu plastik perkedel.

Ibu-ibu yang lewat di depanku menatapku dengan heran.

Aku tidak peduli. Kinan benar. Aku memang bodoh.