← Yang Kiri buat Aku

Chapter Seventeen

Maaf, Kevin

POV: Vannesa

Aku berdiri di depan cermin kamar selama dua puluh menit, memakai gaun biru muda, dan tidak bisa berhenti memikirkan kalimat itu.

Karena kamu kelihatan kayak kamu.

Seharusnya aku memakai yang merah marun. Yang merah marun lebih cocok untuk rooftop, untuk lampu kota, untuk pria yang akan mengatakan sesuatu yang penting. Tasya bilang yang merah marun “bikin cowok lupa napas”. Mama, waktu kutunjukkan fotonya, bilang yang merah marun “anggun sekali, Nes”.

Aku membeli yang biru muda.

Aku bahkan tidak mencoba membeli yang merah marun. Aku hanya berdiri di kasir butik dengan gaun biru muda di tangan, dan Rafa di belakangku memegang tas belanja berisi sepatu adiknya, dan aku tahu, dengan kepastian yang aneh, bahwa aku tidak akan memakai gaun lain.

“Nes.” Mama mengetuk pintu kamar. “Kevin sudah di bawah.”

“Iya, Ma. Sebentar.”

Aku menatap bayanganku sekali lagi. Rambut tergerai, riasan tipis, gaun warna langit pagi. Di leherku, tidak ada kalung. Kalung bintang dari Kevin masih di laci meja rias, di dalam kotak berpita biru yang sudah kubuka dan kututup lagi.

Aku tidak memakainya.

Aku tahu apa artinya itu. Aku sudah tahu sejak Kamis sore, berdiri di depan lemari pendingin pantry, mengaku pada Tasya dengan suara putus asa. Aku hanya belum tahu bagaimana mengatakannya pada Kevin.

Aku mengambil tas, menarik napas panjang, dan turun.

Di ruang tengah, Papa sedang duduk di sofa dengan Kevin, keduanya tertawa pada sesuatu. Mungkin lelucon truk lagi. Kevin selalu tertawa pada lelucon Papa, dan Papa sangat menghargai itu.

Mama berdiri di kaki tangga. Dia menatapku turun, dan wajahnya berubah sedikit.

“Biru muda,” katanya pelan.

“Aneh ya, Ma?”

“Nggak aneh.” Mama mengulurkan tangan dan merapikan sehelai rambutku yang jatuh ke dahi. Jari-jarinya berhenti sebentar di sisi kepalaku. “Kamu dulu sering pakai biru muda. Waktu kuliah. Sama jepit rambut bulan sabit dari Mama. Kamu ingat?”

“Ingat, Ma. Jepitnya hilang.”

“Iya.” Suara Mama sangat pelan. “Hilang malam itu.”

Aku menatap Mama. Mama menatap sisi kepalaku, tempat jepit itu dulu biasa terpasang, dengan tatapan jauh yang tidak bisa kubaca.

“Mama sering kepikiran jepit itu,” kata Mama. “Di mana ya sekarang.”

“Mungkin di got, Ma. Kebawa hujan.”

Mama tersenyum. Senyum yang sedikit terlalu tipis. Lalu dia menepuk pipiku dan mundur selangkah.

“Cantik,” katanya. “Pergi sana. Kevin sudah nunggu.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi sepanjang perjalanan ke rooftop, aku terus memikirkan jepit bulan sabit yang hilang delapan tahun lalu. Dan wajah Mama ketika menyebutnya.


Rooftop itu indah. Tentu saja indah. Kevin tidak pernah memilih tempat yang tidak indah.

Lantai tiga puluh dua, dengan lampu-lampu kecil berwarna kuning yang digantung di atas kepala seperti bintang buatan, meja-meja kayu dengan lilin di tengahnya, dan pemandangan Jakarta yang berkilau sampai ke cakrawala. Angin malam bertiup pelan. Seseorang memainkan saksofon di sudut, lagu jazz yang lembut dan tidak mengganggu.

Kevin menarikkan kursi untukku. Dia memakai kemeja putih dan jas abu-abu, rambutnya ditata lebih rapi dari biasanya, dan dia terlihat seperti pria di sampul majalah. Wanita-wanita di meja lain meliriknya. Beberapa melirikku juga, dengan tatapan yang mengukur, seperti menilai apakah aku pantas duduk di depannya.

“Kamu cantik,” katanya.

“Makasih.”

“Biru.” Dia tersenyum. “Aku kira kamu bakal pakai merah atau hitam. Kamu biasanya pakai warna gelap kalau acara malam.”

“Pengin ganti suasana.”

“Cocok kok. Kamu kelihatan…” Dia mencari kata. “Segar.”

Kamu kelihatan kayak kamu.

Aku tersenyum pada Kevin, dan merasa bersalah pada senyum itu.

Di bawah meja, jari-jariku meremas tali tas. Di dalam tas itu, di balik casing ponsel, masih terselip catatan tempel kuning dari presentasi direksi. Aku tidak tahu kenapa aku masih membawanya ke mana-mana. Aku hanya tahu aku belum sanggup membuangnya.

Kami memesan makanan. Kevin memesankan untukku tanpa seledri, seperti biasa. Kami mengobrol tentang Singapura, tentang kampanye regional, tentang Papa yang minggu lalu mencoba lelucon baru soal truk yang galau karena kehilangan muatan. Kevin tertawa di tempat yang tepat. Kevin selalu tertawa di tempat yang tepat.

Aku menunggu Kevin mengatakannya. Aku bisa merasakan dia menunggu momen yang tepat, sama seperti aku.

Momen itu datang setelah hidangan penutup.


“Nes,” katanya.

Dia meletakkan sendok. Menatapku. Lampu-lampu kuning di atas kepala membuat matanya berkilau, dan dia terlihat sedikit gugup, dan itu membuatnya tampak lebih muda.

“Aku udah lama pengin ngomong ini. Dari sebelum ke Singapura. Tapi aku nunggu waktu yang pas, dan tempat yang pas, dan…” Dia tertawa kecil. “Dan keberanian yang pas, kayaknya.”

“Kev.”

“Biarin aku selesaiin dulu, ya. Kalau nggak, aku bisa nggak jadi ngomong.”

Aku diam.

“Tiga bulan ini aku seneng banget,” katanya. “Makan siang sama kamu jadi bagian favorit hari aku. Kamu lucu, kamu pinter, kamu baik ke semua orang, sampai ke OB dan satpam. Kamu inget nama anak Pak Kardi. Kamu ketiduran di bioskop dan nggak malu. Aku suka semua itu.” Dia menarik napas. “Aku suka kamu, Nes. Dan aku mau kita serius. Kalau kamu mau.”

Angin malam bertiup. Saksofon di sudut memainkan nada panjang yang melayang.

Ini seharusnya momen yang sempurna. Pria yang sempurna, tempat yang sempurna, kata-kata yang sempurna. Setiap perempuan di rooftop ini, aku yakin, akan bilang iya tanpa berpikir.

Aku membuka mulut. Dan yang keluar adalah kebenaran.

“Maaf, Kev.”

Kevin tidak bergerak. Senyumnya tidak langsung hilang. Senyum itu bertahan beberapa detik di wajahnya, seperti bayangan yang tertinggal setelah lampu dimatikan, lalu perlahan memudar.

“Oh,” katanya.

“Aku bukan mau nyakitin kamu. Kamu baik banget. Kamu orang paling baik yang pernah deketin aku. Kamu nggak salah apa-apa.” Suaraku bergetar. Aku menarik napas, mencoba menenangkannya. “Tapi aku nggak bisa bohong sama kamu. Kamu nggak pantas dibohongin.”

Kevin menatap lilin di tengah meja. Lama.

“Ada orang lain,” katanya. Bukan pertanyaan.

Aku tidak menjawab. Tapi aku juga tidak menyangkal.

Kevin mengangguk pelan. Lalu, anehnya, dia tersenyum lagi. Senyum yang berbeda. Lebih kecil, lebih sedih, tapi juga, entah bagaimana, lebih tulus dari semua senyum yang pernah dia berikan padaku selama tiga bulan.

“Vendor itu, ya?” tanyanya.

Aku mengerjap. “Kok kamu—”

“Nes.” Dia tertawa kecil, tanpa suara. “Waktu aku telepon dari Singapura, kamu bilang ‘baik banget’ soal dia. Nada kamu waktu bilang itu, aku belum pernah denger kamu ngomong kayak gitu soal siapa pun. Termasuk aku.”

Aku menunduk.

“Terus di lantai sembilan,” lanjutnya, “waktu aku salaman sama dia, aku lihat kamu dari balik kaca. Kamu nggak lihat aku, Nes. Kamu lihat dia.”

“Kev, aku—”

“Terus gosip lift. Terus gosip pantry.” Dia mengangkat bahu. “Satu gedung udah tahu, Nes. Aku cuma nunggu kamu sendiri yang tahu.”

Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Satu tetes jatuh, lalu satu lagi. Bukan karena sedih. Karena malu. Karena merasa bersalah. Karena Kevin duduk di depanku, ditolak di rooftop yang dia pilih dengan hati-hati, dan dia justru yang menenangkanku.

“Maaf,” bisikku. “Maaf, Kev. Aku harusnya bilang dari awal. Aku nggak tahu kalau—aku baru sadar—”

“Hei.” Kevin mengulurkan sapu tangan. Tentu saja dia membawa sapu tangan. Kevin adalah jenis pria yang membawa sapu tangan. “Jangan nangis. Aku yang ditolak. Harusnya aku yang nangis.”

Aku tertawa, basah dan jelek, dan mengambil sapu tangannya.

“Kamu nggak nangis,” kataku.

“Nanti. Di mobil. Sambil dengerin lagu galau.” Dia tersenyum. “Aku punya playlist khusus.”

“Kev.”

“Aku serius, Nes. Nggak apa-apa.” Dia bersandar di kursinya dan menatap lampu kota. “Aku nggak mau jadi orang yang dipilih cuma karena aku kelihatan sempurna di atas kertas. Aku mau jadi orang yang bikin seseorang pakai baju warna yang nggak biasa dia pakai.” Dia melirik gaunku. “Itu dia yang pilih, kan?”

Aku tidak menjawab. Pipiku yang menjawab.

Kevin tertawa. Kali ini dengan suara, pelan dan sedikit patah.

“Oke,” katanya. “Oke. Kalah telak.”


Dia tetap mengantarku pulang. Tentu saja dia tetap mengantarku pulang.

Di depan pagar rumahku, sebelum aku turun dari mobil, dia berkata, “Nes. Satu hal.”

“Apa?”

“Dia tahu?”

Aku menggeleng. “Belum.”

“Kenapa?”

“Karena dia…” Aku mencari kata. “Karena dia selalu mundur duluan. Dia selalu bilang dia tahu batas. Dia nggak pernah berharap apa-apa buat dirinya sendiri.”

Kevin mengangguk pelan, seperti mengerti lebih banyak dari yang kukatakan.

“Kalau gitu, kamu yang harus maju,” katanya. “Dan Nes?”

“Ya?”

“Kalau dia nyakitin kamu, bilang aku.” Dia tersenyum. “Tapi kalau kamu yang nyakitin dia, aku juga mau tahu. Dia kelihatan kayak orang yang udah cukup banyak disakitin tanpa sengaja.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu orang baik, Kev,” kataku.

“Aku tahu. Makanya aku ditolak dengan sopan.” Dia melambai. “Selamat ulang tahun duluan, ya. Selasa, kan? Aku nggak jadi beliin kado kedua. Kalungnya simpan aja. Anggap kado ulang tahun.”

Dia pergi sebelum aku sempat menjawab. Aku berdiri di depan pagar, melihat lampu belakang mobilnya menghilang di tikungan, dan merasa seperti baru saja melepaskan sesuatu yang berharga dan juga baru saja menemukan sesuatu yang lebih berharga.


Di kamar, aku melepas gaun biru muda, menggantungnya di lemari, dan duduk di tepi kasur.

Ponselku bergetar. Ada tiga pesan belum dibaca.

Dari Tasya, jam delapan: GIMANA??? JANGAN LUPA KABARIN!!!

Dari Mama, jam sembilan: Nes, jangan pulang terlalu malam ya.

Dan dari Rafa, jam tujuh tepat. Jam ketika aku baru sampai di rooftop.

Semoga malam ini lancar. Gaunnya pasti cocok.

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Seluruh gedung tahu soal rooftop dan Jumat malam. Dia tahu gaun yang dia pilih kupakai untuk berdiri di depan pria lain. Dia tahu, dan dia mengirim pesan itu. Semoga lancar. Tanpa sindiran. Tanpa kepahitan. Hanya doa yang tulus untuk kebahagiaan perempuan yang, mungkin, dia sukai diam-diam.

Karena itu yang dia lakukan. Dia selalu mundur duluan. Dia selalu mendoakan orang lain bahagia, bahkan kalau kebahagiaan itu tidak melibatkan dirinya.

Aku ingin meneleponnya. Aku ingin bilang aku nolak dia, aku nolak dia karena kamu, bodoh. Aku ingin mendengar suaranya yang rendah dan pelan dan bertanya kamu nggak apa-apa?

Tapi aku tidak meneleponnya.

Karena Kevin benar. Kalau aku yang harus maju, aku tidak mau maju dengan telepon jam sebelas malam, dengan mata sembap dan suara gemetar. Aku mau maju dengan benar. Dengan cara yang tidak bisa dia tolak dengan kalimat aku tahu batas.

Aku membalas pesan Mama. Udah di rumah, Ma.

Lalu aku membuka chat dengan Tasya. Jam di sudut layar menunjukkan 23.47, Jumat.

Aku mengetik pelan, satu kata demi satu kata, seperti menandatangani sesuatu.

Aku nolak Kevin.

Titik tiga muncul hampir seketika. Lalu menghilang. Lalu muncul lagi.

SERIUS???

Serius.

KENAPA???

Aku menatap layar. Menarik napas. Lalu mengetik kalimat yang, kalau aku tahu apa yang akan terjadi beberapa minggu kemudian, akan kusimpan dan kucetak dan kubingkai.

Karena aku suka Rafa. Serius, Sya. Bukan naksir-naksiran. Aku suka dia. Aku mau dia.

Tasya tidak membalas selama satu menit penuh. Lalu:

Aku nangis. Aku beneran nangis. Gilang nanya aku kenapa.

Kamu lagi sama Gilang jam segini?

Itu bukan poinnya, Nes.

Aku tertawa. Sendirian, di kamar, jam sebelas lewat empat puluh delapan menit, dengan mata masih sedikit sembap.

Terus sekarang gimana? tulis Tasya.

Aku menatap langit-langit. Memikirkan tangan yang selalu di saku. Senyum kecil di sudut bibir. Pesan jam tujuh tepat yang bilang semoga lancar.

Sekarang, tulisku, aku harus bikin dia berhenti mundur.

Aku menaruh ponsel di meja samping kasur dan mematikan lampu.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tidur dengan lampu mati. Tidak sengaja. Aku lupa menyalakan lampu tidur.

Aku baru menyadarinya keesokan paginya.