Chapter Three
Vendor yang Tersenyum
POV: Vannesa
“Nes, kamu tahu kenapa gudang kita nggak pernah kesepian?”
Aku tidak mengangkat kepala dari tablet. “Nggak, Pa.”
“Karena selalu ada stock-nya.”
Hening.
Di seberang meja makan, Papa menatapku penuh harap, sendok bubur ayam terangkat di udara seperti tongkat dirigen yang menunggu tepuk tangan. Hendra Atmajaya, pemilik salah satu perusahaan distribusi terbesar di Jawa, pria yang bisa membuat direktur bank berkeringat dalam rapat, sedang menunggu anaknya tertawa pada lelucon yang bahkan tidak masuk akal secara tata bahasa.
“Pa,” kataku. “Itu nggak lucu.”
“Stock, Nes. Stok. Kayak stalker—”
“Aku tahu maksudnya, Pa. Makanya nggak lucu.”
Mama, yang sedang menuang teh, menahan senyum di balik cangkir. “Papamu nonton video lelucon bapak-bapak semalaman. Mama sudah bilang itu bukan hobi yang sehat.”
“Itu investasi,” kata Papa, tersinggung. “Suatu hari nanti anak kita bawa pulang calon suami, dan Papa harus siap dengan materi.”
“Calon suami siapa, Pa.”
“Si Kevin itu? Anaknya sopan. Tinggi. Rambutnya rapi.”
“Pa, aku sama Kevin cuma makan siang.”
“Makan siang tiga bulan berturut-turut itu bukan ‘cuma’, Nes. Itu pola.”
Aku menatap Mama minta tolong. Mama menatap tehnya dengan sangat khusyuk. Tidak ada bantuan dari pihak mana pun. Aku menghabiskan sisa bubur dalam tiga suap, mencium pipi mereka berdua, dan kabur sebelum Papa mengeluarkan lelucon berikutnya tentang truk dan truk-truk yang tak pernah berdusta.
Aku menyetir sendiri ke kantor. Papa selalu menawarkan sopir, dan aku selalu menolak. Bukan karena aku suka menyetir di Jakarta. Tidak ada yang waras yang suka menyetir di Jakarta. Tapi di mobil, sendirian, dengan musik yang terlalu keras dan kopi yang terlalu manis, aku bisa memikirkan hal-hal yang tidak sempat kupikirkan di tengah hari yang penuh orang.
Pagi ini aku memikirkan Kevin.
Kevin Hartanto. Tiga puluh tahun. Brand Director. Lulusan luar negeri yang tidak pernah menyebut-nyebut lulusan luar negerinya, yang menurutku adalah bentuk kesopanan paling langka di dunia korporat. Dia lucu, perhatian, dan dia selalu ingat aku tidak suka seledri. Selama tiga bulan terakhir kami makan siang hampir setiap hari, dan sesekali makan malam, dan satu kali nonton film yang aku lupa judulnya karena aku ketiduran di menit keempat puluh. Dia tidak marah. Dia bahkan membelikanku kopi sesudahnya dan bilang aku kelihatan lucu kalau tidur.
Semua orang bilang dia sempurna.
Aku juga bilang dia sempurna. Masalahnya, setiap kali aku bilang begitu, ada bagian kecil di kepalaku yang menambahkan …kan? di ujung kalimat, seperti anak kecil yang mengetuk-ngetuk pintu dan tidak mau pergi.
Aku belum tahu kenapa.
Mobilku masuk ke basement Atma Tower, dan seperti setiap pagi, aku menahan napas sedikit ketika melewati lorong parkir bawah yang lampunya selalu redup. Jariku mengencang di setir. Aku menyalakan lampu jauh, meski tidak perlu.
Aku tidak suka tempat sempit yang gelap. Aku sudah tidak suka sejak delapan tahun lalu.
Aku tidak banyak ingat soal malam itu. Dokter keluarga kami bilang otakku melindungiku dengan cara menghapusnya. Yang tersisa hanya kepingan-kepingan: bau hujan, tembok bata yang dingin di punggungku, rasa sakit di kepala. Jepit rambut perak berbentuk bulan sabit, hadiah ulang tahun dari Mama, yang hilang malam itu dan tidak pernah ketemu lagi.
Dan satu suara.
Suara laki-laki, serak, sangat dekat. Aku tidak ingat wajahnya. Aku bahkan tidak yakin aku pernah melihat wajahnya. Tapi aku ingat suaranya. Ingat ada tangan hangat di atas tanganku yang gemetar. Ingat kata-kata yang diucapkannya berulang-ulang, seperti orang menyanyikan lagu pengantar tidur.
Mama bilang orang itu baik-baik saja. Mama bilang dia sudah ditangani, keluarganya sudah mengurusnya, dan dia tidak mau dicari. Waktu itu aku sembilan belas tahun dan terlalu takut untuk bertanya lebih jauh. Sekarang aku dua puluh tujuh, dan kadang, di basement yang gelap seperti ini, aku masih ingin bertanya.
Aku memarkir mobil di tempat yang paling terang, mematikan mesin, dan menarik napas panjang.
Lalu aku naik ke lantai sembilan dan menjadi Vannesa lagi. Vannesa yang cerah, yang hafal nama semua orang, yang tidak takut apa pun.
“Kamu telat empat menit,” kata Tasya begitu aku keluar dari lift.
“Papa bikin lelucon soal stok.”
Tasya meringis prihatin. “Separah apa?”
“Dia pakai kata stalker.”
“Ya Tuhan.” Dia menyerahkan tabletku dan kopi keduaku hari ini. “Oke, jadwal. Jam sembilan, sesi requirement gudang Surabaya sama tim vendor. Jam sebelas, Pak Kevin mau ngajak makan siang, katanya ada tempat baru di Senopati. Jam dua, review anggaran. Jam empat, Pak Bambang mau telepon, dan beliau minta disampaikan bahwa beliau ‘berubah pikiran soal sistemnya, tapi belum sepenuhnya’.”
“Itu kemajuan.”
“Itu keajaiban. Pak Bambang itu pernah nolak mesin absensi sidik jari karena katanya mesin itu ‘nggak sopan’.” Tasya memelankan suara. “Ngomong-ngomong soal keajaiban, vendor yang kemarin. Mas Rafa.”
Aku berhenti berjalan. Hanya sepersekian detik. Tapi Tasya sudah menjadi sahabatku sejak semester satu kuliah, dan dia bisa mendeteksi sepersekian detik dari jarak seratus meter.
“Kenapa sama dia?” tanyaku, dengan nada yang sangat biasa.
“Nggak kenapa-kenapa.” Tasya menatapku dengan mata menyipit. “Kamu kenapa berhenti?”
“Aku nggak berhenti.”
“Kamu berhenti.”
“Aku… ngecek sepatu.”
Kami berdua menunduk ke sepatuku. Sepatu itu baik-baik saja. Sepatu itu sepatu paling baik-baik saja di seluruh gedung.
“Hmm,” kata Tasya.
Aku tidak menanggapi. Aku berjalan ke ruang rapat dengan langkah sedikit lebih cepat dari yang perlu.
Aku sudah bertemu banyak vendor. Itu salah satu risiko jadi project owner di perusahaan yang suka sekali membeli sistem baru lalu tidak memakainya. Ada vendor yang bicara terlalu banyak. Ada vendor yang bicara terlalu sedikit dan tagihannya terlalu banyak. Ada vendor yang terang-terangan mencoba merayuku, karena mengira anak pemilik perusahaan bisa dirayu supaya menyetujui anggaran.
Rafa Elvano bukan satu pun dari mereka.
Sesi requirement pagi itu berlangsung tiga jam. Dan selama tiga jam itu, aku memperhatikan hal-hal kecil yang tidak seharusnya kuperhatikan.
Cara dia mendengarkan kepala gudang Surabaya, yang logatnya sangat kental dan bicaranya sangat cepat, tanpa sekali pun meminta beliau mengulang. Cara dia menggambar diagram alur di papan tulis dengan tangan kanan, rapi dan cepat, sambil menjelaskan tanpa menoleh ke catatan. Cara dia bilang itu pertanyaan bagus ke anak magang yang bertanya sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu bagus, dan anak magang itu tersenyum sepanjang sisa rapat.
Dan cara dia mengetik.
Aku belum pernah melihat orang mengetik secepat itu dengan satu tangan. Jari-jarinya bergerak di atas papan ketik seperti pianis. Kalau catatannya terlalu panjang, dia memakai voice typing, bicara pelan ke mikrofon laptop dengan suara rendah yang, entah kenapa, membuatku ingin mendengarkan lebih lama.
Tangan kirinya selalu di saku.
Aku tidak bertanya. Tentu saja aku tidak bertanya. Itu bukan urusanku, dan aku tidak ingin menjadi orang yang bertanya. Aku hanya memperhatikan bahwa dia tidak pernah membiarkan hal itu memperlambatnya. Ketika dia perlu memegang spidol sambil membuka tutupnya, dia menggigit tutupnya dengan santai, seperti itu hal paling wajar di dunia. Ketika dia perlu membalik halaman dokumen sambil mengetik, dia menahannya dengan siku.
Dan dia tersenyum. Hampir sepanjang waktu. Bukan senyum lebar yang dibuat-buat, tapi senyum kecil di sudut bibir, seperti dia sedang menikmati lelucon rahasia tentang dunia yang hanya dia yang tahu.
“Bu Vannesa?”
Aku mengerjap. Semua orang menatapku.
“Ya?”
“Soal alur retur barang,” kata Rafa, sabar. “Saya tanya, apakah retur dari toko langsung masuk gudang regional atau harus lewat pusat dulu?”
“Oh. Regional. Langsung regional.”
“Baik.” Dia mengetik. Lalu dia menoleh lagi, dan kali ini senyumnya sedikit berbeda. “Ibu kelihatan capek. Mau istirahat sepuluh menit dulu?”
Di sudut ruangan, Tasya terbatuk-batuk dengan sangat mencurigakan.
“Nggak apa-apa,” kataku, sedikit terlalu cepat. “Lanjut aja, Mas Rafa.”
Dia mengangguk dan melanjutkan. Tapi sepuluh menit kemudian, Bu Yanti masuk membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng, dan ketika aku menoleh bingung, Bu Yanti hanya berbisik, “Tadi Mas Rafa pesan, Bu. Katanya buat semua. Katanya rapat panjang itu butuh gorengan.”
Aku menatap Rafa. Rafa menatap laptopnya.
Telinganya merah.
Aku melihat kejadian itu tepat sebelum makan siang.
Aku sedang di pantry, mengisi botol minum, tersembunyi di balik lemari pendingin yang tinggi. Di meja pantry, dua staf dari divisi keuangan sedang membuat kopi sambil mengobrol. Aku mengenal mereka: Mbak Rini dan Mbak Sari. Biasanya aku akan menyapa. Tapi mereka sedang membicarakan seseorang, dan nada suara mereka membuatku berhenti.
“…itu lho, vendor yang ganteng. Tadi dia benerin printer di resepsionis. Mbak Dewi sampai senyum-senyum.”
“Iya, aku lihat. Ganteng, sih. Baik lagi. Tinggi.”
“Tapi ya itu.”
“Iya, sayang banget, ya.”
“Kasihan ceweknya nanti kalau jadi sama dia. Apa-apa harus dibantuin. Buka botol aja susah, kan? Masa istri yang harus ngurusin suami terus.”
Mereka tertawa kecil. Bukan tawa jahat. Justru itu yang paling mengganggu. Tawa ringan orang yang merasa sedang mengatakan sesuatu yang wajar, sesuatu yang hanya fakta.
Aku berdiri kaku di balik lemari pendingin. Air di botolku sudah lama meluap. Aku tidak sadar sampai dinginnya membasahi jari-jariku.
Lalu aku melihatnya.
Rafa berdiri di pintu pantry. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana. Cukup lama, dilihat dari cara dua staf itu mendadak berhenti tertawa ketika menyadari kehadirannya. Wajah mereka memucat, lalu memerah.
Aku menunggu. Menunggu dia marah. Menunggu dia menyindir. Menunggu dia berbalik dan pergi dengan wajah terluka.
Dia tidak melakukan satu pun.
Dia berjalan masuk, mengambil gelas kertas dengan tangan kanan, dan mengisinya dari termos kopi. Lalu dia menoleh ke Bu Yanti, yang sedang mencuci piring di sudut dan tidak mendengar apa-apa.
“Bu Yanti, kopinya enak banget hari ini. Ganti merek?”
Bu Yanti berseri-seri. “Nggak, Mas. Airnya saya rebus lebih lama.”
“Pantes.” Dia tersenyum. Senyum kecil yang sama, di sudut bibir. Lalu dia mengangguk sopan ke Mbak Rini dan Mbak Sari, yang sekarang menatap lantai. “Mari, Mbak.”
Dan dia keluar.
Begitu saja. Seolah dia tidak mendengar apa-apa. Seolah kalimat itu tidak pernah diucapkan.
Tapi aku melihat sesuatu sebelum dia berbalik. Hanya sekilas, secepat kedipan. Tangan kirinya, yang selalu di saku, tampak sedikit lebih dalam terbenam di sana. Seperti dia sedang menyembunyikannya lebih jauh lagi.
Aku berdiri di balik lemari pendingin itu, dengan botol yang meluap dan jari-jari yang basah, dan aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku tidak menegur Mbak Rini dan Mbak Sari. Aku tidak keluar dari persembunyianku. Aku tidak mengejar Rafa untuk bilang bahwa aku mendengar, dan bahwa itu tidak benar, dan bahwa mereka tidak berhak.
Aku hanya diam.
Dan untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, diamku sendiri terasa lebih memalukan daripada kalimat yang mereka ucapkan.
“Kamu dari tadi diam,” kata Kevin.
Kami duduk di restoran baru di Senopati, jenis tempat dengan lampu gantung rotan, tanaman di mana-mana, dan menu yang menyebut nasi goreng sebagai heritage fried rice. Kevin sudah memesankan untukku tanpa seledri. Tentu saja.
“Maaf,” kataku. “Lagi mikir kerjaan.”
“Proyek sistem baru?”
“Iya.”
“Vendornya gimana? Bisa diandalkan?”
Aku menatap nasi gorengku. “Bisa.”
“Baguslah.” Kevin tersenyum, senyum iklan jam tangan yang biasanya membuatku ikut tersenyum. “Oh iya, Nes. Minggu depan, Jumat malam, kamu kosong? Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Ada yang mau aku omongin.”
Nada suaranya berubah sedikit. Lebih hati-hati. Lebih serius.
Aku tahu nada itu. Setiap perempuan yang pernah menjalani tiga bulan makan siang berturut-turut tahu nada itu. Papa benar. Ini pola. Dan pola ini akan sampai di ujungnya minggu depan, di tempat yang pasti indah, dengan pria yang semua orang bilang sempurna.
“Boleh,” kataku. “Jumat kosong.”
Kevin tersenyum lebih lebar. Dia menceritakan sesuatu tentang kampanye iklan barunya, dan aku mengangguk di tempat-tempat yang tepat, dan tertawa di tempat-tempat yang lucu.
Tapi pikiranku tidak di sana.
Pikiranku ada di pantry lantai sembilan. Di tangan yang terbenam lebih dalam ke saku. Di senyum kecil yang tidak goyah sedikit pun, bahkan setelah mendengar sesuatu yang pasti sudah dia dengar ratusan kali.
Kasihan ceweknya.
Aku menusuk nasi gorengku dengan garpu.
Kenapa harus kasihan? pikirku, tiba-tiba kesal. Kesal pada Mbak Rini dan Mbak Sari. Kesal pada diriku sendiri. Dia yang pesan pisang goreng buat satu ruangan. Dia yang benerin printer. Dia yang nanya aku capek atau nggak, padahal dia sendiri yang dari tadi berdiri di depan papan tulis.
Kalau ada yang harus dikasihani, pikirku, bukan ceweknya.
“Nes?” Kevin menyentuh punggung tanganku. “Kamu senyum sendiri.”
Aku mengerjap. “Hah?”
“Kamu senyum. Mikirin apa?”
“Nggak,” kataku. “Pisang goreng.”
Kevin tertawa, mengira itu lelucon.
Aku ikut tertawa, dan membiarkannya mengira begitu.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum reading
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari