Chapter Thirty Nine
Jangan Takut
POV: Vannesa
Kunci D masih sumbang.
Aku sudah mencobanya empat puluh kali malam ini. Aku menghitung. Jari telunjuk di senar ketiga, fret kedua. Jari tengah di senar pertama, fret kedua. Jari manis di senar kedua, fret ketiga. Tiga jari membentuk segitiga kecil yang harus tepat, harus kencang, harus menekan senar sampai ke papan fret tanpa menyentuh senar di sebelahnya.
Aku memetik. Bunyinya serak. Senar pertama berdengung, tertahan oleh sisi jari tengahku yang terlalu miring.
Empat puluh satu.
Aku menurunkan gitar ke pangkuan dan menatap ujung-ujung jariku. Plester di jari telunjuk sudah lepas. Kulit di bawahnya merah dan mengelupas. Jari tengahku berdenyut.
“Istirahat dulu, Nak.”
Mama Rafa berdiri di ambang pintu kamar lama Rafa. Bu Laila. Membawa segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng. Dia menaruhnya di meja belajar, di sebelah casing gitar yang terbuka, dan menatapku dengan wajah yang lembut dan sedikit sedih.
“Sebentar lagi, Bu,” kataku. “D-nya belum bisa.”
“Kinan bilang D itu paling susah.”
“Kinan bilang D itu yang paling sering bikin orang nyerah.”
Bu Laila tersenyum. Dia duduk di tepi kasur yang terlalu pendek, di sebelahku. Menatap gitar di pangkuanku. Gitar Rafa. Badan kayu berwarna madu, dengan goresan kecil di sisinya dari malam itu.
“Rafa dulu juga nyerah di D,” katanya pelan. “Umur dua belas. Dia nangis di kamar ini. Bilang jarinya bodoh. Papa bilang, coba lagi besok. Besoknya dia coba lagi. Terus lagi. Seminggu kemudian dia main D sambil nyanyi-nyanyi sampai Kinan kecil teriak suruh diam.”
Aku tertawa pelan.
Bu Laila menatapku. Lama. Seperti hari pertama aku datang ke rumah ini, ketika dia membuka pintu dan memelukku tanpa berkata apa-apa.
“Nak Vannesa,” katanya. “Ibu mau bilang sesuatu.”
“Iya, Bu?”
“Ibu udah dengar semuanya. Dari Kinan. Soal gang itu, soal Mamamu, soal rumah sakit.” Bu Laila menggenggam tangannya sendiri di pangkuan. “Ibu nggak marah. Ibu cuma mau bilang, malam itu, waktu Rafa bangun, hal pertama yang dia tanya itu kamu.”
Aku menatapnya.
“Ceweknya selamat nggak,” kata Bu Laila. “Itu kalimat pertama anak Ibu setelah operasi. Dan waktu perawat bilang kamu selamat, dia senyum. Ibu nggak pernah ngerti senyum itu. Delapan tahun Ibu nggak ngerti.” Dia menatapku, matanya berkaca-kaca. “Sekarang Ibu lihat kamu duduk di kamarnya, belajar gitarnya, jarimu berdarah. Sekarang Ibu ngerti.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menggenggam leher gitar lebih erat.
Bu Laila menepuk lututku. Lalu berdiri. “Minum tehnya. Ibu di dapur.”
Dia keluar. Aku mengangkat gitar lagi. Menaruh jari-jariku di posisi D.
Empat puluh dua.
Dan lampu padam.
Gelap.
Total. Tiba-tiba. Seperti seseorang menutup mataku dengan tangan.
Dari luar jendela, aku mendengar suara orang-orang di kompleks berteriak. Mati lampu! PLN! Anak kecil menangis di rumah sebelah. Anjing menggonggong.
Di dalam kamar, tidak ada apa-apa. Tidak ada cahaya. Tidak ada bentuk. Hanya gelap, dan napasku, yang tiba-tiba mulai pendek.
Aku mengenal ini. Tembok bata dingin di punggung. Bau hujan. Tangan kasar di pergelangan tanganku.
Napasku makin pendek.
Tidak.
Aku merogoh saku celana. Jari-jariku yang melepuh menemukan kunci mobil. Menemukan senter perak kecil yang tergantung di sana.
Aku menyalakannya.
Cahaya putih kecil. Bulat. Jatuh di pangkuanku. Di gitar. Di jari-jari tangan kiriku yang masih di posisi D.
Aku menatap cahaya itu. Menarik napas. Pelan. Tarik, tahan, embuskan. Seperti yang dia ajarkan di lift.
Tarik napas. Pelan-pelan. Ikutin aku.
Napasku melambat.
Aku menaruh senter itu di kasur, di sebelahku, dengan cahaya menghadap ke atas. Cahayanya memantul di langit-langit. Di stiker-stiker bintang glow-in-the-dark yang, anehnya, sekarang menyala samar, hijau pucat, seperti bintang sungguhan.
Aku mengangkat gitar lagi.
Aku tidak mau berhenti. Kalau aku berhenti sekarang, karena gelap, aku akan selalu berhenti karena gelap. Dan aku sudah delapan tahun berhenti karena gelap.
Jari-jariku di posisi D. Di bawah cahaya senter yang dia berikan.
Aku memetik.
Serak. Senar pertama masih berdengung.
Empat puluh tiga.
Aku memetik lagi. Dan lagi. Lalu, tanpa berpikir, aku mulai memainkan urutannya. G. C. D. Em. Kunci-kunci di atas lirik lagu yang belum selesai itu. Pelan. Satu per satu. Dengan D yang sumbang di tengahnya.
Di kamar yang gelap, di bawah bintang-bintang plastik dan cahaya senter kecil, aku memainkan lagu yang dia tulis delapan tahun lalu untuk seseorang yang belum ada.
Aku tidak mendengar pintu depan terbuka.
Aku tidak mendengar langkah kaki di koridor. Aku terlalu fokus pada D yang sumbang, pada jari-jari yang sakit, pada urutan kunci yang harus kuingat.
Aku baru menyadarinya ketika aku selesai memainkan urutan itu untuk keempat kalinya, dan mengangkat kepala, dan melihat seseorang berdiri di ambang pintu.
Siluet. Dalam gelap. Tinggi. Kacamata yang memantulkan cahaya senter sedikit.
Satu tangan memegang kusen pintu. Yang kanan.
Yang kiri tergantung di sisi tubuhnya. Tidak di saku.
Jantungku berhenti.
“Rafa,” bisikku.
Dia tidak menjawab. Dia berdiri di sana. Diam. Dan dalam cahaya senter yang redup, aku melihat tangannya di kusen pintu.
Gemetar.
Bukan gemetar sedikit. Gemetar hebat. Jari-jarinya mencengkeram kusen pintu seperti orang yang takut jatuh. Bahunya naik-turun. Napasnya pendek. Aku bisa mendengarnya dari sini, di kamar yang sunyi, di antara teriakan tetangga soal PLN dan anjing yang menggonggong.
Napas orang yang sedang berusaha tidak panik.
Aku mengenali napas itu. Aku pernah mendengarnya dari diriku sendiri. Di lift. Di lantai sembilan ketika lampu padam. Di gang gelap delapan tahun lalu.
Tapi dia tidak takut gelap. Dia tidak pernah takut gelap.
“Rafa?” Aku menaruh gitar di kasur. Berdiri. “Kamu kenapa?”
Dia membuka mulut. Suaranya keluar serak. Patah.
“Aku takut,” katanya.
Aku berhenti.
“Aku takut berharap,” bisiknya. “Delapan tahun aku nggak berharap apa-apa. Nggak ada yang bisa nyakitin aku kalau aku nggak berharap. Terus kamu datang. Dan aku berharap. Dan aku lari, karena aku takut. Dan sekarang aku berdiri di sini, dan aku denger kamu main lagu aku, dan aku—” Suaranya pecah. “Aku takut banget, Vannesa. Aku nggak pernah setakut ini. Bahkan di gang itu.”
Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Melewati cahaya senter di kasur. Sampai aku berdiri di depannya, di ambang pintu, dalam gelap.
Aku melihat wajahnya. Samar. Basah. Matanya di balik kacamata merah.
Aku mengangkat tangan kananku. Dan menaruhnya di atas tangan kanannya. Yang mencengkeram kusen pintu. Yang gemetar.
Tangannya dingin. Sangat dingin.
“Udah, udah,” bisikku. “Jangan takut.”
Dia membeku.
Seluruh tubuhnya berhenti gemetar. Napasnya berhenti di tengah tarikan. Dan dalam cahaya senter yang redup, aku melihat matanya bergerak. Naik. Mencari. Sampai menemukan mataku.
Dia menatapku seperti melihat hantu.
“Kamu,” bisiknya. “Kamu bilang apa?”
Kalimat yang sama. Kalimatku. Di lift. Delapan tahun lalu di gang, dan dua bulan lalu di lift, dan sekarang, di kamar lamanya, dengan posisi yang terbalik.
Aku tersenyum. Air mata mengalir.
“Udah, udah,” ulangku, lebih pelan, lebih lembut. “Jangan takut. Aku di sini.”
Jari-jarinya perlahan melepaskan kusen pintu.
Dan menggenggam jariku.
Kami duduk di lantai kamar lamanya. Bersandar di tepi kasur yang terlalu pendek. Senter perak di kasur di atas kami, cahayanya memantul ke langit-langit, ke bintang-bintang plastik yang menyala hijau pucat.
Tangannya di tanganku. Yang kanan. Masih sedikit gemetar.
“Aku ketemu Mamamu,” katanya. Pelan. “Tadi. Sebelum ke sini.”
Aku menoleh padanya.
“Dia bilang terima kasih.” Suaranya bergetar. “Ke tanganku. Dia cium tanganku. Yang kiri. Nggak ada orang yang pernah bilang terima kasih ke tangan itu.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Dan dia bilang kamu belajar gitar,” lanjutnya. “Sebulan. Jarimu berdarah. Kamu bilang ke dia, yang kiri buat aku. Kalau dia nggak bisa neken kunci, aku yang neken.”
Aku mengangguk. Tidak bisa bicara.
“Vannesa.” Dia menoleh padaku. Wajahnya dekat. Dalam gelap, aku bisa merasakan napasnya. “Kamu bilang, di tangga darurat, itu bukan keputusan aku. Itu keputusan kamu. Terus di lantai sembilan, di depan semua orang, kamu bilang lagi.”
“Iya.”
“Aku nggak dengerin. Dua kali.” Dia menggenggam tanganku lebih erat. “Aku mutusin buat kamu. Aku mutusin kamu harus bebas. Aku mutusin cintamu pasti utang. Karena aku nggak bisa bayangin ada orang yang milih aku tanpa alasan lain.” Dia menarik napas, gemetar. “Kinan bilang itu bukan ngelindungin kamu. Itu aku nggak percaya aku layak dicintai.”
Aku menatapnya.
“Maaf,” bisiknya. “Maaf, Vannesa. Maaf aku bilang cicilan. Maaf aku pergi. Maaf aku bikin kamu nangis di basement.”
“Rafa—”
“Aku nggak mau tahu lagi mana yang kamu dan mana yang utang.” Suaranya pecah. “Dua-duanya kamu. Yang suka aku sebelum tahu, dan yang nangis setelah tahu. Yang bukain botolku sambil baca tablet, dan yang belajar gitar sampai jarinya berdarah. Dua-duanya kamu. Dan aku mau semuanya.”
Aku tidak bisa menahan diriku lagi.
Aku menarik kerah kemejanya. Dan menciumnya.
Dalam gelap. Di lantai kamar lamanya. Di bawah bintang-bintang plastik. Ciuman yang dalam, yang basah oleh air mata, yang putus asa seperti ciuman di mobil malam itu, tapi berbeda. Kali ini tidak ada janji terakhir. Kali ini tidak ada rahasia yang kubawa di dada. Kali ini hanya dia, dan aku, dan semua yang sudah kami ketahui tentang satu sama lain.
Tangan kanannya naik ke wajahku. Ke rambutku. Menarikku lebih dekat. Aku merasakan jari-jarinya yang tadi gemetar sekarang tenang, hangat, di tengkukku.
Lalu aku merasakan sesuatu yang lain.
Aku meraih tangan kirinya. Yang tergeletak di lantai di sisinya. Aku mengangkatnya, pelan, dan menaruhnya di pipiku. Menahannya di sana dengan tanganku sendiri.
Dia tidak bisa merasakan pipiku.
Tapi dia berhenti menciumku. Sebentar. Membuka mata. Menatap tangan kirinya di pipiku, dalam cahaya senter yang redup.
“Aku yang ngerasain,” bisikku ke bibirnya. “Buat dua-duanya. Masih. Selamanya.”
Dia menciumku lagi.
Lampu menyala.
Tiba-tiba. Terang. Silau. Dengung kipas angin kembali terdengar. Dari luar, tetangga-tetangga bersorak. Nyala! Nyala!
Kami berdua mengerjap. Menjauh sedikit. Dan melihat ke ambang pintu.
Bu Laila berdiri di sana. Memegang lilin yang baru menyala. Di belakangnya, Pak Yusuf, Papa Rafa, memegang senter besar. Di belakang mereka, Kinan, dengan wajah basah dan ponsel terangkat, jelas sedang merekam.
Hening sebentar.
Bu Laila menutup mulutnya dengan tangan. Kinan menurunkan ponselnya perlahan, dengan wajah seperti orang yang baru tertangkap basah mencuri kue.
Pak Yusuf menatap kami. Kami duduk di lantai, rambutku berantakan, kacamata Rafa miring, bibir kami berdua sedikit bengkak. Tangan kiri Rafa masih di pipiku.
Pak Yusuf menatap semua itu dengan wajah datarnya yang biasa.
Lalu dia mengangguk. Sekali.
“Panas,” katanya.
Dan dia berbalik dan berjalan pergi, membawa senter besarnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Bu Laila tertawa. Tertawa sampai menangis. Dia menarik Kinan pergi dengan tangan yang tidak memegang lilin, dan menutup pintu kamar dengan pelan. Dari balik pintu, aku mendengar Kinan berteriak, “MA, AKU BELUM SELESAI REKAM!”
Aku menoleh ke Rafa.
Dia merah. Seluruh wajahnya. Dari leher sampai dahi. Kacamatanya berembun total.
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tertawa sampai perutku sakit, sampai aku harus menyandarkan dahi ke bahu kanannya.
“Dua puluh empat,” kataku ke bahunya.
“Kamu masih ngitung?”
“Aku nggak pernah berhenti ngitung,” kataku. “Bahkan waktu kamu pergi. Aku nunggu yang ke dua puluh empat.”
Dia diam. Lalu tangan kanannya naik ke rambutku. Pelan.
“Gitarnya,” katanya. “Kamu mau main buat aku?”
Aku menggeleng ke bahunya.
“Belum,” kataku. “D-nya masih sumbang. Lagunya juga belum selesai.”
“Lagunya memang belum selesai. Aku nggak pernah nulis bait terakhirnya.”
Aku mengangkat kepala. Menatapnya.
“Kalau gitu,” kataku, “tulis.”
Dia menatapku lama. Lalu, pelan, dia tersenyum. Senyum kecil yang sama, di sudut bibir. Tapi kali ini ada sesuatu di baliknya yang belum pernah kulihat.
Bukan harapan. Lebih dari itu.
Keyakinan.
“Oke,” katanya. “Aku tulis. Terus kamu latihan D sampai nggak sumbang.”
“Deal.”
“Dan waktu dua-duanya selesai…”
Dia berhenti. Tidak melanjutkan. Tapi telinganya, yang tadi sudah mulai kembali normal, merah lagi. Sangat merah.
Aku menatapnya. Menunggu.
Dia tidak melanjutkan.
“Dua puluh lima,” bisikku.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut reading
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari