Chapter Twenty Two
Jangan Mainin Kakak Saya
POV: Rafa
Seminggu setelah ulang tahunnya, Vannesa berubah.
Bukan berubah menjadi orang lain. Dia masih Vannesa yang hafal nama semua orang, yang tertawa sampai kepalanya mendongak, yang duduk di kursi sebelah kiriku setiap siang dengan laptop dan kopi. Tapi ada sesuatu yang bergeser. Seperti lukisan yang dipindahkan satu sentimeter di dinding. Tidak ada yang sadar, kecuali orang yang sudah terlalu lama menatapnya.
Aku sudah terlalu lama menatapnya.
Dia menatapku lebih lama dari biasanya. Kadang, ketika aku sedang mengetik, aku merasakan tatapannya di sisi wajahku, dan ketika aku menoleh, dia buru-buru memalingkan wajah ke laptopnya. Kadang matanya terlihat merah, seperti habis menangis, dan dia bilang itu karena alergi debu AC.
Dan kadang, ketika aku melakukan sesuatu dengan satu tangan, menjepit dokumen di bawah lengan, membuka tutup spidol dengan gigi, mengikat tali sepatu di lobi, aku melihatnya berhenti. Diam. Menatap tanganku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Bukan iba. Aku kenal iba. Aku sudah melihatnya ribuan kali, dan ini bukan itu.
Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berat.
“Bang,” kata Gilang hari Senin. “Bu Vannesa kenapa sih?”
“Nggak tahu.”
“Dia ngelihatin lo terus. Tapi bukan ngelihatin yang gitu. Ngelihatin yang kayak…” Gilang mencari kata. “Kayak orang lihat anak kucing di pinggir jalan pas hujan.”
“Itu namanya kasihan, Lang.”
“Bukan, Bang. Itu beda.” Dia menggeleng. “Orang kasihan itu lihatnya dari atas. Dia lihat lo kayak dia yang di bawah.”
Aku tidak mengerti maksudnya. Aku tidak yakin Gilang sendiri mengerti maksudnya.
Tapi aku mulai curiga ada hubungannya dengan Bu Ratna. Dengan cangkir teh yang jatuh, dan air mata di punggung tanganku, dan bisikan maafkan Ibu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah mereka malam itu. Tapi sejak hari itu, Vannesa menatapku seperti orang yang membawa sesuatu yang terlalu berat dan tidak tahu harus menaruhnya di mana.
Mungkin, pikirku, Bu Ratna tidak suka anaknya dekat dengan vendor cacat. Mungkin itu sebabnya dia menangis. Mungkin dia bilang sesuatu pada Vannesa malam itu. Sesuatu seperti kasihan kamu nanti, Nes.
Pikiran itu masuk akal. Pikiran itu sangat masuk akal, dan aku membencinya.
Senin siang, Kinan datang ke kantorku.
Aku tidak tahu dia akan datang. Dia tidak pernah datang ke kantorku. Tapi jam dua belas lewat sepuluh, ponselku bergetar.
Aku di lobi. Bawa charger laptop Kakak yang ketinggalan di rumah Mama kemarin. Turun.
Aku turun. Gilang ikut, dengan alasan mau beli kopi di bawah, yang tidak pernah dia lakukan karena kopi di pantry gratis.
Kinan berdiri di dekat pintu putar lobi Atma Tower dengan seragam klinik putih masih melekat di badan, charger laptopku di satu tangan dan kotak makanan di tangan yang lain. Dia terlihat kecil dan galak di tengah lobi marmer yang besar, seperti kucing liar yang tersesat di hotel bintang lima.
“Nih.” Dia menyodorkan charger. “Terus ini dari Mama. Rendang. Kata Mama Kakak kurusan.”
“Kakak nggak kurusan.”
“Mama bilang kurusan. Aku nggak mau debat sama Mama.” Dia menyodorkan kotak makanan juga. Lalu dia melihat sekeliling lobi dengan mata menyipit. “Jadi ini kantornya.”
“Ini kantor klien, Nan. Bukan kantor Kakak.”
“Kantor dia,” kata Kinan.
Aku tidak sempat bertanya maksudnya. Karena tepat saat itu, pintu lift terbuka, dan Vannesa keluar.
Dia berjalan ke arah pintu putar dengan Tasya di sebelahnya, mungkin mau makan siang di luar. Dia melihatku. Lalu dia melihat Kinan.
Dan wajahnya berubah pucat.
Kinan juga melihatnya. Dan wajah Kinan berubah menjadi sesuatu yang sangat, sangat berbahaya.
“Kamu,” kata Kinan.
“Kinan,” kata Vannesa pelan. “Hai.”
Aku menatap mereka berdua bergantian. “Kalian… kenal?”
“Kenal,” kata Kinan, tanpa melepaskan matanya dari Vannesa. “Dia pasienku. Sabtu kemarin. Keluhan bahu kaku.”
Aku mengerjap. “Pasien?”
“Pakai topi. Kacamata hitam. Masker.” Kinan melipat tangan di dada. “Kayak mau ngerampok bank.”
Vannesa menutup mata sebentar. Tasya, di sebelahnya, menatap langit-langit lobi seperti sedang menghitung lampu gantung. Gilang, di sebelahku, mengeluarkan suara kecil seperti balon yang kempes perlahan.
“Bahuku beneran kaku,” kata Vannesa lemah.
“Iya, bahumu beneran kaku,” kata Kinan. “Tapi bukan itu alasanmu datang, kan?”
Lobi mulai memperhatikan. Pak Tarno di meja satpam berhenti menulis. Mbak Dewi dari resepsionis lantai sembilan, yang kebetulan turun untuk mengambil paket, berhenti di tengah jalan. Dua karyawan divisi pemasaran yang sedang menunggu lift menoleh.
“Nan,” kataku pelan. “Ini lobi kantor.”
“Aku tahu ini lobi kantor, Kak.” Kinan tidak menoleh padaku. Dia terus menatap Vannesa. “Kamu datang ke klinikku, nanya-nanya soal Kakakku. Aku cerita semuanya. Semuanya. Hal-hal yang aku nggak pernah cerita ke siapa pun. Terus kamu nangis. Terus kamu bilang kamu nggak kasihan. Terus kamu pergi.”
Vannesa tidak menjawab. Wajahnya merah sekarang.
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Vannesa pergi ke klinik Kinan? Menanyakan soal aku? Menangis?
“Aku mau nanya satu hal,” kata Kinan. Suaranya naik. “Kamu mau apa dari Kakakku?”
“Kinan—”
“Karena aku udah lihat cewek-cewek kayak kamu.” Suara Kinan bergetar, marah dan takut sekaligus. “Cantik. Baik. Deketin Kakak karena dia orang baik dan kalian pengin ngerasa jadi orang baik juga. Terus pas udah capek, kalian pergi. Dan Kakakku senyum. Kakakku selalu senyum. Dan aku yang lihat dia ngikat tali sepatu setengah jam malam-malam karena tangannya gemetar.”
Hening di lobi.
Aku merasa wajahku terbakar. Bukan karena malu. Karena sesuatu yang lebih dalam. Karena Kinan mengatakan hal-hal yang aku tidak tahu dia tahu. Tali sepatu. Malam-malam. Tanganku yang gemetar.
“Nan,” kataku. “Cukup.”
Tapi Kinan sudah tidak bisa berhenti. Delapan tahun kemarahan dan ketakutan tumpah keluar di lobi marmer itu, di depan satpam dan resepsionis dan karyawan pemasaran yang menunggu lift.
“Jadi jangan mainin Kakak saya!” katanya, keras, ke wajah Vannesa. “Kakak saya udah suka sama kamu dari hari pertama! Dia pulang senyum-senyum kayak orang bodoh! Dia beliin kamu senter buat ulang tahun terus nyuruh aku bikinin pita yang bagus! Dia ganti nama kontakmu tiga kali! Dia nemenin kamu milih baju buat ditembak cowok lain terus pulang ke rumah Mama dan nggak ngomong apa-apa sepanjang malam! Dia—”
Kinan berhenti.
Dia berhenti, karena dia baru menyadari apa yang baru saja dia katakan.
Lobi Atma Tower sunyi. Sunyi total. Bahkan pintu putar berhenti berputar.
Aku berdiri di sana dengan charger laptop di satu tangan dan kotak rendang dari Mama tergantung di jari, dan aku merasakan darah naik dari leherku, ke rahang, ke pipi, ke telinga, ke dahi. Aku merasakan kacamataku berembun, total, sampai aku tidak bisa melihat apa-apa selain kabut putih.
Aku ingin menghilang. Aku ingin lantai marmer lobi ini terbuka dan menelanku utuh, bersama charger dan rendangnya.
Kinan menoleh padaku perlahan. Wajahnya berubah dari marah, ke kaget, ke ngeri.
“Kak,” bisiknya. “Kak, aku… aku keceplosan.”
Aku tidak bisa bicara.
Dan kemudian, dari balik kabut di kacamataku, aku mendengar suara Vannesa. Pelan. Sedikit bergetar. Sedikit bingung. Dan di bawah semua itu, sesuatu yang sangat, sangat mirip dengan senyum.
“Oh,” katanya. “Jadi kamu suka aku?”
Aku melepas kacamata. Mengelapnya dengan ujung kemeja. Memakainya lagi.
Vannesa berdiri tiga langkah di depanku. Wajahnya merah. Matanya berkaca-kaca. Dan dia tersenyum. Senyum kecil yang gemetar di ujung-ujungnya, seperti orang yang berusaha menahan tawa atau tangis dan tidak tahu mana yang akan menang.
“Vannesa,” kataku. Suaraku keluar seperti orang yang baru belajar bicara. “Adikku… adikku suka lebay.”
“Aku nggak lebay!” kata Kinan.
“Nan, diam.”
Kinan diam. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan matanya melebar, dan dia mundur selangkah seperti baru menyadari bahwa dia baru saja meledakkan bom di tengah lobi dan bom itu adalah kakaknya sendiri.
“Jadi nggak bener?” tanya Vannesa.
Aku membuka mulut untuk bilang nggak bener. Kata-kata itu sudah ada di lidahku. Mudah. Aman. Kata-kata yang sudah delapan tahun kusiapkan untuk momen seperti ini, momen ketika seseorang terlalu dekat dan aku harus mundur dengan sopan.
Tapi dia menatapku. Dengan mata berkaca-kaca dan senyum gemetar dan wajah yang tidak ada sedikit pun iba di dalamnya.
Dan aku tidak bisa berbohong padanya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri di sana, merah dari leher sampai ujung rambut, dengan kacamata yang mulai berembun lagi.
Vannesa menatapku lama. Lalu senyumnya melebar. Pelan-pelan. Seperti matahari terbit.
“Oke,” katanya lembut. “Aku anggap itu iya.”
“Vannesa, aku—”
“Nanti,” katanya. Dia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tasya menggandeng lengannya. “Aku mau makan siang dulu. Aku laper. Dan aku perlu… aku perlu mikir.”
Dia berbalik dan berjalan ke pintu putar. Di ambang pintu, dia berhenti. Menoleh.
Bukan padaku. Pada Kinan.
“Kinan,” katanya. “Makasih.”
Kinan menurunkan tangan dari mulutnya. Bingung. “Buat apa?”
“Buat pitanya,” kata Vannesa. “Dan buat yang barusan.”
Lalu dia pergi. Pintu putar berputar pelan di belakangnya.
Lobi mulai bergerak lagi. Perlahan, seperti film yang dijalankan setelah di-pause. Pak Tarno kembali menulis. Mbak Dewi mengambil paketnya dengan wajah seperti orang yang baru menonton final drama Korea secara langsung. Dua karyawan pemasaran masuk ke lift sambil berbisik-bisik heboh.
Gilang menatapku. Mulutnya terbuka. Dia tidak bicara. Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gilang tidak punya kata-kata.
Kinan menatapku dengan mata yang mulai basah.
“Kak,” bisiknya. “Kak, maaf. Aku nggak maksud. Aku cuma… aku marah. Aku takut dia mainin Kakak. Aku nggak mikir. Aku—”
“Nan.”
“Aku bakal pergi. Aku nggak bakal datang ke sini lagi. Aku—”
“Kinan.”
Dia berhenti.
Aku menatap adikku. Adikku yang galak, yang menyetir seperti nenek-nenek, yang punya daftar perempuan terlarang dan baru saja membacakan isi hati kakaknya di depan satpam, resepsionis, dan karyawan divisi pemasaran.
Adikku yang, ternyata, tahu soal tali sepatu yang kuikat setengah jam malam-malam.
Aku tidak marah. Aku mencari kemarahan itu di dalam diriku, dan tidak menemukannya. Yang kutemukan hanya sesuatu yang hangat dan menyakitkan dan sangat, sangat malu.
“Rendangnya,” kataku. “Bilangin Mama makasih.”
Kinan menatapku. Lalu, tiba-tiba, dia memelukku. Keras, cepat, kasar, di tengah lobi marmer.
“Dia bilang makasih,” bisiknya ke bahuku. “Ke aku. Buat yang barusan. Kak, dia bilang makasih.”
“Kakak denger.”
“Cewek-cewek yang lain nggak pernah bilang makasih.” Kinan melepaskan pelukan. Matanya basah, tapi ada sesuatu yang lain di sana sekarang. Sesuatu yang hampir seperti harapan. “Status dia… aku harus revisi.”
Dia mengeluarkan ponsel. Membuka catatan. Mengetik dengan cepat. Lalu memasukkannya lagi ke saku sebelum aku bisa melihat.
“Aku pergi,” katanya. “Latihan bahunya tiap hari. Awas kalau nggak.”
Dia berjalan ke pintu putar. Di ambang pintu, dia menoleh.
“Kak,” katanya. “Dia senyum waktu aku bilang Kakak suka dia. Aku lihat. Bukan senyum kasihan.”
Lalu dia pergi.
Aku kembali ke lantai sembilan dengan charger, kotak rendang, dan Gilang yang masih belum bisa bicara.
Di lift, Gilang akhirnya bersuara.
“Bang.”
“Jangan.”
“Bang, lo—”
“Jangan, Lang.”
Gilang menutup mulut. Lalu membukanya lagi. “Bang, gue cuma mau bilang satu hal.”
“Apa.”
“Gue nggak jadi bikin misi lagi. Adik lo lebih efektif dari semua misi gue digabung.”
Aku menatap angka lift yang naik. Enam. Tujuh. Delapan. Wajahku masih panas. Sepertinya wajahku akan panas selamanya.
Di mejaku, aku membuka laptop. Aku tidak bisa bekerja. Aku menatap layar kosong sampai jam tiga sore.
Jam tiga lewat lima, ponselku bergetar.
Rafa.
Aku menatap nama itu. Lalu membuka pesannya.
Aku udah mikir.
Pesan kedua masuk.
Kamu boleh lupain yang tadi kalau mau. Pura-pura nggak pernah kejadian. Aku nggak akan maksa.
Aku menarik napas. Ini dia. Jalan keluar yang sopan. Dia memberiku kesempatan untuk mundur, dan aku harus mengambilnya. Aku harus bilang iya, lupain aja, adikku lebay, dan semuanya akan kembali seperti semula.
Aku mengetik: Iya. Lupain aja.
Pesan ketiga masuk sebelum aku sempat mengirim.
Tapi aku nggak mau lupain.
Aku menatap layar.
Pesan keempat.
Jadi siap-siap ya, Rafa.
Aku menghapus Iya. Lupain aja. Huruf demi huruf. Pelan.
Lalu aku menatap partisi kaca. Di ruangannya, Vannesa sedang duduk di mejanya. Ponsel di tangan. Dan dia sedang menatapku.
Dia tersenyum. Lalu dia mengangkat tangannya, dan dengan jari telunjuknya, dia membuat gerakan kecil di udara. Seperti menulis angka.
Angka satu.
Aku tidak mengerti. Aku menatapnya bingung.
Pesan kelima masuk.
Merah yang pertama. Aku mulai ngitung dari sekarang.
Aku menyentuh telingaku. Panas.
Di balik partisi kaca, Vannesa Atmajaya tertawa. Dan untuk pertama kalinya, tawanya terdengar seperti deklarasi perang.
- 1 Jangan Takut
- 2 Kursi Nomor Tiga
- 3 Vendor yang Tersenyum
- 4 Saku Kiri
- 5 Minggu di Rumah Mama
- 6 Tahu Batas
- 7 Sistem yang Tidak Pernah Salah
- 8 Lembur
- 9 Kenapa Dia Nggak Pernah Ngeluh
- 10 Makan Siang Urusan Kerja
- 11 Kevin Bilang Minggu Depan
- 12 Lift Lantai Sembilan
- 13 Bisikan di Pantry
- 14 Tutup Botol
- 15 Cemburu yang Nggak Masuk Akal
- 16 Kado untuk Kinan
- 17 Maaf, Kevin
- 18 Ibu yang Gemetar
- 19 Delapan Tahun yang Dibayar Orang Lain
- 20 Udah, Udah
- 21 Pasien Pura-Pura
- 22 Jangan Mainin Kakak Saya reading
- 23 Operasi Bikin Merah
- 24 Kursi Kosong di Sebelah Kiri
- 25 Kasihan Aku
- 26 Yang Kiri buat Aku
- 27 Gala Atma & Corp
- 28 Tanpa Izin
- 29 Serangan Balik
- 30 Aku Juga
- 31 Pacar Vendor
- 32 Makan Malam Keluarga Atmajaya
- 33 Jepit Bulan Sabit
- 34 Utang yang Nggak Pernah Ditagih
- 35 Donatur Misterius
- 36 Go-Live
- 37 Dia Nolak Aku Duluan
- 38 Ibu yang Berlutut
- 39 Jangan Takut
- 40 Yang Kiri buat Aku
- 41 Epilog: Akad
- 42 Extra 01: Malam Itu, dari Sisi Lain
- 43 Extra 02: Dua Puluh Kata Sehari