← Yang Kiri buat Aku

Chapter Fourteen

Tutup Botol

POV: Rafa

Gudang Cikarang jam sepuluh pagi adalah tempat yang diciptakan Tuhan untuk menguji kesabaran manusia.

Panasnya seperti oven. Atap sengnya memantulkan matahari ke bawah dengan dendam pribadi. Forklift berseliweran dengan bunyi bip-bip-bip yang tidak pernah berhenti, dan setiap sepuluh menit, seseorang berteriak soal palet yang salah taruh.

Aku sudah di sini sejak kemarin siang. Gilang juga, meski sebagian besar waktunya dia habiskan untuk mengeluh soal panas dan menempelkan botol air dingin ke leher.

“Bang,” katanya, untuk kedua puluh kalinya pagi itu. “Gue meleleh.”

“Kamu nggak meleleh.”

“Bang, gue udah jadi genangan. Lo lagi ngomong sama genangan.”

Aku sedang memasang pemindai barcode di pos penerimaan barang, menguji apakah sinyal Wi-Fi gudang cukup kuat sampai ke sudut paling jauh. Tidak cukup kuat. Tentu saja tidak cukup kuat. Sudut paling jauh gudang Cikarang, menurut hasil pengukuranku, punya sinyal Wi-Fi setara dengan sinyal di dasar laut.

Lalu Gilang berhenti mengeluh.

Aku menoleh. Dia sedang menatap pintu gudang dengan mulut sedikit terbuka.

“Bang,” bisiknya. “Bang, lihat.”

Aku melihat.

Vannesa berjalan masuk ke gudang. Bukan dengan blazer. Dengan kaus polo putih bertuliskan Atma & Corp, celana kargo krem, sepatu kets, rambut diikat ekor kuda tinggi, dan topi baseball. Dia membawa kotak pendingin besar berisi minuman, dan di belakangnya, Pak Kardi, sopir yang dulu nyasar ke Madura, membawa dua kardus gorengan.

Seluruh gudang berhenti.

Forklift berhenti. Teriakan soal palet berhenti. Seorang pekerja yang sedang menaiki tangga berhenti di anak tangga ketiga dan tidak naik lagi. Bahkan bunyi bip-bip-bip forklift, entah bagaimana, terdengar lebih pelan.

“Selamat pagi, semua!” katanya cerah. “Saya bawa es sama gorengan. Silakan ambil, jangan malu-malu.”

Tidak ada yang bergerak selama tiga detik. Lalu kepala gudang, Pak Anwar, berdeham dan bertepuk tangan sekali, dan semua orang tiba-tiba ingat bahwa mereka bisa bergerak.

“Bang,” bisik Gilang lagi. “Lo tahu dia mau dateng?”

“Nggak.”

“Lo lihat mukanya waktu dia lihat lo?”

“Dia nggak lihat saya.”

“Bang, dia langsung nyari lo begitu masuk. Mata dia muter satu gudang, terus berhenti di lo, terus dia senyum. Gue lihat, Bang. Gue saksi.”

Aku tidak menjawab. Aku kembali ke pemindai barcode dan pura-pura sangat sibuk dengan pengaturan jaringan. Tapi telingaku sudah mulai panas, dan itu bukan karena atap seng.


“Oke,” kata Vannesa, berdiri di sebelahku dengan tangan di pinggang. “Gimana uji cobanya?”

“Pemindai lancar. Sistem lancar. Wi-Fi-nya yang nggak lancar.”

“Seberapa nggak lancar?”

“Di sudut sana,” aku menunjuk ke ujung gudang, “sinyalnya kayak sinyal di dasar laut.”

“Kamu pernah ke dasar laut?”

“Belum. Tapi saya yakin sinyalnya begitu.”

Dia tertawa. Lalu dia menoleh ke Pak Anwar dan dalam lima menit, dengan kecepatan yang membuatku kagum, dia sudah menyetujui anggaran untuk dua access point tambahan, menjadwalkan pemasangannya minggu depan, dan menugaskan Pak Kardi untuk menjemput teknisinya.

“Beres,” katanya, kembali padaku.

“Secepat itu?”

“Aku anak pemilik perusahaan,” katanya dengan wajah datar. “Kadang-kadang itu berguna.”

Kami bekerja sepanjang siang. Menguji alur penerimaan barang. Menguji alur pengeluaran. Menguji apa yang terjadi kalau pekerja salah memindai barang, yang, ternyata, terjadi sangat sering, karena pekerja gudang Cikarang punya kebiasaan memindai barcode di kardus sambil berlari. Vannesa mencatat semuanya. Dia tidak mengeluh soal panas. Dia tidak mengeluh soal debu. Dia duduk di atas palet kayu dengan topi baseball miring dan tablet di pangkuan, dan dia terlihat seperti sedang berada di tempat yang paling dia sukai di dunia.

Jam dua siang, aku haus.

Kotak pendingin yang dia bawa sudah hampir kosong. Tersisa beberapa botol air mineral. Aku mengambil satu dengan tangan kanan, dan seperti biasa, aku mencari tempat duduk supaya bisa menjepit botol itu di antara lutut dan memutar tutupnya.

Aku duduk di atas palet. Aku menjepit botolnya.

Tutupnya keras. Beberapa merek air mineral memang tutupnya keras, dirancang dengan segel ketat yang harus diputar kuat. Dengan dua tangan, itu bukan masalah. Dengan satu tangan dan lutut, itu kadang jadi perjuangan kecil.

Aku memutar. Tidak bergerak. Aku memutar lagi, lebih kuat. Botolnya tergelincir sedikit di antara lututku.

Lalu sebuah tangan terulur dan mengambil botol itu.

Aku mengangkat kepala.

Vannesa tidak menatapku. Dia sedang menatap tabletnya, membaca sesuatu, bibirnya bergerak sedikit seperti sedang menghitung. Tangannya yang satu memegang tablet. Tangannya yang lain memegang botolku, dan dengan satu putaran cepat, sambil tetap membaca, dia membuka tutupnya.

Krek.

Dia mengembalikan botol itu ke tanganku. Masih tanpa menatapku. Masih membaca.

“Pak Anwar bilang palet di rak C sering ketuker sama rak D,” katanya. “Menurutmu itu masalah sistem atau masalah orang?”

Aku menatap botol di tanganku. Terbuka. Dingin. Tetes-tetes air mengembun di permukaannya.

Dia melakukannya seperti dia akan melakukannya untuk siapa saja. Untuk Gilang, untuk Pak Kardi, untuk Pak Anwar. Seperti membukakan botol untuk orang di sebelahmu adalah hal paling biasa di dunia, sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir, tanpa jeda, tanpa perlu dikomentari.

Tidak ada jeda.

Tidak ada keheningan Laras.

“Rafa?” Dia akhirnya mengangkat kepala. “Rak C sama D?”

“Masalah orang,” kataku. Suaraku keluar sedikit aneh. “Labelnya mirip. C sama D, kalau dicetak kecil dan kena debu, kelihatan sama. Ganti warna labelnya.”

“Oh. Pinter.” Dia mencatat. Lalu dia merogoh saku celana kargonya, mengeluarkan sebungkus keripik singkong pedas, dan menyodorkannya padaku.

“Bukain,” katanya.

Aku mengerjap. “Apa?”

“Bukain. Aku nggak bisa. Plastiknya licin, dan kuku aku baru dipotong.” Dia mengangkat jari-jarinya, memperlihatkan kuku yang memang pendek dan rapi. “Kamu jago buka pakai gigi, kan? Aku lihat waktu itu. Sambal sachet.”

Aku menatapnya. Lalu menatap bungkus keripik itu.

Aku mengambilnya, menjepit ujungnya dengan gigi, dan menariknya dengan tangan kanan. Rapi. Tidak ada remah yang tumpah. Delapan tahun latihan.

Aku menyerahkan bungkus itu kembali padanya.

“Ih,” katanya, terkesan. “Rapi banget.”

“Delapan tahun.”

“Nah, gitu.” Dia mengambil sepotong keripik dan memakannya dengan puas. “Kamu bukain punyaku, aku bukain punyamu. Adil.”

Lalu dia kembali ke tabletnya, dan aku duduk di atas palet kayu di gudang yang panasnya seperti oven, memegang botol air yang dia bukakan, dan aku tidak bisa berhenti menatapnya.

Jari kami bersentuhan tadi. Waktu dia mengembalikan botol, dan waktu aku menyerahkan keripik. Dua kali. Singkat, tidak sengaja, tidak berarti apa-apa.

Tapi aku merasakan panas yang merambat dari ujung jariku, naik ke lengan, ke leher, ke telinga. Aku merasakannya berkumpul di wajahku seperti air mendidih.

“Bang,” bisik Gilang dari kejauhan. “Bang, muka lo.”

Aku tidak menoleh.

“Bang, lo lebih merah dari keripik singkong pedas.”

Di sebelahku, aku mendengar Vannesa tertawa pelan. Aku tidak berani mengangkat kepala untuk melihat apakah dia menertawakanku.


Kami kembali ke Jakarta sore itu dengan mobil kantor. Pak Kardi menyetir. Gilang duduk di depan, di sebelah Pak Kardi, dan dalam sepuluh menit dia sudah tertidur dengan mulut terbuka, kepala terbentur-bentur ke jendela setiap kali mobil melewati polisi tidur.

Vannesa dan aku duduk di belakang.

Dia duduk di sebelah kiriku. Tentu saja dia duduk di sebelah kiriku. Aku mulai curiga ini bukan kebetulan, tapi aku tidak berani berharap cukup lama untuk memastikannya.

Jalan tol Cikampek sore hari adalah parkiran raksasa. Mobil merayap. Matahari terbenam di belakang kami, mewarnai langit jingga lalu ungu lalu biru tua. Pak Kardi memutar radio dangdut dengan volume rendah, dan lagu-lagu sedih tentang cinta yang tidak sampai mengalun pelan.

Vannesa bercerita sebentar. Tentang Pak Anwar yang ternyata dulu atlet angkat besi. Tentang pekerja gudang yang tadi memintanya berfoto bersama untuk dikirim ke ibunya di kampung. Lalu suaranya makin pelan, makin lambat, dan akhirnya berhenti.

Aku menoleh. Dia tertidur.

Topinya sudah dilepas, dipangku. Ekor kudanya sedikit berantakan. Wajahnya, tanpa senyum ramah yang selalu dia pasang, terlihat lebih muda. Lebih lelah. Ada debu gudang di pipinya, dan aku harus menahan diri untuk tidak mengusapnya.

Mobil melewati polisi tidur. Kepalanya oleng.

Dan jatuh ke bahuku.

Ke bahu kiriku.

Aku membeku. Aku melihatnya. Aku melihat kepalanya bersandar di bahu kiriku, rambutnya menyentuh lengan kemejaku, pipinya menempel di kain di atas bekas luka yang sudah delapan tahun tidak bisa merasakan apa-apa.

Aku tidak bisa merasakannya.

Aku menatap kepalanya di bahuku, dan aku tidak merasakan beratnya. Tidak merasakan hangatnya. Tidak merasakan napasnya yang pelan, yang pasti menembus kain kemejaku. Seolah bahuku adalah dinding kaca, dan dia bersandar di sisi lain, dan aku hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh.

Delapan tahun, aku sudah berdamai dengan tangan ini. Dengan kancing yang tidak bisa kupasang, tali sepatu yang harus kuikat dengan cara aneh, botol yang harus kujepit di antara lutut. Aku sudah berdamai dengan semuanya.

Tapi aku belum pernah berdamai dengan ini. Karena aku tidak pernah membayangkan akan ada yang bersandar di sana.

Aku menatap jendela. Lampu-lampu jalan tol mulai menyala satu per satu, kuning dan kabur.

Di radio, penyanyi dangdut menyanyikan sesuatu tentang hati yang tidak bisa memiliki. Pak Kardi ikut bersenandung pelan. Gilang mendengkur.

Aku tidak bergerak sepanjang sisa perjalanan. Satu jam dua puluh menit. Aku tidak menggeser bahuku, tidak membangunkannya, tidak mengubah posisi duduk meski punggungku mulai pegal. Aku hanya duduk di sana, menatap kepalanya di bahuku yang mati rasa, dan menyimpan pemandangan itu baik-baik di kepalaku.

Karena aku tidak bisa merasakannya, setidaknya aku bisa mengingatnya.


Kantor sudah hampir kosong ketika kami tiba. Vannesa terbangun di basement, mengerjap, menyadari di mana kepalanya bersandar, lalu duduk tegak begitu cepat sampai kepalanya terbentur atap mobil.

“Aduh,” katanya. “Maaf. Maaf. Aku ketiduran. Aku ngiler nggak?”

“Nggak.”

“Beneran?”

“Beneran.” Aku tidak tahu. Aku tidak bisa merasakannya.

Dia menatap bahuku, lalu wajahku, dan untuk sesaat, dalam cahaya redup basement, aku melihat sesuatu melintas di matanya. Seperti dia baru menyadari bahu mana yang dia pakai sebagai bantal.

Dia tidak berkata apa-apa soal itu. Dia hanya tersenyum, mengambil topinya, dan turun dari mobil.

Keesokan paginya, keanehan dimulai.

Mbak Rini dari keuangan datang ke mejaku jam delapan pagi membawa sepiring pisang goreng. Dia menaruhnya di mejaku, berkata “Mas Rafa, maaf ya,” dengan wajah sangat merah, lalu pergi sebelum aku sempat bertanya maaf untuk apa.

Mbak Sari datang jam sembilan membawa kopi. “Buat Mas Rafa,” katanya, lalu kabur.

Jam sepuluh, seorang perempuan dari divisi legal yang tidak kukenal berhenti di depan mejaku, menatapku lama, lalu berkata, “Mas, semangat ya,” dan pergi.

Jam sebelas, Bu Yanti memelukku di pantry. Tanpa kata-kata. Pelukan erat, lama, bau sabun cuci piring. Lalu dia menepuk pipiku dua kali dan pergi sambil mengusap mata.

Aku menatap Gilang. Gilang menatap monitornya dengan wajah yang berjuang sangat keras untuk tidak mengatakan apa-apa.

“Lang,” kataku. “Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa, Bang.”

“Kenapa semua orang aneh?”

“Nggak aneh, Bang. Mungkin mereka baru sadar lo orang baik.”

“Lang.”

“Bang, gue udah disumpah,” bisiknya, putus asa. “Gue disumpah sama Mbak Tasya. Kalau gue ngomong, dia nggak mau makan siang sama gue lagi. Bang, tolong. Jangan tanya gue. Gue lemah.”

Aku menatapnya. Lalu menatap ke ruangan Vannesa, di balik partisi kaca.

Dia sedang menelepon. Tapi dia sedang menatapku. Ketika mata kami bertemu, dia langsung memutar kursinya ke arah jendela.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi.

Tapi piring pisang goreng Mbak Rini masih hangat, dan pelukan Bu Yanti masih terasa di bahu kananku, dan di suatu tempat di gedung ini, sesuatu telah berubah, dan aku tidak tahu apa.

Gilang mendorong kursinya mendekat, berderit seperti biasa.

“Bang,” bisiknya. “Gue boleh minta satu?”

“Pisang goreng?”

“Iya. Gue nggak dapet. Nggak ada yang minta maaf ke gue.”

Aku menyodorkan piring itu. Dia mengambil dua.

Aku mengambil sepotong pisang goreng dan memakannya pelan-pelan.

Rasanya, anehnya, seperti ucapan terima kasih yang tidak sempat diucapkan.