← Yang Kiri buat Aku

Chapter Eighteen

Ibu yang Gemetar

POV: Rafa

“BANG.” Gilang menerjang mejaku Senin pagi dengan kecepatan yang biasanya hanya dia pakai untuk mengejar diskon makan siang. “BANG, LO UDAH DENGER?”

“Belum. Dan saya nggak mau.”

“BU VANNESA NOLAK PAK KEVIN.”

Aku berhenti mengetik.

Hanya sepersekian detik. Jariku menggantung di atas papan ketik, di tengah kata konfigurasi, dan aku lupa huruf apa yang harus kutekan selanjutnya.

“Oh,” kataku. Lalu aku melanjutkan mengetik. Konfigurasii. Salah ketik. Aku menghapusnya. “Itu urusan mereka, Lang.”

“Bang. Bang. Lo nggak ngerti. Satu gedung heboh. Katanya Jumat malam di rooftop, Pak Kevin udah nembak pakai kata-kata kayak di film, terus Bu Vannesa bilang maaf. Terus Pak Kevin senin pagi dateng ke kantor biasa aja, ketawa-ketawa, bahkan bawain donat buat divisi brand. Orang-orang bingung. Katanya Pak Kevin ditolak paling elegan dalam sejarah perusahaan.”

“Bagus buat Pak Kevin.”

“Bang.” Gilang merendahkan suara. “Lo nggak penasaran kenapa dia nolak?”

“Nggak.”

“Katanya ada orang lain.”

Aku mengetik lebih cepat.

“Bang,” bisik Gilang. “Bang, katanya gaunnya biru muda.”

Aku berhenti mengetik lagi.

Gilang menatapku dengan mata berbinar. Aku menatap layar laptop. Di layar, kata konfigurasi sudah tertulis dengan benar, dan di bawahnya ada deretan huruf acak yang entah bagaimana kuketik tanpa sadar: kjhgfdsa.

“Kerja, Lang,” kataku.

“Bang, lo—”

“Kerja.”

Gilang kembali ke mejanya dengan wajah orang yang tahu dia sudah menang tapi memilih untuk tidak merayakannya di depan yang kalah.

Aku menghapus kjhgfdsa. Pelan-pelan. Satu huruf demi satu huruf.

Gaun biru muda. Yang kupilih karena dia kelihatan seperti dirinya.

Aku tidak boleh memikirkan itu. Aku tidak boleh menyambungkan titik-titik yang tidak seharusnya disambungkan. Perempuan menolak pria karena seribu alasan. Mungkin dia memang tidak cocok dengan Kevin. Mungkin dia belum siap. Mungkin ada pria lain, pria dengan dua tangan yang tidak pernah kulihat, pria yang tidak perlu menjepit botol di antara lutut.

Ada orang lain.

Aku tahu batasku. Aku mengulanginya dalam hati seperti mantra. Aku tahu batasku. Aku tahu batasku.

Tapi di dadaku, sesuatu yang kecil dan bodoh dan sangat keras kepala mulai berdetak dengan irama yang berbeda.


Besoknya, Selasa, adalah ulang tahun Vannesa.

Aku tahu karena Tasya mengumumkannya di grup kantor seminggu sebelumnya dengan tujuh belas emoji balon dan instruksi rahasia: kejutan di pantry jam 12, jangan bocor, yang bocor bayar katering.

Aku menghabiskan Minggu sore memikirkan kado.

Aku tidak seharusnya memberi kado. Aku vendor. Vendor tidak memberi kado ulang tahun untuk klien. Itu tidak profesional, dan mungkin tidak pantas, dan pasti akan jadi bahan gosip baru di pantry.

Aku membelinya juga.

Sebuah senter kecil. Gantungan kunci, perak, seukuran jari kelingking. Cukup terang untuk menerangi lorong parkir bawah tanah. Aku membelinya di toko perkakas dekat rumah, lalu menghabiskan satu jam mencoba membungkusnya dengan kertas kado menggunakan satu tangan, sampai akhirnya Kinan, yang kebetulan mampir membawa lauk dari Mama, merebut kertas kado itu dan membungkusnya dalam dua menit tanpa berkata apa-apa.

Tanpa berkata apa-apa, tapi dengan tatapan yang sangat, sangat banyak bicara.

“Buat siapa,” katanya akhirnya, datar.

“Klien.”

“Vannesa.”

“…Iya.”

Kinan menatap bungkusan kecil itu. Menatapku. Lalu dia mengambil pita dan membuat pita kecil yang rapi di atasnya, dengan jari-jari fisioterapis yang cekatan.

“Status masih belum diputuskan,” katanya. “Tapi pitanya harus bagus. Biar Kakak nggak malu-maluin.”


Kejutan di pantry berjalan persis seperti yang direncanakan Tasya, yang berarti berjalan sangat kacau.

Vannesa dipanggil ke pantry dengan alasan palsu soal dispenser bocor. Dia masuk, dan tiga puluh orang berteriak SELAMAT ULANG TAHUN! dengan waktu yang tidak kompak sama sekali, sehingga terdengar seperti tiga puluh orang yang berteriak di tiga puluh waktu berbeda. Gilang meniup terompet kertas tepat di telinga Mas Doni. Bu Yanti membawa kue tar dengan lilin angka dua dan tujuh, dan lilin angka tujuh jatuh di tengah jalan, sehingga kuenya bertuliskan Selamat Ulang Tahun Vannesa 2.

“Aku dua tahun,” kata Vannesa, tertawa sampai berair matanya. “Makasih, semuanya. Aku merasa sangat muda.”

Semua orang tertawa. Mereka menyanyi. Vannesa meniup lilin angka dua. Tasya memeluknya dari belakang dan berteriak DOA DULU, DOA DULU, dan Vannesa memejamkan mata sebentar sebelum meniup.

Aku berdiri di belakang, di dekat pintu, dengan tangan kanan memegang gelas sirup dan tangan kiri di saku. Di dalam saku kemeja, di atas jantungku, ada bungkusan kecil dengan pita rapi.

Aku tidak akan memberikannya di sini. Di depan tiga puluh orang. Aku akan memberikannya nanti, diam-diam, atau mungkin tidak sama sekali.

Lalu Vannesa membuka mata setelah berdoa, dan dia langsung menatapku. Di seberang pantry, melewati tiga puluh orang, kue bertuliskan angka dua, dan Gilang yang masih meniup terompet. Dia menatapku, dan dia tersenyum.

Aku lupa caranya bernapas lagi.


Setelah pesta bubar, aku kembali ke meja. Aku sedang membuka laptop ketika dia muncul di samping mejaku.

“Kamu nggak nyanyi,” katanya.

“Aku nyanyi.”

“Kamu cuma buka mulut. Aku lihat. Suaramu nggak keluar.”

“Suaraku jelek.”

“Bohong. Suaramu bagus. Aku pernah denger kamu bacain spesifikasi teknis, dan itu merdu.”

Aku tertawa. Dia duduk di kursi di sebelah kiriku, seperti biasa. Menunggu.

Aku ragu. Lalu, sebelum aku bisa berubah pikiran, aku mengeluarkan bungkusan kecil dari saku kemeja dan menaruhnya di meja di depannya.

“Selamat ulang tahun,” kataku.

Dia menatap bungkusan itu. Lalu menatapku. Lalu menatap bungkusan itu lagi.

“Buat aku?”

“Kecil. Nggak mahal. Jangan berharap banyak.”

Dia membukanya pelan-pelan. Dengan hati-hati yang berlebihan, seperti tidak ingin merusak pitanya. Lalu dia mengeluarkan senter perak kecil itu, dan menatapnya lama.

“Senter,” katanya pelan.

“Buat basement,” kataku. “Biar kamu nggak perlu telepon aku kalau lampunya redup. Tinggal nyalain aja.”

Dia tidak menjawab. Dia menekan tombol di ujung senter itu. Cahaya putih kecil menyala, terang dan bulat, menerangi telapak tangannya.

Lalu dia mengeluarkan kunci mobilnya dari saku blazer, dan dengan jari-jari yang sedikit gemetar, dia memasang senter itu di gantungan kuncinya. Di sebelah gantungan kunci Merlion dari Kevin, yang dia lepas dan taruh di meja tanpa berkata apa-apa.

“Makasih,” katanya. Suaranya aneh. Serak. “Tapi aku tetap mau telepon kamu.”

“Kenapa? Kan udah ada senter.”

Dia menatapku. Matanya berkaca-kaca, dan dia tersenyum, dan dia tidak menjawab pertanyaan itu.

“Pitanya bagus,” katanya. “Kamu yang bikin?”

“Adikku.”

“Adikmu yang galak?”

“Dia bilang pitanya harus bagus biar aku nggak malu-maluin.”

Vannesa tertawa. Lalu dia memegang pita itu dengan hati-hati, melipatnya, dan memasukkannya ke saku blazernya. Pita dari kado murahan yang dibungkus adikku.

“Bilang makasih ke Kinan,” katanya. “Bilang, pitanya aku simpan.”


Keluarganya datang jam satu siang.

Aku tidak tahu mereka akan datang. Aku sedang di meja, memeriksa log sistem gudang Semarang, ketika pintu lift terbuka dan seluruh lantai sembilan tiba-tiba menegakkan punggung.

Pak Hendra Atmajaya. Pemilik perusahaan. Aku hanya pernah melihatnya dari jauh di rapat direksi, dan dari foto-foto di lobi. Pria berusia enam puluhan dengan rambut beruban rapi, kemeja batik, dan senyum lebar yang, anehnya, sangat mirip dengan senyum Vannesa. Dia membawa tumpeng nasi kuning raksasa di atas nampan.

Di sebelahnya, seorang perempuan anggun dengan kebaya modern berwarna krem, rambut disanggul rendah, wajah yang lembut dan cantik dengan cara yang tenang. Aku langsung tahu dari mana Vannesa mendapatkan matanya.

“PAPA?” Vannesa keluar dari ruangannya dengan wajah terkejut. “MAMA? Kok nggak bilang?”

“Kejutan!” kata Pak Hendra. “Kalau bilang, namanya bukan kejutan. Namanya pemberitahuan.”

Lantai sembilan tertawa sopan.

Vannesa memeluk papanya, lalu mamanya. Tasya dan beberapa staf segera menyiapkan meja untuk tumpeng. Semua orang berkerumun. Aku tetap di mejaku, tidak ingin mengganggu acara keluarga.

Tapi Vannesa menoleh padaku. Dan dia menarik tangan papanya.

“Pa. Ada yang mau aku kenalin.”

Dia membawa Pak Hendra ke mejaku. Aku berdiri. Merapikan kemeja dengan tangan kanan. Tangan kiri tetap di saku.

“Pa, ini Rafa. Yang aku ceritain. Yang bersihin data presentasi direksi sampai jam dua pagi.”

Pak Hendra menatapku dari atas ke bawah. Lalu dia tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Oh, kamu,” katanya. “Kamu yang bikin Darmo luluh. Saya sudah dengar. Terima kasih, Nak.”

Aku menyambut tangannya. “Sama-sama, Pak. Cuma kerjaan.”

“Cuma kerjaan sampai jam dua pagi?” Pak Hendra menepuk bahuku. Bahu kanan. “Kamu tahu apa bedanya vendor biasa sama vendor luar biasa?”

“Apa, Pak?”

“Vendor biasa kerja sesuai kontrak. Vendor luar biasa kerja sesuai kontak.” Dia menunjuk ke arah Vannesa dengan dagunya. “Kontak batin.”

Hening.

“Papa,” desis Vannesa, wajahnya merah padam.

“Itu lelucon, Nes. Lelucon bisnis.”

“Itu bukan lelucon bisnis, Pa.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau menghilang ke dalam lantai. Telingaku panas. Leherku panas. Pak Hendra menatapku dengan senyum puas, seperti seorang ayah yang baru saja menguji sesuatu dan mendapat hasil yang dia sukai.

“Ratna,” panggilnya ke belakang. “Sini. Kenalan sama vendornya Nes.”


Bu Ratna berjalan mendekat, membawa secangkir teh di atas tatakan. Senyumnya lembut. Langkahnya anggun.

“Ma,” kata Vannesa. “Ini Rafa. Rafa Elvano.”

Dan dunia melambat.

Aku melihatnya dengan jelas, setiap detailnya, seperti adegan film yang diputar dalam gerak lambat. Senyum Bu Ratna membeku. Bukan hilang, tapi membeku, seperti wajah di foto. Matanya melebar. Bibirnya terbuka sedikit. Wajahnya, yang tadi hangat dan berwarna, perlahan memucat, dari pipi ke dahi ke bibir, sampai dia terlihat seperti orang yang baru melihat hantu.

Dia menatap wajahku.

Lalu matanya turun. Pelan. Ke bahu kiriku. Ke lengan kiriku. Ke tangan kiriku yang terbenam di saku.

Cangkir teh di tangannya bergetar. Tatakannya berbunyi ting-ting-ting kecil, cepat, seperti gigi yang gemeletuk.

Lalu cangkir itu jatuh.

Pecah di lantai. Teh panas menciprat ke sepatu Bu Ratna, ke sepatuku, ke karpet kantor. Pecahan porselen putih berserakan seperti kelopak bunga.

“Ma!” Vannesa melompat maju. “Mama nggak apa-apa?”

Semua orang di lantai sembilan menoleh. Pak Hendra bergegas ke sisi istrinya.

Aku refleks berjongkok. Dengan satu tangan, aku mulai memunguti pecahan cangkir yang terbesar, memindahkannya ke tatakan supaya tidak ada yang terinjak. Aku melakukannya tanpa berpikir. Aku selalu melakukannya tanpa berpikir.

Ketika aku mengangkat kepala, Bu Ratna menatapku.

Menatap tangan kananku yang memunguti pecahan cangkir. Menatap tangan kiriku, yang karena aku berjongkok, sedikit terlepas dari saku dan tergantung lemas di sisi tubuhku.

Air mata mengalir di pipinya. Diam-diam. Tanpa suara.

“Tangan…” suaranya bergetar hebat. “Tangan kirimu, Nak. Kenapa?”

Semua orang terdiam.

Aku berdiri pelan, dengan bantuan tepi meja. Memasukkan tangan kiriku kembali ke saku. Aku menatap Bu Ratna, dan aku tidak mengerti kenapa dia menangis. Aku tidak mengerti kenapa pertanyaan itu terdengar begitu hancur.

Aku bisa memberikan lelucon standar. Cedera olahraga, Bu. Olahraganya sok jadi pahlawan. Tapi wajah Bu Ratna membuat lelucon itu tersangkut di tenggorokanku.

“Kecelakaan lama, Bu,” kataku lembut. “Udah lama banget. Udah nggak apa-apa.”

Bu Ratna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang.

Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Dia meraih tangan kananku. Menggenggamnya dengan kedua tangannya. Erat, sangat erat, seperti orang yang takut tangan itu akan hilang. Tangannya dingin dan gemetar, dan air matanya jatuh ke punggung tanganku, satu, dua, tiga tetes.

“Maaf,” bisiknya. Begitu pelan sampai hanya aku yang bisa mendengarnya. “Maafkan Ibu.”

“Bu—”

“Ratna?” Pak Hendra memegang bahu istrinya. “Ratna, kamu kenapa?”

Bu Ratna melepaskan tanganku. Mundur selangkah. Menyeka wajahnya dengan cepat, mencoba tersenyum, gagal.

“Maaf,” katanya lebih keras, ke semua orang. “Maaf. Ibu… Ibu nggak enak badan. Pusing. Mungkin darah tinggi. Ibu mau pulang dulu.”

“Ma—” Vannesa menatap mamanya, bingung dan takut.

“Nggak apa-apa, sayang. Selamat ulang tahun. Maaf Mama merusak acaranya.” Bu Ratna mencium pipi Vannesa dengan cepat, lalu berbalik dan berjalan ke lift. Langkahnya tidak anggun lagi. Langkahnya terburu-buru, goyah, seperti orang yang melarikan diri.

Pak Hendra menatapku sebentar, bingung, lalu mengejar istrinya.

Vannesa berdiri di tengah pecahan cangkir, menatap pintu lift yang menutup, lalu menatapku.

“Rafa,” katanya. “Kamu kenal Mama?”

“Nggak,” kataku. Jujur. “Aku belum pernah ketemu beliau.”

Dia menatapku lama. Lalu dia berlari ke tangga darurat, mengejar mamanya.


Aku berdiri di jendela lantai sembilan.

Di bawah, di pelataran depan gedung, sebuah mobil hitam menunggu. Aku melihat Bu Ratna masuk ke kursi belakang. Aku melihat Pak Hendra menutup pintunya. Aku melihat Vannesa berlari keluar dari lobi, rambutnya berantakan, dan mengetuk kaca jendela mobil.

Kaca itu turun sedikit.

Dari ketinggian sembilan lantai, aku tidak bisa mendengar apa-apa. Aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Tapi aku melihat Bu Ratna di kursi belakang, dengan kepala tertunduk, dengan kedua tangan menutupi wajah.

Dan aku melihat bahunya berguncang.

Menangis. Sesenggukan, seperti orang yang menahan sesuatu terlalu lama dan akhirnya tidak sanggup lagi.

“Bang.” Gilang berdiri di sebelahku. Suaranya pelan. “Itu tadi kenapa?”

“Aku nggak tahu, Lang.”

Aku menatap tangan kananku. Masih ada bekas air mata di punggungnya, sudah mulai kering.

Maafkan Ibu.

Untuk apa?

Di bawah, mobil hitam itu mulai bergerak. Vannesa berdiri di pelataran, menatap mobil yang menjauh, lalu perlahan mendongak ke atas. Ke gedung. Ke lantai sembilan.

Ke jendela tempat aku berdiri.

Dari ketinggian sembilan lantai, aku tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi aku merasa dia sedang menatapku dengan pertanyaan yang sama.